Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Ayah
Pesawat yang membawa Mayor Abimanyu Wicaksono akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Lebanon, Bima akhirnya kembali menginjakkan kaki di Tanah Air. Ia berdiri sejenak di area kedatangan internasional, menghirup napas panjang seolah ingin menikmati kembali udara kampung halamannya yang telah lama ia rindukan.
Empat tahun bertugas di Lebanon bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang harus ia korbankan, termasuk kesempatan menyaksikan putri semata wayangnya tumbuh besar secara langsung.
Namun, kini semuanya telah berakhir. Ia bisa kembali memeluk putri kecilnya.
Bima segera mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mencari nomor sang ibu. Tidak butuh waktu lama sampai panggilannya tersambung.
"Halo, Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, Bima. Ada apa, Nak? Tumben menelepon pagi-pagi begini," jawab Bu Almira dari seberang sana.
Bima tersenyum tipis.
"Ibu sedang di mana?"
"Di rumah, memangnya kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah, Bima baik, Bu."
"Lalu, ada apa? Jangan membuat Ibu khawatir!"
Bima terkekeh kecil mendengar nada cemas ibunya.
"Bu, Bima sudah di Jakarta."
Tiba-tiba suasana mendadak hening seketika.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Bima bahkan sempat memeriksa layar ponselnya untuk memastikan sambungan telepon mereka tidak terputus.
"Astaghfirullah!" seru Bu Almira tiba-tiba. "Apa katamu, Bima? Kamu sudah di Jakarta?"
"Iya, Bu. Bima baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta."
"Ya Allah, Nak! Kenapa kamu tidak memberi tahu Ibu sebelumnya? Kalau Ibu tahu kamu pulang hari ini, pasti Ibu sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanmu!"
Bima tertawa kecil.
"Justru Bima ingin memberikan kejutan, Bu. Bima sengaja tidak memberi tahu siapa pun supaya kepulangan ini menjadi momen yang tidak terlupakan."
"Aduh, anak Ibu ini! Selalu saja membuat kejutan."
"Ibu jangan marah, ya?"
"Siapa yang marah? Ibu justru senang sekali mendengar kamu sudah pulang dengan selamat."
Suara Bu Almira terdengar bergetar. Sebagai seorang ibu, tentu ia sangat bahagia karena putranya akhirnya kembali setelah sekian lama bertugas jauh dari keluarga.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada kebahagiaan itu.
"Kalau begitu, kapan kamu akan menjemput Kaning?" tanyanya antusias.
Bima terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Besok pagi, Bu. Bima ingin langsung pergi ke Pondok Pesantren Darussalam untuk menemui Kaning."
"Besok pagi?" Bu Almira terdengar sedikit kecewa. "Kenapa tidak hari ini saja, Nak? Kaning pasti sudah sangat merindukanmu."
"Bima tahu, Bu. Bima juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Tapi, Bima ingin menyiapkan semuanya terlebih dahulu. Bima ingin memberikan kejutan kepada Kaning."
Bu Almira terdiam, lalu tersenyum haru.
"Baiklah. Kalau begitu, besok kita pergi bersama. Ibu juga ingin melihat wajah Kaning ketika tahu papahnya sudah pulang."
"Terima kasih, Bu."
"Sudahlah. Sekarang kamu pulang dulu, istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri."
Bima tersenyum sambil menatap koper yang berada di sampingnya.
"Siap, Bu. Tapi, sepertinya Bima tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini."
"Memangnya kenapa?"
"Karena Bima sudah membayangkan wajah Kaning ketika melihat Bima besok."
Bu Almira tertawa kecil.
"Ya Allah, ternyata Mayor gagah ini bisa juga menjadi anak kecil kalau sudah membicarakan putrinya sendiri."
Bima ikut tertawa.
"Kaning itu segalanya bagi Bima, Bu."
"Iya, Ibu tahu. Sudah, sana pulang. Besok kita berangkat pagi-pagi."
"Baik, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Nak. Hati-hati."
Setelah panggilan berakhir, Bima memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia kemudian melangkah menuju area penjemputan dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan.
Besok, ia akan kembali memeluk putri kecilnya.
Besok, ia tidak lagi harus memandang wajah Kaning melalui layar ponsel.
Dan besok, ia berharap bisa menebus sebagian waktu yang telah hilang.
*
*
Keesokan paginya, matahari baru saja naik ketika sebuah mobil berwarna hitam meninggalkan kediaman keluarga Wicaksono di Jakarta.
Di balik kemudi, Bima tampak mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap. Penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan aura seorang perwira yang tegas dan berwibawa.
Sementara itu, Bu Almira duduk di kursi penumpang depan. Sesekali, wanita paruh baya itu melirik putranya yang sejak tadi tersenyum sendiri sambil menyetir.
"Kenapa senyum-senyum begitu, Bima?" tanyanya dengan nada menggoda.
Bima melirik ibunya sekilas.
"Memangnya tidak boleh tersenyum, Bu?"
"Boleh saja. Tapi, sejak tadi kamu tersenyum terus. Ibu sampai curiga."
Bima terkekeh.
