Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Seorang Ibu
Gelak tawa dan tepuk tangan meriah warga desa meluluhkan sisa-sisa ketegangan yang sempat menggantung di udara. Usai keberanian polos Seruni yang membuat Komjen Bambang tak berkutik, acara penyerahan penghargaan untuk Kapten Fikri dan timnya berlangsung khidmat sekaligus hangat.
Piagam penghargaan dan medali kehormatan disematkan langsung di dada Fikri. Warga Desa Tamiang bersorak gembira, menyambut pahlawan mereka yang beberapa waktu lalu sudi mempertaruhkan nyawa dan menjadi tameng hidup dari ledakan granat demi melindungi keselamatan orang banyak.
Begitu acara protokol selesai, suasana berganti menjadi pesta rakyat. Meja-meja panjang kayu di pelataran balai desa dipenuhi hidangan lokal khas pedesaan yang dimasak langsung oleh ibu-ibu warga setempat.
"Wah, ini dia Nyonya Kapten yang pemberani!" seru seorang ibu warga desa seraya merangkul hangat pundak Seruni.
Ibu-ibu desa lainnya langsung mengerubungi Seruni dengan senyuman lebar. "Aduh, cantik dan manis sekali istrinya Kapten Fikri! Pas banget, yang satu gagah dan protektif, yang satu pemberani dan imut begini!"
Seruni yang dipuji-puji langsung menyengir polos, agak malu-malu seraya menerima sepiring nasi hangat dan lauk pauk yang terus-menerus ditambahkan ke piringnya oleh warga. "Terima kasih, Ibu-Ibu... Awas nanti Runi kegemukan di sini!"
Melihat kepopuleran Fikri dan Seruni di mata warga serta pembelaan terang-terangan dari Kombes Supriyadi, Komjen Bambang bersama Farida dan istrinya akhirnya memilih pamit lebih awal. Dengan alasan ada urusan dinas mendadak yang tidak bisa ditunda, sang Jenderal Bintang Tiga melangkah pergi dengan wajah kaku.
Kini, yang tersisa di meja utama adalah Kombes Supriyadi dan istrinya, Ibu Hartati, yang tampak makin kagum pada sosok Seruni.
Ibu Hartati menarik lembut jemari Seruni, mendudukkan gadis itu di sampingnya. "Seruni... Kamu ini benar-benar unik dan pemberani ya, Nak. Ibu suka sekali sama kejujuranmu tadi."
Fikri yang berdiri di dekat mereka mengangsurkan segelas air mineral untuk istrinya. Pria itu lalu menatap Ibu Hartati dengan raut wajah penuh kesungguhan dan kehangatan.
"Izin, Ibu Hartati," tutur Fikri pelan namun mantap. "Jika berkenan, saya ingin memohon bantuan Ibu untuk sesekali membimbing dan mengayomi Seruni."
Ibu Hartati menoleh heran namun tersenyum lembut. "Membimbing bagaimana, Fikri?"
"Seruni ini dibesarkan oleh Kakeknya seorang diri sejak kecil," terang Fikri menatap Seruni yang sedang mengunyah makanan. "Dia tidak pernah merasakan polesan dan kasih sayang seorang ibu. Makanya... sifatnya kadang agak sedikit liar dan ceplas-ceplos khas cara didik laki-laki. Saya harap Ibu mau menganggapnya seperti putri sendiri."
Mendengar ucapan Fikri, dada Ibu Hartati berdesir haru. Wanita anggun itu langsung menatap Seruni dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aduh, Fikri... Tanpa kamu minta pun, Ibu pasti dengan senang hati!" seru Ibu Hartati berbinar-binar. Ia langsung memeluk tubuh kecil Seruni dari samping. "Ibu ini punya anak dua, semuanya laki-laki dan kaku seperti bapaknya! Ibu dari dulu mendambakan punya anak perempuan yang manis dan menggemaskan seperti Seruni!"
Seruni tertegun di dalam pelukan hangat itu. Aroma wangi yang lembut dan dekapan yang begitu penuh kerinduan membuat matanya mendadak berkaca-kaca. Seumur hidupnya, ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh sosok seorang ibu. Rasa hangat yang asing namun sangat dirindukannya kini mengalir memenuhi lubuk hatinya.
Seruni membalas pelukan Ibu Hartati dengan erat seraya tersenyum lebar. "Terima kasih ya, Ibu..."
Fikri yang berdiri memandangi momen itu menyunggingkan senyuman paling tulus dan manis di bibirnya. Ada rasa lega yang amat sangat melihat istri kecilnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang yang layak.
Melihat adegan manis itu, Kombes Supriyadi menyenggol lengan Fikri seraya tertawa kekeh. "Wah, Kapten Fikri! Kalau Seruni sudah menganggap kami sebagai orang tuanya, itu artinya mulai hari ini kamu harus panggil saya dan istri saya sebagai 'Ayah' dan 'Ibu'! Karena kami ini resmi jadi mertuamu!"
