Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
Sebelum sampai didepan altar, Sagara sudah melihat kekacauan yang terjadi di depannya, dan gadis di depan sana, yang terasa familier membuat kedua bola mata Sagara melebar, lontaran hinaan yang berdengung dikepalanya bagaikan lebah tak ia pedulikan namun begitu netranya menatap pemandangan sang nenek di depan sana, wajahnya perlahan meredup.
Ini tak bisa dibiarkan! Ia belum terlalu mengerti akar dari semua masalah ini namun yang pasti ia harus menyelamatkan martabat keluarga nya. Neneknya yang terlihat kesakitan menahan malu, tak bisa ia abaikan begitu saja.
Lantas kakinya melangkah dengan mantap, bersama dengan isi kepalanya yang telah merencanakan skenario terbesar yang mungkin akan mengagetkan semua orang termasuk gadis itu sendiri namun harus ia lakukan di tengah situasi genting seperti ini untuk menyelamatkan nama keluarga nya.
Dan akhirnya pernyataan itu keluar dari mulutnya sambil tangannya yang menggenggam erat tangan mungil gadis di sampingnya itu, pernyataan yang membuat seluruh ruangan hening dan orang-orang yang menatap tak percaya.
Aleah sendiri juga sangat terkejut dengan pernyataan sepihak pria itu, sama sekali di luar perkiraan nya. Dia kira pria itu akan marah besar dan langsung menghakimi nya namun siapa sangka dia malah mengklaim sepihak dengan pernyataannya di luar logika di hadapan puluhan pasang mata yang menatap mereka saat ini.
Lalu keheningan yang tadinya mencekam aula, kini pecah menjadi kericuhan yang luar biasa. Bisik- bisik berubah menjadi seruan terbuka, beberapa tamu bahkan berdiri dari kursi mereka, saking tak percayanya dengan apa yang mereka dengar dari mulut pewaris tunggal Fernandez tech itu sendiri.
“Apa katanya barusan?”
“Dia bilang memang gadis itu yang ingin dinikahi nya?”
“Jadi selama ini persiapan untuk Xavia itu cuma settingan?”
Diantara kursi tamu terdepan, wajah Gracia berubah pucat pasi, tangannya yang keriput gemetar hebat mencengkeram gagang tongkat nya, matanya masih terpaku pada Aleah yang berdiri kaku di samping Sagara.
“Sagara…” gumamnya lirih, suaranya tenggelam diantara para tamu.
Sementara itu, wajah Mayang berubah drastis. Senyum licik nya yang semula penuh percaya diri kini retak seketika, matanya membelalak menatap Aleah dan Sagara secara bergantian, otaknya berputar cepat mencoba mencerna situasi yang sama sekali di luar kendalinya.
“Tidak, tidak mungkin.” Bisiknya pada diri sendiri, kukunya menancap dalam ke telapak tangannya sendiri, menahan amarah yang mendadak membuncah. Rencananya seharusnya berjalan sempurna. Xavia kabur, pengantin wanita hilang dan keluarga Fernandez dipermalukan habis- habisan di depan publik. Namun kini, Sagara justru mengambil alih narasi itu,membalikkan skandal menjadi sebuah kisah cinta dadakan yang justru bisa dinikmati media sebagai berita romantis, bukan aib.
Aleah sendiri berdiri kaku di samping Sagara, jantungnya berdegup kencang bukan main. Ia menoleh pelan kepada pria itu,bibirnya bergerak nyaris tak bersuara,
“Apa yang kau lakukan?” Bisiknya panik, hanya untuk ditelinga Sagara, “kau bahkan tidak kenal aku!”
“Diam dan ikuti saja.” Balas Sagara, suaranya rendah, hampir tak terlihat gerakan bibirnya dari kejauhan, namun nada itu jelas seperti perintah mutlak yang tak bisa dibantah.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Nyonya Gracia akhirnya bangkit dari kursinya, melangkah maju dengan bantuan tongkatnya, Robert hendak membantu namun Gracia mengangkat tangannya membuat pria itu mundur kembali ke tempatnya, dan Mayang yang melihat itu mendengus sambil melirik sinis.
“Sagara, “ panggil Gracia pada sang cucu. Suaranya berusaha terdengar tenang meski di dalam nya tersimpan badai pertanyaan, wajahnya menyimpan seribu tanda tanya, namun ia tahu di tengah kerumunan seperti ini, bukan saat yang tepat untuk mempertanyakan segalanya secara terbuka.
“Kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan ini?”
Sagara menatap neneknya lurus- lurus,tak sedikitpun menunjukkan keraguan meski di dalam hatinya sendiri ia juga tak sepenuhnya paham kenapa kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya barusan.
“Aku yakin nek.”
Kalimat singkat itu seolah menjadi penutup sementara untuk kericuhan yang sempat memuncak. Beberapa tamu mulai duduk kembali, meski bisik- bisik penasaran masih terus mengalir deras, sementara para wartawan dadakan yang sejak tadi merekam dengan ponsel mereka justru semakin bersemangat, menyadari bahwa mereka baru saja mendapat kan berita yang jauh lebih menarik daripada pernikahan biasa.
Penghulu yang sejak tadi kebingungan di altar, akhirnya berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana yang masih terasa canggung. “Jadi…. Apakah acara akad akan tetap dilanjutkan?”
Semua mata kembali tertuju kepada Sagara, menunggu keputusan final dari nya.
Sagara menghela nafas pelan, menoleh sekilas pada Aleah yang masih menatapnya dengan mata membelalak penuh kepanikan, sebelum akhirnya kembali menghadap ke penghulu dengan ekspresi yang sudah kembali tenang seperti biasa.
“Lanjutkan.”
Aleah nyaris tersedak mendengar keputusan sepihak itu,”T- tunggu tuan, saya belum—“
“Kubilang ikuti saja,” potong Sagara cepat, kali ini suaranya sedikit lebih pelan, hampir seperti bisikan permohonan yang tersembunyi rapi di balik nada tegasnya. “Kita akan membahasnya secara jelas nanti, untuk sekarang , percaya saja padaku.”
Aleah menatap mata elang itu lama,mencoba mencari kebohongan disana, namun yang ia temukan justru sesuatu yang lain,semacam keputusasaan yang tersembunyi jauh dibaliknya, seolah pria itu pun sedang berjuang menyelamatkan dirinya sendiri dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar gadis asing yang salah masuk ruang rias.
Aleah mengangguk pelan, awalnya keputusan itu ia terima namun begitu matanya tak sengaja menyapu ke sekeliling ia bisa melihat Barnas beserta anak buahnya yang tengah menatap ke arahnya dan yang membuat jantung Aleah berhenti berdetak adalah sosok sang ayah di samping Barnas yang menatapnya lekat dengan bermacam ekspresi penuh penekanan membuat Aleah tanpa sadar menelan ludahnya dengan kasar.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di kursi tamu, Zergan menggenggam tangan Flora erat,keduanya masih syok dengan perkembangan yang begitu cepat ini.
“Kau percaya ini?” Bisik Flora.
“Entahlah,” jawab Zergan pelan. “Namun satu hal yang pasti,ini bukan rencana Mayang.”
Mereka berdua menoleh ke arah Mayang yang masih berdiri kaku di tempatnya,wajahnya sudah kehilangan seluruh kepura- puraan yang biasa ia jaga rapi,kini hanya menyisakan kemarahan mentah yang untuk pertama kalinya tak sanggup ia sembunyikan di depan umum.
Gino yang duduk di pangkuan Kartik, menarik- narik lengan kakaknya sambil berbisik penuh rasa ingin tahu.
“Bang, kenapa bibi Mayang mukanya kaya abis makan lemon acem- acem gitu?”
Kartik yang mendengar pertanyaan sang adik sontak tertawa lalu menggeleng. “Gak tau dek, lagi mikirin cara lunasin cicilan kpr- nya kali.”
Jawaban sang abang membuat bocah itu menggaruk kepalanya. “Apa itu cicilan kpl bang?”
Kartik melirik sekilas. “Kalau udah gede juga kamu bakal tau.”
Di sisi lain, akad sudah akan di mulai dan para tamu sudah duduk rapi kembali juga keadaan sudah kondusif namun tiba-tiba ketika kedua pengantin hendak berbalik menuju kursi mereka, sebuah tangan besar menahan pergelangan tangan Aleah membuat semua orang menoleh.
Darto berdiri disana dengan wajah tampa dosa, lalu berbicara penuh penekanan.
“Saya ayahnya Aleah, pernikahan ini tidak akan berjalan tanpa restu saya.”
……