Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 030 - Sembunyi di Bak Air Limbah
Senja telah turun sepenuhnya di atas Pegunungan Lembah Hitam, mewarnai langit barat dengan semburat merah tembaga yang suram dan kelam. Kabut belerang yang dingin merayap turun dari puncak-puncak bukit batu kapur, menyelimuti seluruh kompleks Sekte Lembah Giok Hitam dengan lapisan kabut putih kelabu yang berbau asam menyengat dan memerihkan kelopak mata.
Dari balik rimbunnya semak cemara di lereng tebing luar air terjun, Gu Yuan mengamati situasi di pelataran barak luar bawah dengan tatapan mata yang dingin, tenang, dan penuh perhitungan taktis.
Situasi di bawah sana telah berubah sepenuhnya menjadi zona darurat perang.
Puluhan obor minyak besar telah dipasang di setiap sudut menara pengawas, memancarkan lingkaran cahaya jingga kemerahan yang menerangi setiap jengkal jalan setapak tanah liat. Pagar-pagar pembatas kayu besi telah ditutup oleh rintangan kawat berduri beracun, dan setiap gerbang barak kini dijaga oleh sedikitnya delapan prajurit penegak hukum bersenjata lengkap dengan anjing-anjing pemburu bertanduk merah yang terus mendengus liar mencari jejak aroma darah manusia di udara malam.
Gong tanda bahaya telah berhenti dipukul, namun keheningan yang menggantikannya justru jauh lebih mencekam. Patroli pengawal penegak hukum bergerak bersilangan setiap sepuluh tarikan napas, mendobrak dan memeriksa setiap pintu bilik barak murid luar dengan kasar dan penuh makian.
Melarikan diri menuruni lereng tebing menuju gerbang utama saat ini adalah tindakan bunuh diri taktis yang paling konyol. Dengan hamparan tanah yang dipenuhi obor patroli dan anjing pelacak bertanduk, seorang buronan yang melangkah di tanah terbuka akan terkunci oleh panah-panah spiritual menara dalam hitungan detik.
Dalam prinsip bertahan hidup yang pernah diajarkan oleh ayah angkatnya, tempat paling aman saat seluruh penjaga sedang panik menyisir perimeter luar adalah kembali ke pusat kekacauan yang sudah dianggap selesai disisir oleh para pengawal.
Gu Yuan merundukkan tubuhnya serendah mungkin ke tanah cadas yang basah, merayap menuruni lereng tebing di bawah lindungan rimbunnya tanaman semak berduri dan bayangan tebing batu kapur yang pekat. Ia mengoleskan sedikit Salep Penghilang Bau Hutan dari toples rampasannya ke kedua sandal jerami dan kerah jubah abu-abunya untuk mematikan aroma darah, keringat, dan panas tubuh manusia dari hidung tajam anjing-anjing pemburu sekte.
Memanfaatkan hembusan angin lembah yang bertiup kencang meniup kabut belerang ke arah barat, Gu Yuan menyelinap melewati parit drainase kering di belakang deretan barak luar yang kini telah kosong melompong ditinggalkan para penghuninya yang melarikan diri atau disekap.
Tujuannya adalah bagian halaman belakang dapur umum barak luar.
Di halaman belakang bangunan dapur yang beratap jerami hitam dan dipenuhi jelaga arang itu, terdapat tiga buah bak kayu raksasa berdiameter dua depa yang ditanam setengahnya ke dalam tanah liat. Bak-bak kayu ini digunakan oleh para juru masak dan tabib barak untuk menampung air limbah cucian akar tanaman obat, rendaman daun pahit beracun, dan ampas belerang tambang sebelum dibuang ke parit jurang luar seminggu sekali.
Air di dalam bak tersebut berwarna hitam kehijauan yang sangat keruh dan kental, mengeluarkan aroma sengak belerang, cuka basi, dan getah pahit yang sangat menusuk hidung—bau yang begitu menjijikkan dan busuk hingga anjing pelacak paling terlatih sekalipun akan kehilangan indra penciumannya jika mendekat dalam radius tiga langkah dari bibir bak.
Gu Yuan melangkah tanpa suara ke tepi bak kayu paling ujung yang terlindung oleh tumpukan balok kayu bakar basah. Ia memeriksa permukaan air limbah yang tenang; lapisan lumut hijau dan buih sabun herbal menutupi sebagian besar permukaan air yang dingin.
Tanpa ragu satu detik pun, Gu Yuan melepas jubah abu-abu pengawas Luo Biao, melipatnya rapi bersama peta perbatasan dan senjata rampasan, lalu membungkus seluruh barang bawaannya menggunakan kain terpal minyak kedap air. Bungkusan berharga itu ia selipkan ke celah kayu di bawah bibir bak yang kering dan terlindung dari cipratan air.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat dan tanpa menimbulkan riak air yang keras, Gu Yuan menenggelamkan tubuhnya ke dalam bak air limbah cucian obat yang dingin membeku tersebut.
Cesss…
Rasa dingin yang luar biasa membeku seketika menyengat seluruh pori-pori kulitnya. Air limbah yang pekat dan dingin itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit tubuhnya tanpa ampun, membakar luka bakar di kaki kirinya dan luka goresan di pundaknya dengan rasa perih yang amat sangat. Namun, kandungan asam daun pahit dan mineral belerang di dalam air seketika membunuh seluruh kuman, membersihkan kotoran luka, dan menutupi sisa aroma darah manusia dari tubuhnya secara sempurna.
Gu Yuan menyandarkan punggungnya pada dinding kayu bak yang berlumut tebal, membiarkan hanya hidung dan matanya yang menyembul tipis di balik lapisan buih herbal permukaan air yang keruh.
Dari celah dinding papan kayu dapur di depannya, ia dapat melihat sepasang pengawal bersenjata tombak melintas di jalan setapak dapur dengan langkah tergesa-gesa sambil menutup hidung mereka dengan lengan jubah karena muak mencium bau busuk air limbah bak cucian tersebut. Kedua pengawal itu melangkah pergi tanpa menaruh curiga sedikit pun bahwa buronan yang mereka cari sedang bersembunyi tepat di samping kaki mereka.
Setelah langkah para pengawal menjauh dan suasana kembali sunyi, Gu Yuan menggerakkan tangan kirinya di bawah permukaan air keruh. Dari saku kecil celana dalamnya yang basah, ia mengeluarkan sebutir Pil Penempa Raga kelas fana yang ia rampas dari kantong simpanan Luo Biao tadi.
Pil bulat berwarna abu-abu mengilat itu ia masukkan ke dalam mulutnya, lalu ia telan bulat-bulat bersama sedikit air liurnya yang dingin.
Wuuusss…
Begitu pil penempa raga itu hancur dan larut di dasar perutnya, sensasi hangat yang luar biasa kuat seketika meledak di dalam rongga dadanya. Gelombang energi herbal penempa raga yang murni dan padat mengalir deras meresap ke dalam jaringan meridiannya yang robek, membakar sisa racun cangkir giok yang mengendap di pembuluh darah, dan mulai memicu demam panas yang membakar seluruh persendian tulangnya dari dalam.
Di luar tubuhnya, air limbah belerang menusuk dingin seperti es jurang; di dalam tubuhnya, energi pil membakar panas seperti tungku penempaan besi. Penempaan raga tingkat lanjut Gu Yuan baru saja dimulai di tengah genangan limbah maut.