NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Awan Teduh

Pagi yang cerah, menikmati sinar matahari yang terasa hangat. Duduk di kursi balkon kamarnya. Kursi dan meja kecil yang ia letakkan di pojok balkon, tak lupa tatanan bunga melati yang begitu harum. Pagi yang tenang, hati begitu lega untuk hari ini.

“Nona, pakaian anda telah saya siapkan!” ujar Lila yang baru saja memilah pakaian yang akan dikenakan Nala hari ini.

Nala mengangguk. Pikirannya begitu damai pagi ini. Setelah 2 hari lalu pikirannya begitu ribut. Beberapa kenangan masuk, meruntuhkan pertahanannya. Memikirkan tawaran dari seseorang yang tak mungkin bisa ia tolak.

“Kak Lila, menurutmu apakah ini keputusan yang benar?” dirinya ragu untuk kembali. Melakukan sesuatu yang telah lama ia tinggalkan, sulit sekali untuk melangkah kembali.

“Nona, jangan terlalu dipikirkan. Apapun keputusan anda, saya akan selalu membantu anda!” Nala tau betapa royalnya Lila. Semua pekerja yang dilatih kakeknya akan selalu royal pada majikannya. Tak ada pengkhianatan, jika ada pun maka akan ada hukuman tersendiri. Dan dirinya tau peraturan yang dibuat kakeknya.

“Kak, ada kepikiran untuk keluar. Maksudku berhenti dari pekerjaan sekarang dan mencari pekerjaan baru atau pulang kampung dan menikah?” Nala selalu kepikiran dengan Lila. Lila adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Merantau, bekerja keras menghidupi keluarganya. Nala tau bagaimana keluarga Lila. Ayahnya mengalami stroke dan ibunya hanyalah tenaga pencuci. Mungkin kini kehidupan keluarga Lila lebih baik. Jasa laundry yang ia berikan pada keluarga Lila bisa saja membantu. Hanya saja, Nala selalu terpikirkan kehidupan Lila bisa lebih baik jika tak bekerja dengannya.

“Tidak ada nona. Apakah nona ingin memberhentikan saya?” Sekarang Lila menjadi gelisah. Pertanyaan dari nonanya membuatnya takut.

“Kakak tidak capek? Aku tau kakak lelah saat ikut denganku ke luar negeri. Bolak balik indonesia ke luar negeri hanya mengurusi bisnis. Sedangkan aku... aku malah sibuk dengan kuliahku saja.” Lila mulai mengerti arah pembicaraan nonanya. Rasa bersalah yang dimiliki nonanya pada dirinya.

“Tidak nona. Saya tidak merasa lelah. Saya malah bahagia, bisa melihat dunia luar. Untuk urusan pekerjaan, itu memang tugas saya. Saya ditugaskan untuk meringankan beban anda sehingga anda bisa fokus dengan pendidikan.”

Hening sejenak. Nala tau memang itu adalah pekerjaan yang harus dilakukan Lila. Hanya saja, Nala sedikit merasa bersalah karena membuat Lila menjadi jauh dari keluarganya. Selama 10 tahun di luar negeri, jarang pulang, rasa rindu pasti akan ada.

“Nona, nona sudah sangat baik pada saya dan keluarga saya. Membangunkan usaha untuk keluarga saya, membiayai pengobatan ayah saya dan pendidikan adik saya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan anda menerima adik saya bekerja dalam naungan anda.”

“Jika masalah saya tak bisa pulang, bukankah anda selama di luar negeri sengaja membiarkan saya yang mengurusi usaha anda di dalam negeri agar saya sering pulang.” Seolah mampu membaca pikiran Nala, Lila menjelaskan semuanya. Pikiran yang bertumpuk membuat segalanya keluar begitu saja. Inilah Nala, saat banyak pikiran maka mengkhawatirkan segalanya adalah yang terjadi. Nala selalu over thinking yang berlebihan jika gelisah.

Lila tau keadaan Nala. Keadaan Nala juga dirinya ada andil di dalamnya. Menyembunyikan dan tak melaporkannya pada tuan besar, membuat nona mudanya menjadi incaran dari ibu kandung Nala. Kecelakaan Nala adalah pukulan terberat baginya. Karena itulah, sejak saat itu dirinya melaporkan semua kegiatan Nala yang ia ketahui. Dirinya tak ingin mengalami kecolongan yang membuat Nala mengalami bahaya.

“Kakak yakin?”

“Tentu nona. Saya akan terus bekerja dengan anda.” Lila memegang tangan Nala, menenangkan Nala. Ini adalah cara yang ia pelajari dari Nala saat Nala menangani seorang pasien yang sedang gelisah. “Nah sekarang anda bisa bersiap. Tuan Dipta dam Nyonya Maya sedang menunggu anda.”

