Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - Batas yang Hampir Terlewat
Hujan di Darul Hikmah kalau sudah turun tidak main-main.
Jam tiga sore, langit yang tadinya cerah tiba-tiba hitam. Angin kencang. Lalu byur, hujan deras sekali. Listrik aula sempat berkedip dua kali.
Waktu itu santri putri lagi ada kelas tambahan Fiqih di aula utama. Gurunya Ustazah Khadijah. Pas hujan turun, semua tidak bisa keluar. Soalnya aula ke asrama putri harus menyebrang lapangan terbuka yang sekarang sudah jadi kolam.
"Sudah, kalian di sini dulu saja sampai hujan reda. Jangan memaksa keluar," kata Ustazah Khadijah.
Ada sekitar 30 santri putri terjebak di aula. Termasuk Muthi'ah, Dina, Zahra, Salsa, dan... Nadira.
Di luar aula, di teras ndalem, Jay, Heeseung, dan Jungwon lagi ngobrol habis rapat Haflah.
"Kasihan santri putri terjebak di aula," kata Heeseung.
Ustazah Khadijah keluar dari aula membawa HP, jalan cepat ke arah ndalem.
"Ustazah, gimana?" tanya Heeseung.
Ustazah Khadijah agak panik, "Santri putri kejebak. Payung di ndalem cuma ada sedikit. Bisa tolong ambilkan payung di gudang putra? Antarkan ke aula, tapi jangan langsung masuk. Taruh saja di depan pintu, nanti santri putri ambil sendiri. Jaga adab ya."
Jay langsung berdiri, "Biar saya ambil, Ustazah."
Jay dan Jungwon lari ke gudang putra, mengambil lima payung besar.
Balik ke teras, Jay menyodorkan payung ke Jungwon.
"Won, kamu yang antar ke depan pintu aula ya. Bilang dari Ustazah. Saya di sini saja," kata Jay.
Jungwon mengangguk, "Oke, Gus."
Jungwon lari menerobos hujan. Sampai depan aula, dia mengetuk pintu.
"Mbak-mbak, ini payung dari ndalem. Dari Ustazah Khadijah," kata Jungwon dari luar, tidak masuk.
Pintu aula terbuka sedikit. Yang keluar pertama Muthi'ah, karena duduknya paling dekat pintu.
Jungwon menyodorkan payung. Muthi'ah menerima.
"Makasih, Kang Jungwon," kata Muthi'ah pelan, menunduk.
Jungwon tersenyum, "Sama-sama. Hati-hati licin."
Momen itu cuma tiga detik. Sesuai adab.
Tapi dari jendela aula, ada yang melihat beda.
Nadira.
Dari tadi Nadira duduk dekat jendela, melihat teras ndalem. Dia melihat Jay lari mengambil payung. Dia melihat Jay menyodorkan payung ke Jungwon. Dia melihat Jungwon lari ke aula.
Dan dia melihat Muthi'ah yang menerima payung itu.
Otak Nadira langsung berputar cepat.
Dia mengeluarkan HP dari tasnya. HP titipan orang tuanya yang seharusnya dititipkan ke Ustazah, tapi hari itu belum sempat dititipkan.
Dia membuka kamera, zoom. Pas momen Jungwon menyodorkan payung ke Muthi'ah, dia jepret.
Cekrek.
Dapat satu foto. Di foto itu kelihatan Jungwon menyodorkan payung, Muthi'ah menerima. Di belakang, samar, kelihatan Jay berdiri di teras ndalem, melihat ke arah aula.
Nadira melihat foto itu lama.
Tangannya gatal ingin crop bagian Jungwon. Biar yang kelihatan hanya tangan yang menyodorkan payung. Karena foto agak blur kena hujan, tidak akan kelihatan jelas itu tangan siapa.
Setelah di-crop, fotonya akan terlihat seperti Jay yang langsung memberi payung ke Muthi'ah. Berduaan di depan pintu aula.
Nadira menghela napas. Jempolnya sudah di atas tombol crop, tapi dia tahan.
"Belum," bisiknya pelan.
Dia simpan dulu foto aslinya. Belum disebar. Baru disimpan.
Lulu yang duduk sebelahnya bertanya, "Nadira, foto apa?"
Nadira langsung mematikan HP, "Nggak, foto hujan."
Di teras ndalem, Jay tidak tahu apa-apa.
Di aula, Muthi'ah balik ke dalam membawa payung, mukanya biasa saja. Buat dia, itu hanya payung. Bantuan biasa.
Dia tidak tahu, payung itu nanti bisa jadi masalah besar.
Hujan reda sejam kemudian. Santri putri balik ke asrama memakai payung itu bergantian. Muthi'ah jalan bareng Dina, Zahra, Salsa, payung dipakai berempat, sempit-sempitan tapi ketawa-ketawa.
Nadira jalan sendiri di belakang. Di sakunya, HP-nya ada foto tadi.
Dia mengelus HP-nya di saku.
"Lihat saja, Muthi'ah," batinnya.
Langit habis hujan biasanya cerah. Tapi buat Muthi'ah dan Jay, habis hujan itu justru awal mendung yang lebih besar.
Mereka sudah berusaha menjaga batas. Mereka sudah melakukan semua sesuai aturan. Tidak ada yang salah.
Tapi kadang, di pesantren, yang salah itu bukan apa yang kamu lakukan. Tapi apa yang orang lain lihat dan ceritakan.
Dan sore itu, satu foto yang disimpan diam-diam di HP Nadira, jadi retakan pertama.