NovelToon NovelToon
Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: premier MT

Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Belajar Kultivasi — Tapi Hanya Tahu Cara "Menyedot"

Setelah melihat cara Mu Chen memanfaatkan energinya dengan cara yang unik namun tetap tepat, para tetua sepakat bahwa meski jalannya berbeda, ia tetap berpotensi besar. Maka, Tetua Qingyun menawarkan untuk mengajarkannya dasar-dasar kultivasi secara benar.

"Mu Chen, meski tubuhmu istimewa, memahami prinsip-prinsip energi akan sangat berguna bagimu. Mari aku ajari cara merasakan, menarik, dan mengumpulkan energi langit dan bumi dengan teratur," kata Tetua Qingyun suatu pagi di halaman belakang.

Mu Chen mengangguk antusias:

"Baiklah Tetua! Saya siap belajar! Kalau bisa mengumpulkan energi lebih banyak, nanti saya bisa membuat air dingin lebih cepat dan memanaskan panci lebih merata!"

Tetua Qingyun hampir tersedak ludahnya. "Ehm... ya, tentu saja bisa juga dipakai untuk hal itu. Sekarang perhatikan baik-baik."

 

Cara "Biasa" vs Cara Mu Chen

Tetua Qingyun duduk bersila dengan tenang, lalu menjelaskan pelan:

"Dasar kultivasi adalah menarik energi secara perlahan dan teratur, menyaringnya agar tidak kotor, lalu memasukkannya ke dalam Dantian dengan lembut. Jangan menarik terlalu cepat, nanti energi menjadi liar dan sulit dikendalikan."

Ia mendemonstrasikannya — perlahan, cahaya-cahaya kecil berwarna-warni bergerak dari pepohonan dan udara menuju dirinya dengan tenang.

"Paham? Sekarang cobalah kau lakukan hal yang sama."

Mu Chen mengangguk semangat. Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mencoba mengingat apa yang dijelaskan.

"Baiklah... tarik energi... perlahan... seperti minum air pakai sedotan..." gumamnya dalam hati.

Namun, lupa bahwa "sedotan" miliknya berukuran raksasa!

Begitu ia berkonsentrasi sedikit saja — seluruh udara di sekitarnya seolah berputar!

Semua energi di area radius sepuluh meter bergerak dengan cepat — bukan perlahan seperti yang diajarkan, tapi tersedot masuk dengan deras seolah ada pusaran raksasa!

"Wah... ternyata rasanya seperti menyedot minuman yang enak! Mudah sekali!" pikirnya tanpa sadar.

 

Di sekelilingnya:

- Daun-daun di pohon tiba-tiba layu dan berubah warna menjadi kuning kering — semua energi kehidupan di dalamnya tersedot habis

- Tanaman bunga yang indah langsung menjadi layu seketika

- Batu-batu kecil di tanah menjadi pucat dan rapuh — bahkan energi alam yang ada di dalamnya pun tidak luput

- Udara di sekitar terasa menjadi agak "kosong" dan tipis

Yang paling parah: energi terus mengalir masuk semakin cepat seiring ia merasa "senang" karena berhasil!

Tetua Qingyun yang awalnya tersenyum perlahan berubah ekspresinya — dari tenang → bingung → kaget → lalu matanya melotot lebar-lebar sampai hampir keluar dari tempatnya!

"T-tunggu! Mu Chen! Berhenti tarik perlahan saja! Jangan terlalu cepat!" serunya sambil melangkah mundur.

Namun Mu Chen tidak sadar. Ia masih duduk dengan wajah tenang, bahkan terlihat nyaman:

"Tetua, ini enak sekali! Rasanya segar di dalam tubuh! Apakah saya sudah melakukannya dengan benar?"

Belum selesai bicara — pusaran energi itu semakin meluas!

Sekarang pohon-pohon besar di jarak dua puluh meter ikut bergetar, burung-burung yang terbang di atasnya berputar-putar bingung karena energinya ikut tertarik sedikit, bahkan udara mulai berhembus kencang menuju arahnya.

