Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Kukejar Sampai Dapat
BAB 32 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
Elisa sudah di dalam mobil lagi, dia duduk di kursi depan dengan perasaan lega dan bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Beberapa saat lalu habis USG. Di layar monitor tadi, janinnya sehat, gerakannya aktif, detak jantungnya normal dan kencang sekali, berdetak seperti genderang kecil. Perempuan atau laki-laki masih belum kelihatan jelas. Mungkin bulan depan baru kelihatan jenis kelam innya, sebab baby mungil tadi malu-malu dan tidak mau memperlihatkan jati dirinya, kakinya disilangkan terus.
Di tangan Elisa, ada hasil print USG hitam putih yang terus ia tatap lembut.
"Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Bayinya aktif sekali ya, sehat. Oh ya, Elisa ... maaf sebelumnya," Dokter Alfin melirik Elisa sekilas sambil tetap fokus menyetir di jalanan Puncak yang sepi dan berkelok, "apa kamu tidak mau menghubungi keluargamu? Maaf, bukan maksud saya ikut campur atau keberatan menolong mu selama ini. Saya ikhlas kok. Hanya saja, empat bulan lagi mungkin kamu akan melahirkan ... mungkin kamu ingin mengabari keluarga kamu agar ada yang mendampingi."
Elisa yang tadinya tersenyum menatap foto USG-nya langsung terdiam, senyumnya memudar. Dia memang tidak banyak cerita tentang keluarganya selama 3 bulan lebih tinggal di tempat dokter Alfin. Dokter Alfin sangat menjaga privasinya dan tidak pernah memaksa. Sampai akhirnya, sekarang di dalam mobil yang tenang ini dia mau cerita sendiri dengan suara pelan.
"Maaf, Pak dokter ... saya yatim piatu. Tidak punya saudara juga."
Hening sejenak di dalam mobil.
"Oh, maaf .... Maafkan saya ya, Elisa. Saya tidak tahu, saya benar-benar minta maaf sudah menyinggung perasaanmu," dokter Alfin langsung minta maaf dengan tulus, merasa bersalah.
Kali ini, dia yakin Elisa tak berbohong. Beda dengan waktu itu, saat ditanya soal ayah biologis janin itu Elisa bilang sudah mati dan menghindar, Dokter Alfin tahu itu pasti bohong untuk menutupi sesuatu. Tapi kalau masalah kedua orang tuanya, dokter percaya Elisa jujur seratus persen. Sorot matanya yang berkaca-kaca itu tidak bisa bohong. Tidak mungkin juga, orang tua masih hidup dibilang sudah meninggal sekejam itu.
"Maaf, Dok. Saya banyak sekali menyusahkan dokter. Saya numpang tinggal, dikasih makan, dikasih vitamin, diantar kontrol kandungan gratis. Saya jadi beban dokter terus," ucap Elisa tulus, "Nanti, setelah melahirkan ... saya akan bekerja keras dan membalas semua kebaikan dokter pada saya dan anak saya. Saya janji."
Dokter tersenyum hangat menatap Elisa seperti adiknya sendiri.
"Jangan pernah pikirkan itu, Elisa. Kita manusia, wajar saling menolong. Anggap saja ini sudah takdir Tuhan mempertemukan kita malam itu. Ya sudah, saya tak akan bertanya masalah keluarga kamu lagi ya. Maaf ya, Elisa. Untuk kedepannya, kamu fokus saja pada kandunganmu dan buat dirimu bahagia. Jangan stres, kasihan bayinya."
"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak," Elisa mengangguk, matanya kembali menatap foto USG-nya.
Mobil Mercy putih itu melaju lagi pelan di tengah kesunyian hutan pinus Puncak, dokter Alfin tak lagi bertanya-tanya. Lebih banyak diam dan fokus pada jalan sambil memutar musik klasik yang menenangkan. Elisa juga sama, diam dan melamun menatap keluar jendela dengan senyum kecil membayangkan anaknya lahir nanti. Suasana yang tenang, hening, dan sangat damai. Damai sebelum badai besar datang.
Ketenangan di mobil Dokter Alfin itu berbanding terbalik 180 derajat, ketegangan yang mencekam dan panas muncul di sebuah ruangan yang luas, dingin, dan dipenuhi asap ro kok di lantai 32 Sagara Corp Tower.
Anggara duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit asli, wajahnya jauh lebih kurus, brewoknya tipis-tipis, matanya merah karena kurang tidur. Di depannya berdiri berbaris beberapa orang berpostur tinggi dan tegap, setelan jas hitam dan sepatu mengkilap, semuanya adalah tim keamanan elit dan detektif bayaran termahal.
Di meja marmer hitam di depan Anggara, ada laptop yang menyala menampilkan rekaman CCTV.
"SAYA MAU KALIAN TANGKAP DIA!!!! SECEPATNYA!!!!"
Garra membanting meja dan melempar banyak foto hasil cetakan di atas meja dengan kasar. Foto-foto itu berhamburan. Foto dari CCTV RS yang sudah diperjelas dan di-zoom oleh tim IT-nya.
Benar, itu memang Elisa. 100% Elisa miliknya. Dengan potongan rambut yang berbeda sebelum kabur, tapi wajahnya lebih bersinar dan badannya yang sedikit berisi dan perutnya yang sudah membesar sekitar 5 bulan terlihat jelas saat masuk lobby.
Anak buahnya langsung mengambil foto-foto itu satu per satu.
"Jangan sampai menyakiti janinnya! Jangan sampai menggores kulitnya sedikit pun! Kalian tahu ... jika itu terjadi! Jika anak itu kenapa-kenapa! Aku akan mencari kalian satu persatu dan aku habisi dengan tanganku sendiri!!!!" ancam Anggara dengan suara berat yang menggelegar membuat semua orang di ruangan itu tertunduk.
"Siap, Tuan! Kami mengerti! Nona Elisa akan kami bawa kembali dengan selamat!"
Anggara menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya mengepal. "Elisa ... akhirnya aku menemukanmu, Sayang... Kali ini kamu tidak akan bisa kabur lagi dariku."
Ekspresi wajah yang tadinya mengeras, marah membabi-buta, mendadak berubah. Seperti psikopat, wajah Tuan Garra sedikit membuat ngeri bagi yang melihatnya.
(***Aku rasa ... dia sudah sakit jiwa***)
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