NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Senin, 7 November 2016 — New York

Senin pagi dimulai dengan sebuah kejutan kecil bagi Arthur Sterling.

Ketika ia tiba di kampus, sebuah email dari Thomas Miller sudah menunggu di kotak masuknya. Pemilik Miller's Corner Café itu akhirnya menyetujui paket dasar seharga $75 yang mereka tawarkan pada Jumat lalu.

Pekerjaannya sederhana: memperbarui informasi bisnis, memastikan jam operasional akurat, dan mengganti foto lama dengan foto yang lebih layak. Thomas akan menyediakan foto baru, sedangkan Arthur dan Daniel bertanggung jawab memperbarui informasi pada platform yang disepakati.

Tidak ada pembuatan situs web, tidak ada kampanye iklan, dan tidak ada janji bahwa penjualan kafe akan meningkat.

Bagi sebagian pengusaha, proyek bernilai $75 mungkin terlalu kecil untuk dianggap penting.

Bagi Arthur, kesepakatan itu memiliki nilai yang lebih besar daripada nominalnya.

Mereka berhasil mengubah calon pelanggan yang ragu menjadi pelanggan yang bersedia membayar, tanpa memberikan janji berlebihan atau memaksakan layanan yang tidak dibutuhkannya.

Arthur segera meneruskan email tersebut kepada Daniel.

Balasan temannya datang kurang dari satu menit kemudian.

Dua pelanggan aktif dan satu pelanggan baru. Kita mulai terlihat seperti perusahaan sungguhan.

Arthur tersenyum sebelum membalas.

Perusahaan sungguhan juga harus menyelesaikan pekerjaan sesuai janji.

Daniel mengirimkan balasan singkat.

Dan di sinilah bagian menyebalkannya dimulai.

Arthur tertawa kecil.

Ia kemudian membuka kalender dan mengatur jadwal pengerjaan proyek Thomas agar tidak mengganggu pekerjaan mereka untuk Peter Lawson. Ia juga mencatat bahwa pembayaran harus dikonfirmasi sesuai kesepakatan sebelum mereka menganggap pendapatan tersebut benar-benar diterima.

Setelah menyelesaikan semuanya, Arthur memasukkan laptop ke dalam tas dan menuju ruang kuliah.

Hari itu, ia memiliki satu pertemuan lain yang jauh lebih sulit diprediksi.

Pada pukul empat sore, ia akan menemui Robert Hayes, pemilik bengkel mobil yang telah menyatakan ketertarikannya pada layanan mereka.

Arthur belum tahu apakah pertemuan itu akan menghasilkan pelanggan baru.

Namun, ia ingin datang dengan persiapan yang cukup.

Pukul sepuluh pagi, Arthur duduk di ruang kuliah Professor William Harris.

Hari itu, profesor tersebut membahas perusahaan yang mengalami pertumbuhan pendapatan, tetapi gagal menghasilkan keuntungan yang sebanding.

Di papan tulis, Harris menuliskan dua angka sederhana.

Pendapatan: $1.000.000.

Laba bersih: $20.000.

"Jika kalian melihat perusahaan dengan pendapatan satu juta dolar dan laba bersih dua puluh ribu dolar, apakah kalian akan menyebutnya perusahaan yang sukses?"

Sejumlah mahasiswa mulai mengangkat tangan.

Ada yang mengatakan perusahaan tersebut memiliki margin terlalu kecil. Ada pula yang berpendapat bahwa penilaian itu bergantung pada industri dan tahap perkembangan bisnis.

Professor Harris mengangguk sebelum mengalihkan pandangannya kepada Arthur.

"Mr. Sterling, bagaimana menurut Anda?"

Arthur meletakkan penanya.

"Pendapatan dan laba bersih saja belum cukup untuk menentukan kualitas perusahaan, Profesor. Kita perlu memahami struktur biayanya, kebutuhan modal kerjanya, utangnya, serta karakteristik industrinya."

Harris menyilangkan tangan.

"Jelaskan lebih jauh."

"Jika perusahaan itu bergerak di industri dengan volume transaksi tinggi dan margin rendah, laba bersih dua persen mungkin tidak otomatis menunjukkan masalah. Namun, jika perusahaan memiliki biaya tetap yang besar, arus kas yang buruk, dan utang yang terus meningkat, margin tersebut bisa menjadi tanda kerentanan."

