💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Satu Tahun Kemudian...
Asap gerobak nasi goreng mengepul di udara malam yang lembap. Alana merapatkan kerah jaket kebesarannya, menenteng kantong plastik berisi tiga porsi makan malam.
Tiga ratus enam puluh lima hari pelarian telah mengubah segalanya. Penampilannya malam ini dengan rambut dicepol asal, wajah tanpa riasan, dan sandal jepit yang sedikit aus — sangat jauh dari citra mahasiswi modis yang setahun lalu baru mendarat di bandara.
Langkah Alana memasuki gang sempit yang membelah deretan kontrakan tua. Angin malam berembus tajam, namun bukan hawa dingin yang membuat langkah gadis itu mendadak terhenti.
Melainkan sebuah aroma yang sangat ia kenal menyerang penciumannya. Bukan sekadar bau karat dari pipa selokan, melainkan bau pekat anyir darah.
Mata Alana yang kini selalu awas menyapu kegelapan tiba-tiba menangkap sudut gang yang terhalang bayangan tempat sampah besar. Di sana, seonggok tubuh jangkung bersandar tak berdaya pada dinding bata yang basah.
"Sial," umpat Alana tertahan.
Napasnya memburu. Jika ia membiarkan pria tak dikenal ini mati kehabisan darah di gang tempatnya tinggal, besok pagi polisi pasti akan memasang garis kuning. Penyelidikan besar-besaran akan terjadi, dan penyamarannya bersama si kembar bisa hancur berantakan.
Alana menelan ludah, memaksakan kakinya melangkah mendekat.
Cahaya temaram dari tiang listrik menyorot kemeja hitam pria itu yang basah dan robek di bagian perut. Darah segar merembes pekat, menetes perlahan ke atas tanah berlumpur.
Tanpa membuang detik, Alana meraih lengan pria yang berotot padat itu, mengalungkannya ke bahunya.
"Bangun. Kau tak boleh mati di depan pintu kontrakanku," desisnya sinis, setengah menyeret tubuh besar itu menembus arah pintu belakang rumahnya.
Begitu sampai di depan pintu, Alana segera membukanya, menyeret pria itu masuk, lalu menendang pintu tertutup di belakang mereka.
Alana menjatuhkan pria itu ke atas karpet usang di ruang tengah. Pemuda asing itu tak berkutik, napasnya berat dan putus-putus. Alana bergegas mengambil kotak P3K dari laci dapur. Kembali berlutut di hadapan pria itu, ia tanpa ragu menarik kemeja pria itu hingga terlepas, menampilkan otot-otot yang terbentuk sempurna di perutnya.
Alana sama sekali tidak terpesona. Matanya hanya fokus pada luka yang terbuka di depannya. Dengan cekatan, ia menuangkan cairan alkohol ke atas kain kasa, lalu menekan luka tembak yang menganga di perut kiri pria itu. Beruntung, pelurunya hanya menyerempet dalam, tidak bersarang di daging.
Meskipun alkohol itu menyengat langsung ke luka terbukanya, pria itu tidak mengerang sedikit pun. Rahangnya hanya mengeras.
Perlahan, kelopak mata pria itu terbuka. Sepasang mata elang yang sangat tajam dan mematikan menatap lurus ke arah Alana yang sedang sibuk membalut lukanya.
"Tanganmu... tidak gemetar sama sekali untuk ukuran gadis pinggiran," suara serak dan berat itu memecah keheningan.
Gerakan tangan Alana terhenti sesaat. Ia menatap wajah pria itu — rahang setajam pahatan, hidung mancung, dan aura dominan yang kental. Sangat tampan, tapi insting Alana berteriak: pria ini adalah predator.
Alana membalas tatapan itu dengan sorot sedingin es. "Kalau kau mau lukamu cepat busuk, teruslah banyak bicara."
Sebelum pria itu sempat membalas, terdengar ketukan pelan dari balik pintu kamar.
"Bunda...? Bunda sudah pulang?"
Suara mungil Kael menyentak kesadaran pria itu. Otot-ototnya yang menegang menahan sakit seketika membeku. Ia menoleh perlahan ke arah pintu kayu beralas tripleks tersebut. Tatapannya menajam, mengendus sesuatu yang familier.
