Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25. Mengharapkan Maaf
Elden bungkam dengan seketika.
Pertanyaan Ellea seharusnya mudah dijawab. Namun, bagi Elden, kalimat itu terasa seperti hantaman tepat di dadanya.
'Apa yang telah kulakukan kepada Dea?'
Ia bisa saja menghindar, berpura-pura tidak mendengar. Namun, setelah melihat rekaman tadi, Elden tak lagi sanggup menutup mata terhadap kesalahannya sendiri.
“Aku menghancurkan hidupnya pada malam pernikahan kami.”
Ellea mengernyit. “Maksud Kakak?”
Elden menarik napas panjang, tetapi dadanya terasa begitu sesak. Bukan karena rasa sakit yang beberapa hari terakhir kerap menyerangnya, melainkan karena kenangan yang berusaha ia tekan mulai berputar liar dalam benaknya.
“Aku menikahinya hanya untuk membalas dendam atas kematian Linjaryani. Aku menganggapnya sebagai pembunuh, padahal aku sendiri yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.”
Ellea terdiam. “Kakak menikahi Dea untuk membalas dendam?”
Elden mengangguk lemah. “Dan nahasnya, aku memperlakukannya dengan buruk. Bahkan ... sangat buruk.”
Elden menunduk. Jemarinya saling mencengkeram hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin menarik kembali semua yang telah dilakukannya, tetapi waktu tidak bisa diputar ulang.
Wajah Ellea perlahan berubah. Ia menatap kakaknya, berusaha memahami maksud di balik ucapan Elden barusan.
“Kakak...” Suaranya mengecil. “Jangan bilang Kakak ...?”
Elden semakin menunduk. “Aku tahu aku tak ada bedanya dengan bajingan. Tak ada alasan yang bisa membenarkan perbuatanku.”
Untuk beberapa saat, tidak ada suara di antara mereka selain dengung mesin pendingin ruangan.
Ellea mengepalkan jemarinya di atas pangkuan.
Selama ini, yang ia tahu hanyalah pernikahan singkat kakaknya telah berakhir tanpa tahu apa pun cerita di baliknya.
Ia tak pernah menyangka Elden meninggalkan luka sedalam itu pada Dea, hingga perempuan tersebut gemetar ketakutan hanya dengan melihatnya.
“Pantas saja,” ucap Ellea lirih.
Elden memejamkan mata. “Aku telah menghancurkannya. Aku pantas menerima hukuman atas semua yang kulakukan.”
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Sekarang aku mengerti kenapa dia sampai kesulitan bernapas di saat aku menyentuhnya.”
Senyum pahit muncul di bibirnya. “Bahkan saat itu, aku masih menyalahkannya. Aku menganggapnya keterlaluan karena menatapku bagai monster, padahal aku telah menyelamatkannya.”
Elden mengacak rambutnya dengan kedua tangan. Ia tidak tahu harus berbuat apa dengan rasa bersalah yang kini menyesakkan dadanya.
“Apa yang harus kulakukan?”
Ellea tidak segera menjawab. Tatapannya beralih ke layar laptop yang masih menampilkan wajah Dea.
Perempuan itu tampak begitu biasa di dalam rekaman. Mengenakan pakaian kerja, menjalankan tugasnya, dan berusaha melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang tenaga medis.
Sulit membayangkan bahwa di balik sikap tenangnya, ia menyimpan ketakutan terhadap kakaknya.
“Lalu, sekarang Kakak mau apa?” tanya Ellea akhirnya.
Elden mengangkat wajah.
“Aku ingin dia memaafkanku.”
“Lalu setelah itu?”
Elden terdiam sejenak.
“Aku akan menyelesaikan urusanku dengan perempuan keparat itu.”
Ellea menatapnya tajam.
“Kakak masih memikirkan Stella, sementara Dea bahkan belum tentu mau melihat wajah Kakak lagi?”
Elden tak menjawab.
“Kakak berharap dia akan memaafkanmu setelah semua yang kamu lakukan? Lalu, apa kamu juga berharap semuanya bisa kembali seperti semula?”
Elden menggeleng pelan. “Tidak. Aku tahu aku tidak berhak mengharapkan itu.”
“Bagus kalau Kakak menyadarinya.” Ellea mengembuskan napas.
“Karena kalau Kakak benar-benar menyesal, jangan menjadikan permintaan maaf sebagai cara untuk membuat Dea kembali. Dia bukan seseorang yang bisa Kakak lukai, lalu Kakak datang kembali dengan mudahnya hanya sekedar untuk minta maaf.”
Elden menerima setiap kata itu. “Ya, aku tak akan membantahnya.”
“Kak Dea sudah menanggung semuanya sendirian. Kakak tidak tahu bagaimana cara dia bertahan selama ini, apa yang harus dia lakukan untuk memulihkan dirinya sendiri.”
Elden terdiam semakin lama. Ia memang tidak tahu. Bahkan, ia tidak pernah mau tahu.
“Aku tidak akan memaksanya memaafkanku,” katanya akhirnya. “Aku hanya ingin memastikan bahwa dia tidak lagi menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”
Ellea memandang kakaknya beberapa saat, kemudian mengangguk kecil. “Kalau begitu, buktikan melalui tindakan. Jangan hanya lagi merasa bersalah aja.”
Elden mengalihkan pandangan ke layar laptop.
Rekaman itu masih menyisakan banyak pertanyaan. Stella memang terlihat menyiapkan obat, menyerahkannya kepada seseorang, lalu mengawasi ruang monitor ketika rekaman dari IGD menghilang.
“Aku ingin White Scalpel menelusuri bagian yang belum jelas itu,” ujar Elden. “Terutama asal-usul obat itu dan bagaimana rekaman dari ruang IGD bisa dihapus.”
“Aku akan menghubungi mereka. Tapi, Kak, kita harus memastikan semua temuan bisa diverifikasi. Kalau ada dugaan tindak pidana, bukti yang kita dapatkan harus diserahkan kepada pihak berwenang.”
“Lakukan.”
Ellea mengangguk, kemudian menutup laptop.
Namun, sebelum beranjak, ia kembali menatap kakaknya.
“Dan satu hal lagi.”
Elden menoleh.
“Kalau nanti Kakak bertemu Dea, jangan meminta dia menjelaskan kenapa dia takut kepada Kakak. Kakak sendiri yang seharusnya tahu alasannya.”
Elden tidak menjawab.
Ia hanya menunduk, membiarkan perkataan adiknya menetap di pikirannya.
Jauh dari Kota Dingin, di Jenewa, Swiss, sebuah ruangan kerja yang tenang diterangi cahaya layar komputer.
Seorang anggota White Scalpel sedang meninjau informasi yang berkaitan dengan permintaan penyelidikan mereka. Sebagian besar pekerjaannya berhubungan dengan pencocokan catatan, verifikasi sumber, dan pemeriksaan materi yang diperoleh melalui jalur yang sah.
Di antara berkas-berkas yang sedang ditinjau, terdapat sebuah gambar seorang perempuan muda.
Anggota itu berhenti menggulir layar. Ia memperbesar gambar tersebut.
Lalu, ia terdiam.
Wajah perempuan itu membuatnya teringat pada seseorang yang sangat dikenalnya.
Mirip sekali dengan Nona Alvara ... Alvara Twina Darmawan?
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella