Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Mahkota Yang Dirampas
Pagi itu, lonceng agung Istana Weishan berdentang sembilan kali.
Suara lonceng perunggu menggulung di atas atap-atap istana, melintasi menara pengawas, menyusuri koridor merah, lalu menggema hingga ke halaman luar tempat para prajurit berdiri dalam barisan yang kaku. Burung-burung yang bertengger di tepian genting beterbangan serentak, seolah-olah bunyi itu membawa pertanda buruk yang bahkan mereka pun tidak sanggup mendengarnya lebih lama.
Di ibu kota Weishan, rakyat telah terbiasa mendengar lonceng kerajaan sebagai tanda upacara penting, pengumuman titah, atau peringatan atas wafatnya seorang bangsawan besar.
Namun, pagi itu, lonceng tersebut memanggil para pejabat, bangsawan, dan petinggi militer untuk menyaksikan sebuah keputusan yang akan mengubah wajah istana.
Sebuah mahkota akan berpindah tangan.
Dan perempuan yang selama bertahun-tahun mengenakannya dengan penuh kehormatan akan kehilangan kedudukannya bukan karena terbukti melakukan kejahatan, melainkan karena orang-orang yang berkuasa telah memutuskan bahwa dirinya terlalu berbahaya untuk dipertahankan.
Di Paviliun Fengyi, Wang Laoyin berdiri di depan cermin perunggu dengan punggung tegak.
Di belakangnya, dua orang pelayan sedang melipat pakaian-pakaian kerajaan yang telah diperintahkan untuk diserahkan ke gudang istana. Kotak perhiasan terbuka di atas meja, memperlihatkan tusuk konde emas, gelang giok, kalung mutiara, dan anting-anting yang dahulu hanya boleh dikenakan oleh seorang Permaisuri.
Satu demi satu, benda-benda itu diangkat dari tempatnya.
Satu demi satu pula, bagian dari kehidupan Wang Laoyin seolah-olah dicabut dengan paksa.
Ia mengenakan jubah merah tua bersulam burung phoenix emas, pakaian kebesaran yang biasa ia gunakan saat menghadiri upacara kerajaan. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi mahkota phoenix yang memancarkan kilau keemasan di bawah cahaya pagi. Di lehernya tergantung kalung mutiara putih, sedangkan sepasang gelang giok melingkari pergelangan tangannya.
Ia sengaja mengenakan semua lambang kebesarannya.
Bukan karena ia berharap dapat mempertahankan kedudukannya.
Melainkan karena ia tidak ingin seorang pun mengira bahwa dirinya telah menyerah sebelum keputusan dibacakan.
Wajahnya tetap cantik, anggun, dan berwibawa. Namun, kecantikan itu kini dibayangi sesuatu yang lebih keras daripada kesedihan. Matanya yang biasanya teduh telah berubah menjadi dua telaga dingin yang menyimpan badai. Bibirnya terkatup rapat, sementara jemarinya sesekali mengepal di balik lengan jubah.
Qing'er berdiri di dekat pintu dengan mata sembap.
“Yang Mulia,” katanya lirih, “mengapa mereka melakukan ini? Penyelidikan belum selesai. Tidak ada bukti yang memastikan bahwa Yang Mulia bersalah. Mengapa mereka sudah memperlakukan Yang Mulia seperti seseorang yang kehilangan hak atas takhtanya sendiri?”
Wang Laoyin menatap pantulan wajah mereka di cermin.
“Karena terkadang, keputusan dibuat bukan untuk menemukan kebenaran.”
Ia mengangkat tangan, membetulkan posisi mahkota phoenix di kepalanya.
“Keputusan dibuat agar orang-orang yang berkuasa tidak perlu lagi mendengar kebenaran.”
Qing'er menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
“Tetapi, Yang Mulia adalah Permaisuri yang sah.”
Wang Laoyin terdiam.
Permaisuri yang sah.
Dahulu, gelar itu terasa seperti kehormatan yang menyertai tanggung jawab besar. Ia menerima mahkota bukan hanya sebagai lambang kedekatannya dengan Raja Han Quan, tetapi juga sebagai janji untuk menjaga keseimbangan istana, melindungi para pelayan, mengurus kediaman dalam, dan berdiri di sisi takhta ketika kerajaan menghadapi kesulitan.
Kini, gelar itu akan dicabut dengan satu titah.
