Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Hari-hari berikutnya bergulir dengan cepat. Berkat perawatan intensif dan pengawasan ketat dari Christian, kondisi Arabella berangsur-angsur membaik secara drastis. Tepat kemarin, gadis itu diizinkan pulang dari rumah sakit dan kini sudah kembali beristirahat di kamarnya sendiri di mansion Allegra.
Namun, kepulangan Bella ke rumah tidak serta-merta mencairkan suasana di dalam kediaman keluarga besar tersebut. Sebaliknya, atmosfer rumah terasa semakin dingin dan kaku, terutama karena kehadiran Nathan yang mendadak berubah drastis.
Sejak malam di rumah sakit, Nathan praktis jarang sekali menampakkan batang hidungnya di rumah. Pemuda itu selalu menghindari jam makan malam bersama, lebih memilih menghabiskan waktu di luar dengan dalih sibuk mengurus tugas kampus dan proyek kantor. Bahkan ketika hari keberangkatan kedua orang tuanya tiba, batang hidung Nathan sama sekali tidak terlihat.
Di ruang depan mansion yang megah, koper-koper berukuran besar milik Alan dan Karin telah tersusun rapi di dekat pintu utama. Suasana pagi itu diselimuti oleh keheningan yang canggung dan berat.
Karin, dengan mata yang tampak sembab dan raut wajah penuh kekhawatiran, memeluk tubuh Bella erat-erat. Wanita paruh baya itu menciumi puncak kepala putrinya berulang kali, seolah enggan melepaskan gadis itu pergi.
"Bella, sayang... Mama sama Papa harus balik ke Melbourne sekarang untuk mengurus pekerjaan kantor yang tertunda di sana," ucap Karin dengan suara parau, menahan isak tangisnya. "Kamu beneran nggak papa ditinggal di rumah, kan? Kalau butuh apa-apa, langsung telepon Mama atau... atau hubungi Om Christian, ya?"
Bella membalas pelukan ibunya pelan, meski ada jarak tak kasat mata yang masih menyelimuti hati mereka pasca terungkapnya rahasia besar beberapa hari lalu. "Iya, Ma... Bella sudah jauh lebih baik. Mama dan Papa hati-hati di jalan, ya. Urus pekerjaan di sana dengan baik."
Karin melepaskan pelukannya, lalu menatap putrinya dengan penuh cinta dan rasa bersalah. Sementara itu, Alan melangkah mendekat dengan setelan jas rapi dan koper di tangan pengawalnya. Pria paruh baya itu menepuk bahu Bella pelan, memasang senyum kaku khas seorang kepala keluarga yang terbiasa menyembunyikan masalah di balik wibawanya.
"Bella, jaga diri baik-baik di rumah," pesan Alan tegas namun tersirat kelembutan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada seorang pria berjas rapi yang berdiri tak jauh dari mereka—Christian Gerald.
Alan melangkah menghampiri Christian, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Di balik sorot mata Alan, tersirat kelegaan sekaligus rasa pasrah yang besar.
"Christian," ucap Alan serius. "Selama aku dan Karin di luar negeri, aku titip Arabella padamu. Aku tahu hanya kamu satu-satunya orang di keluarga ini yang bisa diandalkan untuk menjaganya dengan benar saat kami tidak ada."
Christian menyambut uluran tangan Alan, membalas jabat tangan itu dengan erat dan penuh wibawa. Tatapan tajam pria bermata cokelat gelap tersebut menyapu wajah Alan sekilas.
"Tenang saja, Alan," jawab Christian datar namun mutlak. "Arabella adalah tanggung jawab saya. Tidak akan terjadi hal buruk padanya selama dia berada di bawah pengawasan saya."
Mendengar janji tegas dari Christian, Alan mengangguk lega. "Terima kasih. Kami berangkat dulu ke bandara."
Tak lama kemudian, mobil mewah yang membawa Alan dan Karin perlahan meninggalkan halaman pelataran mansion Allegra, melaju menuju bandara internasional untuk penerbangan kembali ke Melbourne.
*
Suasana di dalam mansion kini mendadak terasa jauh lebih lengang sepeninggal kedua orang tuanya. Bella berdiri di dekat jendela kamarnya, memperhatikan mobil kedua orang tuanya yang sudah hilang dari pandangan. Pikirannya berkecamuk; ia merasa kosong, bingung, namun di sisi lain ada kelegaan aneh karena tidak harus menghadapi ketegangan antara Alan dan Karin setiap harinya.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu kamar memecah keheningan.
