NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: LELAKI DI BALIK AKAR

...# ...

...Mereka tidak berhenti sampai kali itu berubah dari selokan sempit menjadi sungai yang bau lumpur, lalu lelaki itu menurunkan Kenzo di bawah jembatan beton yang separuh tiangnya sudah dimakan lumut, tempat perahu-perahu nelayan yang tidak lagi dipakai ditumpuk terbalik seperti bangkai ikan raksasa. Kenzo tidak menangis lagi, dan entah kenapa itu justru lebih mengerikan, karena ia hanya duduk di tanah basah dengan kedua tangan terkunci di depan dada, mulutnya masih setengah terbuka seperti sedang menunggu teriakan berikutnya yang tak kunjung datang....

..."Kakimu... coba om lihat, ya? Jangan ditarik, Nak, nanti makin sakit."...

...Kenzo menarik kakinya juga. Refleks, bukan melawan, tapi lelaki itu langsung mengangkat kedua telapak tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan bahwa tangan itu kosong, tangan yang besar dan retak-retak dengan kuku hitam oleh tanah dan sesuatu yang lebih gelap lagi, dan ia tetap begitu cukup lama sampai napas anak itu agak turun....

..."Om nggak jahat. Om janji nggak sakitin kamu. Cuma mau... bungkus dulu kakinya sama kayu, biar nggak goyang. Boleh?"...

...Anggukan kecil, nyaris tidak kelihatan. Ia merobek ujung kemejanya sendiri, mencari dua potong bambu di antara sampah dekat tiang, dan bekerja dengan gerakan yang canggung sekali untuk tangan sebesar itu, seperti orang yang bisa membongkar senapan dalam gelap tapi tidak pernah sekali pun membalut kaki anak kecil. Ia salah melilit dua kali. Kenzo meringis, dan lelaki itu langsung berhenti, mengumpat pelan pada dirinya sendiri, "maaf, maaf, om nggak... om bukan dokter," lalu mengulang dari awal dengan lebih pelan....

..."Om siapa?"...

...Itu kalimat pertama Kenzo sejak teriakan tadi, keluar serak dan kecil sekali, hampir tertelan suara air di bawah jembatan....

..."Nama om Victor." Ia berhenti sebentar, jari-jarinya masih menahan simpul kain di pergelangan kaki itu. "Tadi... bapak-bapak yang pakai topeng itu, yang baju lorengnya... kamu lihat, kan?"...

..."...Seragam. Kayak yang di alun-alun."...

..."Iya, seragam. Dulu om pakai seragam yang sama, Nak." Ia mengatakannya tanpa menatap, matanya tetap di simpul kain, dan Kenzo merasakan tubuhnya mundur sendiri sampai punggungnya membentur perahu yang berkarat. "Tunggu, dengar dulu. Om jelasin pelan-pelan, ya? Jangan takut sama om. Om bisa ngerti kalau kamu takut."...

..."Om... om sama kayak mereka?" Suaranya pecah, naik tajam. "Om ikut bunuh Ayah? Om..."...

..."Bukan. Bukan, Nak, lihat om."...

...Victor akhirnya mengangkat wajahnya, dan dalam cahaya bulan yang jatuh miring dari kolong jembatan Kenzo baru melihat bahwa mata kelabu itu merah di tepinya, basah, dan bahwa rahangnya yang kasar bergetar waktu ia menelan sesuatu yang sepertinya sudah menyangkut sejak tadi di tenggorokan....

..."Dulu om memang sama kayak mereka. Om tentara, Nak, di negara ini, namanya Vetrazia, kamu pasti pernah dengar dari guru di sekolah kan? Negara yang... yang nggak ada di peta mana pun, soalnya negara-negara besar itu pura-pura nggak lihat kita, karena kalau mereka lihat, mereka harus ngaku bahwa mereka ikut untung dari semua yang busuk di sini." Ia berhenti, sadar bahwa itu terlalu panjang untuk anak tujuh tahun, mengusap wajahnya dengan punggung tangan yang kotor. "Maaf, om ngomongnya ribet. Intinya... dulu om sama kayak mereka. Tapi mereka buang om."...

..."Dibuang?"...

