NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Pergi

Aroma kayu cendana dan minyak esensial yang biasanya menenangkan di dalam rumah bernuansa abu-abu milik Aris, malam itu terasa begitu mencekik. Begitu Neya melangkah melewati pintu depan setelah menempuh perjalanan dari kantor cabang siang tadi, atmosfer dingin langsung menyambutnya. Di ruang tengah yang remang-remang, Ibu Imelda sudah duduk tegak di atas sofa kayu. Wajah ibunya tampak kuyu, namun sepasang matanya memancarkan kombinasi antara amarah yang membakar dan kekecewaan yang teramat dalam.

Neya menghentikan langkahnya di ambang pintu ruang tengah. Ia meletakkan tas kerjanya dengan gerakan pelan, mencoba mempertahankan ketenangan di wajahnya yang lelah.

"Bunda belum tidur?" tanya Neya, suaranya mengalun lembut, mencoba mencairkan ketegangan.

Ibu Imelda bangkit berdiri, napasnya memburu seketika. "Bagaimana Bunda bisa tidur, Neya, kalau putri yang Bunda lindungi selama ini ternyata kembali menjatuhkan dirinya ke dalam bahaya?"

Neya menyipitkan mata perlahan. "Apa maksud Bunda?"

Jangan berpura-pura lagi, Neya! Casandra Kusuma baru saja menelepon Bunda!" suara Ibu Imelda naik satu oktav, bergetar hebat menahan luapan emosi. "Dia memaki, mengancam, dan mengatakan dengan jelas kalau kamu sengaja mendekati Kinan lagi di lokasi proyek siang tadi! Jawab Bunda, Neya! Untuk apa kamu menemui pria dari keluarga jahanam itu lagi? Apakah penderitaan kita dulu belum cukup?!"

Neya terdiam, bibirnya rapat terkunci.

Tepat saat ketegangan di antara ibu dan anak itu kian meruncing, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor samping. Aris berjalan masuk dengan kemeja kerja yang kancing atasnya sudah terbuka. Pria itu tampak lelah setelah bergelut dengan sistem server kantor yang eror seharian, namun langkahnya langsung terhenti begitu mendengar nama Kinan dan Casandra disebut dalam perdebatan panas itu.

Aris menatap ibu mertuanya, lalu beralih pada Neya dengan tatapan menuntut penjelasan. "Bunda... ada apa ini? Kenapa nama keluarga Kusuma disebut-sebut lagi? Dan apa hubungannya semua ini dengan proyek yang kita kerjakan?"

Melihat kehadiran suaminya dan mendengar cecaan bertubi-tubi dari ibunya, sesuatu di dalam dada Neya mendadak patah. Segala tekanan, rasa sakit dari masa lalu yang baru ia ingat, dan beban pernikahan tanpa cinta yang selama ini menghimpitnya seketika meledak. Topeng kepatuhan yang ia kenakan di depan dunia runtuh total malam itu. Untuk pertama kalinya, emosi Neya tumpah ruah bagai air bah, menjatuhkan seluruh kekecewaan mendalam pada bundanya.

"Kecewa? Aku jauh lebih kecewa dan terluka pada Bunda!" jerit Neya dengan dada yang kembang kempis, air matanya luruh membasahi pipinya. "Satu tahun lalu, ketika aku terbangun dalam kondisi amnesia total setelah koma, Bunda membohongiku! Bunda bilang aku kecelakaan biasa! Tapi setelah ingatanku kembali, aku tahu semuanya! Aku amnesia karena ditembak oleh keluarga Kusuma! Dan dalam kondisi aku yang hilang ingatan, tidak tahu apa-apa, Bunda justru memanfaatkan situasi itu untuk menikahkanku dengan Aris!"

Ibu Imelda menangis pecah, mencoba meraih lengan putrinya. "Neya, Bunda melakukan itu semua untuk melindungimu! Bunda menjodohkanmu dengan Aris agar kamu punya hidup yang aman dan tenang dari kejaran mereka!"

"Aman dan tenang, tapi jiwaku mati, Bunda!" potong Neya dengan suara yang bergetar hebat. "Aku tidak peduli dengan harta mereka! Aku hanya ingin hidup bahagia bersama pria yang aku cintai! Selama satu tahun ini aku terkurung dalam pernikahan yang tidak pernah kuinginkan, berpura-pura amnesia agar Bunda tidak cemas, semuanya karena aku mencoba patuh. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku lagi. Di dunia ini, aku hanya ingin menggapai cintaku dan Kinan!"

Aris yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengarkan setiap bait kalimat Neya dengan tatapan yang tenang namun tersorot luka mendalam. Pria itu tidak terkejut mendengar fakta tentang amnesia atau penembakan itu—sebab sejak awal, Aris sudah tahu persis rahasia di balik pernikahan mereka dan masa lalu kelam yang melilit Neya. Namun, ada satu hal lain yang malam ini benar-benar mematahkan hatinya.

