Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah tahun berlalu
Brak.
Di sebuah ruangan kantor seorang perempuan sedang menangis tersedu-sedu, dia baru saja mengajukan pengunduran dirinya tapi malah mendapatkan tatapan tajam dari sang atasan yang di kenal begitu dingin dan juga tak pernah banyak bicara pada para karyawan kecuali untuk urusan pekerjaan.
"Kamu mau mengundurkan diri setelah ketahuan mengumpati saya?" tanya seorang lelaki bersetelan jas kantor yang merupakan atasan perempuan itu.
"Tidak pak, saya memang ingin mengundurkan diri" jawabnya masih terisak.
"Kamu tahu berapa yang harus kamu bayar sebagai ganti rugi ke pihak perusahaan kalau kamu mengundurkan diri!" tanyanya dan perempuan itu mengangguk.
"Baiklah saya minta uang itu sekarang, setelah itu saya akan tanda tangani surat pengunduran diri kamu" jawab sang bos bersedekap dada.
"Tapi pak... saya tidak punya kalau untuk hari ini juga, saya cicil boleh tidak?" tanyanya
"Kamu pikir saya ini motor yang bisa kamu cicil!" sinis sang bos
"Saya tidak punya uang sebanyak itu pak, dan kenapa jadi tiga ratus miliar, kan di kontrak ganti ruginya dua ratus miliar" keluhnya
"Itu karena saat ini kamu sudah mengganggu waktu saya untuk menandatangani berkas penting, kepala saya jadi tidak konsen dan pikiran saya sekarang bercabang untuk mengurus jadwal saya yang akan berantakan setelah kamu resign" jawab sang bos
"Maafkan saya pak" ucap si perempuan
"Pergi ke meja lamu, siapkan jadwal meeting hari ini dan jangan bahas masalah resign lagi atau saya akan buat kamu tak bisa di terima di kantor manapun, tetap bekerja sesuai kontrak dan jangan berulah!" perintah sang bos.
"Baik pak" jawab si perempuan dengan sedikit lemas karena niatnya untuk resign di tolak sang bos.
"Kenapa harus ketahuan sih" keluh si perempuan dalam hatinya.
Flashback on
"Kamu sudah makan denganku jadi sekarang kita pisah, aku mohon jangan ganggu aku lagi dan urus pacar kamu itu" ucap Diandra Deril Alamsyah
"Dian, aku akan memutuskan Irina, tapi kamu mau kan jadi pacarku lagi, jadi tunanganku lagi?" tanya Julian mantan tunangan Diandra memohon
"Tidak Julian, sudah cukup bertahun tahun aku kamu bohongi dan aku tidak mau menerima orang yang sudah berkhianat padaku, sekalipun aku begitu mencintai kamu dulu, tapi satu pengkhianatan kamu sudah cukup untuk membuatku mundur, aku tidak akan memperebutkan kamu dengan Irina, silahkan kamu bersamanya dan aku ikhlas" jawab Diandra
"Dian... Apa hubungan kita sejak SMA tidak ada artinya untuk kamu?" tanya Julian
"Harusnya kamu tanyakan itu pada diri kamu sendiri sebelum kamu selingkuh Julian, apa aku masih berharga di hati kamu? Dan pasti jawabannya tidak kan? Karena kamu tanpa berpikir panjang langsung menjalin hubungan dengan Irina selama tiga tahun, tiga tahun kamu membodohi aku, kamu pergi dengannya dengan alasan tugas kuliah, kamu membatalkan malam minggu kita karena ingin menghabiskan waktu dengannya di puncak, kamu juga melewatkan tiga kali ulang tahunku karena kamu sibuk dengannya, aku rasa itu sudah cukup untuk kamu tahu bagaimana kecewanya aku sama kamu Julian" jawab Diandra tegas
"Lihat ini, ini bekas cakaran dari pacar kamu tadi pagi dan masih bisa terlihat, seharusnya kamu sadar kalau hubungan kita ini membuat pacar kamu jadi gila, kamu urus saja dia dan aku tidak mau ikut campur dalam hubungan kalian, stop menggangguku!" ucap Diandra menunjukan lengannya yang terkena cakaran Irina saat mereka bertemu di kampus Smith setelah Diandra mengantar sepupunya ke sana.
