Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Ketahuan
Siang perlahan bergeser menuju sore ketika Arka dan Alya kembali memasuki area kampus.
Setelah makan siang di warung tadi, Alya sebenarnya berniat langsung kembali ke mobil jemputannya. Namun tepat sebelum sampai di gerbang utama, langkahnya terhenti. Ia meminta Arka berhenti sebentar.
"Aku mau beli es kopi susu."
Arka menoleh. "Sekarang?"
"Iya."
"Bukannya barusan udah minum es jeruk pas makan?"
"Justru setelah makan enak itu harus ditutup sama es kopi," kilah Alya.
Arka mendengus sambil menggelengkan kepala. "Logika kamu emang aneh."
"Biarin." Alya menunjuk sebuah kedai kopi bergaya industrial kecil yang menempel di dekat gedung perpustakaan. "Di sana enak nggak?"
Arka mengikuti arah telunjuknya. Kedai itu cukup ramai. Banyak mahasiswa bergerombol duduk di area outdoor mengerjakan tugas, sebagian lainnya sekadar mengobrol santai menghabiskan waktu luang.
Alya memperhatikan keramaian itu dari kejauhan. "Ramai banget ya?"
"Lumayan. Jam segini emang jam rawan nongkrong."
"Kalau begitu, aku tunggu di sini aja di luar. Kamu yang pesenin ya?"
Arka mengangkat alis. "Kenapa nggak ikut pesen?"
Alya menatapnya seolah jawaban dari pertanyaan itu sudah sangat jelas. "Kalau aku ikut antre di dalam sana, kemungkinan besar pasti ada yang mengenali."
Arka tersadar. Sejak mereka keluar dari warung makan tadi, Alya memang terlihat beberapa kali menundukkan wajah, merapikan rambut, dan memastikan pinggiran topi bisbolnya tetap menutupi sebagian besar wajahnya.
Arka melihat kembali ke arah kedai, mencari celah. "Kita beli lewat samping aja." Ia menunjuk sisi lain bangunan kedai yang memiliki loket pemesanan takeaway kecil. "Area situ biasanya sepi."
Alya tersenyum simpul di balik maskernya. "Kamu hafal banget."
"Lumayan sering beli di situ."
Mereka berjalan menyisir sisi gedung menuju loket takeaway.
Arka memesan dua es kopi susu. Alya berdiri dengan jarak wajar beberapa langkah di belakang punggung Arka, berpura-pura sibuk melihat ponselnya.
Semuanya berjalan sangat normal dan aman.
Sampai tiba-tiba, sebuah suara cempreng terdengar dari arah belakang mereka.
"Eh..."
Tubuh Alya langsung membeku kaku.
Arka menoleh dengan tenang. Seorang mahasiswi berdiri tidak jauh dari mereka, memegang ponsel di tangan. Matanya menatap lurus ke arah Alya dengan kening berkerut.
"Kayaknya aku pernah lihat deh..." gumam mahasiswi itu, lebih kepada dirinya sendiri.
Alya langsung memutar tubuhnya sedikit dan menundukkan kepala.
Namun mahasiswi itu justru melangkah mendekat karena penasaran. "Permisi, Kak, maaf..."
Arka langsung membaca situasi.
Ia tidak panik. Tidak menarik tangan Alya untuk kabur. Tidak membuat gerakan refleks apa pun yang justru akan menarik perhatian pengunjung kedai lainnya.
Ia hanya menggeser posisi berdirinya setengah langkah dengan sangat natural, menempatkan tubuh tingginya tepat di antara Alya dan mahasiswi tersebut.
"Kenapa, Dek?" tanya Arka datar.
Mahasiswi itu terkejut melihat Arka menghalangi pandangannya. "Eh—enggak, Kak. Maaf. Aku cuma ngerasa..." Ia kembali melongok dari samping bahu Arka. "Kayaknya aku kenal sama mbak yang di belakang Kakak."
Alya menahan napasnya. Tangannya meremas tali tasnya kuat-kuat.
Arka melirik layar ponsel mahasiswi itu yang sedang membuka aplikasi TikTok.
"Kalau kamu ngerasa dia mirip sama orang yang sering lewat di fyp atau foto artis, mungkin emang kebetulan mirip aja."
Mahasiswi tersebut mengerutkan kening. "Bukan mirip biasa, Kak. Aku beneran ngerasa pernah lihat posturnya dan gaya pakaiannya di—"
"Di kampus ini yang mahasiswinya gaya pakaiannya kayak gitu ada ratusan orang," potong Arka. Nada suaranya terdengar sangat santai dan biasa saja. Tidak terlalu cepat bicara, juga tidak terdengar defensif. Sangat meyakinkan.
Mahasiswi itu terdiam. Masih terlihat sedikit ragu dan belum sepenuhnya yakin.
Namun tepat di saat kritis itu, suara temannya berteriak dari meja outdoor kedai.
"Dina! Ngapain di situ? Cepat sini, laptop gue error nih!"
Mahasiswi bernama Dina itu langsung menoleh ke arah temannya. "Eh, iya bentar!"
Sebelum berlari pergi, ia menatap Arka dan melirik Alya sekali lagi. "Maaf ya, Kak, salah orang kayaknya."
Arka hanya mengangguk cuek.
Begitu mahasiswi itu berlari menjauh dan kembali ke mejanya, Arka memutar tubuhnya menghadap Alya.
"Masih aman?" bisik Arka.
Alya mengembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. "Nyaris jantungan aku."
"Belum ketahuan kan."
"Tinggal sedetik lagi dia pasti minta aku buka masker, Arka."
Arka menerima dua gelas kopi plastik dari jendela loket dan menyerahkan satu kepada Alya.
"Kalau gitu, ayo."
"Ayo ke mana?"
"Nyari tempat yang lebih sepi."
Alya menurut tanpa protes. Mereka berjalan cepat melewati sisi gedung perpustakaan, menuju jalur beton bagian belakang kampus yang sangat jarang dilewati mahasiswa biasa.
Sambil berjalan, Alya beberapa kali menoleh was-was ke arah belakang.
"Arka," panggil Alya pelan.
"Hm?"
"Tadi kamu jago juga bohongnya."
Arka menoleh sekilas. "Bohong apa?"
"Kamu dengan santainya bilang aku cuma mirip sama orang di foto dan style-ku pasaran."
"Lah, emangnya kalimat saya ada yang salah?"
Alya tertawa kecil. "Kalau anak itu sampai sadar, habis kita berdua dikepung."
"Makanya kamu tenang aja. Jangan bikin gerakan mencurigakan."
"Lho, aku tadi bahkan berdiri diam kayak patung."
"Nah, justru itu masalahnya."
Alya mengernyit. "Maksudnya?"
"Kalau kamu kaget terus tiba-tiba lari kabur, atau nutupin muka pakai tas, baru semua orang di sana bakal curiga dan ngejar. Orang curiga itu karena melihat reaksi."
Alya mencerna ucapan pria itu. Sedetik kemudian ia tertawa pelan. "Iya juga sih. Benar kata kamu."
Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak, sampai akhirnya menemukan sebuah bangku beton kosong di bawah bayang-bayang pohon rindang yang besar.
Alya langsung duduk. Ia melepas topi bisbolnya untuk mengipasi diri dan mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat.
"Ternyata sembunyi-sembunyi itu capek juga ya."
Arka duduk di sebelahnya. "Minum dulu."
Alya menyedot es kopinya cukup banyak. "Terima kasih."
Beberapa saat mereka hanya diam. Angin sore berembus pelan memainkan dedaunan di atas mereka. Suasana di bagian belakang kampus ini jauh lebih tenang dan sepi dibandingkan keramaian di pelataran depan.
Alya memainkan sedotannya. "Ka, kalau misalnya tadi aku beneran ketahuan dan diteriakin sama anak itu, apa yang bakal kamu lakuin?"
Arka berpikir sebentar, menyeruput kopinya. "Ya cari jalan keluar aja."
"Sesederhana itu?"
"Iya."
"Kamu nggak bakal ikutan panik?"
"Panik juga enggak akan bikin kita otomatis terbang buat kabur kan? Enggak ada fungsinya."
Alya memiringkan kepalanya, menatap pria muda itu lurus-lurus.
Ada sesuatu dari Arka yang tanpa sadar membuatnya kagum. Bukan karena pria itu sok jagoan atau bersikap berlebihan ingin melindunginya layaknya bodyguard di film action. Justru sebaliknya. Arka mengagumkan karena ia bereaksi dengan sangat wajar, tenang, dan tidak berlebihan.
"Kenapa kamu bisa setenang itu sih hadapin situasi tak terduga?" tanya Alya tulus.
Arka mengangkat sebelah bahunya. "Prinsip saya, kalau ada masalah ya pikirin solusinya. Bukan fokus ke rasa paniknya."
Alya tersenyum lebar. "Kamu ternyata lumayan bisa diandalkan juga ya, mahasiswa tingkat akhir."
"Baru tahu?"
"Jangan mulai besar kepala ya."
Arka tertawa renyah.
Namun tawa Alya perlahan mereda. Ia menunduk menatap gelas kopinya yang mulai berembun dingin.
"Terkadang... aku sedikit iri sama mahasiswa seumuran mu, Ka."
Arka mengerutkan kening. "Iri?"
"Iya." Alya mengedarkan pandangan ke taman yang sepi. "Mereka bisa jalan bebas ke mana aja tanpa perlu mikirin ada kamera atau mata yang ngawasin."
Ia menghela napas pelan. "Mereka bisa masuk tempat makan dengan santai. Bisa beli kopi tanpa takut. Bisa duduk di taman berjam-jam. Bahkan... mereka berhak salah tingkah, buat kesalahan, atau menangis di depan umum tanpa takut hal itu bakal dijadiin headline gosip besok paginya."
Arka mendengarkan curhatan itu dengan saksama. Ia menatap Alya dari samping, lalu tersenyum tipis.
"Mahasiswa juga punya masalah yang bikin hidup mereka nggak kalah mengerikan."
"Masalah apa coba?"
"Dosen."
Alya terkekeh pelan. "Selain itu?"
"Deadline numpuk."
"Terus?"
"Revisi skripsi."
Alya langsung menjentikkan jarinya, mengangguk setuju. "Nah, oke. Kalau poin terakhir itu, aku akuin emang jauh lebih parah."
"Makanya jangan sembarangan iri sama beban hidup mahasiswa."
Mereka berdua tertawa bersama di bawah bayangan pohon.
Untuk beberapa menit yang berharga itu, Alya sepenuhnya lupa bahwa dirinya adalah bintang yang sedang bersembunyi. Ia lupa bahwa beberapa belas menit sebelumnya ia nyaris ketahuan oleh publik.
Ia hanya merasa seperti perempuan biasa, yang sedang duduk santai menikmati es kopi susu bersama seorang teman ngobrol yang membuat segala hal terasa ringan.
Namun, ketenangan berharga itu tidak berlangsung lama.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!