Arthur berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Kita juga perlu melihat apakah pertumbuhan pendapatan berasal dari peningkatan jumlah pelanggan, kenaikan harga, atau akuisisi bisnis lain. Sumber pertumbuhan yang berbeda dapat menghasilkan risiko yang berbeda pula."

Professor Harris tersenyum tipis.

"Bagus. Dan bagaimana jika perusahaan tersebut memiliki laba yang meningkat, tetapi arus kas operasionalnya terus menurun?"

"Kalau begitu, kita perlu memeriksa kualitas laba dan perubahan modal kerja. Bisa jadi perusahaan menjual lebih banyak secara kredit, menumpuk persediaan, atau mengalami keterlambatan pembayaran dari pelanggan."

Beberapa mahasiswa mulai mencatat.

Harris mengangguk.

"Jangan pernah menganggap satu angka dapat menjelaskan seluruh keadaan sebuah bisnis. Angka adalah petunjuk. Tugas seorang analis adalah memahami apa yang ada di baliknya."

Arthur menunduk dan mencatat kalimat itu.

Ia telah mengetahui prinsip tersebut sejak puluhan tahun lalu.

Namun, mendengarnya kembali di ruang kuliah kecil membuatnya menyadari sesuatu: pengetahuan yang benar tetap perlu diuji dalam konteks yang berbeda. Bahkan pengalaman panjang tidak membebaskan seseorang dari kewajiban untuk berpikir.

Setelah kelas berakhir, Arthur menyimpan buku-bukunya.

Seorang mahasiswa yang duduk dua baris di belakangnya mendekat.

Namanya Nathan Brooks, mahasiswa yang sebelumnya mengundangnya ke forum informal Meridian Financial Advisory.

"Arthur, punya waktu sebentar?"

Arthur menoleh.

"Tentu."

Nathan berjalan bersamanya menuju koridor.

"Aku mendengar dari Laura bahwa kau memberikan beberapa komentar menarik di forum minggu lalu."

Arthur sedikit terkejut.

"Dia mengatakan sesuatu tentang itu?"

"Hanya bahwa kau mengajukan pertanyaan yang tepat. Dia juga menyebutkan bahwa kau cukup berhati-hati ketika membahas data yang belum lengkap."

Arthur tersenyum.

"Itu pujian yang cukup murah hati untuk seseorang yang masih belajar."

Nathan tertawa.

"Jangan terlalu merendah. Banyak orang ingin terlihat pintar dengan memberikan jawaban cepat. Tidak banyak yang bersedia mengatakan bahwa mereka membutuhkan lebih banyak data."

Arthur tidak menjawab langsung.

Ia tahu bahwa Nathan mungkin sedang mencoba membuka percakapan mengenai peluang profesional. Namun, ia tidak ingin menganggap setiap percakapan sebagai kesempatan yang harus segera dimanfaatkan.

"Aku masih memiliki banyak hal untuk dipelajari," katanya akhirnya. "Forum itu membantuku melihat bagaimana orang lain menguraikan masalah yang sama."

"Itulah alasan aku ingin mengundangmu lagi jika ada diskusi berikutnya."

"Terima kasih. Aku akan mempertimbangkannya."

Nathan mengangguk sebelum berpisah.

Arthur melanjutkan langkahnya dengan pikiran yang sedikit lebih sibuk.

Hubungannya dengan Richard Coleman dan orang-orang di Meridian mulai membentuk jaringan kecil yang mungkin berguna di masa depan. Namun, ia tidak ingin terlalu cepat menggantungkan harapan pada hubungan tersebut.

Ia memiliki usaha bersama Daniel, kuliah yang harus diselesaikan, dan tujuan pribadi yang jauh lebih rumit daripada sekadar memperoleh pekerjaan di perusahaan keuangan.

Ia tidak boleh membiarkan satu peluang mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang telah ia bangun.

Pukul tiga lewat tiga puluh menit, Arthur bertemu Daniel di depan sebuah kedai kopi dekat bengkel Robert Hayes.

Daniel membawa laptop dan buku catatan kecil.

"Sudah siap?" tanya Daniel.