..."Iya, dibuang. Soalnya om nggak suka orang jahat." Ada tawa kecil yang pahit di ujung kalimat itu, tawa yang tidak sampai ke mata. "Waktu itu atasan om nyuruh om... nyuruh pasukan om masuk ke sebuah kampung malam-malam, dan kampung itu isinya cuma orang biasa, Nak, ibu-ibu, anak-anak kayak kamu. Om bilang nggak mau. Om bilang... ya udah, om bilang itu salah. Besoknya om dipecat, bajunya dilepas di depan semua orang, dan dibilang pengkhianat. Sejak itu om nggak punya rumah, nggak punya teman, nggak punya apa-apa."...

...Kenzo menatapnya lama. Anak itu tidak mengerti separuh kata yang diucapkan, tapi ia mengerti nada suaranya, nada yang sama persis dengan yang dipakai Ayah tadi di ruang tengah, tenang dan pelan dan terlalu rapi untuk sesuatu yang sebenarnya sakit....

..."Terus... kenapa om ada di situ?"...

..."Om..." Tangan Victor berhenti di atas lutut. "Ayahmu telepon sore tadi, minta om datang. Katanya ada yang ngikutin dia sudah berminggu-minggu. Om bilang iya, om berangkat, tapi jalan dari pelabuhan ditutup, ada pemeriksaan, jadi om muter lewat kali, dan..." Suaranya menipis lalu putus. "Om telat dua jam, Nak. Cuma dua jam."...

..."Ayah..." Kenzo mulai gemetar lagi, bukan gemetar kedinginan. "Ayah tadi senyum, Om. Aku lihat... Ayah senyum, jadi... jadi Ayah nggak sakit, kan? Ayah cuma... Ayah cuma tidur? Kayak kalau lagi pura-pura tidur terus aku disuruh bangunin..."...

..."Kenzo."...

..."Terus Ibu bilang main petak umpet, Om. Ibu bilang... kita main petak umpet, jadi nanti mereka... Ibu sama Kakak pasti nyari aku kan? Kakak kan pasti nyari aku, soalnya boneka kelincinya ketinggalan, dia nggak bisa tidur kalau nggak..."...

...Kata-katanya terpotong oleh sesuatu yang naik dari dada, tersedak, batuk, dan lalu tangisnya pecah lagi, kali ini tanpa teriakan, hanya bahu kecil yang terguncang dan napas yang menarik masuk berulang-ulang seperti orang tenggelam. Victor tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya bergeser, ragu sekali, dan menaruh satu telapak tangan di belakang kepala anak itu, tangan yang selama bertahun-tahun hanya tahu cara menggenggam senjata, dan membiarkan Kenzo menabrakkan wajahnya ke kemeja yang robek dan bau tembakau itu sampai kain itu basah seluruhnya....

...Ia tidak bilang semuanya akan baik-baik saja. Ia terlalu jujur, atau terlalu lelah, untuk berbohong kepada anak itu....

...---...

...Kenzo tertidur menjelang subuh tanpa ia sadari, dan terbangun oleh bau asap yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidungnya. Langit di sela jembatan sudah keabu-abuan. Victor duduk bersandar di tiang, tidak tidur, kedua matanya terbuka menatap air, dan jaket tebal yang semalam dikenakan Kenzo sudah diselimutkan ke kaki anak itu bersama jaket lain yang lebih besar, milik lelaki itu sendiri....

..."Om mau ngajak kamu lihat sesuatu." Suaranya serak. Ia sendiri kelihatannya belum memutuskan apakah ini ide yang baik. "Kamu nggak harus mau. Tapi om pikir... kamu bakal nyesel kalau nggak lihat sendiri. Om dulu juga begitu."...

...Mereka melewati gang-gang belakang Sarvenna, kota pelabuhan yang paginya selalu bau ikan asin dan solar, dengan Kenzo di punggung Victor dan topi lusuh menutupi separuh wajahnya. Pasar sudah mulai ramai tapi orang-orang bicara dengan suara pelan, dan beberapa kali Kenzo menangkap potongan-potongan kalimat yang melintas di sela keranjang dan tenda terpal, "...keluarga fotografer itu...", "...katanya korsleting...", "...jangan ngomong keras-keras, Bu, jangan..." lalu perempuan penjual sayur itu menarik tangan temannya menjauh seolah kata-kata itu sendiri bisa terbakar....

...Victor membawanya naik ke atap gudang kosong di seberang gang tempat rumah itu dulu berdiri, jarak yang cukup jauh supaya tak seorang pun menoleh, dan menurunkannya hati-hati di balik tumpukan karung yang sudah lapuk....

