NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROVOKASI SI BANDAR NARKOBA

Bukan Axel yang ditantang Ivan, melainkan Pangeran Kael, pemimpin tertinggi Gedung Singa Perkasa.

Seketika wajah Pangeran Kael membeku, seolah seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku di tempat. Keheningan menyelimuti seluruh ruangan, begitu pekat dan berat hingga suara tarikan napas sendiri terdengar bergema di telinga setiap orang yang hadir. Di antara segala bentuk pertarungan brutal yang pernah terjadi di penjara ini selama bertahun-tahun, pertarungan terbuka seratus orang melawan seratus orang adalah yang paling mengerikan — sekaligus yang paling dinanti-nantikan oleh para sipir yang merasa bosan dan haus akan tontonan berdarah.

Setiap kelompok wajib memilih seratus petarung terbaik dan terkuat yang mereka miliki, lalu kedua kelompok itu akan dipertemukan di satu arena luas untuk bertarung sampai salah satu pihak benar-benar musnah tak bersisa atau berlutut mengakui kekalahan dengan suara lantang.

Dan yang menjadikannya pertarungan paling gila sepanjang sejarah tempat ini adalah pertarungan itu digelar secara terbuka, di bawah langit atau lampu besar, disaksikan langsung oleh ribuan narapidana dari gedung-gedung lain serta barisan para petugas bersenjata — tak ada tempat untuk trik licik, tak ada permainan curang di balik layar, tak ada racun atau jebakan tersembunyi.

Di sana hanya ada kekuatan murni, keberanian nyata, dan tekad yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Siapa yang berdiri tegak hingga detik terakhir, dialah pemenangnya. Sejak penjara ini didirikan puluhan tahun silam, belum pernah ada satu pun pemimpin dari enam gedung besar yang berani mendeklarasikan pertarungan seratus orang terbuka seperti ini.

Sudut bibir Pangeran Kael berkedut tanpa sadar, jemarinya menguncup erat di sisi tubuhnya. Ivan Dragos adalah orang pertama yang berani menatap matanya dan melemparkan tantangan ini secara terang-terangan. Ini bukan sekadar ajakan bertarung — ini penghinaan telak, seolah-olah kekuatan dan nama besar Singa Perkasa tak lebih dari debu yang bisa ditiup begitu saja. Matanya menyipit tajam, menilai kekuatan sosok yang dijuluki Si Naga Hitam itu, lalu perlahan beralih menatap Renzo yang berdiri tak jauh di samping Ivan, diikuti belasan pengikutnya yang aura kekuatannya pun tak kalah mengerikan, seakan kehadiran mereka saja sudah cukup membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat dan sesak. Ia terdiam, pikirannya berputar cepat menimbang dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan.

Menyerah? Jika ia menolak tantangan ini, reputasinya yang dibangun bertahun-tahun akan runtuh dalam sekejap mata. Lebih buruk lagi — ia bisa langsung disingkirkan dari jajaran Enam Penguasa Penjara oleh para pengikutnya sendiri yang merasa kecewa atau malu. Di tempat yang keras dan kejam ini, seorang pemimpin yang tak berani menerima tantangan hanya akan dianggap pengecut, dan pengecut tak pantas memimpin siapa pun. Namun menerima? Meski anak buahnya tampak setia dan siap mati atas perintahnya, adakah di antara mereka yang benar-benar rela mengorbankan nyawa demi pertarungan yang nyaris mustahil untuk dimenangkan?

Di sudut ruangan yang agak gelap, Belly duduk tenang di atas bangku kayu sambil memutar-mutar ibu jari dan telunjuknya — kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali berpikir keras atau menyusun rencana. Setelah beberapa saat yang terasa seperti berabad-abad, ia mengangkat wajahnya, menatap Pangeran Kael dengan ekspresi datar dan dingin, lalu perlahan menoleh ke arah Ivan yang masih menyeringai lebar seakan semua ini hanyalah permainan menyenangkan baginya.

"Pangeran Kael, ada apa?" suaranya terdengar tenang dan datar, namun di balik kelembutan nada itu tersirat ejekan yang tajam dan menusuk. "Bukankah kau selalu membanggakan dirimu sebagai penguasa Gedung Singa Perkasa? Mengapa hanya pertempuran kecil seratus orang saja sudah membuatmu ragu dan takut? Hati-hati... jika keraguan terus menguasaimu, para pengikutmu yang selama ini kau pimpin bisa kehilangan rasa hormat yang tersisa padamu."

Ucapan itu bagaikan belati tajam yang dihujamkan tepat ke jantungnya. Wajah Pangeran Kael memerah padam menahan amarah yang meledak, urat-urat di lehernya menonjol jelas, matanya berkilat menahan kemarahan yang nyaris tak terkendali.

"Kau mencoba memanfaatkan situasi ini?!" geramnya rendah namun menggelegar, mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga kuku jarinya memutih. "Jangan pikir aku akan mundur! Setelah aku mengalahkan mereka di arena, giliran gedungmu yang akan aku hancurkan sampai tak tersisa!"

