Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Kertas dan Jarak Lima Sentimeter
Tepat pukul satu siang, pintu lift VIP terbuka. Andrian melangkah keluar dengan perasaan yang jauh lebih kompleks daripada seorang anak magang yang sekadar dipanggil menghadap bosnya.
Di satu sisi, ada ketakutan absolut menghadapi Maya, sang sekretaris berwajah elang.
Namun di sisi lain, ada debaran aneh yang tidak bisa ia jelaskan setiap kali membayangkan akan berinteraksi dengan Elena tanpa audiens.
Maya sedang mengetik dengan kecepatan tidak manusiawi ketika Andrian berhenti di depan mejanya.
"Selamat siang, Bu Maya. Saya dipanggil—"
"Masuk," potong Maya tanpa mengangkat wajahnya dari monitor. "Bu Elena sudah menunggu. Dan Andrian?"
Langkah Andrian terhenti. "Ya, Bu?"
Maya menghentikan ketikannya, mendongak menatap pemuda itu dengan tatapan memperingatkan yang sangat tajam.
"Saya tidak tahu apa rencanamu, tapi ingat, dinding di lantai ini mungkin kedap suara, tapi mata saya ada di mana-mana. Lakukan tugasmu, dan segera keluar."
Andrian menelan ludah, mengangguk cepat, dan buru-buru membuka pintu ganda ruang kerja CEO.
Berbeda dengan kemarin, Elena hari ini sedang tidak duduk di balik meja kebesarannya. Wanita itu berdiri di sudut ruangan, tepat di depan sebuah dinding berlapis panel kayu oak yang elegan.
Elena mengenakan gaun selutut berwarna maroon gelap dengan potongan leher V-neck yang profesional namun tetap memancarkan pesona yang membuat napas Andrian sedikit tertahan.
"Tutup pintunya," perintah Elena tanpa menoleh, tangannya menyentuh salah satu panel kayu tersebut.
Begitu Andrian memastikan pintu tertutup rapat, terdengar bunyi klik yang halus. Panel kayu di depan Elena perlahan bergeser terbuka, menyingkap sebuah ruangan tersembunyi berukuran sekitar tiga kali empat meter.
Andrian melebarkan matanya. Itu adalah perpustakaan mini pribadi. Rak-rak kayu mahoni menjulang dari lantai hingga ke langit-langit, dipenuhi ratusan buku.
Ada sebuah sofa single dari kulit berwarna cokelat tua di sudut ruangan, ditemani lampu baca vintage dan meja kecil.
Ruangan itu memancarkan aroma kertas tua, kayu, dan kehangatan yang sangat kontras dengan desain minimalis dan dingin di luar.
"Masuklah," kata Elena, melangkah lebih dulu ke dalam ruangan mungil itu.
Andrian mengikutinya dengan ragu. Ruangan ini tidak terlalu besar. Dengan keberadaan rak-rak tebal di kedua sisinya, lorong di antara rak tersebut hanya cukup dilewati oleh satu orang. Jika ada dua orang, mereka harus berdiri sangat berdekatan.
"Saya butuh beberapa buku biografi tokoh bisnis dan buku manajemen strategi dipindahkan dari rak atas ke rak bawah. Dan sebaliknya, buku-buku yang tidak relevan dengan pekerjaan, pindahkan ke rak paling atas," instruksi Elena sambil menunjuk deretan buku tebal. "Koleksi ini sudah lama tidak dirapikan karena saya tidak pernah mengizinkan staf cleaning service masuk ke sini."
Andrian mengangguk paham. "Baik, Bu. Hanya memindahkan buku, kan?"
Elena menoleh, menatap Andrian dengan alis terangkat.
"Hanya? Buku-buku biografi itu sangat tebal dan berat. Pastikan tanganmu bersih, Andrian. Saya tidak mau ada noda, atau lebih parahnya, sisa minyak soto di sampul buku saya."
Andrian refleks mendengus pelan, lupa bahwa dia sedang berada di hadapan bos besarnya di dunia nyata.
"Tangan saya udah bersih dari kemarin, Len. Udah dicuci pakai sabun tiga kali. Kalau perlu saya pakai sarung tangan bedah sekalian."
Mendengar Andrian memanggilnya 'Len' secara langsung dan lisan di dalam ruang kantornya, Elena tertegun sesaat. Ada desiran aneh yang menyusup ke dadanya. Sangat berbeda rasanya membaca ketikan nama itu di layar, dengan mendengarnya langsung dari suara berat pemuda itu dari jarak sedekat ini.
Elena segera mengalihkan pandangannya ke arah rak buku untuk menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya.
"Lakukan tugasmu," ucap Elena pelan, berusaha mempertahankan nada otoritasnya. "Saya akan bekerja di luar. Jangan buat keributan."
Elena melangkah keluar, meninggalkan Andrian sendirian di dalam perpustakaan pribadi tersebut.
