Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Tidak Layak Berdiri di Sini & Anjing yang Lebih Setia dari Manusia
Pikiran Peng Ying benar-benar kacau balau.
Ia tidak mampu memahami apa yang baru saja ia saksikan. Mei Lian dan Xiao Rui—dua tokoh tinggi Sekte Lingxue yang namanya disebut dengan nada kagum oleh para cultivator muda di seluruh wilayah—membungkuk hormat kepada Lin Qian seperti murid menghadap guru besar. Dan Yu Wujie, pemuda berbakat yang selama ini ia banggakan, kini tergeletak di lantai marmer dengan tulang remuk hanya karena berani mengacungkan pedang ke arah pria itu.
Pria yang sama yang dulu ia tinggalkan.
"Jangan khawatir, Senior. Kami akan melaporkan kejadian ini ke sekte dan memberikan penjelasan yang layak," ucap Mei Lian dengan nada cemas, punggungnya masih sedikit membungkuk.
Lin Qian melambaikan tangan santai. "Tak apa. Lupakan saja."
Ia melangkah masuk ke ruang jamuan bersama Presiden Yin Xiong, meninggalkan koridor itu tanpa menoleh sekali pun.
Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, suasana di koridor berubah seketika.
Mei Lian dan Xiao Rui berbalik. Ekspresi hormat yang tadi mereka tunjukkan kepada Lin Qian lenyap sepenuhnya—digantikan oleh tatapan dingin yang membuat udara di sekitar mereka terasa turun beberapa derajat.
Yu Wujie diseret oleh dua pelayan sekte untuk diadili sesuai hukum internal. Perhatian kedua wanita itu kemudian beralih ke Peng Ying yang berdiri gemetar di sudut koridor, memeluk dirinya sendiri seolah itu bisa melindunginya dari sesuatu yang tidak kasat mata.
"Berlutut."
Hanya satu kata dari Mei Lian. Namun kata itu membawa bobot qi seorang senior Sekte Lingxue yang sudah menembus lapisan atas tingkat Pembentukan Inti—dan Peng Ying jatuh berlutut sebelum otaknya sempat memproses perintah itu, seolah ada gunung yang mendadak hinggap di bahunya.
Mei Lian berjongkok perlahan, menatap aliran qi di tubuh Peng Ying dengan sorot mata seorang ahli yang menilai batu biasa di antara tumpukan giok. Semakin lama ia memeriksa, semakin tipis garis bibirnya.
"Kemampuanmu jauh di bawah standar masuk sekte." Suaranya datar seperti batu. "Siapa yang membiarkanmu masuk tanpa prosedur yang benar?"
"A-aku sudah mengikuti ujian—"
"Diam." Xiao Rui memotong tanpa emosi. "Mulai hari ini, keanggotaanmu dicabut. Kau tidak memenuhi syarat untuk berdiri di bawah panji Sekte Lingxue."
Kata-kata itu menghantam Peng Ying lebih keras dari pukulan fisik mana pun.
"Mengapa?!" Suaranya meninggi, setengah histeris. "Apakah ini hanya karena Lin Qian??'
PLAK.!!......
Tamparan Mei Lian mendarat bersih di pipinya. Kepala Peng Ying menoleh paksa ke samping, rambut sanggulnya berantakan.
"Jangan sebut nama Senior itu dengan mulut yang tidak tahu diri." Nada Mei Lian tidak naik sedikit pun—dan justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengerikan. "Ada hal-hal di dunia ini yang tidak layak kau pertanyakan. Kau tidak berada di level itu."
Tanda keanggotaan di pinggang Peng Ying retak, lalu hancur menjadi serpihan—dihancurkan oleh satu sentuhan jari Xiao Rui yang mengalirkan qi pemutus ikatan sekte.
Kedua wanita itu pergi tanpa menoleh.
Peng Ying berlutut sendirian di koridor yang kini sepi, serpihan tanda sektanya berserakan di lantai marmer. Masa depan yang ia bangun dengan susah payah hancur dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Yang tersisa hanya kebingungan, penyesalan yang belum terbentuk sempurna, dan kebencian yang tidak tahu harus diarahkan ke mana.
Di sasana bela diri kecil yang tenang, Wangcai duduk di beranda dengan postur seekor penjaga gerbang istana kekaisaran.
Cakarnya terlipat rapi. Matanya setengah terpejam. Siapa pun yang tidak tahu akan mengira ia sedang tidur siang.
Namun Wangcai—yang sejatinya adalah Xue yan, Serigala Iblis Pemakan Surga yang namanya pernah membuat langit ketiga berguncang—tidak pernah benar-benar tidur saat bertugas. Ia hanya menunggu.
