Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Si Risol Mayosha
Suara gemuruh dari layar ponsel yang menampilkan karakter berpiksel persegi sudah menjadi teman setianya setiap sore. Namun, di balik serunya dunia maya Roblox tempat ia melarikan diri dari kepenatan harian, ada satu hal kecil yang selalu menyisakan rasa janggal: sebuah nama di atas kepala karakternya.
Dulu sekali, saat jemarinya pertama kali menyentuh gim tersebut, ia memilih nama Bacon tanpa berpikir panjang. Saat itu, ia hanyalah seorang pemain pemula yang polos dan sama sekali belum mengerti apa itu top up Robux atau bagaimana cara mengubah tampilan karakter menjadi lebih keren. Pilihan nama sederhana itu rupanya membawa konsekuensi kecil yang tidak menyenangkan.
Di berbagai pelosok server yang ia kunjungi, selalu saja ada pemain lain yang melemparkan ejekan, menyebutnya Bacon dengan nada meremehkan—sebuah julukan khas di gim tersebut untuk para pemain yang dianggap masih polos, belum bermodal, atau sekadar pemain gratisan.
Siksaan kecil itu berpadu dengan rasa bosan yang terus menggerogoti jiwanya. Ia adalah tipe orang yang mudah jenuh dengan identitas visual di dunia maya. Maka, mulailah petualangan gonta-ganti username Roblox yang didasari oleh satu alasan klasik: rasa gabut yang meluap-luap.
Nama pertama memang membawa kenangan pahit tentang ejekan, tetapi nama kedua yang ia pilih—Iyaya—justru datang dari ketidaktahuan yang murni. Tanpa alasan khusus atau makna filosofis di baliknya, nama itu terlintas begitu saja di kepalanya, diisi ke kolom pendaftaran, dan dipakai tanpa banyak pertimbangan. Tak lama bertahan, rasa bosan kembali mengetuk pintunya.
Nama ketiga pun lahir dari imajinasi spontan: IyayaBubliu. Ketika ditanya dari mana asal mula nama unik itu, ia hanya bisa tersenyum dan mengucapkan rasa syukur tanpa tahu pasti mengapa kombinasi huruf-huruf tersebut bisa terbenam di dalam benaknya. Nama-nama itu berganti secepat musim, datang dan pergi mengisi hari-harinya di dunia digital.
Sampai akhirnya, pencarian identitas itu bermuara pada satu nama yang paling berkesan dan terasa begitu personal: Risol Mayosha. Berbeda dari nama-nama sebelumnya yang muncul dari kekosongan makna, nama ini membawa kenangan manis dan hangat yang terpatri erat dalam kehidupan nyatanya. Kisah di balik nama ini berawal dari momen-momen sederhana namun penuh nostalgia di masa lalu. Suatu sore di bulan Ramadan, suasana rumah terasa sunyi dan membingungkan.
Waktu berbuka puasa tinggal menghitung menit, tetapi deretan makanan di meja makan sama sekali tidak menggugah selera. Rasa enggan untuk menyantap makanan berat membuat pikirannya melayang mencari sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bisa memanjakan lidah setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Saat itulah, sebuah jajanan pasar tradisional hadir sebagai pahlawan penyelamat. Di antara aneka kue basah yang dijajakan di pinggir jalan, perhatiannya tertambat pada sepotong risol mayonnaise. Gigitan pertama pada risol hangat itu langsung mengukir pengalaman kuliner yang sulit dilupakan. Kulit luarnya goreng renyah dan garing, memberikan bunyi kress yang memuaskan di setiap gigitan.
Di dalamnya, perpaduan lumeran mayonnaise gurih, potongan telur rebus yang lembut, dan sosis yang gurih berpadu sempurna, apalagi saat disiram dengan cocolan saus sambal pedas manis yang melengkapi seluruh sensasi rasa tersebut. Sejak sore yang berkesan di bulan puasa itu, rasa sukanya terhadap kuliner renyah berisian gurih ini mengakar begitu kuat.
Kecintaan tersebut tidak berhenti di bulan Ramadan saja, melainkan berlanjut hingga ia memasuki masa-masa bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di tengah hiruk-pikuk kehidupan SMK yang dipenuhi tugas praktikum, teori, dan dinamika pertemanan remaja, kantin sekolah menjadi tempat perlindungan favoritnya saat jam istirahat tiba.
Dari sekian banyak pilihan jajanan yang dijajakan, langkah kakinya hampir selalu tertuju pada kantong plastik berisi risol mayonnaise. Rasa gurih dan tekstur renyahnya seolah menjadi penawar lelah di tengah padatnya jam pelajaran. Meskipun di kantin juga banyak dijual varian risol isi ayam suwir atau sayuran, seleranya tetap setia dan tidak pernah goyah.
Risol isi ayam memang enak dan tetap bisa ia nikmati, tetapi tingkat kesukaannya tidak pernah bisa menandingi kelezatan otentik dari varian mayonnaise, telur, dan sosis.
Integrasi antara rasa suka yang begitu mendalam terhadap jajanan favoritnya dengan pencarian nama akun Roblox akhirnya melahirkan identitas Risol Mayosha. Nama ini bukan lagi sekadar susunan huruf acak untuk menghindari rasa bosan, melainkan sebuah cerminan dari hal-hal sederhana di dunia nyata yang membawa kebahagiaan bagi dirinya.
Ketika nama itu akhirnya terpasang manis sebagai username barunya, ada perasaan hangat dan pas yang belum pernah ia rasakan dari nama-nama sebelumnya. Nama ini terasa begitu melekat, unik, dan penuh dengan karakter pribadi yang menyenangkan. Sambil menatap karakter Roblox barunya yang kini melangkah percaya diri di dalam gim, ia berbisik dalam hati dengan penuh harapan:
Insyaallah, ini adalah nama terakhir dan tidak akan ganti-ganti lagi, meskipun tidak ada yang pernah tahu pasti bagaimana kelanjutan selera dan jalan pikirannya di masa depan.
Perjalanan sederhana dari seorang pemain polos yang sering diejek karena nama Bacon, berganti-ganti nama tanpa arah karena rasa gabut yang melanda, hingga akhirnya menemukan Risol Mayosha menjadi sebuah pengingat kecil tentang bagaimana hal-hal sepele di sekitar kita bisa memberikan warna tersendiri dalam hidup. Kisah ini mungkin terdengar sederhana bagi orang lain, hanyalah sebuah cerita tentang pergantian nama di gim virtual dan rasa cinta pada sepotong jajanan pasar. Namun, baginya, setiap huruf dari nama itu menyimpan cerita tentang sore yang hangat di bulan puasa, keriuhan kantin sekolah di masa SMK, dan proses pendewasaan diri yang terus berjalan.
Tanpa ada beban untuk merangkai cerita yang muluk-muluk, ia menutup kisahnya hari ini dengan senyuman puas, sambil mengikat janji pada diri sendiri dan para pembaca bahwa insyaallah, ia akan terus hadir memberikan pembaruan cerita sederhana lainnya setidaknya sehari sekali.