Selama empat puluh lima menit berikutnya, Andrian bekerja dalam diam. Dia melepas jas almamater magangnya, menggulung lengan kemeja birunya hingga ke siku, dan mulai memindahkan buku-buku tebal yang beratnya minta ampun. Sesekali dia harus berjinjit atau menggunakan tangga kecil beroda untuk menggapai rak paling atas.
Sambil menyortir, Andrian membaca beberapa judul buku yang ada di rak bawah. Semuanya adalah bacaan berat. The Intelligent Investor, Good to Great, Blue Ocean Strategy. Andrian bergidik ngeri. Tidak heran otak bosnya itu isinya hanya margin dan efisiensi.
Namun, saat Andrian sedang mengosongkan rak bagian tengah yang sedikit tersembunyi, tangannya menyentuh sebuah buku dengan sampul yang terasa berbeda. Tidak keras dan kaku seperti buku ensiklopedia bisnis.
Andrian menarik buku itu.
Matanya membelalak. Di tangannya, bertengger sebuah novel fiksi romansa terjemahan dengan sampul bernuansa pastel.
Judulnya cukup membuat Andrian ingin tertawa terbahak-bahak: The CEO's Secret Love.
Di belakangnya, Andrian menemukan beberapa komik manhwa romantis dengan cover karakter pria tampan bergaya golden hour.
"Astaga..." gumam Andrian, senyum jahil mulai mengembang di wajahnya. "Ternyata Ratu Es punya sisi fangirl juga."
Tepat pada detik itu, Elena melangkah masuk kembali ke perpustakaan. Wanita itu berniat mengecek progres Andrian, sekaligus membawa alasan kecil—membawakan segelas air mineral dingin.
"Andrian, bagaimana pro—"
Langkah Elena membeku. Ucapannya terputus di udara. Matanya tertuju lurus pada benda yang sedang dipegang Andrian.
Novel fiksi romansa rahasianya.
Wajah Elena, yang biasanya sepucat pualam dan sedingin es, langsung memerah padam dari leher hingga ke telinga. Panik menyergapnya. Itu adalah bacaan guilty pleasure-nya yang dia sembunyikan di bagian paling belakang rak agar tidak pernah dilihat oleh siapa pun, apalagi Maya atau orang tuanya.
"Kembalikan buku itu," ucap Elena cepat, suaranya kehilangan ketenangan khas CEO, maju dua langkah mendekati Andrian di celah rak yang sempit.
Andrian, yang menyadari kepanikan bosnya, justru semakin tersenyum lebar. Dia mengangkat novel itu sedikit lebih tinggi.
"Wow. Saya nggak nyangka Bu Elena Puspasari yang terhormat bacaannya novel cinta-cintaan begini," goda Andrian, melupakan seluruh sopan santun korporatnya. "Mana judulnya The CEO's Secret Love lagi. Bu, ini Ibu lagi nyari referensi buat kehidupan pribadi atau gimana?"
"Andrian Pratama," desis Elena, melangkah lebih dekat lagi hingga ujung sepatu hak tingginya nyaris bersentuhan dengan sepatu Andrian. "Kembalikan. Sekarang."
"Kalau saya nggak mau? Ibu mau pecat saya pakai alasan apa? Anak magang menemukan novel rahasia CEO?" Andrian tertawa pelan, memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur rak di belakangnya.
Karena ruang di antara dua rak itu sangat sempit, Elena yang terus maju kini berada tepat di hadapan Andrian. Wanita itu mengangkat tangannya, berusaha merebut buku tersebut dari tangan Andrian yang terangkat tinggi.
"Berikan padaku," tuntut Elena, berjinjit sedikit.
"Nggak bisa, Bu. Saya harus menyortir ini. Ini masuk kategori rak mana ya? Fiksi atau... panduan hidup?"
Elena mendengus kesal. Rasa malu dan gengsinya membuat dia bertindak impulsif. Dia mencondongkan tubuhnya lebih jauh, memaksakan diri meraih buku itu. Namun, karena dia mengenakan sepatu hak tinggi empat inci, keseimbangannya goyah saat ujung sepatunya tersandung roda tangga kecil di lantai.
"Ah!" Elena memekik tertahan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terdorong ke depan.
Secara refleks, tangan kiri Andrian yang bebas langsung melingkar cepat di pinggang Elena, menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh menghantam rak. Saking cepatnya gerakan itu, tubuh Elena menabrak dada Andrian dengan benturan yang lembut namun solid.
Buku di tangan kanan Andrian terlepas, jatuh menghantam karpet dengan bunyi buk yang diredam.
Namun tak satu pun dari mereka mempedulikan buku itu.
Waktu seolah berhenti berdetak. Ruang perpustakaan yang sempit itu mendadak terasa hampa udara.
Wajah Elena kini hanya berjarak lima sentimeter dari wajah Andrian. Tangan Andrian masih memeluk pinggang ramping wanita itu dengan erat, sementara kedua tangan Elena secara naluriah mencengkeram kemeja biru di dada Andrian.
Andrian menahan napasnya. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat dengan jelas setiap helai bulu mata Elena yang lentik.