"Masuk," ujar Bella pelan.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Christian yang melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa pastel milik Bella. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja abu-abu tua dengan lengan yang digulung sebatas siku, memancarkan aura dominan yang langsung mendominasi ruangan tersebut.
Christian mendapati Bella berdiri seorang diri di dekat jendela dengan bahu yang sedikit membungkuk. Pria itu berjalan mendekat tanpa suara, lalu berdiri tepat di samping gadis itu.
"Kenapa melamun, Arabella?" tanya Christian lembut, suaranya baritonnya merendah, kontras dengan ketegasannya di depan Alan tadi.
Bella menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke luar jendela. "Tidak apa-apa, Om... Cuma merasa rumah ini tiba-tiba sepi banget. Papa sama Mama sudah berangkat, dan Kak Nathan... dia bahkan nggak pulang dari kemarin malam buat sekadar pamit."
Mendengar nama Nathan disebut, rahang Christian mengeras tipis. Ia tahu betul pemuda itu sedang sengaja menghindar karena tidak sanggup menanggung beban kebohongan yang terpikul di pundaknya.
Christian mengangkat tangannya, lalu dengan sangat lembut menyentuh dagu Bella, memaksa gadis itu untuk mendongak dan menatap manik matanya.
"Biarkan kakakmu memproses urusannya sendiri," ucap Christian tenang namun penuh penekanan. "Mulai hari ini, fokusmu hanya satu: dirimu sendiri. Seperti yang sudah saya katakan pada ayahmu, kamu tidak perlu merasa sendirian lagi."
*
Suasana di dalam kamar Bella yang luas mendadak terasa hangat ketika pintu terbuka dan sosok Clarisa muncul dengan membawa keranjang buah segar serta sekotak kue cokelat favorit sahabatnya itu.
"Bella!" sapa Clarisa riang, langsung melangkah cepat menghampiri ranjang tempat Bella bersandar. Gadis itu memeluk Bella dengan hati-hati. "Gimana keadaan kamu sekarang? Udah baikan, kan?"
Bella tersenyum tulus, membalas pelukan sahabatnya itu. "Udah jauh lebih baik kok, Clar. Makasih ya udah mau jengukin aku ke sini."
Di sisi ranjang, Christian yang tadinya berdiri tegak langsung merapikan jasnya. Pria itu menatap Clarisa sekilas dengan sorot mata tenang namun berwibawa. "Selamat siang, Clarisa. Terima kasih sudah datang menemani Arabella."
"Siang juga, Om," balas Clarisa sopan sambil mengangguk hormat.
Christian kemudian melirik Bella. "Arabella, saya harus segera kembali ke rumah sakit pusat untuk jadwal bedah siang ini," pamit Christian lembut, menyempatkan diri mengusap puncak kepala Bella sekilas sebelum melangkah keluar kamar.
Begitu pintu tertutup rapat dan derap langkah Christian menghilang di balik lorong, Clarisa langsung menghembuskan napas lega sambil melemparkan senyuman penuh arti ke arah Bella.
"Duh, Om Christian tuh ya... perhatian banget sama kamu, Bell," goda Clarisa sambil menaik-turunkan alisnya, mendudukkan diri di tepi ranjang. "Kalau nggak ingat beliau itu om kamu, jujur aja, vibes-nya protektif banget kayak pacar idaman."
Wajah Bella langsung merona merah padam mendengar ucapan sahabatnya. "Apaan sih, Clar! Jangan ngawur deh!" sangkal Bella cepat-cepat, berusaha menutupi salah tingkahnya.
"Hahaha, muka kamu merah tuh! Udah, ngaku aja," ledek Clarisa tertawa renyah. "Ah, daripada bahas Om Christian yang kaku itu, mending kita marathon film aja! Aku udah bawa banyak banget cemilan enak."
*
Siang hingga sore hari itu dihabiskan oleh kedua gadis tersebut dengan bersantai di atas tempat tidur. Mereka menyetel sebuah film drama romantis, ditemani tumpukan keripik kentang dan cireng gurih. Di sela-sela menonton, topik pembicaraan mereka akhirnya beralih pada sosok yang sempat membuat hidup Bella hancur beberapa waktu lalu.
