Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 26: Satu Peluru untuk Dua Orang
Alessia melangkah maju sebelum Bima sempat bernapas. Ia tidak menutupi tubuhnya dengan tangan. Ia menutupinya dengan seluruh badan, bahu kiri lebih dulu, seolah laras pistol itu hanya gangguan kecil.
"Taruh pisaunya," katanya tanpa menoleh.
"Mbak..."
"Taruh. Dia bukan musuhmu."
Bima melihat peredam di ujung pistol pelayan itu. Ada ukiran halus melingkar di logamnya, lambang yang pernah ia lihat di sudut kartu hitam. Alessia sudah lebih dulu menyadarinya.
"Marta," katanya pelan. "Peredam itu buatan bengkel Vieri. Hanya satu orang di rumah ini yang dipercaya memegangnya. Pelayan pribadi ibuku."
Wajah kepala pelayan itu tidak berubah. Tapi jari telunjuknya bergeser di pelatuk, setengah milimeter.
"Pilih, Nyonya. Waktu kita pendek."
"Aku ikut. Dia tinggal."
"Nggak," kata Bima.
"Diam."
"Mbak yang diam. Saya yang disebut di surat itu."
"Kamu pikir aku menyelamatkanmu?" Alessia akhirnya menoleh sedikit, dan matanya dingin sekali. "Aku menyelamatkan kontrak. Kalau kamu mati, perlindungan keluargamu batal, dan aku harus mencari suami baru dalam semalam. Merepotkan."
"Itu alasan yang bagus."
"Memang."
Tapi tangan kirinya, yang bercincin palsu, terkepal sampai ujung jarinya putih. Dan Bima, yang tidak pernah bisa membaca perempuan ini dengan benar, kali ini membaca semuanya.
---
"Tuan Hadi memilih Tuan Bima," kata Marta datar. "Anda yang tidak keluar dari kamar ini."
"Hadi Ardhana tidak menulis surat itu."
Pistol Marta tidak bergerak, tapi sesuatu di matanya goyah.
"Lihat hurufnya, Bima," kata Alessia. Bima menunduk ke kertas di tangannya. "Ayahmu menulis seperti orang dikejar waktu. Huruf-hurufnya miring karena tergesa. Ini miring karena dilatih. Setiap lengkungnya sama. Sudah dua belas tahun seseorang belajar meniru tulisan ini."
Bima teringat catatan pensil di bawah halaman empat belas, jauh lebih rapi dan jauh lebih baru. Ia teringat tinta biru di bubur ayam.
"Om Gio," bisiknya.
"Dan kamu," lanjut Alessia pada Marta, "kamu yang menyelipkan surat Wa ke jaket Bima di dapur Nenek. Kalau kamu pengkhianat, kamu tidak akan melakukan itu."
Hening. Lalu bahu Marta turun sedikit, seperti orang yang akhirnya diizinkan bernapas.
"Ada kamera di langit-langit, Nyonya," katanya, nyaris tanpa gerak bibir. "Dan penyadap di bawah ranjang. Giovanni mendengar semuanya. Dia hanya perlu mendengar satu tembakan."
"Jadi tembak."
"Nyonya..."
"Tembak aku. Bahu kiri, tembus, jangan kena tulang." Alessia meraih pergelangan tangan Marta dan menempelkan peredam itu ke lengan atasnya sendiri. "Kamu dilatih ibuku. Kamu tahu tempatnya."
"Mbak!" Bima menerjang, tapi Alessia sudah menarik pelatuk lewat jari Marta.
Bunyinya kecil. Seperti tepukan pada bantal.
Alessia tidak berteriak. Tubuhnya hanya terhuyung, dan Bima menangkapnya sebelum jatuh. Darah hangat langsung merembes ke lengan kausnya, ke jari-jarinya. Ia menekan lukanya dengan kedua telapak, napasnya kacau.
"Mbak gila. Mbak gila."
"Aku tidak butuh pujian." Giginya mengatup, keringat dingin di pelipis. "Berbaringlah di sampingku. Pura-pura mati."
"Saya bukan..."
"Bima." Suaranya turun sampai hanya dia yang bisa dengar. "Tolong."
Kata itu tidak pernah ia ucapkan sebelumnya. Bima merebahkan tubuhnya di lantai, di samping Alessia, dan kepala perempuan itu bersandar di dadanya. Jantungnya berdetak terlalu keras. Ia berharap kamera tidak punya mikrofon yang cukup tajam.
Di atas mereka, Marta berbicara ke arah langit-langit dengan suara tanpa emosi. "Satu selesai. Satunya dibawa ke Tuan Hadi."
Dari lorong, langkah-langkah menjauh. Penyadap diam.
---
Begitu pintu tertutup, Marta berlutut. Tangannya yang tadi stabil sekarang gemetar saat merobek taplak meja untuk membalut bahu Alessia.
"Wartini dan Dimas tidak bersama Hadi," katanya cepat. "Mereka diambil dari kamar ini sepuluh menit sebelum surat itu ditaruh. Dibawa lewat pintu garasi, dengan mobil."
"Siapa yang membawa?" tanya Bima.
