NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - PEMBERONTAKAN SANG BAYANGAN

"Tutup matamu dan tutup telingamu rapat-rapat, Val!" perintah Kael mutlak.

Valeria langsung mematuhi instruksi itu. Dia memejamkan mata sekuat tenaga dan menekan kedua telapak tangannya ke telinga.

Kael melemparkan *flashbang* itu tepat ke tengah-tengah kepulan asap pekat tempat puluhan tentara bayaran Viper sedang meraba-raba mencari mereka.

*CTAAAAR!*

Ledakan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan meletus, mengubah malam gelap gulita menjadi siang bolong selama sepersekian detik. Bersamaan dengan itu, suara lengkingan bernada tinggi yang sangat memekakkan telinga merobek udara.

"AAAAARGH! Mataku!"

"Sialan! Telingaku berdenging!"

Jeritan kesakitan dan kepanikan langsung meledak dari barisan musuh. Puluhan tentara bayaran itu menjatuhkan senjata mereka, menutupi mata yang terasa seperti dibakar dan telinga yang seolah ditusuk jarum. Formasi kepungan yang rapat itu hancur berantakan dalam sekejap.

Bahkan para *sniper* di atas kontainer yang sedang mengintip lewat *scope* ikut terkena imbas kilatan cahaya itu, membuat mereka buta sesaat.

Ini adalah momen emas mereka. Jeda tiga detik yang memisahkan antara hidup dan mati.

"Sekarang, Val!" raung Kael mengalahkan suara dengingan di telinganya sendiri.

Pria raksasa itu tidak hanya menarik tangan Valeria. Dengan sisa tenaga monsternya, Kael merengkuh pinggang Valeria dengan lengan kirinya, menarik tubuh ramping wanita itu hingga menempel erat ke dada bidangnya. Kael memosisikan tubuh besarnya sebagai tameng hidup yang membungkus Valeria dari segala sisi.

Dalam pelukan pelindung yang begitu posesif dan kuat itu, Kael melesat maju menerobos kabut asap. Kakinya menghentak aspal dengan kecepatan gila, berlari menyeruduk barisan depan musuh layaknya tank baja yang lepas kendali.

"Minggir, bangsat!" geram Kael menendang dada seorang prajurit Viper yang menghalangi jalan mereka sampai pria itu terpental sejauh tiga meter.

"Itu mereka! Mereka kabur ke arah dermaga! Tembak membabi buta!" teriak komandan Viper yang masih setengah buta, menembakkan senapannya ke sembarang arah.

*TATATATATATA!*

Hujan peluru kembali turun. Desingannya terdengar mengerikan, melesat hanya beberapa sentimeter dari kepala dan punggung Kael.

Valeria memeluk leher Kael erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Dia bisa merasakan betapa gilanya detak jantung Kael, dan betapa panasnya otot-otot pria itu yang dipaksa bekerja jauh melampaui batas manusia normal. Aroma darah, mesiu, dan keringat Kael mendominasi indra penciuman Valeria.

Di tengah pelarian maut itu, satu tangan kanan Kael yang bebas terus menembakkan pistol Glock-nya.

*DOR! DOR! DOR!*

Tembakan Kael sama sekali nggak buta. Meski sambil berlari memeluk Valeria, akurasi sang bayangan tetap mematikan. Tiga orang musuh yang mencoba mencegat mereka di dekat tumpukan tong besi jatuh dengan dahi berlubang.

"Tahan mereka! Jangan sampai lolos ke air!" seru Paman Surya dari kejauhan, suaranya terdengar panik melihat rencananya nyaris gagal total.

*SRETT!*

Satu peluru nyasar berhasil menyerempet lengan kiri Kael yang sedang mendekap Valeria. Darah segar muncrat mengenai wajah Valeria.

"Kael! Kamu kena!" jerit Valeria panik merasakan lengan pria itu sedikit tersentak.

