NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memotret aura secara diam diam

Dua petugas polisi melangkah masuk ke ruangan kontrakan yang sempit itu, disikuti Pak Surya dengan wajah bersungut-sungut. Suasana mendadak kaku dan tegang.

​"Pak Surya, tunggu dulu! Ini semua salah paham!" pangkas Aura cepat-cepat sambil berdiri pasang badan di depan Devan.

​Pak Surya menggelengkan kepala, menatap Aura dengan pandangan kecewa berat.

"Salah paham bagaimana, Aura? Kamu mahasiswi berprestasi, calon ketua senat, tapi malam-malam begini ada di kontrakan kumuh milik mahasiswa bermasalah? Dan kamu, Devan! Sudah ada laporan resmi dari masyarakat soal balapan liar di pelabuhan malam ini, dan warga melihat motor kamu yang tenggelam di sana!"

​Devan berdiri perlahan, meski tubuhnya masih terasa lemas dan tangannya yang berbalut kain kasa terasa berdenyut nyeri.

Ia menarik lembut lengan Aura agar berdiri di belakang tubuhnya, melindungi gadis itu dari tatapan menuduh sang Dekan.

​"Pak Surya," kata Devan dengan suara serak namun tenang. "Aura nggak ada hubungannya sama semua ini. Dia ke sini cuma mau mengantarkan berkas kuliah yang ketinggalan. Jangan bawa-bawa nama dia."

​"Lalu kenapa kamu basah kuyup dan tangan kamu berdarah begitu?!" bentak Pak Surya tak mau kalah.

​"Saya jatuh dari motor pas jalan pulang, Pak. Nggak ada balapan liar," bohong Devan tanpa berkedip sedikit pun.

​Salah satu petugas polisi melangkah maju, memeriksa kondisi Devan. "Kami perlu membawa saudara Devan ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait laporan warga di pelabuhan."

​"Tapi Pak—" Aura mencoba memprotes, tapi Devan menahan jemari Aura, memberi isyarat menggeleng pelan agar gadis itu tidak makin menyulitkan posisinya sendiri.

​"Ikut kami sekarang, Devan," kata petugas polisi tegas sambil memegang bahu Devan.

​Devan menatap Aura sekilas. Di balik matanya yang sayu, ada pesan tersirat yang sangat jelas: Jangan khawatirkan aku, tetaplah jadi Aura yang biasa.

Devan lalu berjalan pasrah mengekor dua polisi itu keluar kontrakan, meninggalkan Pak Surya yang menatap Aura dengan helaan napas panjang.

​"Kamu ikut saya pulang sekarang, Aura. Orang tua kamu harus tahu soal ini," kata Pak Surya dingin.

​Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang merayap di kampus. Berkat bantuan pengacara yang diurus oleh teman-teman geng motornya serta tidak adanya bukti kuat karena Bagas dan anak buahnya kabur, Devan akhirnya dibebaskan dari kantor polisi dengan status wajib lapor. Namun, rumor di kampus makin liar.

Nama Devan makin tercoreng sebagai preman jalanan, sementara Aura terancam kehilangan jabatannya di senat jika tidak bisa membuktikan dirinya tidak terlibat dalam kehidupan kelam Devan.

​Siang itu, matahari terik membakar area kantin utama kampus. Suasana kantin sangat ramai oleh ratusan mahasiswa yang sedang menikmati jam istirahat.

​Aura duduk di meja sudut kantin bersama Nisa. Wajah Aura tampak lebih tirus dari biasanya, lingkaran hitam menggantung di bawah matanya. Di depannya, mangkok bakso yang ia pesan sama sekali tidak tersentuh.

​"Ra, kamu makan dong sedikit," bujuk Nisa khawatir melihat sahabatnya.

"Dari kemarin kamu cuma melamun terus. Jangan terlalu dipikirkan omongan orang-orang kampus."

​Aura hanya mengaduk-aduk kuah bakso di mangkoknya tanpa nafsu.

"Gimana aku nggak kepikiran, Nis? Devan ditahan gara-gara melindungi aku di pelabuhan. Dan sekarang semua orang menatap aku seolah aku ini cewek nggak benar cuma gara-gara ada di kontrakan dia."

​"Tapi kan Pak Surya cuma mengancam, Ra. Belum ada keputusan resmi dari dekanat," hibur Nisa pelan.

​Aura mendesah berat, matanya menatap kosong ke luar jendela kantin. Pikirannya melayang pada momen di kontrakan Devan malam itu—saat ia menemukan foto-foto rahasia dan menyadari betapa tulusnya perasaan Devan selama ini. Rasa takutnya pada sosok kasar Devan sirna, berganti dengan rasa ingin melindungi cowok itu.

