Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANTE ELVIRA MEMANGGIL ENZO
Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi membias hangat menembus celah-celah gedung tinggi di kawasan bisnis utama kota. Kesibukan jam kantor dimulai dengan deru kendaraan yang padat di jalan raya serta derap langkah kaki ratusan pekerja bersetelan rapi yang berpacu dengan waktu.
Enzo melangkah tenang di atas trotoar semen yang bersih, menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain lamanya. Pagi ini, ia mengenakan kemeja polos berlengan pendek berwarna abu-abu gelap yang sudah agak memudar di bagian kerah, namun dicuci sangat bersih dan disetrika rapi. Pemuda itu baru saja menerima panggilan telepon resmi satu jam lalu dari sekretaris pribadi Tante Elvira, memintanya untuk hadir di kantor pusat Elvira Srikandi Group tepat pukul sembilan pagi.
Di hadapannya kini, berdiri kokoh sebuah gedung perkantoran modern berlantai lima belas dengan dinding kaca kebiruan yang memantulkan awan pagi. Enzo menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu kaca otomatis gedung tersebut, merapikan letak kerah kemejanya, lalu melangkah masuk dengan tenang.
Aroma wewangian melati yang lembut dipadu dengan dinginnya pendingin ruangan langsung menyambut kedatangannya. Lantai marmer putih yang mengilap bagaikan cermin memantulkan derap sepatu para karyawan yang lalu lalang dengan tergesa-gesa. Beberapa staf kantor sempat melirik heran ke arah Enzo—seorang pemuda berpenampilan bersahaja yang berdiri santai di tengah hiruk-pikuk lingkungan korporasi kelas atas.
Namun Enzo tidak menunjukkan kecanggungan atau rasa minder sedikit pun. Ia melangkah menuju meja resepsionis, menyebutkan namanya, dan dalam hitungan detik, sekretaris Tante Elvira—wanita muda yang dulu kerepotan membawa berkas di parkiran—sudah turun menyambutnya dengan senyum ramah.
Enzo diantar menumpangi lift berlantai kaca menuju lantai dua belas. Pintu lift terbuka memamerkan lorong sunyi bermaterial kayu jati dengan penerangan hangat yang elegan. Sekretaris itu mengetuk pelan pintu kayu tebal di ujung lorong, memutar gagangnya, lalu memberi isyarat agar Enzo masuk.
Ruang kerja Tante Elvira sangat luas dan tertata rapi. Jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit memamerkan pemandangan lanskap kota dari ketinggian. Di balik meja kayu mahoni yang besar, Tante Elvira duduk anggun. Wanita empat puluh satu tahun itu mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang sangat pas di tubuhnya, dipadu kemeja sutra putih. Kacamata berbingkai emas terpasang rapi, membiaskan binar mata tajam yang sarat akan pengalaman bisnis belasan tahun.
"Selamat pagi, Bu Elvira," sapa Enzo tenang seraya menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan meja kerja.
Tante Elvira meletakkan pulpen mewahnya di atas tumpukan dokumen, melepaskan kacamatanya, lalu menatap Enzo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada raut meremehkan di wajah cantiknya yang anggun, melainkan binar penilaian profesional yang amat cermat.
"Selamat pagi, Enzo. Silakan duduk," sahut Tante Elvira seraya menunjuk kursi kulit hitam yang empuk di hadapannya.
Enzo menarik kursi tersebut, mendaratkan duduknya dengan posisi tubuh yang tegak dan sopan tanpa terlihat tegang.
"Terima kasih atas panggilannya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Enzo jujur dan langsung pada intinya.
Tante Elvira menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja, menyilangkan kedua tangannya di atas meja. Binar matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Enzo.
"Saya sudah meninjau laporan pelaksanaan seminar UMKM minggu lalu di gedung konvensi," cerita Tante Elvira dengan suara alto yang tenang dan berwibawa.
"Manajemen gedung memberikan catatan sangat baik untuk tim kebersihan lepas. Tapi secara khusus, kepala logistik saya menyebutkan nama kamu," lanjut Tante Elvira seraya memiringkan kepalanya tipis.
Enzo mendengarkan dalam diam tanpa memotong sama sekali.
"Kamu bekerja cepat, tidak banyak mengeluh, dan punya ketahanan fisik yang jauh di atas rata-rata," sambung Tante Elvira mengulas penilaiannya.
"Dan yang paling penting bagi saya... kamu punya kejujuran yang sangat langka," tegas Elvira seraya teringat momen di parkiran saat Enzo menolak lembaran uang tunai darinya.
Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi.
"Saya cuma menjalankan kewajiban kerja yang sudah dibayar, Bu," sahut Enzo datar tanpa berusaha menyombongkan diri.
Tante Elvira menarik sebuah map dokumen tebal berwarna biru dari sudut mejanya, menggeser folder tersebut ke tengah meja tepat di hadapan Enzo.
"Perusahaan saya baru saja memenangkan tender pengelolaan pameran UMKM tingkat provinsi yang akan berlangsung selama tiga bulan ke depan," jelas Tante Elvira dengan nada bicara yang amat profesional.
"Proyek ini melibatkan ratusan stan, ribuan ton perlengkapan pameran, serta alur barang yang sangat padat. Tim logistik internal saya kekurangan staf lapangan yang sanggup memimpin koordinasi fisik dengan cepat," lanjut Elvira seraya menatap Enzo tajam.
