Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Lima belas tas belanja berukuran besar sudah berjajar rapi di depan meja kasir butik mewah tersebut.
Dewi menatap tumpukan tas itu dengan perasaan campur aduk antara senang dan ngeri.
"Bos, apa ini tidak terlalu banyak? Lemariku bisa jebol kalau diisi semua baju ini," bisik Dewi pada Raka.
Raka yang sedang bersandar di meja kasir hanya memutar bola matanya malas.
"Beli lemari baru kalau jebol. Lagipula, kau butuh baju yang layak untuk mendampingiku dan Elvan ke luar rumah."
Dewi mencibir pelan mendengar alasan Raka yang selalu membawa-bawa nama anaknya.
"Total belanjaannya menjadi lima ratus tiga puluh juta rupiah, Tuan Raka," ucap manajer butik dengan senyum yang sangat sopan.
Manajer itu melirik ke arah Raka, menunggu pria tampan itu mengeluarkan kartu hitam andalannya.
Dewi buru-buru menahan tangan Raka yang baru saja merogoh dompet.
"Tunggu sebentar Bos, biarkan aku mencoba peruntunganku hari ini," cegah Dewi sambil tersenyum jahil.
"Sistem, gunakan Item Kartu Diskon Permanen 99 persen sekarang!" teriak Dewi dalam hati.
Ding!
[Kartu Diskon Permanen 99 persen telah diaktifkan untuk transaksi ini!]
Tiba-tiba layar mesin kasir di depan manajer butik itu berkedip-kedip cepat.
Angka lima ratus tiga puluh juta di layar itu mendadak berubah secara otomatis.
Tit.
"Loh? Sebentar Tuan Raka, sepertinya ada sedikit kesalahan pada sistem kasir kami," ucap manajer itu dengan wajah panik.
Manajer itu memencet beberapa tombol, tapi angka di layarnya tetap tidak mau berubah kembali ke harga normal.
"Berapa totalnya sekarang?" tanya Raka dengan nada datar, tidak terlalu peduli dengan masalah mesin.
"I-ini... totalnya berubah menjadi lima juta tiga ratus ribu rupiah, Tuan," jawab manajer itu sambil menelan ludah ketakutan.
Raka langsung mengerutkan dahinya tajam.
"Kau gila? Lima juta itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu syal di tokomu," tegur Raka dengan suara beratnya.
"Aku tidak mau tahu, gesek saja kartu ini sesuai harga aslinya," perintah Raka sambil menyodorkan kartu hitam legamnya.
Dewi langsung menarik kartu hitam itu dari tangan Raka dengan gerakan kilat.
"Eh, jangan sombong begitu Bos! Kalau sistemnya bilang lima juta, ya berarti lima juta," serobot Dewi tanpa dosa.
"Mbak Manajer, cepat gesek kartunya mumpung sistem kalian sedang berbaik hati memberi promo gila-gilaan!"
Manajer itu ragu-ragu menatap Raka, secara tidak langsung meminta persetujuan dari sang pemilik mall.
Raka menghela nafas kasar, merasa sangat lelah berdebat dengan wanita bar-bar ini di depan umum.
"Lakukan saja apa yang dia minta. Kalau kantormu komplain soal selisih harganya, suruh direkturmu menelponku langsung," putus Raka akhirnya.
Manajer itu bernafas lega dan segera memproses pembayaran tersebut dengan tangan sedikit gemetar.
Dewi bersorak girang di dalam hati melihat betapa bergunanya sistem aneh ini di dunia nyata.
"Bram, bawa semua barang ini ke mobil. Kita langsung menuju restoran di lantai paling atas," perintah Raka.
"Baik Tuan," jawab Bram sigap sambil memanggil beberapa satpam mall untuk membantu membawakan tas belanjaan yang menggunung itu.
Raka, Dewi, dan Elvan kemudian berjalan menuju lift khusus VIP meninggalkan butik tersebut.
Sepanjang perjalanan, Raka terus menatap layar tabletnya dengan wajah penuh perhitungan.
"Aneh sekali, tim IT mall ini harus segera kupecat karena membiarkan sistem kasir eror parah seperti tadi," gumam Raka pelan.
Dewi yang mendengar gumaman itu hanya bisa menahan tawa sambil menggigit bibir bawahnya.
"Bukan tim IT-mu yang bodoh Bos, tapi sistem di kepalaku ini yang terlalu sakti," batin Dewi penuh kebanggaan.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas, tempat restoran-restoran bintang lima berada.
Raka memilih sebuah restoran Jepang premium yang sangat sepi karena hanya menerima tamu dengan reservasi khusus.
"Selamat datang Tuan Raka, ruangan VIP Anda sudah kami siapkan," sambut manajer restoran dengan postur sangat menunduk.
Mereka digiring masuk ke sebuah ruangan tertutup bergaya tradisional Jepang yang interiornya sangat menenangkan.
Ada meja kayu pendek di tengah ruangan dan televisi layar datar besar yang menempel di dinding.
"Asyik! Mama, Elvan mau makan sushi yang bentuknya seperti kereta api!" seru Elvan riang saat melihat buku menu bergambar.
"Boleh sayang, nanti Mama pesankan sushi kereta api yang gerbongnya paling panjang buat Elvan," jawab Dewi dengan suara lembut.
Raka duduk di hadapan mereka, menatap interaksi ibu dan anak itu dengan perasaan yang sulit diartikan oleh dirinya sendiri.
"Kau pesan saja apa yang kau mau, aku yang traktir semua," ucap Raka pada Dewi dengan gaya bossy.
"Wah, kebetulan sekali aku sedang ingin makan daging wagyu yang harganya setara cicilan motor itu," goda Dewi sambil tersenyum lebar.
Raka hanya mendengus pelan, tapi dia langsung memanggil pelayan dan memesankan menu paling mahal di restoran itu tanpa protes.
Sambil menunggu makanan datang, Elvan asyik bermain dengan sumpit kayu yang belum dibongkar plastiknya.
"Papa, tadi Tante Siska jahat ya? Papa hebat bisa usir Tante jahat itu dari mall," ucap Elvan tiba-tiba dengan polosnya.
Raka tersenyum tipis dan mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang dari seberang meja.
"Iya jagoan, Papa tidak akan membiarkan siapa pun berbuat jahat pada Elvan dan Mama," jawab Raka dengan nada yang sangat mantap.
Dewi seketika terbatuk pelan mendengar kata-kata manis yang meluncur bebas dari mulut pria es itu.
"Uhuk! Bos, kau ini kalau bicara tolong difilter sedikit, nanti aku bisa salah paham dan terbawa perasaan loh," protes Dewi sambil buru-buru meminum teh ocha-nya.
"Salah paham apa? Aku hanya menyatakan fakta agar anakku merasa aman," kilah Raka sambil membuang muka menatap ke arah dinding.
Tapi Dewi bisa melihat jelas ujung telinga Raka kembali memerah seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.
Dasar pria gengsian tingkat dewa, batin Dewi sambil tersenyum menahan geli.
Krek.
Pintu ruangan terbuka dan beberapa pelayan mulai menyajikan hidangan mewah di atas meja kayu tersebut.
Aroma daging panggang dan sushi segar langsung menggugah selera makan Dewi yang sedari tadi sudah berbunyi.
"Selamat makan!" seru Dewi dan Elvan berbarengan dengan penuh semangat layaknya paduan suara.
Raka makan dengan sangat anggun dan perlahan, khas keturunan bangsawan yang diajarkan tata krama sejak lahir.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