"Oh iya, Bell... kamu udah dengar berita terbaru soal Vero, kan?" tanya Clarisa serius, meletakkan bungkus cemilannya di nakas.
Bella mengangguk pelan, tatapannya menerawang ke layar laptop yang sedang menjeda film. "Udah... Om Christian yang tunjukin beritanya waktu aku di rumah sakit. Katanya dia sama keluarganya bener-bener diproses hukum atas kasus penipuan dan jaringan prostitusi itu."
"Bagus deh kalau gitu!" seru Clarisa dengan nada geram. "Cowok kayak gitu emang nggak pantes dikasih kasihan. Sumpah ya, waktu tahu dia manfaatin kebaikan kamu buat foya-foya dan nutupin utang keluarganya, aku pengen banget ikut nampar dia! Untung aja sekarang dia udah busuk di penjara."
Bella menghela napas panjang, beban di dadanya terasa jauh lebih ringan sekarang. "Iya, Clar... Aku ngerasa bodoh banget dulu bisa sebegitu terperdayanya sama dia."
"Udah, jangan diingat-ingat lagi! Anggap aja itu pelajaran buat ke depannya," hibur Clarisa sambil merangkul pundak sahabatnya. "Yang penting sekarang nama kamu udah bersih, dan nggak ada lagi orang jahat yang berani ganggu kamu."
Seiring berjalannya waktu, obrolan panjang itu akhirnya membuat mata Bella perlahan terasa berat. Efek obat pemulihan yang masih dikonsumsinya membuat tubuhnya cepat lelah. Tak lama kemudian, napas Bella mulai teratur, dan gadis itu jatuh tertidur pulas dengan kepala bersandar nyaman di bantal.
Melihat sahabatnya telah terlelap, Clarisa tersenyum maklum. Ia merapikan selimut Bella, mematikan layar televisi, lalu bangkit dari ranjang.
Tenggorokan Clarisa mendadak terasa kering setelah terlalu banyak berbicara dan memakan cemilan asin. Ia teringat botol air minum di nakas yang ternyata sudah kosong. Tanpa pikir panjang, gadis itu memutuskan untuk turun ke lantai bawah guna mengambil air di dapur.
Clarisa melangkah santai menuruni anak tangga demi anak tangga mansion Allegra yang megah. Suasana rumah terasa begitu sunyi dan lengang. Ia tahu kedua orang tua Bella baru saja berangkat ke luar negeri, sementara para ART mungkin sedang sibuk bekerja di bagian belakang rumah. Karena sudah sangat akrab dengan tata letak mansion itu, Clarisa berjalan dengan tenang tanpa rasa canggung sedikit pun.
Ia tiba di area dapur yang luas, membuka kulkas, dan menuangkan air dingin ke dalam gelas kaca. Setelah meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering, Clarisa berbalik sambil membawa gelas tersebut.
Prang!
Langkah Clarisa terhenti seketika saat tubuhnya tanpa sengaja menabrak seseorang yang berdiri sangat dekat di belakangnya. Gelas kaca yang ia pegang terlepas dari tangan, pecah berkeping-keping di lantai marmer, sementara air dingin dari gelas tersebut tumpah membasahi kemeja hitam yang dikenakan oleh pria di hadapannya.
Clarisa terkesiap kaget. Ia mendongakkan kepalanya, hendak meminta maaf, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat melihat siapa pria yang berdiri tepat di depannya saat ini.
Pria itu adalah Nathan.
Kakak laki-laki Bella itu berdiri dengan postur kaku dan wajah super dingin, menatap tajam ke arah Clarisa tanpa sedikit pun niat membersihkan tumpahan air di kemejanya. Sorot mata pemuda itu memancarkan aura es yang menusuk, membuat suhu di dalam dapur mendadak terasa membeku.
Itu adalah pria yang sama—pria arogan yang pernah Clarisa tampar dengan penuh emosi di lobi rumah sakit beberapa hari lalu karena memperlakukan Bella dengan sangat kasar. Dan kini, takdir seolah mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh lebih canggung: Clarisa baru saja menumpahkan air minum tepat di dada kemeja pria itu.
"Kau memang gadis yang menyebalkan."
*
*
*
#selamat pagi 😉
Boleh spam komen, agar author tau seberapa banyak yang tertarik dengan kelanjutan cerita ini..!
Satu dukungan dari kalian, sama dengan memberikan kobaran semangat untuk author tetap menulis.
terimakasih 🙏
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang