NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Badai Perak dan Darah

Sean Eagle Nugraha telah keluar dari tempatnya.

"Tuan_ Sean?" bisik Tera dengan suara yang nyaris habis, tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Pria yang berdiri di sana seolah merupakan entitas yang sepenuhnya berbeda dari Sean yang dikenalnya.

Sean tidak melihat ke arah Si Wajah Retak.

Pandangannya langsung terkunci pada sosok Tera yang sedang berlutut dengan luka-luka di tangan dan lututnya, serta memar di pundak kirinya. Sesaat setelah melihat kondisi Lentera, kilatan keperakan di mata Sean berkobar menjadi aura kepunahan yang teramat pekat.

"Lentera," suara Sean terdengar rendah, namun entah bagaimana, suara itu menggema dengan sangat jelas di telinga semua orang yang berada di lembah tersebut, seolah ia berbicara tepat di samping mereka.

Si Wajah Retak, meskipun sempat tertegun oleh aura mengerikan yang dipancarkan Sean, segera menguasai dirinya. Ia tertawa terbahak-bahak, tawa serak yang dipaksakan untuk menutupi rasa gentar yang mendadak menyerang nalurinya.

Sean menghentikan langkahnya, tepat sepuluh meter di depan barisan depan Klan Hitam. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, menatap puluhan pria bersenjata itu seolah mereka hanyalah sekumpulan semut yang tidak berarti.

"Klan Hitam" ucap Sean datar.

"Kalian telah melakukan dua kesalahan besar hari ini. Pertama, kalian mengganggu waktu ku. Dan kedua_" Sean menjeda kalimatnya, pandangannya beralih pada bekas luka memar di pundak Tera. "kalian telah menyentuh milikku."

"Sombong sekali baji-ngan cacat ini! Bunuh dia!" teriak Si Wajah Retak berang, memberikan isyarat mutlak kepada anak buahnya.

Dalam sekejap, tiga orang anggota Klan Viper di barisan paling depan yang memegang senjata api otomatis laras pendek langsung mengarahkan moncong senjata mereka ke arah Sean.

Tanpa ragu sedikit pun, mereka menarik pelatuk secara bersamaan.

Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!

Rentetan suara tembakan memekakkan telinga bergema membelah keheningan Lembah Sunyi.

Puluhan peluru timah panas melesat keluar dari laras senapan dengan kecepatan tinggi, membelah udara, mengarah tepat ke arah dada dan kepala Sean yang berdiri tanpa perlindungan apa pun.

"TUAN SEAN!!!" jerit Tera histeris, mencoba melepaskan diri dengan liar hingga kulit pergelangan tangannya terkoyak dan berdarah, air matanya tumpah ruah melihat pemandangan mengerikan itu.

Di dalam bus, para tim medis yang mengintip dari balik kaca langsung menutup mata mereka, tidak sanggup melihat pembantaian yang ada di depan mata.

Namun, apa yang terjadi berikutnya adalah sebuah keajaiban yang melampaui seluruh batas ilmu pengetahuan manusia dan logika kedokteran yang selama ini diagungkan oleh Tera.

Sean tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengeluarkan tangannya dari dalam saku celananya.

Tepat satu meter di depan tubuh Sean, puluhan peluru tajam yang melesat dengan kecepatan ratusan meter per detik itu mendadak berhenti secara instan di udara. Seolah-olah mereka menghantam sebuah dinding kaca tak kasat mata yang teramat tebal.

Peluru-peluru itu berputar liar di tempatnya, memercikkan bunga api kecil akibat gesekan dengan ruang hampa yang tercipta, namun tidak ada satu pun yang mampu maju satu milimeter pun mendekati pakaian Sean.

Lembah Sunyi mendadak hening.

Suara desingan peluru yang tertahan di udara menciptakan dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga berdenging.

"B-bagaimana mungkin..." gumam salah satu penembak, tangannya yang memegang senapan mulai bergetar hebat hingga senjatanya hampir terjatuh.

Matanya membelalak horor menatap puluhan peluru yang melayang diam di depan Sean.

