Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - ASAL YANG DICATAT
Lin Feng datang ke toko Mo sebelum pintu depan dibuka.
Ia telah membayar tempat tidur dengan upah kemarin dan menghabiskan sisa nasi dari bekal ibunya. Pagi ini ia hanya minum air. Catatan bahan yang dibuatnya terselip di lengan baju, kertasnya semakin kusut tetapi tulisan masih terbaca.
Mo membuka palang pintu. “Kau datang.”
“Kau bilang ada kiriman.”
“Aku juga bilang akan mengajarimu mencatat sumber bahan, bukan menjamin ada pekerjaan.”
“Kalau begitu, saya akan belajar tanpa upah.”
Mo menatapnya sejenak, lalu menggeser pintu lebih lebar. “Kalau kau belajar, kau tetap harus bekerja.”
Di ruang belakang, beberapa keranjang kosong telah disusun dekat meja. Lin membantu memindahkannya ke dekat pintu. Ia menjaga punggungnya seperti yang diajarkan ayahnya, dan rusuknya hanya terasa kaku ketika ia berputar terlalu cepat.
Sebuah gerobak kecil tiba menjelang tengah pagi. Seorang petani berusia lanjut turun dari kursi depan. Ia membawa dua keranjang daun kering dan satu karung akar yang dibungkus tikar.
“Kiriman dari lereng utara,” katanya kepada Mo. “Dipetik sebelum hujan.”
Mo memeriksa simpul tikar. “Kalau begitu, kenapa bagian luarnya basah?”
“Jalan becek. Bukan karena barangnya.”
“Daun ini lembap.” Mo mengambil satu bundel, mengendusnya, lalu membelah tangkai di bagian pangkal. “Kau menjual berat air atau bahan?”
Petani itu mengerutkan kening. “Aku sudah berjalan setengah hari. Harganya harus sesuai.”
Mo tidak menjawab. Ia menyuruh Lin membawa papan catatan dan menaruh tiga mangkuk kecil di atas meja. “Kita periksa satu per satu. Tulis dari mana asalnya, kapan dipetik, bagaimana dikeringkan, dan apa yang masih perlu diuji.”
Lin mengangkat pena. “Saya belum tahu cara membedakan tanggal petik.”
“Karena itu kau bertanya.” Mo menunjuk petani. “Kapan kau memetiknya?”
“Sore sebelum hujan.”
“Di lereng mana?”
“Di sisi barat sungai kecil, tempat tanahnya berbatu.”
“Dikeringkan?”
“Di rumah. Aku gantung di ruang depan.”
Mo meletakkan satu daun di atas papan. “Tulis: lereng barat sungai, tanah berbatu; dipetik sore sebelum hujan; dikeringkan di ruang dalam. Jangan tulis ‘kering’ kalau masih ada lembap di pangkalnya.”
Lin mencatat. Ia pernah menganggap kualitas sebagai satu angka yang muncul setelah bahan diperiksa. Namun di meja ini, asal, waktu, dan cara penyimpanan menjadi bagian dari identitas bahan. Daun dari tempat sama bisa berubah jika dikeringkan di bawah matahari terlalu lama atau dibiarkan tertutup saat masih basah.
Mo membuka keranjang pertama. Beberapa daun berurat perak memiliki tepi yang masih utuh, tetapi bagian pangkalnya lembap. Lin memeriksa satu, lalu mencium tangkainya seperti yang diajarkan. Aroma getirnya lebih tajam daripada contoh yang dikeringkan dengan baik.
“Ini harus dipisahkan,” katanya.
“Kenapa?” tanya Mo.
“Pangkalnya lembap. Baunya juga lebih kuat. Kalau dicampur dengan yang kering, kelembapan bisa merusak seluruh bundel.”
Mo mengangguk. “Tulis alasannya. Jangan hanya tandai sebagai buruk.”
Petani itu menyilangkan tangan. “Kalau kalian menolak setengah kiriman, aku pulang tanpa cukup uang untuk membeli benih.”
Mo menatapnya. “Aku tidak menolak. Aku membayar harga berbeda untuk bagian yang harus segera dipakai. Yang lain perlu dikeringkan ulang, dan itu memakai ruang serta waktu.”
“Kalau begitu, potong sedikit saja.”
“Bawa keranjangnya pulang dan keringkan sendiri, kalau kau ingin harga penuh.”
