Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Eksekusi Senyap di Koridor VIP
"Tiga orang," bisik Lin Yu Yan.
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Keringat dingin mulai merembes perlahan dari pelipis kirinya.
"Arah jam dua belas, arah jam enam, dan..." Napas wanita itu sempat tersendat di pangkal lehernya. "...satu lagi persis di atas kita."
Wan Chen menghela napas tipis menanggapi laporan itu.
"Kau bisa melacak titik buta mereka?" tanya Wan Chen pelan.
Wanita itu mengangguk. "Skill Enchanted-Survival Sense milikku mengunci pola napas mereka. Tapi ruang gerak kita tertutup rapat."
"Bagus. Beri tahu aku posisi pastinya saat kita melangkah keluar dari bilik ini."
"Kita tidak lari memutar lewat rute evakuasi?" tanyanya bimbang.
"Rute evakuasi pasti sudah dipasangi bom jebakan atau ditunggu oleh lintah bayaran lainnya. Kita tembus jalan depan."
Langkah kaki mereka menggema pelan mengisi kekosongan udara. Sepatu kulit Wan Chen beradu ritmis dengan karpet tebal koridor.
"Tiga langkah lagi," desis Lin Yu Yan di balik punggungnya. Jari-jari wanita itu meremas ketat lengan jas Wan Chen. "Di atas panel ventilasi yang rusak."
Wan Chen tidak merespons. Ia sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Ia mengatur tempo berjalannya. Tepat. Presisi. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Terdengar bunyi engsel logam patah dari langit-langit tepat di atas ubun-ubun. Sesosok bayangan hitam meluncur jatuh menyergap seperti pemangsa kelaparan. Udara terbelah oleh sebilah pisau melengkung yang mengarah lurus ke tengkuk Wan Chen.
Ia tidak menghindar. Tidak menunduk sama sekali.
Sistem mental di kepalanya bereaksi instan. