Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Iya Bi, tolong jaga Sasha dulu ya. Aku masih ada urusan. Kalau Bima datang lagi, gak usah kasih dia masuk, kalau datangnya sama Zayn, jangan kasih masuk juga dua-duanya!"
[Baik nyonya]
Panggilan telepon itu terputus. Kinan mendengarnya, karena memang ketika bibi Dona menghubungi Bella, Bella menyalakan speaker ponselnya.
"Dia ke rumah! kamu mau aku antar ke hotel dulu?" tanya Bella.
Bella tahu, pasti Kinan tidak mau pulang, atau pun pulang ke rumah Bella. Bima pasti mencarinya disana. Bukan menyarankan sahabatnya untuk lari dari masalah. Tapi dengan kondisi Kinan saat ini, Bella bahkan tidak tega meninggalkannya. Dan semakin Kinan berkonflik dan bertemu muka dengan Bima, Kinan pasti akan sangat sedih, mental seperti itu sangat tidak baik untuk wanita yang tengah hamil muda.
Dan Kinan pun punya pemikiran yang sama dengan Bella. Dia memang tidak ingin bertemu dengan Bima untuk beberapa waktu ini.
Bella membawa Kinan ke hotel yang aksesnya cukup sulit. Tentu saja, hal itu Bella lakukan untuk menjaga Kinan. Begitu sampai di hotel, Bella memesankan Kinan makanan. Dan memberikan sebuah kartu pada Kinan.
"Jangan pakai kartu dari Bima, dia akan tahu kamu dimana. Tenangkan saja dulu dirimu disini, kalau butuh apapun ingat untuk hubungi aku, kapanpun juga itu!"
Kinan mengangguk. Tapi sebelum Bella keluar dari kamar hotel itu. Kinan bicara,
"Zayn mungkin tahu semua ini Bella. Tapi, semua yang melakukannya Bima. Aku rasa Zayn tidak salah..."
Bella menghela nafas panjang. Sahabatnya itu mengatakan semua itu pasti karena tidak ingin dirinya bertengkar dengan Zayn.
"Dia sama salahnya dengan Bima, Kinan. Tenang saja, aku hanya memberinya sedikit pelajaran"
"Apa ada hal lain yang aku tidak tahu, dan kamu tahu?" tanya Kinan lagi.
Suaranya semakin serak, dia sudah menangis cukup lama. Mungkin sebelum sampai di makam orang tuanya, di mobil dia juga sudah menangis. Suaranya serak, matanya sedikit bengkak dan wajahnya sangat sembab.
Bella kembali berjalan ke arah Kinan.
"Kamu sedang hamil, banyak pikiran tidak akan baik untukmu. Sekarang kamu di sini dulu, tenangkan diri dulu. Nanti kalau kamu sudah tenang, aku bantu kamu bicara dengan Bima. Apapun keputusan kamu saat itu, aku akan selalu mendukung kamu, Kinan!"
"Jadi benar ada?" tanya Kinan.
Bella sudah berusaha mengalihkan perhatian Kinan. Tapi, mereka sudah bersahabat sangat lama. Sudah sejak SMP sampai sekarang. Bagaimana mungkin bisa menutupi apapun dari salah satunya.
Mata Bella sudah berkaca-kaca. Sebenarnya baginya sangat berat mengatakan kebenarannya pada Kinan. Sahabatnya itu pasti akan hancur mendengar apa yang dia ketahui beberapa waktu lalu dari suaminya.
"Kinan, kamu masih butuh ketenangan..."
"Kamu mau bikin aku penasaran, dan berpikir yang tidak-tidak?"
Kinan membuat Bella tak bisa membantah lagi. Bella duduk di samping Kinan. Merangkul sahabatnya itu, sebelum dia mengatakan semua hal menyakitkan itu.
"Bima membelikan sebuah villa dan mobil untuk Agnes di Dubai. Bahkan setiap bulan, mengirim uang pada wanita itu 200 juta, selama tiga tahun ini!"
Tes
Air mata Kinan menetes lagi ketika dia memejamkan matanya. Hati istri mana yang tidak patah, mendengar suaminya menafkahi wanita lain. Apalagi wanita itu adalah wanita yang menjadi penyebab kematian ibunya.