Aris melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam manik mata Neya. "Aku tidak terkejut dengan ingatanmu yang kembali, Neya. Aku sudah tahu semuanya sejak kita menikah. Tapi... tuntutan dari Zalwa, istri pertamaku, yang meminta diceraikan dan menuntut lima puluh persen asetku diserahkan atas namamu demi anak kami... itu semua adalah idemu, bukan?"

Neya tersentak kecil. Kebongkaran taktik rahasianya dengan Zalwa membuat suasana ruang tengah menjadi sangat sunyi. Neya menatap Aris dengan rasa bersalah yang teramat pekat, namun ia memilih jujur. "Benar, Aris. Itu ideku bersama Zalwa agar aku bisa pergi dari sini tanpa membuat Bunda curiga, sekaligus memastikan aku memiliki pondasi yang kuat setelah lepas darimu. Maafkan aku... hatiku memang tidak pernah ada di rumah ini."

Aris mengembuskan napas pendek yang terasa teramat berat. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat. "Jika pria itu yang kamu inginkan sampai kamu dan Zalwa merencanakan tuntutan aset sejauh ini... maka malam ini juga, di depan Bundamu, aku lepaskan kamu. Kita bercerai, Neya. Pergilah gapai cintamu yang tertunda."

Keputusan tegas Aris malam itu resmi memutuskan benang pernikahan mereka yang rapuh. Ibu Imelda hanya bisa menangis histeris meratapi kehancuran rumah tangga putrinya yang didasari kebohongan sejak awal.

Neya, dengan sisa air mata dan dada yang masih sesak setelah statusnya resmi bercerai, berbalik dengan kasar. Ia meraih ponselnya, melangkah cepat menuju kamar pribadi di lantai atas, dan membanting pintu dengan keras. Dengan jemari yang gemetar karena luapan emosi yang campur aduk, Neya langsung mendial nomor pribadi Kinan Kusuma. Ia membutuhkan suara pria itu untuk menenangkan jiwanya yang sedang goyah.

Di tempat lain, di dalam ruang kerja pribadi rumah mewah Kusuma pada malam yang sama, Kinan sedang duduk termenung di balik meja kerjanya. Pikirannya kacau balau setelah Sherly mengancamnya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar, menampilkan nama kontak rahasia Neya.

Kinan dengan cepat menggeser layar. "Neya? Kamu—"

Belum sempat Kinan melanjutkan kalimatnya, sebuah cengkeraman kuat mendarat di bahunya. Mama Casandra berdiri di belakang kursi Kinan, sementara dua pengawal pribadinya langsung menahan kedua lengan Kinan agar tidak bisa bergerak. Di sudut ruangan, Sherly berdiri dengan senyuman kemenangan yang dingin.

"Bicaralah pada perempuan itu, Kinan. Suruh dia datang ke sini sekarang juga," bisik Mama Casandra di dekat telinga putrinya, suaranya sedingin es yang mematikan.

Kinan meronta, rahangnya mengeras kaku. "Tidak, Ma! Aku tidak akan menyeret Neya ke dalam kegilaan Mama!"

Casandra terkekeh kejam, lalu menekan tombol pengeras suara agar suara Neya dari seberang telepon terdengar jelas di ruangan itu. Ia kemudian mendekatkan ponsel ke bibir Kinan sembari membisikkan ancaman maut.

Kinan membeku. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Demi menyelamatkan nyawa wanita yang paling dipujanya agar tidak ditembak malam itu juga, Kinan terpaksa menekuk lutut harga dirinya di bawah perintah ibunya.

Dengan air mata yang mengalir di pipinya yang tegap dan suara yang bergetar hebat menahan kehancuran batin, Kinan terpaksa berbicara ke arah ponsel atas suruhan ibunya. "Neya... ini aku. Datanglah ke rumah utama Kusuma malam ini. Ada hal... yang harus kita selesaikan di sini."

Deru mesin taksi yang membawa Neya membelah keheningan malam yang pekat, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa kediaman utama keluarga Kusuma. Suasana istana megah itu tampak begitu sunyi, namun bagi intuisi Neya yang tajam, kesunyian ini terasa seperti keheningan sebelum badai besar menyapu bersih segalanya.

Neya turun dari mobil dengan langkah yang mantap. Statusnya yang kini telah resmi bercerai dari Aris dan terbebas dari jerat pernikahan tanpa cinta membuat pundaknya terasa sedikit lebih ringan. Ia melangkah melewati pelataran luas, mengabaikan tatapan dingin dari para pengawal pribadi yang berjaga di sepanjang koridor luar. Kepalanya tegak, sepasang mata bulatnya yang jernih memancarkan keberanian mutlak. Ia datang malam ini demi menggapai satu-satunya cinta yang ia miliki di dunia ini: Kinan.

Namun, begitu pintu ganda ruang tengah terbuka lebar, seluruh keberanian yang baru saja ia pupuk mendadak membeku di udara.