...Kenzo melihat....

...Rumahnya masih ada, tapi sudah bukan rumah. Dinding-dindingnya hitam, atap miring yang kemarin ia gambar di buku tulis runtuh ke dalam seperti orang yang berlutut, dan dari bekas cerobong itu masih naik seutas asap tipis yang entah kenapa membuat Kenzo teringat gambarnya, benang kusut yang ia coret tanpa pikir panjang. Garis kuning terentang di depan pagar. Dua mobil polisi, satu van dengan logo stasiun televisi, dan sekumpulan orang berseragam yang berdiri santai, merokok, berbicara pelan sambil sesekali tertawa pendek, tertawa orang-orang yang sedang menunggu jam kerja selesai....

...Di seberang jalan, di warung kopi yang menyalakan televisi kecil pada rak di sudut, suara pembaca berita merambat sampai ke atap: "...kebakaran hebat menghanguskan satu rumah di Jalan Melati Dua, Sarvenna, dini hari tadi. Menurut keterangan pihak kepolisian, kebakaran diduga akibat korsleting listrik. Ditemukan tiga jasad di dalam rumah, diperkirakan penghuni, seorang pria dewasa, seorang perempuan, dan seorang anak perempuan. Pihak berwenang menyatakan tidak ada unsur kriminal..."...

..."Tiga," kata Kenzo, pelan sekali....

..."Kenzo..."...

..."Kok tiga, Om? Kan... kan kami berempat." Kepalanya menoleh ke Victor, matanya lebar dan kosong, mencari sesuatu di wajah lelaki itu yang bisa menjelaskan. "Mereka... mereka lupa ngitung aku, ya? Aku masih di sini, kok. Aku di sini. Nanti aku bilang ke bapak polisi itu, kalau mereka kurang ngitung aku..."...

...Ia sudah setengah bangkit, kaki yang dibalut bambu itu menginjak lantai seng, dan tangan Victor menangkap lengannya, tidak keras, tapi tidak bisa dilepas....

..."Jangan."...

..."Tapi mereka salah ngitung, Om!"...

..."Mereka nggak salah, Nak." Suara Victor turun menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. "Mereka sengaja. Kalau mereka bilang tiga, artinya ada yang mau semua orang percaya cuma tiga yang ada di rumah itu. Dan kalau kamu turun sekarang, kamu bakal jadi angka keempat. Om nggak mau itu... om nggak akan biarin itu."...

...Kenzo terduduk lagi. Lututnya tidak sanggup menahannya....

...Dari bawah, seorang petugas berseragam berjalan keluar dari halaman belakang yang hangus, membawa sesuatu yang hitam di ujung jarinya seperti memegang bangkai tikus. Ia mengangkatnya di bawah cahaya pagi, membaliknya sekali dengan tampang bosan, lalu melemparnya ke dalam tong sampah plastik di dekat pagar. Benda itu mendarat di atas puntung rokok dan bungkus mi, satu telinga terlipat, bulu putihnya sudah menjadi abu....

...Kenzo tidak mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya menekan kedua telapak tangannya ke mulut sendiri, kuat sekali sampai buku-buku jarinya memutih, dan menatap tong sampah itu tanpa berkedip sementara air matanya jatuh diam-diam di antara jari, menetes ke seng yang kasar. Victor di sampingnya memalingkan wajah ke arah lain, rahangnya menegang, dan satu tangannya yang bebas mencengkeram tepi atap sampai karat mengelupas di bawah kukunya....

..."Dia... dia nggak bisa tidur kalau nggak ada itu, Om," bisik Kenzo di balik jari-jarinya. "Kakak... dia bilang udah nggak main boneka. Tapi dia bohong. Dia... dia sisirin tiap malam..."...

...Tidak ada jawaban yang pantas untuk itu. Victor menariknya mendekat, dan untuk waktu yang lama mereka hanya duduk di atas atap gudang itu, seorang lelaki dewasa yang seluruh hidupnya adalah dosa dan seorang anak tujuh tahun yang baru kehilangan seluruh dunianya, menyaksikan asap tipis itu naik, dan naik, dan tidak mau padam....

...---...

