NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — TANDA TANGAN DI BALIK SEC-22

Arga Pratama menghabiskan hampir seluruh malam untuk memeriksa halaman terakhir SEC-22.

Dokumen itu hanya terdiri dari satu lembar hasil pemindaian. Tidak ada nomor registrasi digital yang dapat diverifikasi secara langsung, tidak ada tanda tangan lengkap, dan tidak ada keterangan tentang siapa yang mengirimkannya.

Namun, satu bagian terus menarik perhatiannya.

GW-04.

Empat karakter yang mungkin menjadi petunjuk menuju orang yang menutup pemeriksaan kartu akses hitam lima tahun lalu.

Arga membuka buku catatannya. Di sana, ia menuliskan semua kode yang berhasil dikumpulkan sejak penyelidikan dimulai.

DOA-09/ARX.

AUTH-03.

VIS-09.

SEC-22.

TR-09/17-B.

Dan sekarang, GW-04.

Semakin banyak kode yang mereka temukan, semakin jelas bahwa semuanya saling berhubungan. Namun, hubungan itu belum membuktikan siapa yang bertanggung jawab atas perubahan laporan keselamatan ARX-9.

Arga tidak ingin sekadar menemukan seseorang yang namanya cocok dengan inisial dalam dokumen.

Ia ingin menemukan bukti yang tidak bisa dibantah.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Nadia muncul di layar.

“Besok pagi, kita bertemu Ratih. Aku sudah mengirimkan salinan halaman SEC-22 kepadanya melalui jalur audit. Dia bilang pernah melihat format penutupan pemeriksaan yang serupa.”

Arga segera membalas.

“Apakah dia mengenali kode GW-04?”

“Belum. Dia hanya bilang ingin melihat dokumen aslinya sebelum memberikan pendapat.”

Arga meletakkan ponsel.

Setidaknya, mereka memiliki langkah berikutnya.

Keesokan paginya, Arga tiba di pusat dokumentasi lebih awal daripada waktu yang disepakati.

Nadia sudah menunggunya di ruang konsultasi. Di atas meja terdapat dua map dan sebuah laptop.

“Ratih akan datang sebentar lagi,” katanya.

Arga duduk, lalu mengeluarkan buku catatan.

“Apakah dia sudah menghubungi kantor pengawasan?”

“Belum. Dia ingin memastikan apakah dokumen ini benar-benar berasal dari arsip lama atau hanya salinan yang dibuat seseorang berdasarkan format aslinya.”

“Bagus. Kita juga harus melakukan hal yang sama.”

Tidak lama kemudian, Ratih Wulandari memasuki ruangan.

Perempuan itu membawa map abu-abu yang sudah tampak usang. Ia menyapa Arga dan Nadia sebelum duduk di seberang mereka.

“Aku sudah membaca ringkasan yang kalian kirim,” katanya. “Tapi aku tidak ingin membuat kesimpulan hanya berdasarkan satu halaman.”

Arga menyerahkan salinan SEC-22.

Ratih membaca dokumen itu dengan teliti. Sesekali ia memperbesar bagian tertentu pada layar laptop, lalu membandingkannya dengan catatan yang dibawanya.

Setelah beberapa menit, ia menunjuk bagian penutupan temuan.

“Formatnya memang mirip dengan dokumen yang digunakan bagian administrasi ARX-9. Tetapi ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?” tanya Nadia.

“Kolom penanggung jawab seharusnya memuat nama petugas yang menyusun laporan, nama pihak yang memeriksa, dan nama pihak yang menyetujui penutupan. Di halaman ini, semuanya tidak lengkap.”

Arga mencondongkan tubuh.

“Apakah itu berarti dokumennya palsu?”

“Belum tentu. Ada dokumen yang memang disimpan dalam bentuk ringkasan. Namun, jika ini benar-benar halaman terakhir SEC-22, seharusnya ada nomor lampiran atau rujukan menuju lembar persetujuan.”

Ratih menunjuk kode GW-04.

“Kode ini tidak sesuai dengan format nomor petugas administrasi yang biasa kupakai.”

“Lalu apa kemungkinan artinya?” tanya Arga.

Ratih berpikir sejenak.