Enzo melirik map dokumen di hadapannya, lalu kembali menatap mata Elvira.
"Maksud Bu Elvira?" tanya Enzo memastikan.
"Saya ingin menawarkan kamu posisi sebagai Asisten Staf Logistik Paruh Waktu," tawar Tante Elvira tegas tanpa basa-basi.
"Tugas utama kamu adalah mengawasi alur bongkar muat barang, memastikan spesifikasi stan sesuai jadwal, dan menjadi jembatan antara tim manajemen saya dengan para pekerja lapangan," sambung Elvira merinci tugas tersebut.
Enzo tertegun sejenak. Tawaran ini adalah sebuah lompatan besar dari sekadar pekerja kasar lepas harian menjadi staf operasional paruh waktu di sebuah perusahaan korporasi ternama.
"Kenapa memilih saya, Bu? Di luar sana tentu banyak lulusan sarjana yang lebih berpengalaman di bidang manajemen," tanya Enzo jujur dan rasional, tidak langsung silau oleh tawaran manis tersebut.
Tante Elvira menyunggingkan senyum tipis yang amat jarang terlihat di bibirnya—sebuah senyum kekaguman atas kedewasaan berpikir pemuda di hadapannya.
"Karena di lapangan, teori sarjana sering kali runtuh saat berhadapan dengan tekanan fisik dan kekacauan alur barang," jawab Tante Elvira mantap.
"Saya butuh orang yang tahu persis rasanya memanggul beban di lapangan, tapi cukup cerdas dan jujur untuk menjaga barang-barang pameran bernilai ratusan juta tanpa tergiur kecurangan," tegas Elvira tanpa keraguan.
"Soal upah... saya akan membayar kamu tiga kali lipat dari honor harian kamu sebagai pekerja kebersihan lepas, lengkap dengan kontrak kerja resmi paruh waktu," lanjut Elvira menyodorkan nilai penawaran yang sangat layak.
Enzo menatap dokumen di mejanya. Nilai upah tersebut akan sangat membantu kelangsungan hidupnya, melunasi biaya sewa kontrakan beberapa bulan ke depan, sekaligus memberikan pijakan karier yang jauh lebih bermutu. Namun Enzo tetap menjaga kepala dinginnya.
"Jadwal kerjanya bagaimana, Bu? Saya masih ada tanggung jawab kerja harian di tempat lain," tanya Enzo pragmatis.
"Shift kerja kamu tiga kali seminggu, disesuaikan dengan alur kedatangan barang pameran. Kamu bisa mengatur waktu tanpa mengganggu pekerjaan lain jika memang masih dibutuhkan," jawab Tante Elvira fleksibel.
"Tapi ingat satu hal, Enzo," tegur Elvira dengan nada suara yang mendadak mengeras, memancarkan aura ketegasan seorang pimpinan perusahaan.
"Di kantor ini, saya adalah atasan kamu dan kamu adalah staf saya. Saya tidak akan memberikan toleransi sekecil apa pun untuk keterlambatan, kelalaian, atau ketidakjujuran," tegas Elvira menatap mata Enzo lurus-lurus.
Enzo tidak gentar sedikit pun oleh gertakan profesional tersebut. Sebaliknya, ia sangat menghormati ketegasan dan kejelasan batasan kerja yang ditekankan oleh Tante Elvira.
Enzo mengulurkan tangannya, meraih map dokumen biru tersebut, lalu menatap Tante Elvira dengan binar mata yang amat mantap dan tenang.
"Saya terima penawaran ini, Bu Elvira," jawab Enzo tegas dan lugas.
"Saya akan buktikan bahwa kepercayaan Ibu tidak salah," janji Enzo tanpa obral kata manis.
Tante Elvira mengangguk puas. Binar mata tajam di balik kacamatanya memancarkan rasa lega dan hormat yang makin mendalam terhadap karakter pemuda berkaus kusam yang kini berdiri di jalan profesional bersamanya.
"Bagus. Tanda tangani kontraknya di ruang sekretaris, dan mulai bertugas besok pagi jam delapan," tutup Tante Elvira seraya kembali mengenakan kacamatanya.
Enzo berdiri, menganggukkan kepalanya sopan.
"Permisi, Bu," pamit Enzo seraya berbalik melangkah keluar dari ruang kerja mewah tersebut.
Saat Enzo melangkah keluar menumpangi lift menuju lantai dasar, ponsel tua di saku celananya bergetar halus dua kali secara berurutan. Enzo merogohnya, melihat pendar layar retaknya yang menyala terang.
[Pembaruan Data Target: Tante Elvira (41 Tahun)]
[Analisis Tindakan: Penilaian Integritas & Penerimaan Tantangan Profesional.]
[Evaluasi Psikologis Target: Target sangat puas atas kejelasan prinsip dan kedewasaan Anda saat menerima tawaran kerja. Kepercayaan profesional Target terhadap Anda berada pada tingkat tertinggi.]
[Keterikatan Tante Elvira Meningkat: 22% -> 28%]
[Catatan Sistem: Anda telah resmi memasuki lingkungan kerja korporasi.]
Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi, mengantongi ponselnya kembali, lalu melangkah mantap keluar gedung menyongsong masa depan baru yang kian terbuka lebar.