Dia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata cokelat gelap yang biasanya menatapnya dengan dingin, namun kini membesar karena terkejut.
Aroma vanilla dan musk dari parfum Elena menguar kuat, bercampur dengan aroma kertas tua, memabukkan indra penciuman Andrian.
Di sisi lain, Elena membeku. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga pikirannya seolah kehilangan arah. Selama beberapa detik, dia bahkan lupa bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah anak magang yang setiap hari ia temui di kantor.
Mereka diam.
Terkunci dalam tatapan yang tidak bisa diartikan. Tidak ada atasan. Tidak ada bawahan. Tidak ada Ratu Es. Yang ada hanyalah Elena dan Andrian, dua manusia yang secara tidak sengaja menemukan satu sama lain dari sebuah pesan nyasar.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.
Napas Elena terasa hangat di kulit wajah Andrian. Pemuda itu menelan ludah, matanya tanpa sadar turun sekilas ke arah bibir Elena sebelum kembali menatap mata wanita itu. Sebuah pergerakan kecil, namun Elena menyadarinya.
Kecanggungan meledak di antara mereka.
Elena segera melepaskan cengkeramannya dari kemeja Andrian dan mundur satu langkah dengan cepat, memutuskan kontak fisik yang membakar itu. Dia membuang muka, merapikan gaunnya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berdeham pelan untuk menjernihkan suaranya yang tiba-tiba terasa kering.
Andrian ikut berdeham, buru-buru menurunkan tangannya dari udara seolah baru saja menyentuh bara api. Dia menunduk, mengambil buku yang jatuh tadi, dan meletakkannya kembali ke rak paling belakang dengan gerakan kaku.
"M-Maaf, Bu. Ibu hampir jatuh tadi," ucap Andrian dengan suara serak, sangat pelan, memecah keheningan yang mencekik.
Elena tidak menatapnya. Dia mengambil gelas air mineral yang tadi dia letakkan di meja kecil, lalu meminumnya sedikit.
"Terima kasih," jawab Elena cepat. Mode CEO-nya berusaha ia tarik kembali, meski suaranya tidak sekuat biasanya.
"Selesaikan sisa bukunya," perintah Elena sambil berbalik menuju pintu tersembunyi. "Letakkan buku fiksi itu di rak paling bawah. Tertutup buku biografi."
"Baik, Bu."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Elena melangkah keluar dari perpustakaan, meninggalkan pintunya sedikit terbuka.
Begitu Elena menghilang dari pandangan, Andrian merosot bersandar pada rak buku, memegangi dadanya sendiri. Jantungnya berdebar sangat kencang, rasanya nyaris melompat keluar dari tulang rusuknya. Kehangatan tubuh Elena masih tertinggal di telapak tangannya.
"Gila," gumam Andrian pelan, menengadah menatap langit-langit. "Gue beneran bisa mati muda kalau begini terus."
Tiga puluh menit kemudian, Andrian menyelesaikan tugasnya. Dia keluar dari perpustakaan mini itu dengan kemeja yang sedikit berantakan. Elena sedang duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Wanita itu tampak sangat sibuk dan profesional, seolah insiden lima sentimeter tadi tidak pernah terjadi.
"Sudah selesai, Bu Elena," lapor Andrian sopan, berdiri dengan jarak aman tiga meter dari meja.
Elena mendongak sekilas, wajahnya kembali datar, meski Andrian bisa melihat wanita itu menghindari kontak mata secara langsung.
"Bagus. Kamu boleh kembali ke lantai lima belas."
"Permisi, Bu."
Andrian keluar dari ruangan, melewati Maya yang masih menatapnya dengan curiga, lalu masuk ke dalam lift.
Begitu berada di dalam KRL pada perjalanan pulangnya sore itu, Andrian mengeluarkan ponselnya. Dia menatap layar chat kosong selama beberapa menit, bingung harus mengetik apa. Insiden tadi siang mengubah segalanya. Batas kasat mata yang selama ini menahan mereka telah hancur.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk. Dari Elena.
> Elena: Jangan pernah berani membahas novel itu lagi. Apalagi di depan Maya.
Andrian tersenyum. Ratu Es itu ternyata masih gengsi. Jemari Andrian mengetik balasan dengan ritme cepat.
> Andrian: Rahasia terjamin, Len. Tapi judulnya lucu juga. The CEO's Secret Love. Kayak pernah dengar jalan ceritanya di dunia nyata.
Balasan Elena memakan waktu sedikit lebih lama.
> Elena: Kamu terlalu banyak berimajinasi. Cepat pulang, Andrian. Jangan tersenyum sendirian di kereta.
Andrian tertawa tertahan, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela kereta yang melaju menembus senja Jakarta. Imajinasi, ya? Andrian memejamkan mata, dan ingatan tentang aroma vanilla, mata cokelat yang membesar, dan jarak lima sentimeter itu kembali membanjiri pikirannya dengan sangat nyata.
Kalau ini imajinasi, Andrian tidak keberatan terjebak di dalamnya sedikit lebih lama.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