“Bisa berupa kode unit, nomor registrasi internal, atau kode yang ditambahkan oleh pihak lain. Aku tidak bisa memastikan tanpa melihat daftar kode resmi.”

Arga mencatat jawabannya.

“Apakah kamu pernah melihat dokumen yang menggunakan kode seperti ini?”

Ratih membuka map abu-abunya dan mengeluarkan sebuah lembar daftar inventaris.

“Lima tahun lalu, aku pernah diminta memeriksa daftar pemindahan berkas ARX-9. Sebagian berkas masuk ke arsip teknis, sebagian lagi dipindahkan ke bagian pengawasan.”

Ia menunjuk salah satu baris.

“Di sini ada nomor penerimaan GW-04. Tetapi keterangannya hanya menyebutkan ‘penerimaan dokumen pengawasan’. Tidak ada nama individu.”

Arga memperhatikan lembar tersebut.

“Apakah ini salinan asli?”

“Ini salinan yang kusimpan saat melakukan pemeriksaan administrasi. Aku bisa menyerahkannya kepada tim audit untuk diperiksa, tetapi aku tidak akan menganggapnya sebagai bukti final sebelum mereka memverifikasinya.”

“Baik. Kami tidak akan menggunakan dokumen ini di luar proses pemeriksaan.”

Ratih mengangguk.

Kemudian, ia membuka halaman berikutnya.

“Masih ada satu hal yang mungkin berguna. Dalam daftar ini, GW-04 muncul dua kali.”

Nadia mendekat.

“Dua kali?”

“Ya. Pertama, untuk penerimaan dokumen pengawasan. Kedua, untuk permintaan pengembalian lampiran yang belum lengkap.”

Arga segera memeriksa baris tersebut.

Tanggal kedua tercatat tiga hari setelah laporan akhir ARX-9 diterbitkan.

Keterangan tambahannya singkat.

Lampiran tidak dapat ditemukan. Pemeriksaan ditunda.

Arga menatap Ratih.

“Apakah kamu ingat lampiran apa yang dimaksud?”

Ratih menggeleng.

“Tidak. Pada saat itu, aku menangani banyak berkas. Aku baru menyadari bahwa daftar ini mungkin berkaitan dengan ARX-9 setelah kalian mengirimkan kode SEC-22.”

“Apakah ada nama petugas yang menangani permintaan pengembalian itu?”

Ratih menunjuk kolom paling kanan.

“Seharusnya ada. Tetapi salinan ini memang tidak lengkap.”

Arga mengembuskan napas perlahan.

Sekali lagi, mereka menemukan catatan tentang dokumen yang hilang, tetapi tidak menemukan nama orang yang bertanggung jawab.

Namun, kali ini mereka memiliki sesuatu yang lebih konkret: dua catatan administrasi dengan kode yang sama, tercatat pada tanggal berbeda.

Mereka harus mencari daftar kode resmi dan dokumen penerimaan aslinya.

“Ratih,” kata Arga, “bisakah kamu membantu mengajukan permintaan audit untuk kedua catatan ini?”

“Tentu. Tapi aku perlu menuliskan bahwa dokumen yang kita miliki masih berupa salinan.”

“Itu tidak masalah.”

Ratih memasukkan lembar inventaris ke dalam mapnya.

“Satu hal lagi, Arga. Jangan hanya mencari orang yang menerima berkas. Cari juga orang yang berwenang menyatakan berkas itu tidak lengkap. Kedua kewenangan itu belum tentu dipegang oleh orang yang sama.”

Arga mengangguk.

Kalimat itu mengingatkannya pada pola yang terus muncul selama penyelidikan.

Seseorang memindahkan dokumen.

Seseorang lain menyatakan pemeriksaan selesai.

Dan seseorang yang lain lagi menyetujui laporan akhir.

Jika mereka menganggap semua tindakan itu dilakukan oleh satu orang, mereka mungkin akan melewatkan bagian terpenting dari kasus ini.

Sore harinya, Arga kembali ke arena kompetisi.

Babak berikutnya mempertemukan para peserta dalam tantangan analisis kegagalan sistem kendali. Setiap tim harus memeriksa data pengujian yang sengaja dibuat tidak lengkap.

