NovelToon NovelToon
Istri Polos Tuan Garra

Istri Polos Tuan Garra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Bad Boy
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.

Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.

Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.

"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"

Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.

Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Asing

"Tapi ... Tante gak maksa juga. Kalau kamu gak mau, tidak apa-apa. Tapi ... Jangan mengharap uang dariku. Tidak ada yang cuma-cuma! Mau uang? Kerja! Tapi di kondisi seperti ini ... kamu pasti sulit mendapatkan pinjaman juga. Pikirkan baik-baik tawaran ini, kerja tidak berat, kamu dapat uang dengan mudah! Jaman sekarang, cari uang itu sulit!!!"

Elisa terdiam. Kepalanya berisik, tega sekali tantenya memberikan saran seperti itu. Tapi dia memang butuh uang, dan tidak bisa menunggu berlama-lama.

"Tante, tolong ... sekali lagi. Lisa pinjam, Lisa akan kerja keras untuk balikin uang Tante nanti."

Rita tertawa remeh. "Kerja apa kamu? Biaya ibukmu pasti tidak sedikit! Kamu pikir saya mau? Keluarkan uang cuma-cuma, dan nunggu bertahun-tahun untuk kamu cicil? Cih ... mending untuk yang lain! Sudahlah! Kalau kamu gak terima tawaran Tante, mending kamu pulang sekarang! Jangan pernah injakan kaki ke sini! Sana! Kalian manusia-manusia sok suci!"

Elisa membisu, ponselnya berdering. Telpon dari rumah sakit. Hanya ada dua pilihan, pulang dengan tangan kosong, atau menerima tawaran Tante Rita?

APARTEMEN LUXURY THE REGENT

Di lantai 42, seorang pria berdiri di depan jendela kaca yang menghadap langsung ke gemerlap kota.

Anggara. 35 tahun. Pebisnis sukses. Namanya ada di beberapa daftar pengusaha muda terkaya. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun kini sorot matanya terlihat lelah.

Single. Bukan karena tidak laku. Justru karena ia terlalu selektif dan terlalu menjaga diri. Malam itu, setelah seharian meeting yang menguras tenaga, ia merasa penat. Ia tidak ingin alkohol. Tidak ingin pesta.

Ia hanya ingin ditemani. Ada seseorang yang duduk diam di sampingnya, tanpa banyak tuntutan. Ia mengambil ponselnya.

"Alex." Ia menelpon seseorang.

Sekretarisnya menjawab di seberang. "Ya, Pak Garra?"

"Cari kan aku teman. Untuk malam ini saja," ucap Anggara dengan suara datar. "Ingat! Aku tidak mau yang sembarangan. Aku tidak mau ambil risiko penyakit. Cari yang bersih. Yang masih... pertama kali."

Ada jeda beberapa detik di seberang.

"Baik, Pak. Saya mengerti. Virgin, bersih. Saya carikan dari kontak langganan biasa. Saya akan kirimkan ke Hotel Regent suite yang biasa Bapak pakai."

"Ya. Atur semuanya."

Telepon ditutup.

Anggara kembali menatap kota dari atas. Bukan karena ia bangga dengan kebiasaan ini. Justru ia benci keramaian, benci drama. Baginya, ini transaksi yang jelas. Dibayar, selesai, tidak ada hati yang terlibat. Tidak ada yang terluka.

Ia tidak tahu, malam itu transaksinya akan melukai seseorang begitu dalam.

HOTEL REGENT - LOBBY

PUKUL 21.30

Lisa berjalan dengan langkah yang sangat ragu. Dress hitam selutut yang dipakaikan Tante Rita terasa begitu asing di tubuhnya. Belahannya terlalu rendah untuk ukuran Lisa yang biasanya memakai kaos longgar dan tertutup. Wajahnya yang polos kini dipoles dengan riasan. Lipstik merah yang bukan miliknya.

Sepatu hak yang ia pakai membuatnya hampir terjatuh kali. Tidak nyaman, tapi ini perintah Tante Rita. Apa yang dia kenakan di seluruh badannya saat ini, semuanya membuatnya tidak percaya diri. Terutama malu dan tak nyaman.

Semua orang di lobby menatapnya. Satpam, resepsionis, tamu yang lalu-lalang. Lisa dapat merasakannya, dan itu tatapan yang tak biasa dia dapatkan.

