NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Bayang-Bayang di Taman Kota

September melangkah perlahan, meninggalkan sisa-sisa musim panas yang digantikan oleh hembusan angin pagi yang terasa jauh lebih sejuk di kulit. Di sebuah taman kota yang dikelilingi oleh barisan pohon trembesi rindang dan hamparan rumput hijau terawat rapi di kawasan distrik utara, suara tawa anak-anak kecil bergemerincing riang, bersahutan dengan kicauan burung-burung kecil yang melompat-lompat di atas dahan rendah.

Di salah satu bangku taman bercat putih yang menghadap langsung ke arah kolam buatan, Lin Meiying duduk bersandar santai. Mengenakan dress katun sederhana berwarna biru muda dan cardigant rajut tipis, ia tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa bulan lalu. Lingkaran hitam pekat di bawah matanya telah memudar, digantikan oleh rona wajah segar yang memancarkan ketenangan jiwa.

Beberapa meter dari tempatnya duduk, Chen Anqi tengah berlari-lari mengejar gelembung sabun raksasa yang ditiup oleh seorang badut jalanan, tertawa lepas sambil melambaikan tangan kecilnya.

Meiying tersenyum kecil melihat kebahagiaan putrinya. Hidup mereka perlahan-lahan menemukan kembali iramanya yang hilang. Bantuan dana pendidikan perwalian yang disalurkan secara misterius namun konsisten setiap bulannya memastikan Anqi tidak pernah lagi kekurangan buku maupun perlengkapan sekolah. Sementara itu, ibunya di rumah sudah bisa menjalani terapi kesehatan rutin tanpa rasa cemas berkat jaminan medis dari yayasan korporat yang tak berwajah.

Namun, di balik kedamaian lahiriah itu, ada ruang kosong di dalam hati Meiying yang tidak pernah benar-benar terisi.

Setiap kali ia berjalan seorang diri di trotoar kota, atau ketika angin senja berhembus membawa aroma khas mahoni dan kayu manis, pikirannya otomatis melayang pada satu sosok pria yang telah mengubah jalan hidup keluarganya secara drastis: Lu Jingyan.

Sudah hampir sebulan sejak pertemuan mereka di pemakaman umum. Sejak hari itu, pria tersebut tidak pernah lagi menampakkan diri di hadapannya. Tidak ada lagi mobil hitam mewah yang membuntutinya dari kejauhan, tidak ada lagi payung hitam yang terbentang di tengah badai, dan tidak ada lagi tatapan mata tajam penuh rahasia di dalam lift rumah sakit. Direktur utama Lu Group itu seolah lenyap ditelan kesibukan imperium bisnis global yang dipimpinnya.

Namun, ketidakhadiran itu justru membuat bayangan Jingyan semakin lekat di dalam benaknya. Semakin Meiying merenungkan setiap potongan teka-teki masa lalu—mulai dari kemiripan gestur tubuh, surat peninggalan Guowei, hingga sorot mata penuh duka yang terpancar di balik wibawa dingin sang direktur—semakin kuat pula insting kewanitaannya meyakini satu kebenaran absurd yang selama ini ditolaknya oleh akal sehat: jiwa di dalam raga Lu Jingyan bukanlah orang lain.

"Ibu! Lihat, aku mendapatkan balon bentuk bunga!" teriak Anqi sambil berlari mendekat, membawa sebuah balon warna-warni yang diikat tali panjang.

Meiying tersadar dari lamunannya. Ia menyambut putrinya dengan rentangan tangan, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pangkuannya. "Wah, bagus sekali, Sayang. Jangan dilepas ya talinya, nanti terbang."

Tanpa disadari oleh Meiying maupun Anqi, di seberang jalan raya di balik rindangnya semak-semak hias taman, sebuah mobil sedan hitam berpen kaca gelap terparkir diam-diam di tepi trotoar.

Di dalam kabin mobil yang sejuk, Lu Jingyan duduk terpaku menatap pemandangan di seberang sana. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan kancing atas terbuka, ia tidak mengenakan setelan jas formalnya hari ini. Wajahnya tampak sedikit lebih lelah, namun sorot matanya menyala hangat saat menangkap bayangan senyum di wajah wanita yang paling dicintainya.

Di sebelah kursi pengemudi, Sekretaris Han melirik atasannya lewat ekor mata, lalu bersuara pelan dengan nada hati-hati. "Tuan Muda, kita sudah memantau area ini selama tiga puluh menit. Apa Anda tidak ingin turun dan menyapa mereka secara langsung? Nyonya Meiying terlihat jauh lebih baik sekarang."

Jingyan menggeleng perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi gestur agar asistennya tidak melanjutkan kalimat tersebut.