"Bima hanya membayangkan wajah Kaning nanti. Kira-kira dia akan mengenali Bima atau tidak, ya?"
Bu Almira langsung menoleh dengan wajah tidak percaya.
"Astaghfirullah, Bima! Masa iya putrimu sendiri tidak mengenali papahnya?"
Bima mengangkat bahunya.
"Kaning masih kecil ketika terakhir kali Bima bertemu langsung dengannya. Bima takut dia sudah lupa wajah Bima."
"Mana mungkin lupa? Kaning itu setiap hari bertanya kapan papahnya pulang. Bahkan, saat Ibu mengunjunginya beberapa waktu lalu, dia masih saja menangis karena merindukanmu."
Senyum Bima perlahan memudar.
"Benarkah, Bu?"
Bu Almira mengangguk.
"Iya, Nak. Kaning memang anak yang kuat. Tapi, dia tetap anak kecil yang membutuhkan kehadiran papahnya. Dia tidak pernah berhenti merindukanmu."
Bima terdiam. Kedua tangannya semakin erat menggenggam kemudi. Ada rasa bersalah yang kembali menyelinap ke dalam hatinya.
Selama ini, ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa menitipkan Kaning di pesantren merupakan keputusan terbaik. Ia ingin putrinya tumbuh menjadi anak yang mandiri, memiliki akhlak yang baik, dan memahami agama sejak dini.
Namun, ia juga menyadari bahwa tidak ada pendidikan yang bisa sepenuhnya menggantikan kehadiran seorang ayah.
"Maafkan Papah, ya, Nak," gumamnya nyaris tak terdengar.
Bu Almira yang mendengar gumaman itu menatap putranya dengan iba.
"Bima, kamu tidak perlu terus menyalahkan dirimu sendiri. Kamu menjalankan tugas negara, Nak. Ibu tahu kamu juga tidak pernah berhenti memikirkan Kaning."
Bima mengembuskan napas.
"Meski begitu, Bima tetap merasa bersalah, Bu. Seharusnya Bima bisa lebih sering berada di sisinya."
"Yang terpenting sekarang, kamu sudah pulang. Berikan Kaning waktu dan perhatianmu. Dia pasti sangat bahagia."
Bima mengangguk pelan.
"Insyaallah, Bu."
Mobil terus melaju melewati jalanan yang menghubungkan Jakarta dengan Desa Sukomakmur. Perjalanan darat itu membutuhkan waktu beberapa jam, tetapi Bima sama sekali tidak mengeluh.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan udara sehari sebelumnya seolah menghilang, tergantikan oleh semangat untuk segera bertemu putrinya.
Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali memandangi foto Kaning yang tersimpan di ponselnya ketika mobil berhenti sejenak di lampu merah.
Sementara itu, Bu Almira justru sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ia melirik putranya yang sedang fokus menyetir, kemudian memandang jalanan di depan mereka.
Dalam hati, ia mulai menyusun rencana.
"Setelah ini, aku harus membujuk Bima untuk menerima perjodohan dengan putri Ustaz Umar.
Ya Allah, semoga saja kali ini Bima tidak menolaknya lagi."
Pikiran Bu Almira melayang pada sosok seorang wanita muda yang telah lama dipersiapkan sebagai calon pendamping putranya. Yakni Latifah.
Putri bungsu Ustaz Umar dan Umi Aisyah, seorang guru pesantren yang dikenal santun, lembut, serta memiliki kecintaan besar terhadap anak-anak.
Bagi Bu Almira, Latifah adalah wanita yang tepat untuk Bima. Ia percaya bahwa wanita itu memiliki kesabaran dan ketulusan yang dibutuhkan untuk mendampingi seorang pria dengan tanggung jawab sebesar putranya.
Terlebih lagi, Latifah sudah begitu dekat dengan Kaning.
Namun, ada satu hal yang sengaja dirahasiakan Bu Almira dari Bima.
Ia belum memberitahukan siapa sebenarnya wanita yang hendak dijodohkan dengannya.
"Bima pasti akan kembali menolak jika tahu sejak awal. Apalagi, dulu dia pernah menolak perjodohan ini. Jadi, biarlah semuanya berjalan perlahan. Jika Bima bersedia menerima perjodohan tersebut, barulah mereka mengetahui kebenarannya saat pertemuan nanti." batinnya lagi
Bu Almira tersenyum tipis. Ia berharap takdir kali ini akan berpihak kepada mereka.
"Bu, kenapa diam saja?" tanya Bima tiba-tiba.
Bu Almira tersentak dari lamunannya.
"Eh? Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Mikirin apa?"
"Rahasia," jawab Bu Almira sambil tersenyum penuh arti.
Bima mengernyitkan keningnya.
"Rahasia? Ibu ini ada-ada saja."
Bu Almira tertawa kecil.
"Sudahlah. Fokus menyetir. Ibu ingin segera bertemu cucu kesayangan Ibu."
Bima menggelengkan kepala, lalu kembali menatap jalan.
"Baiklah, Bu. Sebentar lagi kita sampai."
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya tengah menyimpan sebuah rencana yang kelak akan mengubah hidupnya.
Bersambung...
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
mungkin ustadz firma mau ngasih selamat x atas pernikahan km Ifah