​Tanpa Aura dan Nisa sadari, di meja bar kantin yang berjarak sekitar sepuluh meter di belakang mereka, seorang cowok berjaket hitam duduk menyendiri sambil menyesap es kopi. Devan baru saja kembali ke kampus hari ini.

​Mata Devan tidak lepas memandangi Aura dari kejauhan. Melihat wajah gadis itu yang pucat dan lesu, ada rasa bersalah yang amat dalam menggerogoti dada Devan. Ia tahu betul, kehadirannya hanya membawa masalah buat hidup Aura yang tadinya sempurna.

​Devan merogoh tas kain di sampingnya, mengeluarkan kamera DSLR kesayangannya. Jemarinya yang masih agak kaku menekan tombol power. Devan mengangkat kameranya pelan-pelan, membingkai wajah Aura dari balik keramaian kantin.

​Lewat lensa kameranya, Devan melihat ekspresi sendu Aura. Tatapan mata gadis itu begitu lelah.

​Jepret.

​Devan menekan tombol shutter dengan sangat halus. Ia ingin mengabadikan momen ini—momen di mana ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membereskan semua kekacauan ini demi Aura.

​Namun, saat Devan hendak menurunkan kameranya, tiba-tiba sebuah bayangan tinggi melangkah dan berdiri tepat di samping meja tempat Devan duduk.

​"Wah, wah... lagi asyik memotret siapa nih, si bad boy kampus?"

​Suara nyaring dan terkesan mengejek itu memecah keriuhan kecil di bar kantin. Devan terperanjat kaget, cepat-cepat menurunkan kameranya dan mencoba memasukkannya kembali ke dalam tas.

​Tapi orang itu—Reno, ketua Senat Mahasiswa yang pernah melaporkan akun rahasia Devan—bergerak lebih cepat. Reno menyambar lengan Devan dan memegang lensa kamera Devan dengan kasar.

​"Lepasin tangan lu dari kamera gue!" bentak Devan rendah, matanya mendadak menyala penuh ancaman.

​Suara bentakan Devan membuat perhatian separuh penghuni kantin, termasuk Aura dan Nisa, seketika tertuju ke arah meja bar.

​Reno tertawa sinis, tidak memedulikan gertakan Devan. "Kenapa panik gitu, Dev? Lu lagi memotret siapa sih diam-diam? Jangan-jangan..." Reno sengaja mengeraskan suaranya agar didengar semua orang di kantin. "...lu memotret Aura lagi ya?"

​Aura yang mendengar namanya disebut langsung berdiri dari kursinya dengan wajah kaget. "Reno! Kamu ngapain?!"

​Reno memutar tubuhnya menghadap seluruh mahasiswa di kantin, sambil terus mencengkeram kamera Devan.

"Teman-teman! Coba kalian lihat si Devan ini! Udah habis ditangkap polisi gara-gara balapan liar, sekarang masih sempat-sempatnya memotret cewek diam-diam di kantin! Lu benar-benar tangkai penyakit di kampus ini, Dev!"

​Devan berdiri dari kursinya, posturnya yang tinggi menjulang langsung mengintimidasi Reno. "Gue bilang lepasin kamera gue, Reno, sebelum tangan lu gue patakan!"

​"Aduh, takutnya!" ejek Reno bertingkah berlebihan. "Gimana kalau kita lihat sama-sama isi memori kamera ini? Kita buktikan ke semua orang kalau lu itu memang pemilik akun mesum @BehindTheLens yang suka mengoleksi foto Aura!"

​Reno mencoba merebut kamera itu sepenuhnya dari tangan Devan dan memutar layar LCD-nya.

​Suasana kantin mendadak riuh. Semua mahasiswa berdiri dari kursi masing-masing, saling berbisik panik. Aura yang melihat Devan hampir ketahuan saat mengambil foto dirinya di kantin langsung berlari mendekati mereka dengan jantung berdebar keras.

​"Jangan, Reno! Cukup!" jerit Aura panik, mencoba melerai.

​Devan yang sudah di puncak emosi tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan gerakan kilat, Devan mencengkeram kerah baju Reno dan menariknya keras hingga wajah Reno memucat.

​cek!

​Tangan Reno tanpa sengaja menekan tombol play di kamera Devan saat mereka saling tarik-menarik. Layar LCD kecil di kamera itu menyala terang, memutarkan galeri foto yang baru saja diambil Devan.

​Dan layar kamera yang memperlihatkan foto Aura itu mengarah tepat ke mata Pak Surya yang baru saja melangkah masuk ke dalam kantin.

​"Apa-apaan keributan ini?!" suara Pak Surya menggelegar memenuhi kantin.

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!