Sosok Jing Wufeng mendarat di depan gerbang tanpa suara, Artefak Jubah Cepat di tubuhnya masih bergetar setelah perjalanan panjang. Matanya menyapu area depan sasana dengan tatapan seorang pengintai berpengalaman—mencari jejak, membaca sisa aura, menyusun gambaran dari serpihan informasi yang tertinggal di udara.
Aura Jing Wuchen ada di sini. Kuat. Lalu... berhenti. Terpotong tiba-tiba seperti benang yang digunting.
Rahangnya mengeras.
Seorang pedagang tua kebetulan lewat di depan gerbang, menghalangi pandangannya. Jing Wufeng mengibaskan tangan tanpa menoleh,pedagang itu terlempar ke pinggir jalan seperti daun kering diterpa angin.
Ia melangkah masuk.
Kakinya menginjak sesuatu yang keras di anak tangga pertama. Ia tidak menunduk untuk melihat. Tidak ada yang perlu dilihat di sasana kecil seperti ini.
Yang tidak ia sadari: benda yang baru saja ia injak adalah Artefak Penggoncang Langit—peninggalan Jing Wuchen yang kini berfungsi sebagai pengganjal anak tangga yang tingginya tanggung.
Begitu kakinya melewati ambang pintu dan qi pengintaiannya menyebar ke seluruh ruangan, delapan belas lukisan senjata di dinding menyala serentak.
Kali ini tidak ada jeda. Tidak ada peringatan. Tidak ada kesempatan untuk mengagumi apa yang akan membunuhnya.
Pisau, tombak, pedang, kapak, trisula—delapan belas senjata kuno menyerbu dari segala arah dengan aura penghancur yang tidak peduli seberapa cepat Artefak Jubah Cepat bisa membawa tubuhnya bergerak.
Jing Wufeng berusaha kabur. Kakinya sudah bergerak bahkan sebelum otaknya selesai memproses bahaya.
Tidak cukup.
Debu halus mengendap ke lantai untuk kedua kalinya dalam beberapa hari terakhir. Sepotong tulang dan jubah yang kini tanpa pemilik melayang jatuh pelan, mendarat di samping Artefak Penggoncang Langit yang terguling dari anak tangga.
Dari balik pilar beranda, Wangcai mengangkat kepalanya. Matanya yang kuning keemasan menatap ke dalam ruangan dengan ekspresi yang—jika seekor anjing bisa berekspresi—bisa dibaca sebagai kombinasi antara takjub dan ngeri yang sangat mendalam.
Ia menelan ludah.
Lalu ia kembali merebahkan dagunya di atas cakarnya, memutuskan bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan malam ini adalah berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Di ruang jamuan Kamar Dagang Baofeng, Lin Qian mengangkat cawan tehnya dengan ekspresi seseorang yang sedang menikmati hari terbaik dalam hidupnya.
Dan memang begitulah adanya.
Makanannya lezat. Tehnya harum. Dan Presiden Yin Xiong baru saja menyerahkan tambahan seratus ribu koin emas sebagai tanda penghargaan atas kontribusi karya-karyanya—jumlah yang disampaikan dengan nada hati-hati seperti seorang murid menyerahkan persembahan kepada guru besar.
Namun di tengah suasana yang menyenangkan itu, Presiden Yin Xiong memberanikan diri mengangkat satu hal. "Senior Lin... belakangan ini banyak pihak yang diam-diam mencari informasi tentang identitas dan alamat senior. Kami tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut."
Sebelum Lin Qian sempat menjawab, Mei Lian sudah meletakkan cawannya dengan bunyi yang terukur.
"Dengarkan baik-baik." Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan diam seketika. "Senior Lin menulis buku hanya untuk kesenangan dan ketenangan hidupnya sendiri—bukan untuk ketenaran, bukan untuk dikenal, bukan untuk didatangi. Tidak ada satu pun informasi tentang beliau yang boleh bocor keluar dari tempat ini. Jika ada yang berani mengganggu kedamaian nya..." Ia menatap Presiden Yin Xiong langsung ke mata. "...konsekuensinya tidak akan bisa dimaafkan oleh siapa pun."
Presiden Yin Xiong mengangguk cepat, wajahnya memutih. Dalam hatinya ia bersyukur—sungguh-sungguh bersyukur—bahwa sejak pertama kali bertemu Lin Qian, ia selalu memilih untuk bersikap hormat.
Setelah jamuan selesai, Lin Qian berjalan pulang dengan santai, tangan di belakang punggung, Han Yu mengikuti dua langkah di belakangnya. Langit malam Kota Yunzhou dipenuhi bintang, angin bertiup sejuk, dan isi kantongnya lebih berat dari sebelumnya.
Baginya, ini hanyalah hari biasa yang kebetulan berjalan sangat menyenangkan.
Ia tidak tahu bahwa di rumahnya baru saja terjadi pembantaian kedua.
Dan ia tidak perlu tahu.