"Kunci kamar sayap barat dipegang satu orang. Yang memilih dua penjaga di pintu itu atas nama Nyonya."
Alessia berhenti bernapas.
"Rico," katanya.
Bima teringat semuanya sekaligus. Pintu mobil yang terbuka padahal Rico bilang sudah menutupnya. Wajah Rico yang bingung dan marah ketika Om Gio dibiarkan pergi, bukan marah karena musuh lolos, tapi karena rencana tertunda. Tangan yang gemetar di pistol.
"Dia di mana sekarang?"
"Garasi bawah. Mobilnya sudah menyala."
Alessia bangkit dengan satu tangan menekan perban darurat. Wajahnya putih seperti kertas, tapi langkahnya mantap. Bima menyelipkan bahunya di bawah lengannya yang sehat.
"Aku bisa jalan sendiri."
"Saya tahu."
"Terus kenapa pegang?"
"Karena saya mau."
Alessia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak melepaskan lengan Bima.
---
Lorong pelayan di balik dapur membawa mereka turun dua lantai, melewati ruang cuci yang bau sabun dan besi, sampai ke pintu baja garasi. Marta menempelkan kartu, dan pintu terbuka ke ruang luas berbau bensin dan oli.
Satu mobil hitam berdiri di tengah, mesinnya hidup, lampu belakangnya merah. Di kursi belakang, dua siluet. Wartini dengan selendangnya. Dimas dengan kepala bersandar ke jendela.
Hidup. Keduanya hidup.
Bima berlari, dan Alessia tidak menahannya. Ia membuka pintu belakang dan menarik Dimas ke pelukannya sebelum adiknya sempat membuka mata penuh. Wartini terisak, mencengkeram kerah bajunya.
"Mas... Mas, mereka cuma suruh Ibu diam..."
"Sudah, Bu. Sudah."
Di kursi pengemudi, Rico duduk tegak dengan dua tangan di setir. Ia tidak menoleh. Matanya menatap kaca depan, kosong.
Alessia berjalan ke sisi pintunya. Pistol sudah di tangan kanannya, laras mengarah ke kaca jendela. Bahunya basah merah, tapi suaranya tidak bergetar sedikit pun.
"Turun."
Rico tidak bergerak. Tangannya masih di setir. Dari dekat, Bima melihat sesuatu yang membuat perutnya mengencang. Pipi Rico basah.
"Mbak," katanya serak. "Tembak saja. Tapi dengar dulu."
"Kamu menjual keluarga ini."
"Saya tidak jual siapa pun. Saya cuma..." Napasnya tersendat. "Saya disuruh membawa mereka ke Mbak. Ke tempat yang aman. Jauh dari Om Gio."
"Disuruh siapa?"
Rico tidak menjawab. Ia menunjuk dengan dagu ke dasbor. Sebuah ponsel hitam tergeletak di sana, layarnya menyala, menampilkan panggilan masuk yang sudah berdering lama dan tidak ia angkat.
Nama di layar membuat Alessia membeku.
*MATTEO V.*
"Itu tidak mungkin," bisiknya. "Aku lihat mobilnya terbakar."
"Beliau menelepon tiap malam sejak sebulan lalu," kata Rico, dan suaranya pecah. "Cuma saya yang diizinkan mendengar. Mbak, dia hidup. Dia minta saya menjaga Mbak sampai Mbak siap."
Bima merasakan ruang di sekelilingnya menyempit. Surat kuasa bertinta biru. Tanggal pemberi kuasa yang sama dengan telepon ke Wartini bulan lalu. Pertanyaan yang tidak pernah dijawab Alessia di mobil.
Siapa yang tanda tangan ini bulan lalu.
Ponsel berdering untuk ketujuh kalinya. Alessia mengulurkan tangan kiri yang gemetar, mengambilnya, dan menekan tombol hijau. Ia mengaktifkan pengeras suara sebelum Bima sempat berkata apa-apa, dan itu satu-satunya kesalahan yang pernah Bima lihat ia buat.
"Ayah?"
Napas berat di seberang. Batuk kecil. Lalu suara laki-laki tua, lelah, tapi masih tegas.
"Alessia. Anakku." Jeda. "Kamu sudah menikahi anak Hadi?"
"Ayah, di mana..."
"Dengarkan. Jangan percaya Hadi Ardhana. Dia yang membakar mobilku malam itu, dan dia yang menghapus tiga tahunmu." Suara itu merendah, nyaris berbisik. "Anaknya ada di sampingmu sekarang, kan?"
Alessia tidak menjawab. Matanya berpindah ke Bima, dan Bima melihat sesuatu runtuh di dalamnya, pelan dan diam.
"Kalau begitu dengar baik-baik," kata suara Matteo Vieri. "Sebelum subuh, bunuh Bima Ardhana. Hanya dia yang bisa membuka kamar terakhir itu, dan hanya kematiannya yang membuat Hadi keluar dari persembunyian."
Pistol di tangan kanan Alessia, yang tadi mengarah ke Rico, perlahan bergeser. Bukan karena ia memutuskan. Seperti ada magnet yang menariknya.
Laras itu berhenti tepat di dada Bima.