Gerrr!
Fikri ikut tertawa hangat, sebuah tawa renyah yang amat jarang terdengar dari bibir sang Kapten dingin itu. "Siap, Ayah Komandan!" balas Fikri memberi hormat dengan candaan yang membuat suasana siang di balai desa makin meriah.
Sore mulai merambat naik ketika rombongan berpamitan untuk kembali ke kota. Langit di atas jalanan antar, provinsi tampak cerah berawan, memancarkan rona keemasan.
Di dalam mobil sedan hitam yang dikendarai Briptu Dimas, Seruni yang duduk di samping Fikri tampak bergerak gelisah. Ia terus-terusan melirik jam tangan mungilnya.
"Paman Kapten," panggil Seruni menoleh seraya membetulkan letak bros di seragam merah mudanya. "Nanti sampai di kota, Runi mau langsung buka toko bunga ya? Ini kan akhir pekan, jam-jam segini biasanya pelanggan ramai banget!"
Fikri menoleh, memperhatikan semangat membara di mata bulat istrinya. Senyum tipis terukir di wajah Fikri. Ia merogoh dompet kulitnya, mengeluarkannya sebuah kartu kredit berwarna hitam mengilap, lalu menyodorkannya ke pangkuan Seruni.
"Tidak usah terlalu lelah," kata Fikri tenang. "Ini kartu kredit untuk kebutuhan bulananmu. Kamu bisa pakai kapan saja untuk beli apa saja yang kamu mau. Jadi kalau toko bungamu tidak buka pun, uangmu tidak akan habis."
Seruni menatap kartu hitam elegan itu dengan dahi berkerut dalam. Bukannya gembira seperti remaja pada umumnya, Seruni justru mendorong pelan kartu itu kembali ke tangan Fikri seraya mencibir.
"Ih! Tidak mau, Paman!" tolak Seruni ceplas-ceplos. "Uang hasil keringat sendiri itu rasanya jauh lebih nikmat dan puas! Mending Runi jualan bunga dapat uang lima puluh ribu tapi hasil kerja sendiri, daripada pakai kartu Paman ini!"
Fikri memicingkan mata. "Kenapa? Memangnya uang suamimu ini haram?"
"Bukan begitu!" sahut Seruni membela diri. "Kalau pakai uang Paman, nanti kalau habis Runi bisa-bisa dituduh korupsi terus dipenjara sama Paman! Paman kan hobinya mengancam dan memenjarakan orang!"
Briptu Dimas yang mengemudi di depan sampai menahan napas seraya menggigit bibir bawahnya agar tawa gila tidak meledak dari mulutnya.
Fikri menatap Seruni lurus-lurus. Tatapan matanya mendadak berubah agak jahil dan menantang. Fikri memajukan tubuhnya mendekati Seruni.
"Kalau kamu terus-terusan membantah kata-kata suamimu ini..." bisik Fikri dengan suara rendah yang seksi, "Hukumannya bukan dipenjara, Seruni. Tapi bakal saya cium lagi seperti semalam."
DEG!
Seruni seketika terbelalak lebar! Refleks, kedua tangan mungilnya buru-buru menutupi seluruh bibirnya rapat-rapat sampai pipinya menggembung kocak!
"Mmph... Mmph!" gumam Seruni dengan suara teredam di balik telapak tangannya.
Fikri menaikkan sebelah alisnya. "Apa? Saya tidak dengar."
Seruni melepaskan tangannya sekejap hanya untuk berseru gemas, lalu buru-buru menutupnya kembali. "Paman Kapten mesum! Beraninya mengancam pakai ciuman terus! Awas ya, Runi adukan ke Ayah Komandan dan Ibu Hartati!"
Hahaha!
Tawa lepas dan renyah akhirnya meledak dari tenggorokan Kapten Fikri! Pria berwajah kaku itu tertawa begitu lepas memandangi kepolosan dan tingkah menggemaskan istri kecilnya.
Suara tawa Fikri memenuhi seluruh kabin mobil sedan, menciptakan kehangatan yang manis dan tak terlupakan di sepanjang perjalanan pulang menuju kota. Di balik ketegasan sang Kapten dan tingkah ajaib sang gadis bunga, benih-benih cinta tak kasat mata kini mulai merekah semakin indah.
🍃🍃🍃
Assalamualaikum semua...
Pagi ini Author meminta dukungannya. Agar karya ini bisa berlanjut hingga Tamat. Untuk itu Author meminta dukungannya pada semuanya yang menginginkan Karya ini berlanjut, berikan Bintangnya ya, dan berikan ulasan juga Mengapa kalian menyukai Karya ini. Semakin banyak yang memberikan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 semakin besar kemungkinan Karya ini berlanjut. Karena dukungan kalian sangat Author harapkan dan menjadi pemicu Author rajin update. So dukung Author terus ya terimakasih 🙏🏻.