Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Beruang Galak di Dapur
Keira mengangkat botol susu di tangannya tepat di depan dada Ian.
"Susu ini udah hangat. Saya mau naik ke atas buat ngelakuin TUGAS SAYA. Kalau Mas Ian masih curiga saya mau nyuri barang di dapur ini, silakan periksa kantong celana saya sekarang juga. Atau mau sekalian geledah kamar saya?"
Ian terdiam.
Suasana dapur langsung hening. Hanya terdengar dengung kulkas di belakang mereka.
Pria itu menatap Keira dengan ekspresi sulit dibaca. Ada sedikit keterkejutan di matanya. Mungkin karena selama ini tidak banyak orang yang berani menatapnya setajam itu, apalagi membalas perkataannya dengan nada menantang.
Jari-jari Ian yang memegang gelas jus mengencang. Rahangnya ikut mengeras.
"Nggak usah sok suci," ucapnya akhirnya. Meski begitu, nada suaranya tak setajam sebelumnya. "Waktu yang bakal membuktikan kamu itu wanita seperti apa."
"Bagus. Silakan tonton sampai habis, Mas," balas Keira sewot.
Ia kemudian memutar badan dengan gerakan dramatis. Sayangnya, Keira lupa kalau sandal jepit yang dipakainya agak licin.
SREK!
"Aww—!"
Kaki kanannya terpeleset. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang.
"Astaga!"
Ian refleks mengulurkan tangan kirinya, menangkap pinggang Keira sebelum gadis itu jatuh telentang.
Greb!
Tubuh Keira tertarik ke dada Ian. Untungnya, botol susu Mika masih aman dalam genggaman tangan kirinya yang terangkat ke udara.
Selama beberapa detik, keduanya membeku.
Wajah Keira hanya berjarak beberapa sentimeter dari leher Ian. Ia bisa mencium aroma parfum kayu manis bercampur sabun mandi yang melekat pada tubuh pria itu.
Sementara Ian, matanya sedikit melebar. Tangannya masih menahan pinggang Keira, menyadari betapa kecil tubuh gadis itu dibandingkan dirinya.
Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang kelewat dekat.
Keira mengedipkan mata dua kali. Baru sekarang ia menyadari posisi mereka yang cukup memalukan.
"Ehh... Mas," bisiknya canggung sambil melirik ke kanan dan kiri. "Makasih udah nahan, tapi... bisa dilepas nggak? Tangan Mas nempel di pinggang saya agak kekencangan ini."
Ian seperti baru tersadar. Ia langsung melepaskan tangannya, bahkan terlalu cepat sampai Keira hampir kehilangan keseimbangan lagi.
Untungnya, gadis itu buru-buru menegakkan tubuh.
Ian berdeham keras, lalu memalingkan wajah sambil merapikan singletnya yang sebenarnya tidak bermasalah. Ujung telinganya tampak sedikit kemerahan, entah karena kesal atau canggung.
"Makanya jalan pakai mata, bukan pakai mulut," cetusnya cepat.
Suaranya terdengar agak serak. Ia langsung menghabiskan sisa jus jeruk dalam gelasnya, seolah membutuhkan sesuatu yang dingin untuk menyegarkan tenggorokan.
Keira membetulkan kausnya yang sedikit terangkat, lalu merapikan rambut sambil cemberut.
"Lantai dapur Mas aja yang terlalu licin!"
"Sudah, sana naik!" usir Ian sambil menunjuk pintu menggunakan gelas kosongnya. "Mika bisa bangun kalau kamu kelamaan di sini!"
"Iya, iya! Nggak usah bentak-bentak juga!"
Keira segera mengambil langkah meninggalkan dapur. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia sengaja menoleh dan menyeringai kecil ke arah Ian yang masih berdiri di dekat kulkas.
"Oh iya, Mas Ian..."
Ian meliriknya malas.
"Kaus singletnya kebalik tuh."
Setelah melontarkan kalimat itu, Keira langsung ngacir keluar sebelum Ian sempat membalas.
"Apa?!"
Ian spontan menunduk dan memeriksa singletnya. Namun, setelah melihat jahitannya yang ternyata normal-normal saja, ia baru sadar sudah dikerjai.
Wajahnya langsung berubah kesal.
"Keira Azzalea...!"
Geramannya menggema pelan di dapur yang kini hanya menyisakan dirinya sendiri.
Sementara itu, di lantai dua, Keira berjalan menyusuri lorong dengan napas sedikit terengah. Ada rasa puas yang sulit disembunyikan di wajahnya.
Pipinya memang masih terasa panas saat mengingat tangan Ian yang tadi melingkar di pinggangnya. Namun, bayangan ekspresi panik pria itu ketika dikerjai soal singlet membuatnya merasa berhasil memenangkan satu ronde malam ini.
Setidaknya, satu kosong untuk Keira.
Ia kemudian mendorong pintu kamar Mika perlahan.
Di atas ranjang berbentuk mobil, Mika ternyata sudah duduk sambil mengucek-ngucek mata.
"Mbak Keira..." panggilnya dengan suara serak khas anak yang baru bangun tidur. "Susu Mika mana?"
Keira langsung tersenyum. Ia menghampiri ranjang, lalu duduk di tepinya sambil menyodorkan botol susu.
"Ini susunya. Maaf, ya, agak lama. Tadi Mbak Keira harus berhadapan sama beruang galak dulu di dapur."
Mika menerima botol itu dengan kedua tangannya, lalu mulai meminumnya dengan lahap.
"Beruang galak? Rumah ini nggak ada beruang, Mbak."
"Ada, kok," bisik Keira sambil mengelus rambutnya. "Beruangnya tinggi, bulunya warna hitam, terus suka marah-marah nggak jelas."
Mika berhenti mengisap sedotan sebentar. Mata bulatnya menatap Keira dengan polos.
"Itu Mas Ian, ya?"
Keira hampir saja tertawa keras. Ia buru-buru menutup mulut dengan tangan agar suaranya tidak mengganggu penghuni rumah lainnya.
"Hush! Nanti orangnya dengar!"
Mika terkikik kecil.
"Udah, minum susunya terus tidur lagi, ya," lanjut Keira sambil membetulkan posisi bantalnya.
Mika mengangguk patuh. Ia kembali meminum susunya sampai habis separuh. Tak lama kemudian, matanya mulai terpejam.
Keira tetap duduk di sampingnya, mengusap punggung kecil itu perlahan sampai napas Mika kembali teratur dan anak itu tertidur pulas.
Ia menatap wajah Mika yang kini terlihat begitu tenang.
Berbeda sekali dengan kakaknya yang punya hobi menuduh orang tanpa bukti.
Keira menghela napas kecil, lalu berbisik pelan.
"Lihat aja nanti, Ian Xavier. Gua bakal bikin lu makan semua kata-kata lu itu."
semangat Kak 💪💪