"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
..."Yang paling sakit bukanlah ketika tubuhmu penuh luka, melainkan ketika hatimu penuh Cinta tapi tidak di Takdirkan bersama....
...Kita berpisah bukan karena benci. Kita berpisah karena sama-sama terlalu mencintai mimpi, sampai lupa kalau mimpi terbesar kita dulu... adalah kita"...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gerbang besi tempa hitam setinggi tiga meter yang membatasi kawasan elite Bel-Air dengan jalanan umum Los Angeles terbuka perlahan, bergerak tanpa suara seolah menyambut kepulangan sang putri mahkota.
Sedan mewah berwarna hitam legam milik Vexana Valerio meluncur mulus melewati jalan setapak beraspal yang dinaungi pohon-pohon ek tua yang rindang.
Ban mobilnya mencicit halus saat berhenti tepat di depan teras megah kediaman utama keluarga Valerio—sebuah mansion bergaya kolonial modern yang didominasi warna putih bersih dengan pilar-pilar raksasa yang menjulang tinggi, memancarkan kemewahan yang tak terbantahkan.
Vexana mematikan mesin mobilnya. Untuk beberapa saat, dia hanya duduk diam di balik kemudi, memandangi kemegahan rumah tempat dia dibesarkan.
Kemewahan ini, dinding-dinding kokoh ini, biasanya selalu menjadi tempat perlindungannya yang paling aman dari kejamnya dunia luar.
Dia menarik napas dalam-dalam, menatap cermin rekam, lalu menggunakan jemarinya untuk merapikan sedikit riasan di wajahnya. Lingkar hitam samar di bawah matanya akibat tangisan singkat di dalam lift tadi berhasil disamarkan dengan baik. Dia memakai kembali topeng ketenangannya. Di rumah ini, dia tidak ingin membuat orang-orang yang dicintainya cemas.
Begitu Vexana membuka pintu mobil dan melangkah keluar, atmosfer sunyi yang sempat menemaninya di sepanjang perjalanan dari kampus langsung pecah.
Dari balik pintu ganda mansion yang terbuka lebar, sayup-sayup terdengar suara keriuhan yang sangat familier. Suara yang seketika mampu mengikis sedikit rasa perih di dada Vexana.
"Sayang... jangan lari! Astaga, Austin, pelan-pelan! Nanti kamu jatuh, Nak!"
Suara lembut namun sarat akan nada kepanikan khas seorang ibu itu menggema dari dalam aula utama.
Itu adalah suara Amieyara Valerio, sang Mommy. Wanita paruh baya yang tetap terlihat luar biasa cantik dan bugar di usianya sekarang itu tampak setengah berlari, mencoba mengejar seorang anak laki-laki kecil yang terus berlari kencang tanpa memedulikan seruan ibunya.
Namun, suasana panik yang coba dibangun oleh Amieyara langsung dipatahkan oleh suara bariton lain yang terdengar bergemuruh dari arah ruang keluarga, disusul oleh tawa renyah yang meledak.
"Larilah son, Monster akan tiba! Cepat, sembunyi di balik sofa sebelum dia menangkapmu!" teriak Maximilian Valerio.
Pria paruh baya yang masih memiliki garis wajah tegas dan tubuh tegap ala pengusaha sukses itu justru memanas-manasi situasi dengan tawa yang menghiasi wajahnya, sengaja menggoda istrinya yang mulai kehabisan napas.
"Maximilian! Jangan mengajarinya yang tidak-tidak! Dia baru saja sembuh dari flu minggu lalu!" omel Amieyara, memprotes tindakan suaminya dengan tangan yang berkacak pinggang, meskipun binar jenaka di matanya tidak bisa disembunyikan.
Anak Laki-laki Enam tahun yang sedang menjadi pusat perhatian itu bernama Austin Jaxon Valerio.
Bocah menggemaskan dengan pipi bulat kemerahan, sepasang mata bulat yang jernih, dan rambut cokelat yang sedikit ikal itu biasa dipanggil AJ.
Dia adalah bungsu di keluarga Valerio, sebuah berkah tak terduga yang hadir di tengah-tengah mereka dan langsung menjadi pusat semesta bagi seluruh anggota keluarga.
Mendengar instruksi dari sang Daddy, AJ justru tertawa semakin keras.
