Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaivalya mulai tak tenang
Kaivalya dan Mustafa sudah pulang bersama Sagara, begitupun teman temannya juga sudah pulang bersama mereka juga, Sagara juga sempat bertanya kenapa Kaivalya terus menggenggam tanaman sirih merah itu dengan erat, bahkan saat Andromeda akan menanam sirih itu juga di tolak oleh Kaivalya, karen Kaivalya sendiri yang harus menanamnya.
"Memangnya itu sirih dari siapa?" tanya Safira
"Dari alam Baharuddin katanya mom" jawab Kaivalya setelah selesai menanam sirih itu.
"Alam Baharuddin, pasti bukan sirih biasa ya? Sirih gaib?" tanya Safira
"Iya mom, katanya ini akan bisa bantu Kai, selain dengan terus berserah pada Allah SWT, tapi Kai tidak akan tergantung pada benda ini" jawab Kaivalya
"Memang seharusnya begitu, jadikan Allah SWT hanya sebagai pegangan kamu" ungkap Langit yang sudah ada di belakang Kaivalya.
Dia khawatir saat mendengarkan Kaivalya pingsan di rumah Deni karena melihat hantu, jadi dia datang untuk menegur hantu itu, tapi ternyata saat ke tempat Deni, hantu yang mendatangi Kaivalya itu bukanlah hantu biasa, melainkan sosok harimau adik dari raja harimau Badaruddin, Baharuddin.
Bahkan di tempat itu juga ada Barma yang dulu sempat jadi suami Rumi di kampung mahoni, dia pindah ke sana dan mendirikan kerajaan miliknya sendiri di sana, dia mengenal Kaivalya karena melihat energi Rajasa ada di dalam tubuh Kaivalya.
"Om, Om.... hiks.. Kai takut tapi berusaha kuat juga, tapi Kai bingung gimana cara bedain mana yang manusia sama yang bukan manusia" keluh Kaivalya memeluk Langit.
"Mereka itu punya bau khas Kai, sama seperti manusia, tapi bedanya mereka baunya aneh, ada yang wangi juga, ada yang tidak napak ke tanah dan tidak punya bayangan, kamu juga nanti bisa membedakan mereka setelah terbiasa" ucap Langit menyiramkan air ke daun sirih itu yang tiba tiba langsung tertanam kuat di halaman rumah Sagara.
"Ayo masuk, ini sudah malam, Kaivalya juga mandi dan shalat Isya nak, kamu belum shalat isya" ajak Safira
"Kemana Altair?" tanya Langit
"Ke rumah kak Zhafran, katanya mau minta air garam untuk Kai, takutnya Kai kena efek dari jin itu" jawab Safira
"Kai minta langsung saja deh ke sana sekalian mau minta garam nenek Sutinah juga" ucap Kaivalya berlari ke depan gerbang.
"Zhafran di rumah Om Samuel" teriak Sagara
Kaivalya pergi ke rumah Samuel, dia menyapa para penjaga di sana dan memilih untuk langsung masuk ke dalam rumah Samuel karena ternyata Zaki juga sudah pulang dari sekolah dan merangkul Kaivalya untuk masuk.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Zaki datang bersama Kaivalya yang ingin meminta garam Sutinah, di sana juga ada Hamka yang sedang makan malam dan langsung menyambut Kaivalya. Hamka dulu sering kesal pada Kaivalya, tapi Sagara mengingatkan Hamka kalau anak itu sama sekali tidak berdosa atas ulah ayah kandungnya, dan sejak Sagara memenangkan pertarungan dengan Rajasa, tidak ada yang tahu kalau Sagara pernah hilang dan terjebak di alam gaib, mereka tetap bersikap dan berinteraksi dengan Sagara seperti biasa, begitupun dengan Safira yang seperti memiliki ingatan baru lagi dengan Sagara setelah mereka menikah kembali di kampung mahoni dengan wali Safira yaitu Arsyad sang paman.
"Kak Hamka di sini juga?" tanya Kaivalya
"Iya, kakak menjenguk emerald, katanya sedang tidak enak badan" jawab Hamka.
