“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sandiwara di Atas Panggung
Cahaya lampu sorot di aula hotel bintang lima itu berpendar dengan begitu megah, menyinari senyum yang merekah dari pasangan di atas podium utama. Di hadapan mereka, ratusan pasang mata memberikan tepuk tangan riuh, memandang penuh kekaguman pada plakat penghargaan Executive of the Year yang baru saja berpindah tangan.
Narendra Pradipta, sang CEO muda dari Artha Group yang dikenal bertangan dingin sekaligus berkarakter kaku, melirik ke arah samping. Di sana berdiri Alika, istrinya yang juga menjabat sebagai Head of Public Relations di sebuah perusahaan ternama, tengah tersenyum dengan sangat anggun. Gaun satin berkelir marun yang membalut tubuh rampingnya membuat Alika tampak seperti wanita paling beruntung di malam itu.
"Terima kasih kepada seluruh kolega," suara berat Narendra menggema melalui pelantang suara, terdengar tegas dan penuh wibawa. "Tentu saja, apresiasi terbesar saya berikan kepada istri saya, Alika. Tanpa dukungan serta ketenangan yang ia hadirkan di rumah, mustahil bagi saya untuk bisa berdiri di sini sekarang."
Narendra kemudian merengkuh pinggang Alika, menarik tubuh sang istri agar lebih dekat, lalu mendaratkan kecupan hangat di keningnya. Gemuruh tepuk tangan kembali pecah memenuhi ruangan. Kilatan kamera jurnalis saling bersahutan, mengabadikan momen romantis pasangan yang sering dijuluki sebagai The Power Couple oleh berbagai majalah bisnis di ibu kota.
Semuanya tampak sempurna. Perpaduan karakter Narendra yang perfeksionis dengan keahlian Alika dalam membangun citra publik menciptakan sebuah tontonan rumah tangga yang seolah tanpa cela.
Namun, tidak ada satu pun orang yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Di balik keanggunan gaun satin itu, telapak tangan Alika yang tersembunyi di punggung Narendra sedang mengepal dengan sangat erat. Jemarinya bergetar hebat. Rasa nyeri yang menusuk-nusuk, seolah ada ratusan jarum yang menghunjam sendi pergelangan tangannya, tiba-tiba saja kambuh. Alika berusaha menarik napas dalam secara perlahan, berupaya sekuat tenaga agar rintihan sakitnya tidak merusak senyum profesional yang telah ia latih selama bertahun-tahun.
Tahan, Alika. Sebentar lagi semua ini berakhir, bisik batinnya mencoba menguatkan diri.
Dua jam berlalu, dan sandiwara itu akhirnya mencapai ujungnya. Pintu mobil sedan mewah berwarna hitam itu tertutup rapat, seketika meredam seluruh hiruk-pikuk pesta. Begitu kendaraan mulai membelah jalanan Jakarta yang kian lengang, suasana di dalam kabin berubah secara drastis. Kehangatan yang tadi terasa di aula menguap begitu saja, digantikan oleh keheningan yang terasa sedingin es.
Narendra segera melepaskan rangkulannya. Ia menyandarkan punggung pada jok kulit, melonggarkan ikatan dasi dengan kasar, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jas. Matanya tertuju sepenuhnya pada layar, jemarinya sibuk mengetik dengan raut wajah yang kembali datar dan tidak acuh. Alika melirik suaminya lewat sudut mata sembari mengembuskan napas panjang yang sedari tadi terasa sesak di dada. Tangan kanannya mulai meraba pergelangan tangan kiri yang terasa kaku dan panas.
"Kerja bagus untuk malam ini," ucap Narendra memecah kesunyian tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Pidato singkatmu di depan para pemegang saham tadi sangat membantu dalam menaikkan sentimen positif saham perusahaan besok pagi."
Alika hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum lelah yang tidak akan pernah ia perlihatkan di depan lensa kamera. "Itu memang sudah tugas saya, Mas. Menjaga citramu dan Artha Group agar tetap bersih adalah bagian dari kesepakatan kita."
Mendengar kata kesepakatan, gerakan jemari Narendra di layar ponsel sempat terhenti sejenak sebelum akhirnya ia mendengus pelan.
Ya, sebuah kesepakatan. Kata yang terasa begitu dingin itu telah melandasi pernikahan mereka sejak setahun lalu. Dahulu, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis, bahkan sudah saling mencintai sejak masa kuliah. Namun, beban pekerjaan yang kian berat, ego Narendra yang membumbung tinggi seiring kesuksesannya sebagai CEO, hingga rutinitas rumah tangga yang kian hambar membuat pria itu mulai merasa jenuh. Hingga tibalah malam itu, saat Narendra dengan segala keangkuhannya mengajukan sebuah gagasan gila demi mengusir rasa bosan tanpa harus mencoreng nama baik keluarga: open marriage.
