NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Suara Di Kamar Sebelah

Pak Yono menjadi orang pertama yang berhasil menguasai diri dan memecah kecanggungan di lorong tersebut. Pria tua itu terbatuk kecil, berdeham membersihkan tenggorokannya, lalu buru-buru menegakkan posisinya sebelum menyapa gadis cantik itu.

"Eh, Mbak Indri... Mau ke dapur ya?" sapa Pak Yono dengan nada suara yang dibuat se-ramah dan se-halus mungkin.

Gadis bernama Indri itu menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah mereka bertiga lalu mengukir senyuman manis yang sangat memikat. Matanya yang indah melirik sekilas ke arah Galih dan Aldi yang masih berdiri mematung.

"Iya, Pak Yono. Mau ngambil air minum hangat di dapur," jawab Indri dengan suara yang terdengar begitu lembut dan renyah di telinga.

Senyuman manis nan memikat itu seolah berhembus bagai angin segar di lorong kost yang remang. Sontak saja, Galih dan Aldi reflek mengumbar cengir lebar secara bersamaan, menunjukkan reaksi canggung sekaligus terpesona yang tak bisa mereka sembunyikan. Indri hanya terkekeh pelan melihat tingkah kedua pemuda itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur umum di ujung lorong.

Begitu bayangan Indri benar-benar menghilang di belokan lorong, Pak Yono menyenggol lengan Galih dengan sikunya seraya berceletuk penuh kebanggaan.

"Nah, Mas... Ini dia salah satu keuntungan luar biasa kalau tinggal di kost campuran kayak begini. Tiap hari cuci mata terus! Bisa ngeliat cewek-cewek cantik lalu lalang tanpa perlu bayar," bisik Pak Yono sambil terkekeh jahil.

Wajah Galih seketika merona merah. Ia hanya bisa tersenyum malu-malu seraya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu, Aldi yang berada di sampingnya langsung menyenggol bahu Galih dan mengejeknya habis-habisan.

"Waduh, Lih! Beruntung banget kamu satu kost sama cewek cantik kayak gitu. Udah, nikmatin aja pemandangan indahnya tiap hari, itung-itung hiburan gratis habis kena apes," ledek Aldi tertawa puas melihat kepolosan sahabat lamanya itu.

"Apaan sih kamu, Di," sahut Galih canggung, meski tak bisa dipungkiri jantungnya sempat berdegup kencang saat melihat keindahan paras Indri tadi.

Aldi kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya udah, Lih. Aku harus balik ke kampus sekarang, ada jadwal kuliah sebentar lagi. Barang-barangmu ditata dulu aja di kamar."

"Iya, Di. Sekali lagi makasih banyak ya buat semuanya," kata Galih tulus.

Namun, saat mereka berjalan beriringan menuju halaman depan tempat motor Aldi terparkir, secara diam-diam Aldi merogoh saku celananya. Tanpa sepengetahuan Pak Yono yang sudah kembali ke teras depan, Aldi menyusupkan selembar uang lima puluh ribu rupiah ke dalam kantong kemeja Galih.

Galih yang menyadari hal itu langsung terkejut dan memegang tangan Aldi. "Eh, Di! Jangan begini, kamu udah bantu banyak banget hari ini. Aku nggak mau—"

"Udah, pegang aja!" potong Aldi cepat. Tanpa memberikan kesempatan bagi Galih untuk mengembalikan uang itu, Aldi langsung melompati jok motor sport-nya, memakai helm, dan menyalakan mesin yang menderu nyaring.

Dari balik visor helmnya yang gelap, Aldi berteriak sedikit kencang. "Pakai uang itu buat beli makan, Lih! Kamu belum makan dari subuh! Nanti kalau ada apa-apa, telepon aku aja!"

Belum sempat Galih membalas ucapan itu, Aldi sudah menarik tuas gas dan melaju kencang meninggalkan gang sempit tersebut. Galih hanya bisa berdiri di pinggir jalan, memandangi kepergian sahabatnya dengan rasa haru yang membuncah. Ia meremas selembar uang lima puluh ribu di tangannya.