Arthur memeriksa jam tangannya.

"Kita punya tiga puluh menit sebelum pertemuan."

"Bagus. Aku ingin memastikan kau tidak langsung menawarkan sepuluh layanan berbeda."

Arthur menatapnya.

"Apakah aku pernah melakukan itu?"

Daniel diam beberapa detik.

"Kau ingin jawaban jujur atau jawaban yang menjaga persahabatan kita?"

"Jawaban jujur."

"Ya."

Arthur tertawa.

"Baiklah. Hari ini kita hanya akan memahami masalahnya terlebih dahulu."

Mereka berjalan menuju bengkel yang terletak di sebuah jalan komersial di Queens.

Bangunan itu tidak besar. Sebuah papan bertuliskan Hayes Auto Repair tergantung di atas pintu masuk, sementara beberapa kendaraan terparkir di depan. Dari dalam terdengar suara peralatan logam dan mesin yang sedang diperiksa.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun keluar dari ruang kantor ketika mereka masuk.

"Kalian pasti Arthur dan Daniel."

"Benar, Pak Hayes," jawab Arthur sambil mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah meluangkan waktu."

Robert menjabat tangannya.

"Aku hanya punya waktu sekitar empat puluh menit sebelum harus menangani beberapa kendaraan. Jadi, langsung saja. Apa yang bisa kalian lakukan untuk bengkelku?"

Arthur tidak segera mengeluarkan proposal.

"Kami ingin memahami bagaimana pelanggan biasanya menemukan bengkel ini dan apakah ada masalah tertentu yang ingin Bapak perbaiki."

Robert tampak sedikit terkejut.

"Kalian tidak datang untuk langsung menjual situs web?"

"Kami bisa membantu membuat situs web jika memang diperlukan. Namun, sebelum itu, kami ingin mengetahui apakah situs web merupakan kebutuhan utama Bapak."

Robert menyilangkan tangan.

"Sebagian besar pelanggan datang karena rekomendasi. Ada juga yang sudah menjadi pelanggan selama bertahun-tahun. Masalahnya, jumlah pelanggan baru tidak sebanyak yang saya harapkan."

"Apakah jumlah pelanggan baru menurun dibandingkan tahun lalu?" tanya Arthur.

Robert mengangguk.

"Menurut perkiraan saya, ya. Tetapi saya tidak punya catatan yang benar-benar lengkap."

"Bagaimana dengan jenis layanan yang paling sering diminta?"

"Perawatan rutin, penggantian rem, perbaikan mesin, dan beberapa pekerjaan lain. Tetapi itu tidak selalu sama setiap bulan."

Arthur mencatat jawaban tersebut.

Ia kemudian bertanya apakah Robert mencatat sumber pelanggan baru, jumlah kendaraan yang ditangani, atau berapa banyak orang yang menghubungi bengkel tetapi tidak jadi menggunakan layanan mereka.

Robert menggeleng.

"Saya hanya mencatat pekerjaan dan pembayaran. Saya tidak pernah berpikir perlu mencatat hal-hal seperti itu."

Arthur mengangguk.

"Catatan pekerjaan dan pembayaran tetap penting. Namun, jika kita ingin memahami mengapa pelanggan baru tidak bertambah, kita mungkin perlu mengetahui apa yang terjadi sebelum mereka menjadi pelanggan."

Robert menatapnya dengan lebih serius.

"Jadi, kalian ingin saya mengisi lebih banyak formulir?"

"Tidak harus rumit. Kita bisa mulai dengan beberapa pertanyaan sederhana. Misalnya, bagaimana pelanggan mengetahui bengkel ini, layanan apa yang mereka cari, dan apakah mereka akhirnya melakukan perbaikan."

Daniel kemudian membuka laptop dan menunjukkan contoh tabel sederhana.

"Kami bisa membantu menyiapkan formatnya. Bapak tidak perlu langsung membeli perangkat lunak mahal atau mengubah cara kerja seluruh bengkel."

Robert memperhatikan layar tersebut.

"Berapa biayanya?"

Arthur menjelaskan bahwa mereka dapat menawarkan proyek awal dengan cakupan terbatas. Mereka akan memperbaiki informasi bisnis daring, membantu menyusun pencatatan sederhana untuk pertanyaan pelanggan baru, dan mengevaluasi apakah informasi yang tersedia sudah cukup jelas.