"Tidak perlu, Han," jawab Jingyan dengan suara berat yang terdengar tenang. "Melihatnya tersenyum bebas tanpa rasa takut dan tanpa bayang-bayang ancaman kematian di sekitarnya sudah lebih dari cukup bagiku. Kehadiranku yang terlalu sering di sisinya justru hanya akan membuka kembali luka lama yang perlahan-lahan sedang ia sembuhkan."

"Tapi... waktu Anda..." Sekretaris Han menghentikan ucapannya, tidak sanggup merampungkan kalimat yang menyangkut batas masa pinjaman jiwa atasannya.

Ya. Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan.

Angka di dalam benak Jingyan kini semakin menipis. Setiap tarikan napasnya adalah sisa-sisa detik yang harus ia bayar kepada takdir. Sebelum waktu itu benar-benar habis, masih ada satu hal terakhir yang harus ia pastikan: masa depan hukum dan perlindungan mutlak bagi keluarga kecil tersebut, jauh melampaui masa hidup raga Lu Jingyan.

Tiba-tiba, di seberang taman, ponsel di dalam saku Meiying berdering nyaring.

Wanita itu mengeluarkan telepon genggamnya, melihat layar yang menampilkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Dengan sedikit kerutan di keningnya, Meiying mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo? Ini dengan Lin Meiying," sapa Meiying sopan.

Dari ujung sambungan telepon, suara seorang wanita paruh baya terdengar ramah dan formal—perwakilan dari Kantor Notaris Pusat Kota yang ditunjuk langsung oleh yayasan perwalian Lu Group.

"Selamat pagi, Nyonya Meiying. Kami dari lembaga hukum independen ingin mengonfirmasikan bahwa seluruh proses legalitas sertifikat hak milik atas rumah kontrakan yang Anda tempati, beserta seluruh dana jaminan pendidikan jangka panjang non-revokeable untuk Anqi, telah resmi disahkan atas nama Anda pagi ini. Dokumen aslinya akan segera dikirimkan ke alamat Anda."

Meiying terperanjat kagat dari tempat duduknya. Ia berdiri spontan, membuat Anqi mendongak kebingungan menatap ibunya.

"Sertifikat rumah kontrakan...? Dan dana jaminan pendidikan?" suara Meiying bergetar hebat, napasnya tertahan. "Tunggu, siapa pihak dermawan yang mendanai semua ini? Saya tidak pernah mengajukan permohonan apa pun!"

"Maaf, Nyonya. Sesuai dengan klausul kerahasiaan ketat dari pendiri yayasan, identitas pemberi kuasa tidak dapat disebutkan. Beliau hanya berpesan satu hal melalui surat wasiat operasional lembaga kami..." petugas notaris itu berhenti seketika, menarik napas sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lembut:

“Bumi boleh berputar dan waktu boleh berhenti, tetapi cinta sejati tidak akan pernah kehilangan jalannya untuk pulang.”

Deg!

Kalimat itu menghantam dada Meiying bagaikan sambaran petir di siang bolong. Kalimat puitis itu... kalimat yang sama persis yang pernah diucapkan oleh Guowei di bawah langit malam berbintang pada hari ulang tahun pernikahan mereka beberapa tahun silam—kalimat rahasia yang tidak mungkin diketahui oleh satu pun manusia di muka bumi ini selain suaminya!

Meiying membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia melepaskan ponsel dari telinganya, lalu menoleh cepat ke sekeliling taman, memutar pandangannya ke segala arah dengan napas memburu.

Di seberang jalan, sedan hitam perlahan mulai melaju meninggalkan tepi trotoar, bergerak pelan mengikuti arus lalu lintas kota. Melalui kaca jendela belakang yang sedikit terbuka, siluet seorang pria berjas rapi dengan postur punggung yang sangat familier tampak sekilas memandangnya untuk terakhir kali sebelum mobil itu berbelok di tikungan jalan dan menghilang di antara kerumunan kendaraan.

"Guowei...?" bisik Meiying lirih, air matanya tumpah seketika membasahi pipinya. Tanpa sadar, ia melangkah maju beberapa langkah meninggalkan bangku taman, seolah ingin mengejar bayangan yang teramat sangat ia rindukan.

"Ibu? Kenapa menangis? Kita mau ke mana?" tanya Anqi kecil sambil menarik-narik ujung gaun ibunya dengan cemas.

Meiying berlutut di hadapan putrinya, mendekap tubuh kecil itu erat-erat ke dadanya sambil membiarkan air matanya menderu deras. Ia mendongak menatap langit biru yang membentang luas di atas kepala mereka, menyadari sepenuhnya bahwa pria itu tidak pernah pergi jauh—jiwa suaminya senantiasa berdiri mengawasinya, menjaga setiap langkah kecil mereka di bawah teriknya dunia yang kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!