"Itu anakku," potong Alana cepat. Suaranya datar namun mengisyaratkan peringatan keras, memblokir tatapan menyelidik pria asing itu.
Alana sedikit menoleh ke arah pintu.
"Iya, Sayang. Tunggu di dalam, sebentar lagi Bunda bawa makanan masuk."
Pria itu menatap wajah Alana lekat-lekat. Entah mengapa, ada desir aneh yang menyengat dadanya saat mendengar pengakuan itu. Posisinya sebagai penguasa dunia bawah membuatnya terbiasa menguliti kebohongan, namun gadis di hadapannya ini terlihat terlalu tenang. Terlalu sempurna.
Sebuah senyum miring yang teramat tipis terbentuk di bibir pucat pria itu, auranya terasa semakin berbahaya.
"Kau... sudah punya anak?" tanyanya. Nada suaranya sedikit merendah, bernada mengejek. "Mana suamimu? Pria macam apa yang membiarkan istri cantiknya dan anaknya tinggal di tempat kumuh seperti ini?"
"Bukan urusanmu," jawab Alana ketus, merekatkan ujung perban di perut pria itu dengan sedikit tenaga ekstra hingga pria itu mengernyit. "Suamiku kerja di luar kota. Pulang sebulan sekali. Jadi jangan macam-macam."
Pria itu hanya mendengus pelan, menatap Alana dengan kilat mata penuh perhitungan. Setelah memastikan pendarahan berhenti, Alana segera berdiri.
"Tunggu di situ. Jangan berani sentuh barang apa pun."
Alana melangkah cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menghela napas panjang, meredam jantungnya yang berdebar tak karuan.
Di atas kasur tipis, Kael sedang membenarkan letak kacamata berbingkai bulatnya, sementara Kai bersandar dengan raut waspada. Meski baru enam tahun, insting tajam yang mereka miliki tahu ada sesuatu yang salah.
"Dengarkan Bunda ya," bisik Alana tegas seraya menyerahkan dua bungkus nasi goreng. "Di luar ada orang asing yang sedang terluka. Jangan ada yang keluar kamar malam ini. Apa pun yang terjadi, jangan buka pintu. Mengerti?"
Kael dan Kai saling berpandangan sebelum mengangguk patuh.
"Baik, Bunda."
Setelah memastikan si kembar makan dengan aman, Alana mengambil satu kaus abu-abunya dari lemari, lalu kembali keluar kamar sambil menenteng porsi makanannya sendiri. Dengan tenang ia mendekati pria yang masih bersandar di dinding ruang tengah.
"Pakai ini!" ketus Alana, melempar kaus ke pangkuan pria itu.
Pria itu menatap kaus abu-abu di pangkuannya, lalu menatap Alana dengan alis terangkat.
"Hanya itu yang ada. Cepat pakai, kalau tidak mau masuk angin!" lanjut Alana sambil menuangkan nasi goreng sisa itu ke piring plastik tanpa menoleh.
Pria itu akhirnya memakainya, tanpa protes.
"Makan cepat," seru Alana dingin, menatap angkuh tanpa sedikit pun terintimidasi oleh aura membunuh pria itu. "Biar kau punya tenaga untuk merangkak pergi dari sini."
Elvano Adhitama mengerutkan kening. Harga dirinya serasa ditampar. Sepanjang hidupnya memimpin klan Adhitama, tidak pernah ada satu pun manusia yang berani memberinya perintah, apalagi mengusirnya seperti kucing liar.
Namun, perutnya yang kosong dan darahnya yang terkuras tidak bisa diajak berkompromi. Dengan gerakan pelan menahan ngilu, ia menerima piring tersebut.
Saat menyuap sendok pertamanya, Elvano melirik. Gadis berwajah dekil itu kini duduk bersedekap di kursi plastik tak jauh darinya. Menatapnya lekat-lekat layaknya induk harimau yang menjaga wilayahnya.
"Kau tidak ikut makan?" tanya Elvano. Matanya menelusuri raut keras kepala gadis itu.
"Aku sudah makan di dalam bersama anakku," bohong Alana dengan wajah tak berdosa. Ia menekan rasa lapar yang sedari tadi meronta di perutnya, rela menahan perih agar pria tak diundang ini segera pulih dan pergi.
"Habiskan. Lalu cepat angkat kakimu dari kontrakanku."
Bersambung...