Para tetua lain yang merasakan gejolak itu segera terbang datang — Tetua Agung Mo Feng, Tetua Chang, dan yang lain berdiri di kejauhan dengan wajah pucat campur takjub dan ngeri!

"Ini... ini bukan menarik energi! Ini menyedot habis semua yang ada di sekitarnya!" gumam Tetua Chang dengan suara gemetar.

"Dalam catatan kuno saja tidak ada yang bisa menyerap energi secepat ini! Dia tidak menarik, dia seperti lubang hitam kecil!" tambah Tetua Agung Mo Feng.

Mereka melihat sekeliling — area di mana Mu Chen duduk kini terlihat aneh: semua tanaman layu, batu-batu menjadi pucat, dan tidak ada sedikit pun energi tersisa di sana.

 

Setelah sekitar sepuluh menit, Mu Chen akhirnya membuka matanya — merasa segar dan penuh tenaga. Ia menepuk tangannya dengan puas:

"Wah, ternyata belajar kultivasi mudah sekali! Rasanya seperti minum es teh manis setelah berjalan jauh! Terima kasih Tetua, saya sudah paham caranya!"

Ia menoleh dan melihat semua orang berdiri agak jauh dengan wajah yang aneh, lalu menatap sekelilingnya — dan tertegun melihat pemandangan di sekitarnya.

"Lho? Kenapa tanamannya layu semua? Apakah tadi ada hama yang datang? Atau udaranya terlalu panas?" tanyanya polos.

Semua tetua saling pandang, lalu menghela napas panjang serentak — rasanya ingin tertawa tapi juga tidak bisa karena takjub dengan keanehan tubuhnya.

Tetua Qingyun menepuk dadanya yang berdebar, lalu menjelaskan dengan sabar:

"Mu Chen... maksudku menarik energi sedikit saja, perlahan-lahan — bukan menyedot habis seluruh isi lingkungan seolah tidak akan ada lagi besok!"

Mu Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal:

"Hah? Tapi kan energinya melimpah di mana-mana? Saya kira makin banyak makin bagus... Oh, jadi ini seperti minum pakai sedotan yang terlalu besar — kalau terlalu kuat, malah bisa menyedot isi gelasnya habis sekaligus, ya?"

Semua tetua hampir jatuh terduduk mendengar perumpamaannya yang sederhana tapi tepat sekali.

"Persis seperti itu! Tubuhmu itu seperti memiliki saluran yang sangat lebar. Apa yang dianggap 'perlahan' oleh orang lain, bagimu itu sudah seperti pusaran badai!" jelas Tetua Agung.

"Jadi saya harus berusaha menutup salurannya sedikit ya? Seperti menekan mulut sedotan agar alirannya menjadi pelan?" tanya Mu Chen dengan wajah serius.

"Tepat sekali! Kau harus belajar menahan diri — bukan menarik, tapi hanya membiarkan energi masuk sedikit saja sesuka hati, bukan disedot dengan paksa!"

Mu Chen mengangguk paham, lalu tersenyum lebar:

"Baiklah! Kalau begitu saya latihan menahan diri! Nanti kalau sudah bisa mengatur, saya tidak akan membuat tanaman layu lagi. Lagipula kalau tanamannya layu, tidak ada bahan untuk masak nanti kan?"

Para tetua hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka baru menyadari — mengajari kultivasi pada pemuda ini akan menjadi tantangan yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan. Bukan soal tidak bisa, tapi karena kemampuan "menyedotnya" yang terlalu kuat sampai membuat seluruh lingkungan ketakutan 😂

 

Di hari-hari berikutnya, halaman belakang asrama selalu menjadi tempat "percobaan". Kadang masih ada tanaman yang layu, kadang batu yang menjadi rapuh — tapi perlahan-lahan Mu Chen mulai belajar mengatur "kecepatan sedotan"-nya, meski sesekali masih lupa dan membuat semua tetua melompat kaget!

1
premier MT
mantap
Riekcy Rachmat
lanjut trus🙏
Riekcy Rachmat
menarik sekali, semoga updatenya banyak nnti
Riekcy Rachmat
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!