Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-11
..Pikirkan baik-baik bagaimana caramu menyajikan kopi besok pagi, Hazelia. Karena mulai besok... takdirmu di kantor ini tidak lagi berada di ujung gagang pel.
Pagi baru saja merambat di lantai dua belas gedung Mahardika Tower. Suasana lantai eksekutif masih tampak lengang saat jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Di dalam ruang kerja CEO yang serba canggih, Mahrup sudah duduk di balik meja kerja utamanya. Kedua jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, menatap pintu kaca yang masih tertutup rapat.
Intercom di mejanya berbunyi nyaring. Mahrup menekan tombol speaker.
"Tuan Mahrup, staf kebersihan Hazelia sudah berada di luar," ucap suara Sekretaris Rian dari balik sambungan.
"Suruh dia masuk. Dan pastikan tidak ada yang mengganggu selama lima belas menit ke depan," jawab Mahrup datar.
Pintu kaca otomatis bergeser pelan. Hazel melangkah masuk dengan ragu. Seragam office girl-nya tampak rapi, namun ada lingkaran tipis di bawah matanya yang menandakan ia hampir tak tidur semalaman akibat memikirkan kondisi sang ibu dan ancaman tagihan rumah sakit. Meski begitu, Hazel berusaha menegakkan bahunya dan menata senyum terbaiknya.
"Pagi, Tuan CEO Keren!" sapa Hazel spontan, berusaha menutupi gundah di hatinya. "Kemarin Tuan bilang suruh mikirin cara nyajiin kopi, kan? Hazel bawa racikan spesial nih, dijamin bukan kopi sasetan biasa!"
Mahrup tidak langsung membalas. Ia menatap gadis mungil di hadapannya dengan tatapan menelisik yang dingin.
"Saya tidak suka kopi manis. Jangan coba-coba menambah gula aren atau pemanis murah ke dalam cangkir saya."
Hazel terkekeh kecil, melangkah mendekati meja kerja Mahrup dan meletakkan sebuah cangkir keramik hitam beruap tipis di atas tatakan. Aroma kopi yang menyeruak di dalam ruangan terasa berbedaharum rempah tipis berpadu dengan gurih khas yang segar.
"Tenang aja, Tuan. Gula pasir atau gula aren mah udah biasa. Ini kopi hitam murni yang Hazel tambahin sedikit perasan kapulaga sama kayu manis halus," terang Hazel penuh semangat, matanya berbinar manis. "Kata Ibu Hazel, racikan ini bisa meluruhkan rasa capek dan bikin kepala yang kaku jadi hangat.
Tuan kan tiap hari mikirin uang bertriliun-triliun, pasti kepalanya sering panas, kan?"
Mahrup mengangkat sebelah alisnya. "Kamu mendiagnosis kesehatan saya?"
"Bukan diagnosis, Tuan, cuma perhatian gratisan dari staf paling bawah!" balas Hazel menyeringai polos. "Coba diminum dulu, Tuan. Kalau ga enak, potong aja gaji Hazel... eh jangan deng, uang Hazel lagi tiris banget!"
Celetukan jujur yang diwarnai tawa kecil Hazel itu seketika memecah kebekuan udara dingin di ruang kerja tersebut. Tanpa sadar, sudut bibir Mahrup terangkat beberapa milimetersebuah ulasan tipis yang bahkan tak pernah dilihat oleh sekretarisnya sendiri.
Mahrup meraih cangkir keramik itu, menyesap cairan hitam di dalamnya perlahan. Rasa pahit yang mantap disusul sensasi hangat yang lembut langsung menjalar di kerongkongannya, mengusir rasa penat akibat krisis di kepalanya semalaman.
"Bagaimana, Tuan? Enak, kan?" tanya Hazel penasaran, setengah membungkuk menatap wajah sang CEO dari seberang meja.
Mahrup berdehem pelan, meletakkan cangkir itu kembali ke mejanya dan berusaha keras menguasai kembali ekspresi kaku di wajahnya. "Lumayan. Tidak seburuk yang saya bayangkan."
"Tuh kan! Hazel bilang juga apa!" seru Hazel bangga, menepuk tangannya sekali. "Nanti tiap pagi Hazel yang buatkan racikan khusus ini buat Tuan!"
Mahrup menatap Hazel dalam-dalam. Kehangatan kopi itu seolah ikut melelehkan dinding prasangka yang sempat ia bangun semalam. Rasa trauma akan pengkhianatan Clarissa di masa lalu mendadak terasa pudar saat berhadapan dengan kejujuran dan binar mata Hazel yang begitu murni.
"Urusan tagihan medis ibumu di rumah sakit..." ujar Mahrup mendadak, mengubah topik dengan nada suara berat.
"Saya sudah menyuruh tim keuangan pribadi saya untuk melunasinya pagi ini."
Mata Hazel serta-merta membelalak sempurna. Tangannya yang memegang baki perak seketika gemetar hebat. "M-maksud Tuan... Tuan bayarin biaya rumah sakit Ibu?!"
"Bukan gratis, Hazelia," potong Mahrup tegas, meski tatapan matanya terpancar kelembutan tersembunyi. "Itu pinjaman lunak. Kamu harus membayarnya dengan bekerja lebih keras untuk saya."
Air mata Hazel menetes tanpa bisa dibendung lagi. Rasa lega yang teramat sangat membuncah di dadanya, menyingkirkan semua beban berat yang menghimpitnya selama ini.
"T-Tuan... Hazel harus balas pakai apa... Hazel janji bakal nurut sama Tuan, Hazel bakal...."
Belum sempat Hazel menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan kencang dihantamkan pada pintu kaca luar. Pintu terdorong paksa, memperlihatkan sosok wanita anggun bergaun haute couture merah menyala yang melangkah masuk tanpa izin, memotong momen haru di ruangan tersebut.
"Mahrup! Siapa cewek dekil ini yang berani-beraninya berdiri sedekat itu di ruang kerjamu?!"