"Ini air garam dari nenek, katanya kamu minum setelah membaca alfatihah dan ayat kursi" ucap Zhafran memberikan segelas air garam untuk Kaivalya.
"Papi ke kamar dulu ya, kamu mandi dan setelah itu makan, ajak papa nakal kamu ini" ucap Zaki menjewer telinga Hamka.
"Iya Pi" jawab Zeeshan karena dia tadi pulang bersama Hamka.
Zaki pamit ke kamarnya dan menyisakan Esmeralda, Hamka juga Kaivalya yang sedang mengobrol, Zhafran pamit pulang untuk mengambil garam lagi dan Hamka melihat ada yang sedikit berbeda dari wajah Kaivalya, tidak tahu apa tapi Hamka yakin itu adalah sesuatu yang menggangu pikiran Kaivalya.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Hamka
"Tidak kak" jawab Kaivalya menunduk
"Wajah kamu itu sudah menjelaskan semuanya Kai, jujur saja kalau ada yang ingin kamu bicarakan" bujuk Esmeralda
"Kai ingin ikut ke kampung mahoni, tapi mommy dan Daddy tidak mengijinkan, di tambah Kai juga selalu merasa di awasi entah oleh siapa, jadi saat malam sering tidak bisa tidur, sering masuk ke kamar Hamad juga supaya bisa tidur karena hanya di sana Kai tidak merasa cemas" jawab Kaivalya.
"Memang sebaiknya jangan, kamu pasti dengar apa yang terjadi di kampung itu kan? Memang di sana sudah di bangun banyak fasilitas, tapi kampung itu tetap tertutup untuk orang baru dari kota, hanya sekolah dan pusat kesehatan saja yang di buka untuk umum, selebihnya di sana masih di jaga budaya dan juga ke asrian hutannya" jawab Hamka
"Kamu tidur dengan Hamad saja kalau tidur sendiri buat kamu tidak nyenyak" ucap Esmeralda
"KKN nanti rencananya kami akan ke kampung Mahoni, tapi Om Zaki bilang jangan, Daddy juga tidak ijinkan, padahal Kai, Mustafa dan yang lain antusias ingin ke sana" ungkap Kaivalya
"KKN ke sana itu berbahaya, kamu ke kampung Kaliki atau kampung Curug saja, di sana juga masih banyak desa terpencil dan perlu penyuluhan tentang kesehatan, kebersihan, pertanian dan juga pendidikan" ucap Hamka
"Kampung Curug di mana?" tanya Kaivalya
"Jaraknya enam jam kalau dari jakarta, pemukimannya masih tertinggal meski sudah ada akses jalan dan internet, tapi untuk ke pusat kesehatan cukup jauh, di tambah orang orang di sana masih percaya praktek perdukunan, kamu kenal Dimas? Kakaknya si kembar Dirga dan Delisha yang pesantren di pondok Kiai Adrian?" tanya Hamka dan Kaivalya mengangguk.
"Mereka tinggal di sana, kalau kamu KKN, kamu bisa tinggal di tempat kak Dimas, mereka pasti siap bantu kamu dan Mustafa" jawab Hamka
"Kalau begitu Kai akan usulkan ke sana pada dosen pembimbing sekalian ke teman teman Kai" jawab Kaivalya
"Jangan melamun, kamu ini anak yang hebat, sudah hampir lulus di usia dua puluh tahun" ungkap Hamka
"Daddy juga selalu bilang begitu, tapi kadang-kadang Kai sering tidak sadar tiba tiba melamun kalau sedang sendirian" jawab Kaivalya
"Kalau begitu jangan sendirian" ucap Esmeralda yang langsung di peluk Kaivalya manja.
"Om Kai, mami masak tempura udang, sini makan!" panggil Zeeshan
"Mau!" pekik Kaivalya segera berlari ke ruang makan rumah Samuel.
"Bungsu tetap saja bungsu, manja" ledek Esmeralda
"Sama dengan kamu" sambung Hamka mengusap rambut Esmeralda
Plak.
"Aakh.. Kapan Om datang?" tanya Hamka yang kepalanya di geplak Zaki yang tak suka rambut Esmeralda di usap Hamka.
"Sejak kamu memainkan rambut Esmeralda" jawab Zaki ketus