"Jangan menoleh, Val! Pegangan yang kuat!" bentak Kael mengabaikan rasa perih yang membakar lengannya. Kael sama sekali nggak menurunkan kecepatannya. Sakit di tubuhnya sudah lama mati rasa, digantikan oleh adrenalin dan tekad mutlak untuk membawa ratunya keluar dari neraka ini hidup-hidup.

Ujung dermaga kayu tua itu semakin dekat. Jaraknya tinggal sepuluh meter lagi. Di bawah sana, ombak laut yang gelap dan ganas menghantam tiang-tiang beton pelabuhan.

Tapi tepat di saat yang sama, efek *flashbang* pada para *sniper* mulai menghilang. Titik-titik laser merah kembali menari liar di atas aspal, mencari target mereka yang sedang berlari menuju ujung dermaga.

"Kunci target! Tembak kakinya!" komando menggema dari radio musuh.

*ZING! ZING!*

Dua peluru berkaliber besar menghantam aspal kayu tepat di depan kaki Kael, memecahkan papan kayunya hingga berkeping-keping. Kael terpaksa melompat menghindari lubang itu tanpa melepaskan pelukannya pada Valeria.

"Mereka ngunci kita, Kael!" teriak Valeria menatap horor tiga titik laser merah yang kini bertengger tepat di punggung Kael.

Dalam hitungan detik, peluru-peluru penembus baja itu akan merobek tubuh Kael.

Kael menyeringai tipis, sebuah senyum liar yang menandakan bahwa dia telah memenangkan pertaruhan nyawa ini. Mereka sudah sampai di ujung dermaga.

"Ambil napas dalam-dalam, Val!" perintah Kael mutlak.

Valeria menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya.

Tanpa ragu sedetik pun, Kael mengeratkan pelukannya pada tubuh Valeria, lalu melemparkan diri mereka berdua dari tepi dermaga, terjun bebas ke arah lautan gelap di bawahnya.

Tepat saat tubuh mereka melayang di udara, rentetan peluru *sniper* menghancurkan papan kayu dermaga tempat mereka berpijak sedetik yang lalu. Paman Surya dan anak buahnya telat.

*BYUUUUR!*

Tubuh Kael dan Valeria menghantam permukaan air laut yang sedingin es. Suara bising tembakan dan ledakan dari atas pelabuhan langsung teredam seketika, digantikan oleh keheningan bawah air yang mendengung.

Arus laut di bawah dermaga itu sangat kuat, menarik tubuh mereka ke dalam kegelapan. Tapi Kael tidak pernah melepaskan pelukannya. Pria itu menggunakan tubuh besarnya untuk melindungi Valeria dari benturan tiang-tiang beton yang menopang dermaga. Dengan kekuatan kaki dan satu lengannya yang bebas, Kael berenang melawan arus yang ganas, menarik Valeria menuju kegelapan yang lebih pekat di bawah kolong jembatan dermaga tua.

Paru-paru Valeria mulai terasa perih karena menahan napas terlalu lama. Dia mencengkeram kemeja Kael, memberi isyarat bahwa dia sudah nggak kuat.

Kael mengerti. Pria itu menendang air dengan kuat, mendorong tubuh mereka berdua ke atas permukaan.

*GAAHH!*

Mereka berdua muncul ke permukaan air, menghirup udara rakus-rakus. Hujan gerimis menerpa wajah mereka yang basah dan berlumuran darah. Di sekeliling mereka gelap gulita, tersembunyi sempurna di balik tiang-tiang beton besar di bawah jembatan, jauh dari jangkauan lampu sorot pelabuhan.

"Uhuk! Uhuk!" Valeria terbatuk hebat, memuntahkan air laut yang sempat tertelan.

Kael menopang pinggang Valeria agar wanita itu tidak tenggelam. Matanya dengan cepat memindai kegelapan di sekitar mereka, mencari sesuatu.

"Dapat," gumam Kael lega.