Belly terkekeh pelan, suaranya terdengar santai seakan mendengar lelucon konyol. "Mengalahkan mereka? Hahaha... mari kita bahas hal itu setelah kau berhasil bertahan hidup di medan pertempuran. Jadi kau menerima tantangan Si Naga Hitam ini? Bagus... sungguh menyenangkan sekali membayangkan hari itu tiba. Tak ada yang lebih memuaskan daripada melihat musuh bebuyutanku gemetar ketakutan di bawah mata belati tajam." Ia tertawa terbahak-bahak — rencananya memprovokasi Pangeran Kael agar menerima tantangan telah berhasil sempurna. "Nikmati setiap detik waktu yang tersisa dengan baik. Sampai jumpa di medan perang."

Dengan langkah santai dan tenang seakan tak ada hal penting yang terjadi, Belly berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh para anak buahnya yang berjalan di belakangnya dalam diam.

Pangeran Kael menatap punggung mereka yang menjauh hingga lenyap di balik kerumunan, lalu perlahan menoleh dan menatap tajam ke arah Ivan.

"Aku dan seluruh Gedung Singa Perkasa menerima tantanganmu, Ivan! Tapi dengarkan ini baik-baik agar tak kau lupa! Seekor naga memang makhluk yang sangat kuat dan ditakuti, namun ingatlah hal ini — seekor naga sekalipun tak akan mampu menghadapi kawanan singa yang bergerak bersama dengan satu tujuan yang sama! Jangan kau pikir kau dan Renzo dapat berbuat sesukamu di tempat ini! Jika kau berpikir bisa mengalahkanku begitu saja, maka bersiaplah untuk kecewa! Aku akan menghancurkan setiap rencanamu, sekalipun kau memiliki taring sekuat baja dan sisik yang tak tertembus!"

Dengan lambaian tangan yang penuh kemarahan dan ancaman, ia berbalik dan pergi, diikuti oleh para anak buahnya yang berjalan di belakangnya dengan wajah tegang dan penuh kesiapan.

Setelah kepergian Pangeran Kael dan para pengikut Singa Perkasa, suasana di ruangan itu kembali hening seketika. Beberapa narapidana saling berpandangan dengan tatapan tak percaya, lalu perlahan pergi tanpa sepatah kata pun, seakan takut jika mereka berbicara terlalu keras maka tantangan itu akan jatuh kepada mereka juga.

Ivan mendengus dingin, melompat turun dari meja makan tempat ia berdiri sedari tadi, lalu menyapu pandang ke arah mereka yang masih berdiri mematung memperhatikannya.

"Apa yang kalian lihat? Makan! Duduk dan makanlah! Jika tak mau makan, biarkan kami yang menghabiskannya. Sayang sekali makanan sebanyak ini terbuang sia-sia hanya karena kalian takut." Ia menunjuk salah satu narapidana yang berdiri tak jauh dari meja. "Hei kau! Ambilkan semua telur goreng yang belum tersentuh itu, aku mulai lapar!"

Lebih dari empat ratus orang duduk kembali ke tempat masing-masing dengan tenang, menyantap sarapan mereka dalam keheningan yang berat. Tak seorang pun berani berbicara atau menertawakan siapa pun. Suasana mencekam menyelimuti seluruh ruangan, seakan bayangan pertarungan berdarah itu sudah datang sejak saat ini.

Prok... prok... prok...

Suara tepuk tangan terdengar pelan namun jelas, memecah keheningan yang pekat.

"Luar biasa... sungguh luar biasa!" suara Kepala Penjara terdengar mendekat, penuh kekaguman yang tulus. "Aku tak menyangka Gedung Naga Neraka akan berani mendeklarasikan pertarungan terbuka seratus orang untuk pertama kalinya di tempat ini! Kelompok khusus ini memang seteror yang dikatakan orang-orang. Beruang Baja, Naga Hitam, Zombie, Tangan Hantu... hahaha... nama-nama itu sungguh mengerikan! Kalian adalah manusia yang pantas menyandang gelar monster di sini. Setiap kali kalian muncul, selalu ada sesuatu yang menarik dan berharga untuk disaksikan!" Ia berjalan mendekati Renzo, senyum penuh arti terukir jelas di wajahnya.

Renzo hanya tersenyum tipis, tak terpengaruh pujian itu. "Terima kasih atas pujiannya, Kepala Sipir... bisakah Anda memanggil dokter ke sini? Adikku terluka, dan aku tak mungkin membiarkannya terluka dalam waktu yang lama.."

Kepala Penjara tercekat sejenak mendengar ucapan itu. Kata-kata itu mungkin mengarah kepada Kayden atau Gavien yang terluka setelah melawan Kaneo, namun di balik kalimat sederhana itu tersirat peringatan yang jelas — Renzo tak akan membiarkan Adiknya yaitu Alyssa terluka di luar sana terlalu lama.

Namun Kepala Penjara segera tertawa terbahak-bahak, menepuk bahu Renzo dengan ramah.

"HAHAHAHA... pertempuran seratus orang ini akan menjadi tontonan yang tak terlupakan! Aku akan memberikan perhatian khusus kepada kalian — baik Naga Neraka maupun Singa Perkasa. Kalian akan mendapatkan perlakuan dan layanan terbaik sampai hari pertarungan tiba! Tunjukkan kekuatan kalian kepada semua orang... dan buat mereka tahu siapa yang sesungguhnya berkuasa di sini!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!