Arga langsung memahami bahwa tantangan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Para peserta harus memisahkan fakta yang dapat dibuktikan dari dugaan yang belum teruji.

Rendy berdiri di samping meja kerja mereka.

“Data referensi untuk pengujian kedua tidak ada,” katanya.

Dimas memeriksa layar.

“Kalau begitu, kita tidak bisa membandingkan hasilnya secara langsung.”

“Kita masih bisa menguji ulang,” jawab Arga. “Tapi kita harus mencatat bahwa pengujian ulang bukan pengganti data awal.”

Rendy tersenyum.

“Jawaban yang sangat cocok dengan masalahmu sendiri.”

Arga menatapnya.

“Kalau kamu ingin menyindir, setidaknya bantu aku memeriksa sambungannya.”

“Siap, Bos.”

Dimas tertawa kecil.

Mereka mulai bekerja.

Setelah pemeriksaan awal, Arga menemukan bahwa sebagian data sensor mengalami lonjakan ketika sistem memasuki kondisi beban tinggi. Namun, karena data referensi tidak lengkap, ia tidak langsung menyimpulkan bahwa sensor tersebut rusak.

Ia meminta Rendy menguji sambungan kabel, sementara Dimas membandingkan waktu perubahan sinyal dengan catatan pengujian.

Hasilnya menunjukkan bahwa gangguan muncul setelah perubahan suhu, bukan saat sistem pertama kali diaktifkan.

Mereka mengulang pengujian dengan kondisi yang sama.

Gangguan kembali terjadi.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, mereka menemukan konektor yang kehilangan kestabilan ketika suhu meningkat.

Arga menyusun laporan dengan tiga bagian terpisah: hasil yang terukur, kesimpulan yang didukung pengujian, dan hal-hal yang belum dapat dipastikan karena data awal tidak lengkap.

Ketika juri mendatangi meja mereka, seorang pemeriksa membaca laporan tersebut dengan saksama.

“Tim kalian tidak menyebutkan bahwa sensor rusak.”

“Karena kami belum menemukan bukti bahwa sensornya rusak,” jawab Arga. “Gangguan terjadi pada jalur sambungan. Kami menguji ulang dan mendapatkan hasil yang konsisten.”

“Bagaimana jika data referensinya tersedia?”

“Kami akan membandingkannya untuk memastikan apakah ada perubahan lain yang tidak terlihat dalam pengujian sekarang.”

Juri itu mengangguk.

“Pendekatan yang baik.”

Setelah penilaian diumumkan, tim Arga kembali memperoleh nilai tinggi.

Rendy menepuk bahu Arga.

“Kali ini, kita menang bukan karena menebak lebih cepat.”

“Tapi karena memeriksa lebih teliti,” sambung Dimas.

Arga tersenyum.

Untuk sesaat, ia bisa merasakan bahwa hidupnya tidak lagi hanya berkisar pada pengkhianatan masa lalu. Ia masih memiliki kemampuan yang sama, masih bisa bekerja dengan orang lain, dan masih mampu membangun sesuatu yang berguna.

Namun, ia juga tahu bahwa penyelidikan ARX-9 belum selesai.

Malam harinya, Nadia menghubungi Arga.

“Aku mendapat jawaban dari pusat dokumentasi.”

Arga yang sedang merapikan peralatan langsung berhenti.

“Jawaban tentang SEC-22?”

“Ya. Mereka belum memberikan akses penuh, tetapi mereka sudah memverifikasi bahwa kode GW-04 pernah digunakan dalam registrasi pemindahan dokumen pengawasan.”

“Apakah mereka mengetahui nama pemilik kode itu?”

“Belum. Mereka sedang mencari daftar kode unit lama.”

Arga mengangguk meskipun Nadia tidak dapat melihatnya.

“Bagaimana dengan permintaan Ratih?”

“Sudah diterima. Tim audit akan membandingkan salinan inventaris dengan catatan penerimaan.”

“Bagus. Setidaknya sekarang kita tidak hanya mengandalkan foto anonim.”

Nadia terdiam sejenak.

“Ada satu hal lagi. Aku menemukan nomor dokumen yang berhubungan dengan pemindahan VIS-09. Nomornya tidak sama dengan nomor inventaris utama.”