Si Wajah Retak melangkah mundur satu langkah, wajahnya yang penuh bekas luka bakar kini berubah menjadi pucat pasi bagai mayat.

Sean perlahan mengangkat tangan kanannya dari dalam saku celana. Di sekeliling jemari tangannya yang panjang, mengalir riak-riak udara hangat keperakan yang sangat pekat—aliran hangat yang sama yang selalu dicari Sean dari tangan Tera, namun kini aliran itu memancar dalam skala yang mampu menghancurkan sebuah pasukan.

"Aku sudah memperingatkan kalian," ucap Sean dingin.

Dengan satu jentikan jari yang pelan dari tangan kanan Sean, puluhan peluru yang melayang di udara itu mendadak berputar balik arah secara serentak, mengarahkan ujung tajamnya tepat ke arah para anggota Klan Viper yang menembakkannya tadi.

Tabir rahasia telah runtuh sepenuhnya. Di bawah langit Lembah Sunyi yang menggelap, Tera akhirnya menyadari bahwa pria yang berada di depannya bukanlah seorang pasien yang membutuhkan perlindungannya, melainkan sebilah pedang kematian terkuat yang siap mencabik siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.

Tring!

Suara jentikan jari Sean Eagle Nugraha berdenting halus, namun efek yang ditimbulkannya bagaikan genderang perang yang ditabuh oleh malaikat maut.

Puluhan peluru yang semula mengambang diam di udara berputar balik secara instan. Tanpa sempat memberikan waktu bagi para penembak Klan Viper untuk berkedip, amunisi panas itu melesat kembali ke arah pemiliknya dengan kecepatan dua kali lipat.

Jleb! Jleb! Jleb!

Jeritan histeris langsung pecah. Tiga anggota Klan Viper di barisan paling depan roboh seketika di atas tanah berkerikil.

Peluru-peluru mereka sendiri menembus lengan dan kaki mereka dengan akurasi yang menakutkan—Sean sengaja menghindari organ vital, bukan karena belas kasihan, melainkan karena ia menginginkan penderitaan yang lebih panjang bagi mereka yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya.

"Tembak! Tembak bajingan itu! Jangan biarkan dia mendekat!" teriak Si Wajah Retak dengan suara yang melengking panik.

Otoritasnya sebagai komandan lapangan runtuh total digantikan oleh ketakutan yang mendalam.

Mendengar perintah itu, belasan anggota Klan Viper lainnya yang mengepung lembah langsung menarik pelatuk senapan otomatis mereka.

Rentetan tembakan kembali membahana, memecah kesunyian Lembah Sunyi menjadi sebuah simfoni kematian.

Ratusan selongsong peluru kosong bergemerincing jatuh ke tanah, menciptakan hujan timah panas yang mengarah tepat ke satu titik: jantung Sean.

Namun, Sean bahkan tidak berkedip. Riak-riak udara hangat keperakan di sekeliling tubuhnya mendadak meledak menjadi pusaran energi kuantum yang teramat pekat. Warna perak itu begitu terang, murni, dan berkilau, hingga mengaburkan kegelapan malam di lembah tersebut.

Aura keperakan itu memadat, membentuk kubah transparan setinggi tiga meter yang membungkus tubuh tegapnya.

Setiap peluru yang menghantam kubah kuantum tersebut langsung hancur menjadi bubuk besi halus sebelum sempat menyentuh selembar benang pun dari kemeja putih Sean.

Pemandangan itu begitu tidak masuk akal. Di dalam kabin bus, Dokter dan para perawat hanya bisa menempelkan wajah mereka ke kaca jendela dengan mata membelalak sempurna.

Logika kedokteran dan hukum fisika yang mereka pelajari selama puluhan tahun menguap begitu saja.

"Kalian menyukai senjata api," ucap Sean, suaranya terdengar begitu tenang di tengah badai tembakan, namun bergaung langsung di dalam kepala setiap orang di sana.

"Maka biarkan alam yang menghakimi kalian."

Sean mengangkat tangan kanannya perlahan ke atas langit. Gerakan itu diikuti oleh fenomena alam yang mengerikan.

Awan hitam yang menggantung di atas Lembah Sunyi mendadak berputar membentuk pusaran raksasa.

Tekanan atmosfer turun secara drastis, membuat dada siapa pun yang berada di sana terasa sesak bagai dihantam gada besi.

Udara di sekitar mereka mendadak dipenuhi oleh aliran listrik statis yang membuat bulu kuduk berdiri.

Blarrr! Blarrr!

Kilatan petir berwarna perak murni—bukan kuning atau biru seperti petir pada umumnya—menyambar-nyambar di langit malam, menerangi wajah Sean yang dingin tanpa ekspresi.

Energi keperakan dari tubuh Sean beresonansi langsung dengan langit, menciptakan sinkronisasi kekuatan yang mutlak.

"Mundur! Semuanya mundur!" jerit Si Wajah Retak, mencoba berbalik arah untuk melarikan diri ke dalam kegelapan hutan pinus. Namun, terlambat.

"Hancur," bisik Sean datar.

Tepat setelah kata itu terucap, Sean menghentakkan tangan kanannya ke bawah.

Detik itu juga, langit Lembah Sunyi seolah runtuh. Badai petir perak melesat turun dalam jumlah puluhan, menyambar dengan tingkat presisi yang mengerikan.

Kilatan-kilatan cahaya perak itu meliuk tajam, menghindari bus tim medis, menghindari pepohonan di sekitarnya, dan secara eksklusif menghantam setiap anggota Klan Viper yang memegang senjata.

Blam! Blam! Blam!

Ledakan energi kuantum beruntun memicu gelombang kejut yang menerbangkan debu dan kerikil di seluruh lembah. Satu demi satu, para anggota Klan Viper terlempar ke udara sebelum jatuh terkapar tak berdaya.

Senjata-senjata otomatis di tangan mereka hancur meleleh akibat panasnya arus listrik perak.

Hanya dalam hitungan detik, seluruh pasukan bersenjata yang semula mengintimidasi puluhan nyawa itu kini lumpuh total, mengerang kesakitan di atas tanah dengan tubuh yang dipenuhi luka bakar ringan dan mati rasa.

Dua penjaga yang semula mencengkeram lengan Tera terlempar beberapa meter ke belakang akibat gelombang kejut petir yang menyambar tepat di depan kaki mereka.

Tera terbebas. Namun, alih-alih melarikan diri, mata dokter muda itu tetap terkunci pada sosok Sean yang berdiri di tengah sisa-sisa asap perak.

Keheningan kembali merayap di Lembah Sunyi. Atmosfer berat yang menekan perlahan-lahan memudar, meninggalkan bau gosong mesiu dan tanah yang hangus.

Sean melangkah perlahan mendekati Tera. Setiap langkahnya tidak lagi diiringi getaran bumi yang menakutkan, aura keperakan yang membungkus tubuhnya perlahan-lahan meredup dan kembali terserap ke dalam pori-pori kulitnya.

"T-Tuan Sean" bisik Tera, air matanya masih mengalir, namun rasa takutnya kini telah berganti dengan rasa tidak percaya yang amat sangat.

Sean berhenti tepat satu langkah di depan Tera yang masih bersimpuh di atas tanah berkerikil. Sepasang mata elangnya yang berkilat keperakan perlahan-lahan meredup, kembali memunculkan bola mata hitam pekat yang sayu dan penuh misteri yang selama ini Tera kenal. Sudut bibir Sean terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sarat akan kelelahan.

"Maaf, Aku sedikit terlambat." kata Sean lirih, suaranya mendadak terdengar sangat serak dan kehilangan kekuatan.

Sean lalu memegang tangan Tera, dan seolah mendapat kan kekuatannya kembali, kini tubuhnya terlihat segar kembali.

"Tuan Sean?"

"Sedikit lagi, hanya beberapa detik" jawab Sean.

Yuk like dan komen dulu.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!