NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Kota Bebas Rustwood

Perjalanan dua hari di atas gerobak dagang berakhir saat struktur masif Kota Bebas Rustwood terlihat menembus kabut sore. Secara administratif, kota ini berada di wilayah Kekaisaran Verdentia. Tidak ada bendera kebangsawanan yang menyambut mereka, melainkan tembok batu solid setinggi enam meter dengan noda hitam bekas darah kering di bagian luarnya.

Kota ini dibangun murni sebagai benteng penahan keganasan Hutan Kuno.

Konvoi melintasi gerbang setelah membayar retribusi. Jalanan Rustwood berupa tanah padat berlumpur yang dijejali para penyamak kulit, tentara bayaran, dan gerobak pengangkut material monster. Udara di sana berat, dipenuhi bau anyir darah dan tuak murah.

Vane menghentikan gerobaknya di depan bangunan kayu dua lantai di distrik barat.

"Urusan kita di jalan selesai di sini," ucap Vane. "Aku sudah membayar kamar kalian di penginapan 'Babi Tuli' ini. Jangan sampai mati di dalam sana. Aku benci investasi yang gagal."

"Pastikan saja koin emasmu siap saat kami keluar," balas Arya datar.

Arya segera membagi kelompok. Ia menugaskan Josh, Willi, dan Kin untuk mengangkut logistik dan peralatan medis ke dalam kamar.

"Max, Erson. Ikut aku ke Guild Petualang," perintah Arya. Erson memiliki ingatan yang bagus soal rumor geografis, ia butuh mata kedua untuk memverifikasi peta yang akan mereka beli.

Ketiganya berjalan menuju pusat kota. Bangunan Guild Petualang berwujud struktur batu bata kusam. Begitu Arya mendorong pintu ganda yang berat itu, suara bising percakapan dan bau alkohol langsung menghantam. Puluhan petualang veteran duduk mengelilingi meja, beberapa memiliki luka sayat panjang dan zirah pelat yang penyok.

Kehadiran Arya, Max, dan Erson langsung memancing keheningan sesaat di meja-meja dekat pintu.

Ketiga pemuda itu mengenakan zirah kulit tanpa goresan. Postur mereka tegak, dan wajah mereka masih terlalu muda untuk ukuran orang-orang yang berani datang ke perbatasan berdarah ini.

"Lihat kulit bersih itu," celetuk seorang pria berotot leher tebal. Ia mengetukkan cangkir kayunya ke meja. "Anak bangsawan mana yang tersesat ke sini? Hutan Kuno bukan tempat untuk main pedang-pedangan. Monster di dalam sana paling suka mengunyah daging yang masih empuk!"

Beberapa pria di meja tersebut tertawa parau.

Wajah Max memerah. Ibu jarinya menekan crossguard pedangnya. Di sebelahnya, Erson menelan ludah, terlihat tegang, namun tetap mempertahankan posisinya.

Sebelum pedang Max tercabut, Arya mencengkeram keras bahu prajuritnya itu. Tekanannya mengisyaratkan satu hal mutlak: diam.

Tanpa menoleh ke arah meja tersebut, Arya berjalan lurus menuju konter tempat resepsionis guild—seorang wanita paruh baya—sedang menyortir taring. Max dan Erson mengekor di belakangnya.

"Peta topografi Hutan Kuno area luar dan batas area dalam," ucap Arya, meletakkan lima keping perak ke atas meja. "Serta catatan area mana yang paling sering dilaporkan memiliki pergerakan monster kelas rendah dalam tiga hari terakhir."

Wanita itu melirik uang tersebut, lalu menatap Arya. "Peta area luar bisa kuberikan. Tapi masuk ke perbatasan area dalam? Enam petualang veteran baru saja ditemukan tewas terkoyak di sana kemarin. Koin perakmu tidak akan berguna kalau kalian mati di jam pertama."

"Aku membeli peta, bukan nasihat," jawab Arya.

Wanita itu mendengus. Ia mengambil sebuah gulungan perkamen tebal dan secarik kertas dari rak, lalu menyerahkannya.

Arya membuka gulungan itu sekilas, melirik Erson. Erson memperhatikan titik-titik aliran sungai di peta tersebut, lalu mengangguk pelan, mengonfirmasi bahwa pola sungainya sesuai dengan informasi yang mereka dengar dari pedagang. Arya menyimpannya di tabung kulit di pinggang, lalu berbalik pergi.

Namun, pria berotot yang mengejek mereka tadi tiba-tiba menendang kursi kayunya hingga melintang persis di tengah jalur keluar Arya. Pria itu bersandar di mejanya, menyeringai meremehkan.

"Kalau kalian nekat masuk besok," ucap pria itu, "tinggalkan pedang baja kalian untukku di sini. Sayang kalau berkarat di dalam perut monster."

Arya menghentikan langkahnya, ujung sepatunya nyaris menyentuh kaki kursi.

Ia menatap pria itu. Arya tidak marah, tangannya bahkan tidak bergerak mendekati gagang pedang. Ia hanya menatap diam. Matanya yang datar tidak melihat ke arah wajah pria tersebut, melainkan terkunci tepat pada celah dua sentimeter di antara pelindung leher dan bahu zirah pria itu—titik paling fatal untuk sebuah tebasan masuk. Postur Arya sepenuhnya rileks, postur seorang algojo yang sudah mengukur seberapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk memutus urat nadi.

Seringai di wajah pria itu perlahan memudar.

Insting bertahan hidup yang ia asah bertahun-tahun di hutan tiba-tiba menyalakan alarm peringatan. Ia melihat tidak ada keraguan atau ketakutan pada mata pemuda di depannya, melainkan kalkulasi murni. Pria itu menelan ludah, otot bahunya mendadak kaku.

Melihat lawannya terdiam, Arya mengangkat sebelah kakinya, menggeser kursi kayu itu ke samping tanpa membuang tenaga lebih, lalu melangkah keluar dari Guild diikuti Max dan Erson.

Di meja tadi, pria berotot itu hanya diam menatap pintu yang tertutup. Tangannya yang memegang cangkir sedikit berkeringat.

Malam harinya, di bawah pendar lilin kamar penginapan, Arya membentangkan peta Hutan Kuno di atas meja. Kelima prajuritnya merapat.

"Besok subuh," suara Arya memecah kesunyian, jarinya menunjuk garis batas pepohonan terluar di peta. "Kita masuk lewat jalur ini. Mulai besok, kita harus bersiap. Satu langkah salah di dalam sana, kalian mati. Periksa tali zirah dan asah pedang kalian malam ini, lalu istirahat."

1
adiba fafa
/Drool/
adiba fafa
mana nih duel sama max
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!