Arga segera mengambil buku catatan.

“Nomor berapa?”

“VIS-09/TRF-2.”

Arga menuliskannya.

“Apakah ada nama penerima?”

“Tidak pada salinan digital. Tapi ada rujukan menuju formulir penerimaan terpisah.”

“AUTH-03?”

“Bukan. Nomornya berbeda. Formulir itu bernama RCV-17.”

Arga mengerutkan kening.

“RCV-17 tidak pernah muncul dalam catatan kita sebelumnya.”

“Benar. Aku sudah mengajukan permintaan pencarian, tetapi sistem hanya menampilkan status dokumen.”

“Status apa?”

Nadia menarik napas.

“Dibatasi. Alasan pembatasan: permintaan penahanan arsip.”

Arga terdiam.

“Siapa yang mengajukan penahanan itu?”

“Informasi pemohon tidak ditampilkan pada hasil pencarian awal. Kita harus meminta catatan administrasi lengkap.”

Arga menatap daftar kode yang memenuhi halaman buku catatannya.

RCV-17.

Satu lagi dokumen yang seolah-olah sengaja dipisahkan dari arsip utama.

“Ajukan permintaan resmi,” kata Arga. “Kita juga perlu meminta dasar hukum pembatasannya, tanggal pengajuan, dan unit yang menyetujuinya.”

“Aku sudah menyiapkan semuanya. Tapi Arga, ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”

“Apa?”

“Penahanan arsip RCV-17 tercatat dilakukan bukan pada saat proyek ARX-9 masih berlangsung.”

Arga menunggu.

“Catatan sistem menunjukkan permintaan penahanan itu dibuat dua minggu lalu.”

Ruangan bengkel terasa semakin sunyi.

“Dua minggu lalu?” ulang Arga.

“Ya. Seseorang baru saja membatasi akses ke dokumen yang berkaitan dengan pemindahan VIS-09.”

Arga menggenggam ponselnya lebih erat.

Dua minggu lalu, penyelidikan mereka baru mulai menemukan hubungan antara kartu hitam, Bima, dan catatan penutupan SEC-22.

Artinya, seseorang mungkin masih memantau pergerakan mereka.

Namun, Arga tidak ingin langsung mengambil kesimpulan.

“Apakah sistem mencatat siapa yang membuka dokumen itu sebelum penahanan diberlakukan?”

“Ada catatan akses, tetapi aku belum memperoleh salinan lengkapnya.”

“Kalau begitu, kita tunggu hasil resmi. Jangan mencoba melewati pembatasan.”

Nadia menyetujui.

Sebelum percakapan berakhir, Arga mengajukan satu pertanyaan.

“Apakah kamu melihat kode GW-04 dalam catatan RCV-17?”

“Belum. Tapi ada satu kolom yang tidak ditampilkan dalam hasil pencarian.”

“Kolom apa?”

“Penerima dokumen.”

Arga menutup matanya sejenak.

Sekali lagi, nama yang mereka cari berada di balik sebuah kolom yang tidak dapat mereka akses.

Keesokan harinya, sebuah amplop cokelat ditemukan di meja kerja Arga di bengkel.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat pengembalian.

Pak Darto menemukannya ketika hendak membersihkan meja.

“Arga, ada surat untukmu.”

Arga menerima amplop itu dengan hati-hati.

“Siapa yang mengantarkannya, Pak?”

“Tidak tahu. Aku sedang berada di belakang saat surat itu diletakkan.”

Arga memeriksa bagian luar amplop. Tidak ada tanda khusus selain sebuah tulisan kecil di sudut kanan.

RCV-17.

Ia memanggil Nadia melalui telepon dan memberi tahu Pak Darto tentang kiriman tersebut. Setelah mencatat waktu penerimaan, ia membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat satu lembar salinan formulir penerimaan dokumen.

Judulnya berbunyi:

RCV-17 — FORMULIR PENERIMAAN DAN PENYERAHAN ARSIP TERBATAS.

Bagian pertama mencantumkan kode berkas yang dipindahkan.

VIS-09/TRF-2.

Bagian kedua menyebutkan bahwa dokumen diterima untuk pemeriksaan lanjutan.