...Ia membawa Kenzo ke sebuah rumah kontrakan sempit di pinggir Kota Tua, tiga lorong dari terminal bus, dengan kasur yang bau apak dan jendela yang ditutup koran. Kenzo makan beberapa suap nasi dingin dan roti kering sebelum matanya menyerah, kepalanya terkulai di bantal tipis dengan jari masih memegang ujung kemeja Victor, tidak mau lepas bahkan dalam tidur, jadi lelaki itu terpaksa duduk di lantai di samping ranjang dengan lengan terulur sampai pegal....

...Setelah napas anak itu teratur, Victor melepas ujung kemejanya satu jari demi satu jari seperti orang menjinakkan sesuatu, lalu keluar ke lorong sempit di belakang rumah dengan telepon genggam di tangan. Layar itu sudah bergetar sejak subuh, berkali-kali, dan ia sengaja membiarkannya. Tapi sekarang nama di layar itu tidak bisa lagi diabaikan....

...Ia menarik napas dalam, menegakkan punggung tanpa sadar, seperti prajurit yang dipanggil perwira, dan menekan tombol hijau....

..."...Halo."...

..."Kau lama sekali menjawab, Victor."...

...Suara di seberang sana tenang, dalam, nyaris ramah, suara orang yang tidak pernah perlu meninggikan nada karena sudah terbiasa didengarkan. Tangan Victor yang bebas mengepal di sisi tubuhnya tanpa ia sadari....

..."Maaf, Tuan. Saya... tadi sibuk."...

..."Aku dengar anak itu hidup."...

...Victor menutup mata sebentar. Di balik kelopaknya, ia masih bisa melihat tangan kecil yang memegang ujung kemejanya tadi....

..."...Ya, Tuan."...

..."Bagus." Ada jeda, dan di sela jeda itu Victor mendengar bunyi gelas diletakkan di atas meja kayu, bunyi dentingnya jernih dan mahal. "Jaga dia. Latih dia sampai menjadi kuat, sekuat yang bisa kau bentuk. Semua koneksi, uang, apa pun yang kau butuhkan, aku yang akan menanggungnya. Jangan sampai kurang satu hal pun. Kau mengerti?"...

...Tenggorokan Victor naik turun satu kali, lambat. Dari dalam rumah terdengar Kenzo mengigau, satu kata yang tidak jelas, mungkin "Bu" mungkin bukan, lalu sunyi lagi....

..."Baik, Tuanku."...

..."Anak pintar." Suara itu tertawa kecil, dan tawa itu membuat tengkuk Victor dingin. "Kabari aku kalau ada perkembangan. Dan Victor... jangan pernah bilang padanya siapa yang menelepon pagi ini. Belum waktunya."...

...Sambungan terputus....

...Victor berdiri lama sekali di lorong itu dengan telepon masih menempel di telinga, menatap tembok bata yang berlumut, sementara kedua bahunya turun perlahan seperti orang yang baru meletakkan beban yang tak pernah benar-benar bisa ia lepas. Layar telepon itu menyala sekali lagi, menampilkan nama kontak yang tersimpan di sana, hanya dua kata, dan jempolnya bergerak sendiri menutupnya cepat-cepat, seakan nama itu bisa membakar jarinya....

...Di balik pintu kamar, Kenzo yang tadi mengigau sudah terjaga sepenuhnya. Matanya terbuka dalam gelap, menatap celah di bawah pintu tempat bayangan sepatu bot itu berdiri tak bergerak. Ia mendengar semuanya, setiap kata, dan satu nama yang akhirnya terlepas dari bibir Victor dalam bisikan yang nyaris tak terdengar, bisikan yang bukan ditujukan pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri......

..."...Alexander Gunawan."...

...Dan Kenzo, yang belum tahu bahwa nama itu bukan sekadar pengusaha kaya yang fotonya terpasang di baliho-baliho sepanjang jalan Sarvenna, bukan sekadar pemilik kapal dan gudang dan separuh pelabuhan itu, melainkan seseorang yang bisa menelepon menteri sebelum sarapan dan membuat polisi mengubah angka tiga jadi sebanyak yang ia mau, hanya tahu satu hal dengan pasti dalam kepala tujuh tahunnya yang mulai membeku:...

...Suara di radio semalam, suara yang katanya bukan orang asing bagi Victor......

...Sama persis dengan suara di telepon itu....

...---...

...*Bersambung ke Bab 3*...

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!