"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Harga Sebuah Penyelamatan
BAB 2: Harga Sebuah Penyelamatan
Pintu mobil sedan mewah itu tertutup dengan suara debuman yang solid, seketika meredam suara gemuruh hujan badai di luar sana. Di dalam kabin mobil, suasananya berbanding terbalik; begitu senyap, hangat, dan dipenuhi oleh aroma maskulin khas Adrian yang memabukkan. Namun bagi Kiara, atmosfer di dalam mobil ini justru terasa jauh lebih menjebak daripada gang buntu tempat ia dikepung preman tadi.
Kiara duduk meringkuk di jok penumpang depan yang terbuat dari kulit premium. Tubuhnya masih gemetar, bukan lagi hanya karena hawa dingin dari pakaiannya yang basah kuyup, melainkan karena presensi pria di sebelahnya.
Adrian masuk ke kursi kemudi. Pria itu tidak langsung menyalakan mesin untuk melaju. Dia memutar tubuhnya menghadap Kiara, menyandarkan satu sikunya di atas setir mobil, lalu menatap gadis di sampingnya dengan pandangan menguliti dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Di bawah pendar lampu kabin mobil yang remaram kekuningan, kaus putih Kiara yang melekat ketat mengekspos segalanya. Adrian bisa melihat dengan jelas bagaimana dada Kiara naik turun dengan cepat karena napasnya yang belum teratur.
"K-Pak Adrian... terima kasih sudah menolong saya," cicit Kiara memecah keheningan, matanya menatap ke bawah, tidak berani membalas tatapan sang profesor.
Tanpa suara, Adrian meraih sebuah handuk kecil berwarna putih bersih dari laci dasbor. Alih-alih menyerahkannya pada Kiara, Adrian justru memajukan tubuhnya. Tangan kanannya yang besar menangkup tengkuk Kiara, sementara tangan kirinya yang memegang handuk mulai mengeringkan rambut Kiara yang basah dengan gerakan yang perlahan namun penuh penekanan.
Sentuhan itu begitu mendadak dan teramat intim untuk ukuran seorang dosen dan mahasiswi.
"Pak, biar saya sendiri—"
"Diam, Kiara. Jangan membantahku," potong Adrian dengan suara baritonnya yang berat dan rendah, menggetarkan indra pendengaran Kiara.
Jari-jari panjang Adrian sengaja menyusup di antara helai rambut Kiara yang basah, sesekali kulit jarinya yang hangat bergesekan sengaja dengan tengkuk dan daun telinga Kiara. Sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik aneh yang membuat perut Kiara mendadak mulas oleh sensasi gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuh Kiara menegang kaku, wajahnya memanas hebat.
Wajah Adrian kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Kiara. Napas hangatnya yang beraroma mint menyapu permukaan bibir Kiara yang sedikit terbuka. Mata elang Adrian turun, menatap lekat-lekat bibir ranum Kiara yang gemetar, seolah tergoda untuk langsung melumatnya di sana.
"Kamu sangat berantakan malam ini, Kiara. Dan jujur saja... melihatmu basah seperti ini di dalam mobilku, benar-benar menguji kesabaranku," bisik Adrian dengan nada tengil yang sangat seksi.
Kiara menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya.
Adrian akhirnya menjauhkan tangannya, namun atmosfer panas di antara mereka tidak berkurang sedikit pun. Pria itu meraih sebuah map kulit hitam dari kursi belakang dan melemparkannya dengan santai ke pangkuan Kiara.
"Buka dan baca. Itu harga yang harus kamu bayar untuk tiga ratus lima puluh juta yang baru saja kukeluarkan," perintah Adrian dingin, kembali ke mode dosennya yang otoriter.
Dengan tangan gemetar, Kiara membuka map tersebut. Di lembar pertama, tertulis judul dengan huruf tebal yang membuat matanya terbelalak: SURAT PERJANJIAN KONTRAK PERNIKAHAN RAHASIA.
"P-Pernikahan kontrak? Rahasia?" Kiara menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. "Pak, saya ini mahasiswamu! Dan Bapak... Bapak dosen saya!"
Adrian terkekeh pelan—sebuah kekehan sinis yang terdengar sangat tampan sekaligus berbahaya. Dia memajukan wajahnya lagi, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Justru karena kamu mahasiswaku, Kiara. Keluargaku sedang menuntutku untuk segera menikah dengan wanita pilihan mereka demi bisnis. Aku butuh tameng, dan kamu... butuh uang untuk menyelamatkan nyawamu dari para rentenir itu," ujar Adrian, jemarinya kini beralih menyusuri rahang tegas Kiara, mengusap bibir bawah Kiara dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Kontrak ini berlangsung selama satu tahun. Selama satu tahun itu, kamu akan tinggal di apartemenku, menjadi asisten pribadiku di rumah, dan memenuhi seluruh kewajibanmu sebagai seorang istri. Tidak ada yang boleh tahu tentang hubungan ini di kampus. Di luar, kita asing. Di dalam rumah... kamu adalah milikku sepenuhnya," lanjut Adrian, menekan kata 'milikku' dengan penuh penekanan posesif.
Kiara menggelengkan kepala, mencoba menarik wajahnya mundur, namun cengkeraman tangan Adrian di rahangnya mengunci gerakannya. "Ini gila, Pak. Menjadi istri... berarti saya harus... harus..." Kiara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, wajahnya merona merah padam.
Adrian tersenyum tengil, matanya berkilat nakal menatap ekspresi malu-malu Kiara. Dia menundukkan kepala, mengecup perlahan sudut bibir Kiara, lalu turun memberikan gigitan kecil yang sensual di leher jenjang Kiara, membuat gadis itu memekik pelan dan mendesah tanpa sadar.
"Ahhh... Pak Adrian..."
"Ya, Kiara. Termasuk melayaniku di ranjang kapan pun aku menginginkannya," bisik Adrian tepat di depan bibir Kiara, membuat napas Kiara makin memburu. "Tanda tangani sekarang dengan pulpen ini, atau aku bisa memanggil kembali dua preman tadi untuk membawamu."
Kiara menatap pulpen emas yang disodorkan Adrian. Tubuhnya masih bergetar hebat karena sisa desahan yang tertahan. Menghadapi pesona dan dominasi mutlak sang profesor, Kiara tahu, sejak malam ini, ia telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap paling nikmat sekaligus berbahaya dalam hidupnya.
Dengan tangan yang gemetar, Kiara menyambut pulpen itu dan menorehkan tanda tangannya di atas kertas kontrak gelap tersebut.