Betapa rapuhnya sesuatu yang selama ini dianggap begitu agung.
“Gelar dapat diberikan dan dicabut oleh Raja,” jawab Wang Laoyin akhirnya. “Namun, kehormatan tidak seharusnya bergantung pada sepotong emas di atas kepala.”
Ia menoleh kepada Qing'er.
“Jangan menangis untuk mahkota itu.” Wang Laoyin memandang kotak perhiasan yang telah hampir kosong.
“Untuk orang-orang yang mengira mereka dapat merampas seluruh hidup seseorang hanya dengan merampas kedudukannya.”
Di luar paviliun, suara langkah pengawal terdengar mendekat.
Seorang kasim senior muncul di ambang pintu, mengenakan jubah abu-abu dengan lambang kerajaan di bagian dada. Ia membungkuk dengan kaku, lalu menyampaikan titah.
“Permaisuri Wang Laoyin diperintahkan menghadap ke Aula Naga Emas. Upacara pengumuman titah kerajaan akan segera dimulai.”
Wang Laoyin mengangkat dagu.
“Baik.”
Ia berbalik menghadap cermin untuk terakhir kalinya, menatap dirinya sendiri dengan pandangan panjang.
Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia melangkah keluar.
Mahkota phoenix masih bertengger di kepalanya.
Namun, ia tahu bahwa ketika ia kembali dari aula nanti, mungkin tidak seorang pun akan berani menyebutnya Permaisuri lagi.
***
Aula Naga Emas merupakan tempat pelaksanaan upacara-upacara kerajaan yang paling penting. Bangunan itu berdiri di bagian tengah Istana Weishan, dengan tangga batu putih yang membentang lebar dari halaman menuju pintu utama. Pada setiap sisi tangga terdapat patung naga berukir yang mencengkeram bola giok di antara kedua cakarnya, melambangkan kekuasaan raja atas daratan dan lautan.
Pintu aula terbuat dari kayu cendana merah, dihiasi paku-paku emas dan ukiran awan yang berkelok-kelok. Di atasnya tergantung papan besar bertuliskan nama aula dengan kaligrafi kuno. Bagian dalamnya diterangi puluhan lentera sutra kuning, sedangkan lantainya dilapisi marmer putih yang memantulkan bayangan para pejabat seperti permukaan air yang tenang.
Di ujung ruangan berdiri singgasana Raja Han Quan.
Singgasana itu terbuat dari kayu hitam pilihan, dengan sandaran berbentuk naga yang melingkar hingga ke bagian atas. Di belakangnya terbentang tirai emas bersulam awan dan matahari. Di kedua sisi singgasana berdiri pilar-pilar merah dengan ukiran naga yang seolah-olah hidup, siap menerkam siapa pun yang berani menentang titah kerajaan.
Pagi itu, para pejabat tinggi berdiri dalam dua barisan.
Para panglima mengenakan pakaian resmi dengan lambang militer di dada. Para menteri memakai jubah panjang berwarna biru, hijau tua, atau ungu sesuai tingkatan jabatan. Para kasim istana berbaris dekat pintu, sementara para dayang berdiri di belakang tirai samping, menundukkan kepala dengan tangan terlipat.
Di antara mereka, Selir Lan Zifey berdiri dengan anggun.
Ia mengenakan jubah sutra berwarna merah delima, dihiasi sulaman bunga peoni emas yang mekar di bagian lengan dan dada. Rambut hitamnya disanggul tinggi, dihiasi tusuk konde emas berbentuk burung phoenix dengan mata batu rubi. Kalung mutiara melingkari lehernya, sedangkan gelang giok berwarna hijau pucat berkilau di pergelangan tangannya.
Wajahnya cantik dengan cara yang berbeda dari Wang Laoyin.
Jika kecantikan Wang Laoyin menyerupai bulan yang tenang di atas danau, kecantikan Lan Zifey menyerupai bunga beracun yang mekar sempurna di tengah taman kerajaan. Senyumnya lembut, gerakannya anggun, dan suaranya selalu terdengar penuh perhatian. Namun, di balik kelembutan itu tersimpan ambisi yang telah tumbuh selama bertahun-tahun, dirawat dengan kesabaran dan disiram oleh kecemburuan.
(Bersambung, yaaaah....terimakasih atas support dan dukungannya buat Novel ini☺️lap yu rederrrr)