“Baiklah, tunggu aku di luar.”

 

...****************...

 

Lazuardi Studio

Nala memandang papan nama sebuah studio yang sudah lama tak ia kunjungi. Tempat dulu ia bekerja, berpose dengan berbagai pakaian yang indah. Jika dulu tempat ini terlihat sepi, sekarang begitu ramai. Gedung pun telah berbeda, lebih luas dibandingkan dulu.

“Nona,” Nala mengangguk. Keluar dari mobil, menghela nafas bersiap untuk masuk.

“Kita masuk!”

Memasuki studio, terlihat sama namun berbeda. Sebuah foto menarik perhatiannya. Foto dirinya di masa lalu, dirinya masih remaja. Gaun bertemu bunga musim semi, terlihat sangat indah.

“Tak ku sangka akan mendapatkan sebuah kunjungan dari tamu terhormat!” Nala mengenali suara itu. Hariyanto Lazuardi, pemilik studio Lazuardi. Wajah pria itu tampak lebih tua dari yang ada di ingatan Nala. Hanya saja, wajah ramah nan tampan itu tak lekang oleh usia.

“Lama tak berjumpa o- Tuan Hariyanto!” Rasa sungkan kembali hadir. Dirinya ingin memanggil panggilan akrab di masa lalu, namun teringat bahwa kemungkinan mereka sudah tak lagi sama.

“Canggung sekali. Kenapa kau tak memanggil dengan sebutan om lagi? Tak ingin dekat denganku lagi kah?” Nala yang awalnya menunduk, seketika mendongakkan kepalanya. Senyum ramah yang tulus itu kembali ia lihat.

Ingatannya yang perlahan kembali, membawa kenangan lamanya turut hadir. Meskipun ingatan itu tak sepenuhnya kembali, ingatan yang indah perlahan hadir membuatnya berwarna. Menerima ajakan Zara, rasanya tak buruk juga.

“Mau pelukan?” Tak menunggu tawaran yang kedua kali, Nala langsung memeluk lelaki yang dulu tampak seperti ayah kedua baginya. Lelaki tua yang ramah dan sabar menghadapi curahan hati miliknya. Memberikan motivasi yang sangat indah dan selalu menawarkan pelukan saat dibutuhkan.

Nala ingat saat ayah tiada, gugur dalam bertugas dan neneknya meninggal karena sakit. Pria ini lah yang membantu menenangkannya. Pria ini bukanlah keluarganya, namun dia lebih akrab dibandingkan dengan sanak keluarganya sendiri yang mementingkan harta.

“Nala kangen om,” Pelukan erat dan hangat inilah yang Nala rindukan. Dirinya selalu merasa sungkan dengan Maya jika ingin memeluk kakaknya sendiri. Dipta mungkin kakaknya, namun dia adalah suami dari sahabatnya. Rasa sungkan selalu hadir jika dirinya terlihat dekat dengan kakaknya.

“Hohoho, lihat siapa yang datang ini?” Nada ramah yang sama, namun terdengar lebih anggun. Melepaskan pelukannya, Nala melihat sosok ibu kedua yang selama ini tak bisa ia lihat dari ibu kandungnya. Tania Frisia Lazuardi, istri pemilik Lazuardi Studio sekaligus desainer terkenal dan pemilik Bugenville Boutique.

“Huhuhu, anak gadisku yang cantik!” Wanita itu memeluk Nala, dan tentu saja Nala membalasnya tak kalah hangat. Diterima baik oleh orang-orang membuatnya terasa penuh.

“Gimana kabarmu sayang? Sudah lebih baik? Katanya ingatanmu sudah mulai kembali!” Pertanyaan beruntun itu masih sama di ingatan Nala. Awal mereka bertemu setelah kecelakaan begitu terasa canggung, namun hatinya mengenali mereka. Hatinya tau bahwa keduanya adalah orang baik. Hanya saja, rasa canggung itu lebih dominan. Itulah sebabnya dirinya sedikit menjauh.

“Kabar Nala tentu baik, tante. Dan ya, ingatan Nala mulai kembali sedikit demi sedikit!”

“Wah lihat, ada anak gadisnya, yang lain dilupakan!” Zara ikut muncul, dengan tampilan rapi dan siap untuk di foto.

“Hohoho, tentu saja tidak model terbaikku. Ayo Nala, kita masuk dulu! Banyak hal yang harus kita perbincangkan, bukan?” Tania langsung menarik Nala untuk masuk ke dalam kantor milik suaminya. Ruang pribadi adalah hal yang mereka perlukan untuk berbincang setelah sekian lama.

 

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!