"Kita tetap berstatus suami istri di depan hukum dan publik, Alika. Namun, di luar rumah, kita bebas mencari kesenangan masing-masing tanpa ada tuntutan. Adil, bukan?" Kalimat Narendra setahun silam itu kembali terngiang, meninggalkan rasa perih yang teramat dalam di dada Alika.
Alika pun setuju. Bukan karena ia mendambakan kebebasan, melainkan karena ia terlalu mencintai Narendra dan teramat takut kehilangan pria itu jika mereka harus berpisah. Ia memilih mengalah, mengubur harga dirinya dalam-dalam, dengan secercah harapan bahwa suaminya hanya sedang berada dalam fase jenuh sementara dan akan segera "pulang" ke pelukannya.
Mobil berhenti dengan mulus di halaman rumah mewah mereka. Saat melangkah masuk ke ruang tengah yang sepi, Narendra tidak langsung menuju kamar utama. Pria itu justru melirik jam tangan mewahnya yang telah menunjukkan pukul sebelas malam, lalu berbalik menuju cermin di dekat pintu. Ia merapikan tatanan rambutnya dan menyemprotkan parfum beraroma woody yang kuat ke bagian leher serta pergelangan tangan. Aroma maskulin yang terasa asing bagi Alika, karena itu adalah parfum khusus yang selalu Narendra gunakan setiap kali hendak pergi keluar malam.
Alika yang tengah melepas sepatu tumit tingginya hanya bisa terpaku menatap punggung sang suami. Dadanya terasa berdenyut nyeri, seiring dengan kekakuan yang kini mulai menjalar dari tangan hingga ke lututnya.
"Kamu mau pergi lagi, Mas?" tanya Alika, mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar datar.
Narendra berbalik sambil mengancingkan kembali jasnya. "Iya. Seseorang sudah menungguku di lounge. Mungkin aku tidak akan pulang malam ini, atau mungkin baru pulang subuh nanti. Jangan menungguku."
Narendra melangkah mendekati Alika. Tepat sebelum melewati pintu, ia menghentikan langkahnya. Sorot mata tajam sang CEO menangkap sesuatu yang tidak biasa pada istrinya. Wajah Alika terlihat jauh lebih pucat di bawah benderang lampu ruang tamu, dan tubuhnya sedikit bersandar pada pilar kayu seolah sedang kehilangan keseimbangan. Narendra mengerutkan kening. Sifat aslinya yang sebenarnya peduli sempat terusik, namun egonya yang tinggi segera menyamarkan rasa khawatir itu dengan kalimat ketus.
"Wajahmu pucat sekali, Alika. Tanganmu juga, kenapa bergetar seperti itu?" Narendra meraih pergelangan tangan Alika, merasakan hawa panas yang tidak wajar dari kulit sang istri. Alih-alih melembut, ia justru mendengus egois. "Tolong urus dirimu dengan baik. Jangan kurang tidur atau telat makan lagi. Saya tidak mau kolega bisnis atau media melihat istri CEO Artha Group tampak layu dan penyakitan. Itu bisa merusak citra keluarga kita."
Kalimat itu meluncur begitu saja, terasa tajam dan menusuk. Pria itu menekan rasa khawatirnya sendiri, meyakinkan diri bahwa Alika hanya kelelahan karena pekerjaan kantornya sebagai praktisi public relations. Setelah berkata demikian, Narendra berbalik dan melangkah lebar keluar rumah tanpa menoleh lagi. Deru mobilnya perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
Begitu bayangan mobil Narendra menghilang di balik pagar, pertahanan Alika benar-benar runtuh.
"Akh..."
Alika mengerang kesakitan. Kedua lututnya terasa lemas hingga ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Rasa nyeri di sendi-sendinya tiba-tiba saja menghebat, memicu sensasi panas yang membakar seluruh tubuh. Air mata yang sejak di hotel tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya yang pucat pasi.
Bukan hanya fisiknya yang menderita, batinnya pun luar biasa tersiksa. Setiap kali Narendra melangkah keluar demi wanita lain karena kesepakatan open marriage tersebut, di saat yang sama pula sistem imun di tubuh Alika bergejolak karena stres, kemudian berbalik menyerang organ tubuhnya sendiri. Dengan napas tersengal dan air mata yang terus mengalir, Alika menyeret tubuhnya dengan susah payah menuju laci meja televisi. Tangannya yang gemetar berusaha membuka laci demi mencari botol obat pereda nyeri dosis tinggi yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari suaminya. Bagi Alika, batasan pernikahan terbuka yang diciptakan Narendra kini perlahan mulai merenggut setiap helaan napas kehidupan yang masih tersisa di tubuhnya.