Bagian ketiga memuat tanggal penerimaan, lima tahun lalu, dua hari setelah laporan akhir ARX-9 diterbitkan.

Arga membaca kolom penerima.

Nama tersebut sengaja ditutupi oleh garis hitam tebal.

Namun, di bagian bawah formulir terdapat tanda tangan yang masih terlihat sebagian.

Arga memperbesar gambar dengan ponselnya.

Ia mengenali bentuk huruf pertama.

Bukan karena pernah melihat tanda tangan itu secara langsung, melainkan karena bentuknya mirip dengan tanda tangan pada dokumen lain yang mereka miliki.

Tanda tangan pada lembar persetujuan akhir ARX-9.

Tanda tangan Adrian Voss.

Arga tidak bergerak selama beberapa detik.

Jika tanda tangan itu asli, berarti Adrian mungkin terlibat dalam penerimaan arsip yang dipindahkan setelah laporan akhir diterbitkan.

Namun, ada kemungkinan tanda tangan itu disalin, dipotong, atau ditempelkan pada formulir yang tidak berkaitan.

Arga tidak akan menuduh siapa pun hanya berdasarkan kemiripan.

Ia memotret formulir, mencatat kondisi amplop, lalu mengirim salinannya kepada Nadia dan tim audit.

Setelah itu, ia memeriksa bagian paling bawah dokumen.

Ada satu catatan tambahan yang hampir tidak terbaca.

Penerimaan dilakukan berdasarkan instruksi penahanan sementara. Pemeriksaan isi menunggu persetujuan pihak berwenang.

Di samping catatan tersebut tercetak kode kecil.

GW-04.

Arga menatap formulir itu lama.

Kode yang sama muncul pada SEC-22, daftar inventaris Ratih, dan sekarang RCV-17.

Mungkin kode tersebut milik sebuah unit administrasi.

Mungkin pula kode itu merujuk pada jalur kewenangan yang selama ini mereka cari.

Tetapi pertanyaan terbesarnya tetap sama.

Siapa yang sebenarnya menerima dokumen-dokumen itu?

Dan mengapa arsip yang seharusnya membantu mengungkap kebenaran justru dibatasi lagi setelah lima tahun berlalu?

Ponsel Arga bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor anonim.

Jangan hanya periksa tanda tangan Adrian Voss.

Arga membaca kalimat itu sekali lagi.

Pesan kedua segera menyusul.

Periksa siapa yang menyetujui formulir penerimaan tersebut. Nama penerima dan nama pemberi persetujuan bukan orang yang sama.

Arga mengangkat kepala.

Ia kembali memeriksa formulir.

Benar.

Ada dua kolom terpisah.

PENERIMA ARSIP.

PEMBERI PERSETUJUAN.

Nama penerima telah ditutupi.

Sementara kolom pemberi persetujuan hanya menampilkan kode GW-04.

Arga menambahkan satu catatan baru di buku penyelidikannya.

RCV-17 — PENERIMA BELUM DIKETAHUI. TANDA TANGAN PERLU VERIFIKASI. GW-04 TERCATAT SEBAGAI PEMBERI PERSETUJUAN.

Ia menutup buku tersebut.

Lima tahun lalu, Arga kehilangan reputasinya karena sebuah laporan yang tidak pernah ia setujui.

Sekarang, ia mulai memahami bahwa laporan itu hanyalah satu bagian dari rangkaian keputusan administratif yang lebih besar.

Ada orang yang memindahkan berkas.

Ada orang yang menahan pemeriksaan.

Ada orang yang menutup temuan tanpa memastikan barang bukti kembali.

Dan ada orang yang menyetujui semua itu tanpa mencantumkan nama secara jelas.

Arga menatap formulir RCV-17 sekali lagi.

Ia belum mengetahui siapa yang berada di balik kode GW-04.

Namun, untuk pertama kalinya, ia memiliki bukti bahwa jejak dokumen yang hilang tidak berhenti di ruang pengawasan.

Jejak itu juga mengarah pada seseorang yang menyetujui pemindahan arsip.

Seseorang yang mungkin masih memiliki kewenangan untuk menyembunyikan kebenaran sampai hari ini.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!