"Tapi Diandra, aku cinta sama kamu... "
"Kamu tidak mencintai aku Julian, kata itu terlalu suci untuk perbuatan kamu padaku" jawab Diandra memilih untuk segera pergi dari sana.
"Dian... Dian aku mohon berikan aku kesempatan sekali saja, aku akan memperbaiki semua, kita mulai lagi dari awal dan aku tidak akan melakukan itu lagi" ungkap Julian mengejar Diandra meski di tatap sinis banyak pengunjung kafe yang ikut kesal setelah mendengar percakapan Diandra dan Julian.
"Julian!" teriak seorang perempuan dari arah pintu kafe mengagetkan Julian dan Diandra yang tangannya sedang di pegang Julian supaya tidak pergi.
"I.. Irina..."
Irina berjalan dengan cepat menghampiri Julian dengan wajah marah, Julian ijin padanya kalau dia ada meeting dengan klien saat Irina menelepon Julian untuk mengajaknya makan siang bersama, tapi sekarang dia malah melihat Julian dan Diandra ada di tempat yang sama dengannya.
"Apa ini maksudnya! Dan kamu perempuan gatal! Kenapa kamu masih saja menemui pacar saya!" bentak Irina
"Aku tidak gatal karena aku tidak merayu pacar orang lain seperti kamu! Urus dia!" sinis Diandra akan pergi tapi di dorong Irina sampai kakinya terkilir dan hampir jatuh.
Tapi sebuah tangan besar sigap memegang pinggangnya dan secara otomatis Diandra tertarik ke arah orang yang sudah menolongnya.
"Pak bos" kaget Diandra dengan mata terbelalak.
"Sedang apa kamu di sini, membuat keributan di kafe Om Zaidan dan hampir celaka begini? Kamu tidak lihat meja di sini ujungnya runcing semua, kalau kepala kamu sampai bocor bagaimana? Kamu pasti punya alasan untuk tidak kerja dan semua jadwal saya terganggu!" ucap lelaki itu datar.
"Maaf pak, saya akan lebih berhati hati" jawab Diandra menunduk dan berdiri sedikit menjauh dari tiga orang yang selalu membuatnya pusing setiap hari dengan kaki yang terasa nyeri.
"Kamu..."
"Saya bosnya Diandra, kalian siapa? Jangan ganggu sekretaris saya Karena pekerjaan dia banyak, bukan hanya mengurus percintaannya yang gagal" potong lelaki berperawakan tinggi dengan jas kantor yang masih melekat di tubuh tingginya, bahkan rambutnya juga masih tertata rapi dengan kaca mata kerja yang masih terpasang, dan jangan lupakan wajahnya yang membuat para perempuan di tempat itu terpana.
"Pak..."
"Diam, kamu mengurus klien saja bisa tapi mengurus dua mantan di hidup kamu ini tidak bisa, pulang sana!" potong bosnya itu yang membuat Diandra mencebikkan bibirnya.
"Pak, jangan terlalu dekat dengan dia, dia itu sering menggoda laki laki, pacar saya saja dia ganggu setiap hari" ucap Irina
"Benarkah? Andra apa kamu suka menggoda? cepat kamu goda saya" ucap bos Diandra bersedekap dada.
"Sa.. Saya tidak berani pak, saya juga bukan perempuan penggoda, saya yang biasanya di goda" jawab Diandra kesal.
"Tuh dengar, dia biasanya di goda katanya, jadi jaga pacar kamu ini, dia sering terlihat di depan perusahaan saya, jangan sampai saya cetak wajahnya di sana nanti supaya dia tidak bisa lagi datang ke perusahaan dengan alasan menjemput pacarnya tapi ternyata hanya mantan" ucap bos Diandra
"Dian, aku akan putuskan Irina sekarang juga, aku mohon kamu kembali padaku sekarang, aku tidak perduli dengan tanggapan orang tapi aku sadar kalau aku hanya cinta sama kamu" mohon Julian