Gadis 20 tahun itu menunduk dalam-dalam. Tangannya memegang erat tas kecil berisi ponselnya. Tadi sore, telepon dari rumah sakit itu bukanlah telepon biasa.

(Mbak Lisa, obat Ibu Utami sudah habis. Kalau hari ini tidak ditebus, kami terpaksa menghentikan perawatan intensifnya. Mohon segera diselesaikan administrasinya, ya, Mbak)

Setelah telepon itu, Lisa tidak pulang. Ia bergelut dengan logikanya. Harapan terakhirnya hanya pada Tante Rita. Jika dia pulang dengan tangan kosong, keselamatan ibunya akan dipertaruhkan. Dilema, ada dalam pilihan yang sulit.

Dengan air mata yang sudah habis, ia akhirnya mengangguk.

"Iya, Tante. Lisa mau. Asal Ibu bisa dapat obat hari ini," ucapnya lirih. Ada keputusasaan yang terkandung di dalamnya.

Rita tersenyum puas. Ia langsung mentransfer sejumlah uang untuk uang muka rumah sakit dan menyiapkan dress hitam itu.

"Gini dong. Pintar. Malam ini ada klien besar. Bersih, kaya, ganteng. Kamu beruntung dapat dia untuk pertama kali. Jangan mengecewakan Tante. Kamar 4208. Namanya Pak Garra."

Dan sekarang, Lisa ada di sini. Di depan lift menuju lantai 42. Menuju kamar 4208.

Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. Tangannya dingin. Bibirnya gemetar.

'Ibu... maafkan Lisa.'

Pintu lift terbuka. Seorang petugas hotel tersenyum ramah padanya, mengira ia adalah tamu biasa.

"Lantai berapa, Kak?"

Lisa menjawab dengan suara hampir tidak terdengar, "Lantai... 42..."

Sepanjang lift naik, Lisa menatap pantulan dirinya di cermin lift. Ia tidak mengenali gadis itu. Itu bukan Elisa, mahasiswi beasiswa yang bercita-cita menjadi guru. Itu bukan anaknya Ibu Utami yang selalu menjaga diri.

Itu adalah seorang gadis kepepet yang sedang menjual satu-satunya hal berharga yang ia miliki demi ibunya.

Pintu lift terbuka.

Koridor lantai 42 sepi dan harum. Karpetnya tebal meredam langkah kakinya. Di depan pintu 4208, Lisa berhenti lama. Ia ingin berbalik. Kakinya ingin berlari. Tapi bayangan wajah ibunya yang menahan sakit membuatnya menguatkan hati.

Dengan tangan yang bergetar hebat, ia mengetuk pintu. Sudah di depan pintu, dia tidak mungkin kabur. Jika Tante Rita tahu, dia pasti diburu. Sampai ke lubang semut pun pasti dicari. Karena sang Tante sangatlah perhitungan orangnya.

Lisa menarik napas berat, tangannya mengetuk pintu di depannya pelan.

Tok... tok...

Dari dalam terdengar suara langkah kaki yang tenang. Perlahan pintu dibuka. Seorang pria tinggi dengan kemeja putih yang lengan atasnya digulung berdiri di sana. Anggara Putra. Wajahnya jauh lebih tampan dari bayangan Lisa. Matanya tajam, namun tidak menakutkan. Tidak seperti pria hidung belang.

Sementara itu, Anggara menatap gadis di depannya. Dan untuk pertama kalinya dalam transaksi seperti ini, ia terdiam. Tidak seperti yang sudah-sudah.

Gadis di depannya tidak terlihat seperti perempuan yang biasa dikirimkan Alex. Tidak ada tatapan menggoda. Tidak ada senyum dibuat-buat. Yang ada hanya seorang gadis kecil yang matanya sembab, dengan riasan yang luntur di sudut matanya, berdiri dengan tatapan ketakutan.

"Ma... maaf, Pak," suara Lisa pecah. "Saya... saya disuruh ke sini..."

Anggara mengernyit. Ia melihat tas kecil yang diremas begitu erat hingga kuku-kuku jari gadis itu memutih.

"Kamu siapa ... Nama?" tanya Anggara pelan. Nada dinginnya hilang. Matanya menelisik Lisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti sedang menilai. Lumayan.

Lisa tidak menjawab. Ia justru semakin menunduk, air matanya jatuh ke karpet mahal hotel itu. Tapi Garra tidak mengetahuinya.