"Kinan, kalau kamu ingin berpisah dengan Bima. Aku akan membantumu. Ada aku, jangan khawatir akan apapun. Kamu berbakat, kamu meninggalkan pekerjaanmu sebagai design grafis demi pernikahan itu. Setelah berpisah, kamu bisa jadi wanita karir yang hebat. Jangan khawatir masalah anak dalam kandungan kamu, kamu bisa jadi ibu angkat Sasha, aku juga bisa jadi ibu angkat anak itu. Kita tidak akan kekurangan apapun!"
Bella memeluk Kinan. Air mata Kinan terus mengalir. Bukan cengeng, tapi memang apa yang dilakukan Bima sangat menyakitinya.
Bella berusaha untuk membuat Kinan tidak putus asa. Dia berusaha membuat sahabatnya kuat. Tapi yang namanya seorang istri yang dikhianati dan ditipu selama tiga tahun, hancurnya hatinya hanya Kinan yang bisa mengetahui seperti apa.
Bella juga bukan memprovokasii Kinan untuk berpisah. Tapi Bima memang keterlaluan, dia juga tak mau sahabatnya hidup dengan pria seperti itu.
**
Sementara itu di tempat berbeda, Bima sudah berusaha mendatangi tempat yang kemungkinan dikunjungi oleh Kinan. Sayangnya pikirannya juga kacau, jadi dia juga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ketika dia menghubungi Leo. Pria itu juga mengatakan kalau dia memang mengikuti Kinan. Tapi di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang klien yang meminta untuk bicara. Leo akhirnya kehilangan jejak Kinan.
Bima bertambah marah, dia bahkan membentak Leo dalam panggilan telepon itu dan minta supaya Leo mencari Kinan lagi. Bima juga memerintahkan Leo menyuruh anak buahnya mengikuti Bella. Karena Bella adalah orang yang paling dekat dengan Kinan. Kemungkinan akan semakin besar untuk menemukan Kinan lewat Bella.
Sayangnya, begitu Bella tahu kalau anak buah Leo mengikutinya ketika dia akan pulang. Malam itu juga Bella mendatangi Bima di kantornya. Wajahnya merah padam. Sudah sejak siang tadi dia ingin memaki Bima. Bagus datang kesempatan yang Bima buat sendiri, supaya Bella bisa datang ke kantornya dan memaki sahabat suaminya itu.
Brakk
"Nyonya Bella..." Leo berusaha mencegah Bella masuk ke ruangan Bima.
Bima sedang sangat kacau, entah apa yang akan terjadi kalau Bella marah padanya.
Melihat Bella masuk, Bima meminta Leo keluar dengan isyarat tangan. Leo pun keluar tanpa menutup pintu. Sudah malam juga, sudah banyak karyawan yang pulang. Kantor sudah sangat sepi.
"Dimana istriku?" tanya Bima yang merasa Bella pasti tahu dimana Kinan berada.
Bella mendengus kesal.
"Pria brengsekk seperti mu pantas bertanya padaku? aku belum pernah bertemu dengan manusia menjijikkan seperti mu, Bima! Kinan kurang baik apa padamu?" pekik Bella.
Matanya merah, berkaca-kaca. Bukan takut pada Bima, tapi dia sangat marah pada pria di depannya itu.
"Kamu benar-benar brengsekk! kamu manusia paling brengsekk yang pernah aku kenal! Beraninya kamu menipu Kinan selama tiga tahun, beraninya kamu memperlakukan Kinan seperti itu? Apa kamu tidak takut karma, Bima? apa kamu tidak takut, kamu akan menuai apa yang kamu tabur ini? kamu akan kehilangan Kinan, Bima. Kamu akan kehilangan wanita yang tulus mencintai mu! lihat saja! kamu akan menyesalinya!"
Bella menyeka air matanya, dia berbalik dan ingin pergi.
"Urusan rumah tanggaku, bukan tempatmu ikut campur. Katakan dimana istriku?"
Bella berbalik, dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya,
"Kamu menyebutnya istri, kamu tidak pantas! aku peringatkan kamu, aku Bella Tanisa, dan nama belakangku itu bukan cuma pajangan. Jika kamu berani memerintahkan anak buahmu mengikuti ku lagi, keluarga Tanisa juga tidak akan tinggal diam!"
Brakk
Bella membanting pintu dengan keras. Tangan Bima terkepal. Ucapan Bella barusan, cukup mengganggunya.
***
Bersambung...
😠