Pemandangan di depannya bagai sebuah belati tak kasat mata yang menghujam langsung ke ulu hatinya, menghentikan detak jantungnya seketika. Di atas sofa mewah ruang tengah, Kinan sedang duduk berdampingan dengan Sherly. Tangan tegap Kinan merangkul mesra pinggang istri sahnya itu, dan dalam jarak sedekat itu, Kinan sedang menundukkan wajahnya, mengecup bibir Sherly dengan intensitas yang tampak begitu intim di depan mata kepala Neya sendiri.

Di sudut ruangan, Mama Casandra berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, mengulas sebuah senyuman tirani yang teramat puas dan penuh kemenangan.

Neya mematung di ambang pintu, napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh dunianya seolah runtuh, hancur berkeping-keping tanpa sisa. Rasa sakit dari luka tembak satu tahun lalu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hancur yang ia rasakan detik ini. Wanita yang selalu ia kira sebagai kerikil pengganggu—Sherly—kini justru didekap erat oleh pria yang menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini.

Mendengar langkah kaki Neya, Kinan perlahan melepaskan cumbuannya. Pria itu menoleh ke arah Neya dengan sepasang mata yang menggelap, dingin, dan sama sekali tidak memancarkan binar kerinduan yang siang tadi ia rasakan. Sesuai dengan instruksi maut dari ibunya demi menjaga agar penembak jitu tidak meledakkan kepala Neya, Kinan harus mengucapkan kalimat sandiwara paling kejam dalam hidupnya.

"Kamu sudah datang, Neya?" ucap Kinan, suaranya terdengar begitu datar, hambar, dan tanpa beban, meski di dalam dadanya jantungnya berdarah-darah. Kinan mempererat rangkulannya di bahu Sherly. "Sengaja aku menyuruhmu datang malam-malam begini, agar semuanya jelas. Aku ingin kamu sadar diri dan berhenti menggangguku. Kejadian di lokasi proyek siang tadi... itu hanyalah mainan sesaat. Aku bosan. Dan seperti yang kamu lihat sendiri sekarang, aku tidak akan pernah memilihmu. Sherly adalah istri sahku yang sesungguhnya, tempatku pulang. Jadi, pergilah dan jangan pernah menampakkan mukamu lagi di depanku atau keluargaku."

Setiap kata yang meluncur bebas dari bibir Kinan bagai racun yang membakar habis sisa-sisa kewarasan Neya. Sepasang mata bulat Neya yang polos kini digenangi oleh air mata yang berderai deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Harapan yang ia bawa dari rumah, pengorbanannya melepaskan Aris, dan perjuangannya melawan kebohongan ibunya sendiri... semuanya menguap menjadi lelucon yang paling menjijikkan.

Neya tidak bersuara. Ia tidak memaki, tidak berteriak, dan tidak membela diri. Rasa putus asa yang teramat pekat mendadak melingkupi seluruh jiwanya, menggelapkan akal sehatnya yang biasanya jenius. Hatinya telah mati. Jika pria yang menjadi satu-satunya alasan baginya untuk bernapas di dunia ini menganggapnya sebagai mainan yang membosankan, lalu untuk apa lagi ia harus bertahan hidup?

Neya mundur selangkah, lalu membalikkan tubuhnya dengan lunglai. Ia berlari keluar dari istana terkutuk itu dengan tangis yang pecah dalam kesunyian malam. Ia terus berlari tanpa arah, mengabaikan panggilan angin malam yang menusuk kulitnya, hingga langkah kakinya membawanya ke atas sebuah jembatan penyeberangan tinggi yang sepi di dekat pembatas jalan raya utama.

Di atas sana, Neya menatap ke bawah, ke arah lampu-lampu kendaraan yang bergerak cepat bagai aliran sungai cahaya yang mematikan. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi rasa sakit yang teramat menyiksa. Dengan tubuh yang gemetar hebat, Neya perlahan menaiki pagar pembatas jembatan. Ia memejamkan matanya, merentangkan kedua tangannya, siap menjatuhkan dirinya ke bawah untuk mengakhiri segala penderitaan batinnya malam ini juga.

Neya condongkan badannya ke depan. Angin malam berembus kencang, dan ketika tubuhnya sudah hampir kehilangan keseimbangan dan siap terjatuh bebas menuju maut—

Set!

Sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat dan kokoh mendadak menyambar pergelangan tangan Neya dengan hentikan yang kasar namun penuh kepanikan. Dalam satu tarikan bertenaga, tubuh Neya tertarik kembali ke belakang, melayang jatuh tegak lurus ke dalam sebuah dekapan dada bidang seseorang.

Grep!

Neya terengah-engah, jantungnya berpacu gila di dalam rongga dadanya. Namun, detik berikutnya, seluruh tubuhnya yang semula dingin mendadak membeku. Rasa hangat yang teramat familiar menjalar ke seluruh indranya. Aroma tubuh ini, kekuatan lengan yang mendekapnya dengan begitu erat seolah takut kehilangannya, adalah pelukan yang sangat ia kenal. Pelukan hangat yang selalu ada untuk menjaganya, menenangkannya, dan melindunginya dari kerasnya dunia sejak empat tahun lalu, tepat setelah sang Abi meninggal dunia.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!