Tidak jauh dari mereka, terikat pada salah satu tiang beton berkarat, mengapung sebuah *speedboat* kecil berwarna hitam doff yang sengaja disembunyikan Kael beberapa bulan lalu sebagai jalur evakuasi darurat tanpa sepengetahuan siapa pun. Sang bayangan selalu punya rencana cadangan, bahkan untuk kiamat sekalipun.

Kael menarik Valeria berenang menuju *speedboat* itu.

"Naik, Val," ucap Kael membantu mendorong tubuh Valeria dari bawah.

Dengan susah payah dan tubuh gemetar kedinginan, Valeria berhasil memanjat naik ke atas dek kapal kecil itu. Wanita itu langsung berbalik, mengulurkan tangannya untuk menarik Kael.

Kael meraih tangan Valeria dan menarik tubuh besarnya naik ke atas kapal. Pria itu jatuh telentang di lantai *speedboat*, napasnya tersengal-sengal parah. Darah dari luka tembak di bahu dan serpihan peluru di lengannya mulai mengalir menodai genangan air laut di lantai kapal.

"Kael..." Valeria merangkak mendekati Kael, tangannya gemetar meraba dada pria itu untuk memastikan jantungnya masih berdetak. "Kamu gila. Kamu bener-bener gila. Kita bisa aja mati ditembak di udara tadi."

Kael perlahan membuka matanya. Meski kondisinya hancur lebur dan berlumuran darah, pria itu masih bisa menyunggingkan senyum miring yang luar biasa tampan.

"Tapi kita tidak mati, kan, Nyonya?" bisik Kael parau. Tangan besarnya terangkat, menyelipkan sehelai rambut basah Valeria ke belakang telinga wanita itu. "Saya tidak akan membiarkan maut menyentuh Anda, selama saya masih bernapas."

Air mata kembali menetes dari sudut mata Valeria, berbaur dengan air hujan. Seluruh kerajaannya hancur malam ini. Klannya direbut. Hartanya dirampas. Pasukannya dibantai habis tanpa sisa. Mulai detik ini, dia bukan lagi Ratu Mafia yang ditakuti, melainkan seorang buronan yang akan diburu oleh pamannya sendiri.

Tapi saat menatap mata pria yang terbaring di depannya ini, pria yang rela menentang maut dan memeluknya menembus badai peluru, Valeria menyadari satu hal. Dia kehilangan segalanya, tapi dia masih memiliki senjata paling mematikan di dunia.

"Nyalakan mesinnya, Kael. Bawa kita pergi dari sini," perintah Valeria dengan suara yang kembali teguh dan dingin, mengusap kasar air matanya.

Kael mengangguk. Pria itu memaksakan diri bangkit, berjalan ke arah kemudi, lalu menyalakan mesin. Mesin *speedboat* itu menderu pelan dan halus, dirancang khusus untuk pelarian senyap.

Kael memotong tali tambat, lalu mengarahkan kapal kecil itu menembus kabut malam, membelah ombak lautan yang gelap dan dingin, menjauh dari pelabuhan sektor barat.

Dari kejauhan, Valeria berdiri di buritan kapal. Matanya menatap tajam ke arah kobaran api yang menjilat langit malam pelabuhan. Di sana, pamannya sedang merayakan kemenangan. Di sana, pamannya berpikir bahwa Valeria telah mati tenggelam atau hancur menjadi abu.

"Nikmati takhtamu sementara, Paman," desis Valeria penuh dendam, kuku-kukunya menancap kuat di telapak tangannya sendiri. "Karena saat aku kembali dari neraka ini... aku bakal bawa monsterku buat mencabut nyawamu."

Kael menatap siluet rapuh namun mematikan dari Ratunya yang berdiri menantang badai. Malam ini adalah kekalahan mereka. Tapi Kael bersumpah pada lautan yang gelap ini, bahwa dia akan membangun kembali kerajaan itu, batu demi batu, darah demi darah, hanya untuk melihat wanita itu kembali duduk di singgasananya.

Pelarian sang ratu dan bayangannya baru saja dimulai.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!