Untuk pembuatan situs web atau kampanye promosi, mereka akan membahas kebutuhan dan biaya secara terpisah.

Robert tidak langsung menjawab.

"Aku pernah membayar seseorang untuk membuat situs web. Hasilnya terlihat bagus, tetapi setelah beberapa bulan, aku bahkan tidak tahu apakah ada pelanggan yang datang karena situs itu."

Arthur mengangguk.

"Itulah salah satu alasan kami ingin memisahkan pekerjaan yang bisa kami lakukan dari hasil yang belum dapat kami jamin. Kami bisa memastikan informasi yang ditampilkan akurat dan mudah dipahami. Namun, kami tidak bisa menjanjikan jumlah pelanggan tertentu tanpa memahami kondisi bengkel dan mengukur hasilnya."

Robert memandang Arthur beberapa saat.

"Kau terdengar cukup berhati-hati."

"Saya rasa lebih baik berhati-hati sebelum menerima pembayaran daripada memberikan janji yang tidak bisa dipenuhi."

Pria itu tertawa kecil.

"Setidaknya, kau tidak mencoba menjual sesuatu yang tidak kubutuhkan."

Pertemuan yang awalnya diperkirakan berlangsung empat puluh menit akhirnya berlangsung hampir satu jam.

Robert menjelaskan lebih banyak tentang kebiasaan pelanggan, keterbatasan waktu pegawainya, dan masalah yang sering muncul ketika informasi daring tidak sesuai dengan jam operasional sebenarnya.

Arthur dan Daniel mencatat semuanya.

Ketika pembicaraan berakhir, Robert belum menandatangani kesepakatan.

Ia meminta mereka mengirimkan proposal tertulis yang menjelaskan ruang lingkup, biaya, dan waktu pengerjaan.

"Aku akan memeriksanya sebelum memberikan keputusan," katanya.

Arthur mengangguk.

"Tentu, Pak Hayes. Kami akan mengirimkannya besok."

Dalam perjalanan keluar, Daniel tampak cukup puas.

"Kita belum mendapat pelanggan baru, tetapi setidaknya dia bersedia mempertimbangkan proposal."

"Dan kita mengetahui masalah yang lebih spesifik."

Daniel menatapnya.

"Menurutmu, dia akan menerima tawaran kita?"

Arthur memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

"Aku tidak tahu."

Daniel tertawa.

"Aku mulai terbiasa dengan jawaban itu."

Arthur tersenyum.

"Bagus. Berarti kau mulai menjadi konsultan yang lebih baik."

Mereka berpisah menjelang pukul enam sore.

Daniel harus kembali ke apartemennya untuk menyelesaikan pekerjaan teknis, sedangkan Arthur memilih berjalan menuju halte bus.

Di tengah perjalanan, ia menerima pesan dari Clara.

Bagaimana harimu?

Arthur membalas bahwa ia dan Daniel baru saja bertemu calon pelanggan baru, tetapi belum mendapatkan kesepakatan.

Clara segera menjawab.

Setidaknya kalian mendapat kesempatan untuk belajar sesuatu.

Arthur tersenyum membaca kalimat itu.

Ia kemudian mengetik balasan.

Benar. Bagaimana denganmu?

Kali ini, Clara membutuhkan waktu lebih lama untuk membalas.

Aku berbicara dengan keluargaku sore ini. Mereka masih menginginkan jawaban, tetapi aku mengatakan bahwa aku membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.

Arthur berhenti berjalan sejenak.

Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum membalas.

Semoga pembicaraannya berjalan cukup baik. Apa pun yang terjadi, jangan merasa harus menyelesaikan semuanya malam ini.

Beberapa saat kemudian, balasan Clara muncul.

Terima kasih. Aku masih belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi setidaknya aku sudah mengatakan apa yang kurasakan.

Arthur menyimpan ponselnya.

Ia ingin bertanya apakah percakapan itu berakhir dengan pertengkaran. Ia juga ingin tahu siapa saja yang terlibat dan mengapa keputusan tersebut begitu penting bagi keluarganya.

Namun, ia tidak mengirim pertanyaan tambahan.