Langkah kaki kecilnya yang terbalut sepatu roda mini tanpa roda itu mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan ritme yang cepat dan berantakan. Dia berbelok ke arah pintu utama, berniat mencari tempat persembunyian baru.
Namun, tepat di ambang pintu, langkah AJ mendadak berhenti. Sepasang mata bulatnya membelalak lebar saat menangkap sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
"Kakak...!" teriak anak laki-laki itu dengan suara cemprengnya yang khas, penuh dengan nada kedewasaan yang menggemaskan sekaligus kerinduan yang meluap-luap.
Wajah AJ langsung berbinar cerah. Melupakan permainan kejar-kejaran dengan sang Mommy dan instruksi "monster" dari sang Daddy, balita itu langsung mengalihkan rutenya.
Dia berlari kencang ke arah Vexana, mengulurkan kedua tangan mungilnya ke udara, siap untuk menerjang sang kakak.
Melihat tubuh itu berlari ke arahnya, seluruh beban berat yang menggelayuti pundak Vexana seolah menguap begitu saja.
Senyum tulus—senyum nyata pertama yang dia rasakan sejak kejadian di kafetaria—akhirnya terkembang di bibir indahnya.
Vexana berlutut di atas lantai marmer, merentangkan kedua tangannya dengan lebar, dan menangkap tubuh AJ tepat pada waktunya.
"Ooffff! Anak pintar, pelan-pelan," bisik Vexana saat tubuh mungil AJ menubruk dadanya hangat.
Vexana memeluk erat adiknya itu, menghirup aroma bedak bayi yang menenangkan dari leher AJ. Bagi Vexana, AJ adalah oase di tengah gurun pasir hidupnya yang mendadak gersang hari ini.
"Kakak pulang! Kakak pulang!" seru AJ gembira, mengecup pipi Vexana dengan gemas hingga meninggalkan bekas air liur kecil di sana.
Amieyara yang akhirnya berhasil menyusul ke depan pintu tampak menghela napas lega, sembari memegangi dadanya.
"Astaga, Vexana, untung ada kamu. Anak ini benar-benar mewarisi sifat keras kepala dan energi berlebih dari daddymu. Mommy hampir jantungan mengejarnya sekeliling rumah."
Vexana terkekeh pelan, berdiri tegak sembari menggendong AJ di dalam pelukannya.
Meskipun AJ sudah berusia enam tahun dan tubuhnya mulai terasa berat, Vexana sama sekali tidak keberatan.
"Mommy seperti tidak tahu Daddy saja. Mereka berdua memang selalu bersekongkol untuk membuat Mommy berteriak setiap sore."
Dari arah belakang, Maximilian berjalan mendekat dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kainnya.
Pria itu menatap putri sulungnya dengan pandangan penuh kasih sayang, meskipun matanya yang tajam dan berpengalaman sempat menangkap ada sesuatu yang berbeda dari binar mata Vexana hari ini—sesuatu yang disembunyikan dengan sangat rapi di balik senyum anggunnya.
"Bagaimana hari mu?" tanya Maximilian lembut, mengusap puncak kepala Vexana sekilas sebelum mencubit gemas pipi AJ yang berada di gendongan kakaknya.
Vexana mengalihkan pandangannya dari sang Daddy, menatap AJ yang kini sedang memainkan helai rambut cokelatnya dengan jari-jari mungilnya.
Vexana menarik napas pendek, menelan semua kepahitan tentang pengkhianatan Brain, kebusukan Luna, dan konfrontasi beracun dengan Landon di koridor kampus tadi.
Rumah ini adalah tempat suci, dan dia tidak ingin mengotorinya dengan drama kampus yang memuakkan.
"Hari ini cukup menenangkan, Dad," bohong Vexana, suaranya terdengar begitu tenang, datar, dan meyakinkan, seolah-olah kata "menenangkan" itu benar-benar menggambarkan apa yang dilaluinya hari ini.
Maximilian dan Amieyara saling berpandangan selama satu detik.
Sebagai orang tua yang telah membesarkan Vexana, mereka tahu betul bahwa jika Vexana menggunakan kata "menenangkan" dengan nada yang terlalu sempurna, itu berarti ada badai yang sedang dia bendung sendirian. Namun, mereka juga tahu seberapa tinggi harga diri putri mereka. Vexana tidak akan berbicara sampai dia benar-benar siap.