Ia adalah mahasiswi 20 tahun yang malam itu adalah hari pertamanya melakukan pekerjaan yang paling bertentangan dengan hati nuraninya. Dan di depan pintu itu, di hadapan seorang pria asing yang bahkan tidak ia kenal, Elisa merasa seluruh dunianya runtuh. Bukan karena ia akan kehilangan keperawanannya. Tapi karena ia merasa, malam ini ia telah kehilangan dirinya sendiri.

"Kau tidak dengar pertanyaan dariku?" ucap Anggara, kali ini nadanya tegas.

"Elisa ..." jawab Elisa pelan dengan wajah yang separuh mendongak, menatap lawan bicaranya. Lawan bicara yang sebentar lagi menjadi teman di ranjang.

Bersambung

1
rini ningsih
Hahaha... Kepedean banget si gara... kalo aku sih maluuuu ya... 🤭
vita
bikin kesel sm anggara
Mita Paramita
kasian Elisa hidup nya tertekan gak bahagia padahal blom jadi istri tuan gara😭🫡🫡
ken darsihk
Benar benar arogan sungguh malang nasib nya Elisa 😠😠😠
ken darsihk
Eeetttt si Gara bikin ilfil
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
Maya's ❤️
next kak sept ❤️
Kar Genjreng
perdamaian perdamaian 2X banyak yang suka damai perang Barra makin ramai,,,MBG. memang kelewatan ngomong nya nyeplos,,,nglarani ati gemes
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
Sri Rahayu
kalian berdua nih berantem mlulu...yg satu egois yg satu keras kepala .... coba Elisa mikir cari cara gmn supaya si Gara2 melunak hatinya...lanjut Thorr😘😘😘
Bu Yudi Wahono
idih siapa juga yang buka hadiahmu tuan gara🤣
Sept September: selain sombong amat, dia juga kepedean 🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
jgn mau tunduk sama si Gara2 hanya karena hadiah...ntar kamu di paksa2 lg ma dia Elisa....lanjut Thorr😘😘😘
Sept September: g ada makan siang gratis ya kak 🤭😄😄😄😄
total 1 replies
Kar Genjreng
masyaallah ga perlu bilang terimakasih,,,lah wong di buka juga ga lah,,ga nafsu jare rayuan ne ga mempan,,,di kira Elisa di samakan dengan Wanita nya terdahulu,,,ga muna ya El tetapi mending di culke bebas meh ketemu konco,,,mangan cilor,,bakso lah ini
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,
Kar Genjreng: bene ramai enek manuk e
total 4 replies
Maya's ❤️
krawus boleh kak sept si garra yg suka nyari gara² ini 🙄😤
Sept September: Monggo dikrawus gawe parut 🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ryuka
haduuhhhh anggaraaaa 🤭🤭🤭🤭🤭
Sri Rahayu
batal kabur donk Elisa, kasihan jg kl Susan Dimas dan Pengacara digigit doberman si Gara2... Tuan sama Guk2nya sama2 menyeramkan 😡😡😡...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
semoga Elisa berhasil kabur 😘😘😘
Kar Genjreng
Astaga 🤣 si Doberman mburu huk huk,,belum saatnya kabur Elisa tunggu pada lengah. kasih saja obat pencahar,,,biar pada kebirit birit berebut toilet,,, begitu lagi pada sibuk nah baru deh Kamu kabur,,,kemana kaburnya kira kira di lacak semua sama si Mas Bro Gara 🏃🏃makanya mau ngajak nikah kontrakan sarate Ra kiro kiro memberatkan Elisia yg
Kar Genjreng: 🤣🤣🤣🤣mentolo yo
total 2 replies
ken darsihk
Kapan yak hati si Anggara bisa melunakkk , setiap dia nongol koq aqoh ikutan spaneng yak
Bu Yudi Wahono
kak sept paling takut d8kejar anjing
Sept September: wkwkkwkwkwl🤣 aku dikejar soang kakkkkk🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Eka ELissa
aduh Elisa.....bhya...tau....mna kmu lgi hamil...🤦
Sept September: kahanan .... daripada digigit 🤣
total 1 replies
ken darsihk
Anjayyy ikut deg deg an eehhh bersambung 🤣🤣🤣
Sept September: hehehe 🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!