Petani itu melirik gerobaknya. Roda belakang tampak longgar dan tikarnya sudah koyak. “Aku tidak punya waktu kembali ke lereng hari ini.”
Lin memandang tumpukan daun. Dalam game, rumput urat perak dari lereng basah tetap menjadi bahan yang sama, dengan kemungkinan kualitas berbeda. Namun ia tidak tahu apakah cara Mo menilai bahan sebanding dengan nilai di dalam game. Ia hanya bisa melihat bahwa sebagian kering, sebagian lain belum aman disimpan bersama.
“Bagian yang kering bisa dipisah sekarang,” katanya hati-hati. “Yang lembap ditimbang sendiri. Kalau dikeringkan ulang di toko, mungkin masih bisa dijual. Tapi harganya harus mengurangi biaya itu.”
Mo menoleh kepadanya. “Kau sudah menghitung biaya pengeringan?”
“Belum. Saya hanya bermaksud memisahkannya.”
Petani itu menghela napas, lalu menunjuk keranjang. “Ambil yang kering dengan harga biasa. Yang lembap, bayar setelah kau tahu masih bisa dipakai atau tidak.”
Mo berpikir sejenak sebelum menyetujui. Ia tidak terlihat puas, tetapi ia mengangguk. “Setengah harganya sekarang. Sisanya kalau hasil pengeringan ulang layak.”
Petani itu menerima kesepakatan itu dengan enggan. Lin tahu ia telah ikut campur dalam transaksi tanpa memahami hitungannya. Ia menunduk kembali pada catatan.
Ketika semua keranjang diperiksa, Mo mengambil buku tebal dari rak dan menunjukkan halaman-halaman lama. Di situ tercatat nama bahan, asal, jumlah, kondisi, harga beli, dan harga jual. Beberapa catatan diberi garis silang.
“Kenapa yang ini dicoret?” tanya Lin.
“Kiriman itu ternyata dicampur dengan spesies lain.”
“Penjualnya sengaja?”
“Entah. Ada yang menipu. Ada yang benar-benar tidak tahu. Tugas kita adalah memastikan sebelum menjual ke orang lain.” Mo menutup buku. “Kalau kau mencatat asal bahan, suatu hari kau bisa tahu tempat mana menghasilkan jenis tertentu. Kalau kau mencampur semuanya, kau kehilangan informasi itu.”
Lin teringat peta game, yang menunjukkan lokasi tanaman sebagai ikon kecil tanpa cuaca atau musim. Dalam pikirannya, ia tahu beberapa lokasi tumbuh. Ia belum tahu kapan harus memetiknya, siapa yang biasa mengumpulkan, atau bagaimana bahan itu berubah setelah perjalanan berjam-jam.
Sore hari, Mo memperlihatkan cara menggantung daun lembap agar udara mengalir dari kedua sisi. Lin memasang tali dan memastikan bundel tidak saling menempel. Ia beberapa kali terlalu mengencangkan simpul hingga batang patah. Mo menyuruhnya mengulang sampai tali cukup kuat menahan beban tanpa menghimpit daun.
Pekerjaan itu tampak remeh, tetapi jemarinya pegal. Ia menyadari bahwa alkimia dimulai jauh sebelum api dinyalakan. Bahkan penyimpanan yang buruk dapat mengubah bahan yang baik menjadi barang tak berguna.
Menjelang tutup toko, Mo menimbang beberapa bahan yang telah dipisahkan. “Kau tidak merusak banyak. Besok kau boleh kembali.”
“Untuk belajar mencatat?”
“Untuk bekerja. Kalau kau terus bertanya, mungkin kau juga belajar.”
Mo memberikan satu keping tembaga dan seporsi bubur. Lin menyimpan uang itu, lalu duduk di ambang pintu untuk makan. Di seberang jalan, seorang penjual menurunkan keranjang dari bahunya dan memeriksa kakinya yang lecet. Tak satu pun dari mereka berhenti karena Lin sedang memikirkan alkimia.
Ia menyelesaikan buburnya sebelum dingin. Satu keping itu cukup untuk membayar tempat tidur malam ini. Besok ia harus bekerja lagi jika ingin tinggal di kota.
Catatannya kini memiliki kolom baru: asal, waktu petik, cara pengeringan, kondisi, dan harga.
Untuk pertama kalinya, Lin Feng tidak menulis nama bahan hanya karena ia pernah melihatnya di permainan. Ia menulis apa yang dapat ia buktikan.