"Menenangkan? Benarkah?" goda Maximilian, mencoba mencairkan atmosfer. "Mommy-mu mengira kau akan pulang dengan membawa kabar tentang persiapan pernikahan atau semacamnya dari pemuda Heunte itu. Dia bahkan sudah mulai melihat-lihat katalog gaun pengantin di majalah tadi pagi."
Mendengar nama "Heunte" disebut oleh sang Daddy, tubuh Vexana sempat menegang selama sepersekian detik.
Genggamannya pada tubuh AJ sedikit mengerat, membuat balita itu mendongak menatap wajah kakaknya dengan bingung. Vexana segera menguasai dirinya kembali. Dia memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
"Ah, soal itu... sepertinya Mommy bisa menyimpan katalognya untuk sementara waktu," jawab Vexana dengan nada santai yang dibuat-buat.
"Kami sedang... sama-sama sibuk dengan persiapan tesis dan rencana bisnis masing-masing. Pernikahan bukan prioritas utama saat ini."
Amieyara mendekat, mengusap lengan Vexana dengan lembut. "Tentu saja, sayang. Prioritas utamamu adalah pendidikan dan masa depanmu. Pernikahan bisa menunggu. Lagipula, Mommy masih belum rela melepas putri cantik Mommy ini untuk tinggal di rumah pria lain."
"Kakak tidak boleh pergi! Kakak di rumah saja sama AJ!" celetuk AJ tiba-tiba dengan suara lantang, seolah-olah dia memahami pembicaraan orang dewasa di sekitarnya.
Tangan mungilnya memeluk leher Vexana dengan erat, mempertegas permintaannya.
Tawa renyah kembali pecah di aula mansion itu. Maximilian tertawa bangga mendengar ucapan putra bungsunya.
"Dengar itu, Vexana? Pria kecilmu sudah mengeluarkan perintah. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana."
"Iya, AJ. Kakak tidak akan pergi ke mana-mana. Kakak akan selalu di sini bersama AJ," bisik Vexana tulus, mengecup kening adiknya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam hatinya, Vexana bersyukur atas kepolosan AJ. Di saat dunia luar terasa begitu palsu dan penuh pengkhianatan, pelukan hangat dan kata-kata polos dari adiknya adalah satu-satunya hal nyata yang membuatnya merasa berharga.
"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Mommy sudah meminta kepala pelayan memasak seafood risotto kesukaanmu dan beberapa hidangan penutup yang manis untuk merayakan berakhirnya pekan ujianmu," ajak Amieyara sembari menuntun suaminya untuk berjalan terlebih dahulu ke arah dalam mansion.
Vexana mengikuti dari belakang, masih dengan AJ yang bersandar nyaman di pundaknya.
Saat dia melangkah menyusuri koridor panjang menuju ruang makan, melewati deretan foto keluarga yang membingkai dinding-dinding mansion, matanya sempat tertuju pada sebuah foto lama.
Foto di mana dia masih berusia 17 tahun, tersenyum lepas dengan latar belakang pantai Los Angeles.
Di sudut foto itu, ada bayangan tangan seseorang yang terpotong—tangan Landon Desmon, yang saat itu memegang kamera untuk mengambil gambarnya.
Vexana membuang muka dengan cepat, merasakan denyutan perih yang akrab di dadanya.
Hari ini mungkin menenangkan di dalam rumah ini, batin Vexana sambil mempererat pelukannya pada AJ. Tapi besok, saat aku melangkah keluar dari gerbang ini, aku tahu rumor itu akan semakin membesar.
Pengkhianatan Brain dan bayang-bayang Landon tidak akan hilang hanya karena aku bersembunyi di sini.
Namun untuk malam ini, di bawah lampu kristal mansion Valerio yang hangat, dikelilingi oleh kasih sayang yang tulus dari orang tua dan candawa tawa dari AJ, Vexana memilih untuk melupakan sejenak statusnya sebagai wanita yang dikhianati.
Malam ini, dia hanyalah seorang kakak dan seorang putri yang menemukan kembali kedamaiannya di tengah badai Los Angeles yang siap mengoyak hidupnya esok hari.
...****************...
Mohon dukungannya ya kak, Jangan lupa tinggalkan Komentar 🫶🏻🌷