'Terima kasih banyak, Di... Kamu benar-benar penolongku hari ini,' batin Galih penuh syukur.

Setelah kepergian Aldi, Galih kembali melangkah masuk ke dalam lorong dan membuka pintu kamar barunya. Pintu kayu sederhana itu berderit pelan saat didorong.

Galih melangkah masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia mengamati sekeliling ruangan berukuran dua kali tiga meter itu. Di dalamnya memang sangat minim fasilitas, hanya ada satu kasur lantai tanpa sprei yang tampak agak kumal, sebuah lemari plastik kecil tiga susun di sudut ruangan, serta satu kipas angin gantung tua yang berdebu. Udaranya terasa agak pengap dan berbau kayu lapuk.

Namun, bagi seorang Galih yang baru saja lolos dari neraka rumah tangganya dan ancaman pukulan sang ayah, tempat sederhana ini terasa bagaikan istana yang sangat aman. Tidak ada bentakan, tidak ada ancaman, dan tidak ada rasa takut akan ditendang sewaktu-waktu.

Galih meletakkan tas ranselnya di atas lemari plastik. Tubuhnya terasa amat sangat lelah. Rasa pegal di sekujur badan ditambah perih dari lebam di wajahnya mulai menjalar hebat setelah rasa paniknya mereda. Tanpa berpikir panjang lagi, Galih langsung merebahkan tubuhnya secara terlentang di atas kasur lantai yang keras itu.

Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kayu yang kusam, lalu perlahan memejamkan matanya. Kesunyian di kamar itu terasa begitu menenangkan, membuat rasa kantuk yang berat mulai menguasai kesadarannya.

Namun, tepat saat Galih mulai memasuki alam mimpi dan hampir terlelap sepenuhnya, sebuah suara asing dari arah dinding kamar sebelah mendadak memecah keheningan.

"Ahhh... mmphhh..."

Galih mendadak tersentak. Matanya terbuka lebar secara refleks. Ia menegakkan posisinya dan menajamkan pendengarannya.

Dug! Dug! Dug!

Suara ketukan berirama ritmis menghantam dinding sekat kayu yang membatasi kamarnya dengan kamar sebelah. Tepat setelah ketukan itu, terdengar hembusan napas berat dan nada desahan wanita yang semakin jelas, tertahan namun penuh ketegangan.

"Ngggh... lebih pelan... nanti kedengaran tetangga sebelah..."

Suara samar seorang wanita berbisik lembut, disusul oleh suara erangan rendah seorang pria yang menjadi lawan mainnya.

Dug! Dug! Dug!

Dinding yang tipis dan terbuat dari sekat kayu itu sama sekali tidak mumpuni untuk meredam suara. Setiap getaran, ketukan, hingga helaan napas dari aktivitas intim di kamar sebelah terdengar begitu jelas dan nyaring di telinga Galih, seolah-olah kegiatan tersebut dilakukan tepat di samping tempat tidurnya.

Seketika itu juga, darah di sekujur tubuh Galih serasa berdesir hebat. Wajahnya yang memar memerah padam hingga ke ujung telinga. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.

Galih yang selama ini hidup dalam tekanan ketat dan terkungkung di bawah pengawasan ayahnya, sama sekali belum pernah berhadapan langsung dengan situasi liar seperti ini. Suara-suara sensual yang terus bergema di balik sekat kayu tipis itu dengan cepat meracuni pikirannya. Otaknya tanpa sadar mulai membayangkan adegan demi adegan panas yang sedang terjadi di kamar sebelah. Bayangan sosok Indri dengan tank top ketat merah marun dan kulit mulusnya yang baru saja ia lihat di lorong tadi mendadak berputar-putar di dalam kepalanya.

Galih menelan ludahnya yang terasa sangat kering. Ia memegangi dadanya yang bergemuruh kencang, berusaha keras menepis bayangan-bayangan liar yang makin menguasai imajinasinya. Suasana kamar yang semula sunyi dan menenangkan, kini berubah menjadi tempat yang terasa sangat panas dan menyiksa bagi pemuda dua puluh tahun itu.

1
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
fara sina
baiknya Aldi aku terharu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!