Clara telah mengambil langkah yang menurutnya perlu dilakukan. Arthur tidak ingin membuat langkah itu terasa seperti awal dari kewajiban baru untuk menjelaskan segala sesuatu kepadanya.

Ia hanya berharap Clara memiliki cukup ruang untuk berpikir.

Malam itu, Arthur kembali ke apartemen dan menyelesaikan proposal untuk Robert Hayes.

Ia membagi pekerjaan menjadi tiga bagian.

Pertama, pemeriksaan dan pembaruan informasi bisnis daring.

Kedua, penyusunan format sederhana untuk mencatat pertanyaan pelanggan baru.

Ketiga, evaluasi awal berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan selama periode yang disepakati.

Ia sengaja tidak memasukkan janji peningkatan penjualan.

Jika Robert menerima proposal tersebut, mereka akan memperoleh pelanggan baru dan pengalaman tambahan. Jika ia menolak, mereka tetap dapat menggunakan pelajaran dari pertemuan itu untuk memperbaiki layanan mereka.

Arthur mengirimkan dokumen kepada Daniel untuk diperiksa sebelum dikirim kepada Robert keesokan harinya.

Setelah itu, ia membuka spreadsheet keuangan pribadi.

Ia mencatat pengeluaran hari itu, memeriksa cadangan uang, dan memastikan tidak ada kebutuhan mendesak yang terabaikan. Keuntungan dari Aurelia telah memberinya ruang bernapas, tetapi ia tidak berniat menghabiskannya hanya untuk membuat usahanya terlihat lebih besar.

Tidak ada kantor yang disewa.

Tidak ada pegawai yang direkrut.

Tidak ada pembelian perangkat mahal.

Mereka akan tumbuh ketika pekerjaan dan pendapatan mereka benar-benar membenarkan pertumbuhan tersebut.

Sebelum tidur, Arthur membuka catatan investasi Aurelia sekali lagi.

Ia masih memiliki sebagian kecil posisi, tetapi tidak berencana menambahnya. Ia sudah memperoleh keuntungan yang cukup untuk memperbaiki kondisi keuangannya, dan ia tidak ingin mengubah transaksi yang berhasil menjadi alasan untuk mengambil risiko berlebihan.

Ia menutup dokumen itu.

Dalam kehidupan sebelumnya, Arthur selalu merasa bahwa ia harus bergerak lebih cepat daripada orang lain. Ia mengira bahwa jika dirinya berhenti sejenak, seseorang akan merebut kesempatan yang seharusnya menjadi miliknya.

Sekarang, ia mulai memahami bahwa tidak semua peluang harus diambil.

Sebagian peluang harus diteliti.

Sebagian harus ditolak.

Dan sebagian lainnya harus dibiarkan tumbuh sampai waktunya tepat.

Arthur mematikan lampu dan berbaring.

Hari itu, ia belum menjadi lebih kaya secara berarti. Ia belum mendapatkan pelanggan baru, belum memperoleh pekerjaan di perusahaan keuangan, dan belum mengetahui apa yang akan terjadi pada Clara.

Namun, ia telah membuat kemajuan kecil yang nyata.

Ia belajar mendengarkan calon pelanggan sebelum menawarkan solusi. Ia belajar bekerja bersama Daniel tanpa mengambil alih seluruh keputusan. Ia juga belajar bahwa mendukung Clara berarti menghormati haknya untuk menentukan masa depannya sendiri.

Arthur memandang langit-langit kamar dalam kegelapan.

Ia masih memiliki ambisi untuk membangun perusahaan besar. Ia masih berniat memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan untuk menciptakan kekayaan yang bahkan lebih besar daripada sebelumnya.

Namun, kali ini, ia ingin memastikan bahwa setiap keberhasilan memiliki fondasi yang dapat ia pertanggungjawabkan.

Sebab, ia sudah pernah mencapai puncak dunia tanpa memperoleh kehidupan yang benar-benar ia inginkan.

Ia tidak berniat mengulangi kesalahan itu.

Dan terkadang, langkah pertama menuju masa depan yang besar bukanlah mengambil kesempatan terbesar, melainkan belajar membedakan kesempatan yang benar-benar layak diperjuangkan dari kesempatan yang hanya terlihat menggiurkan.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!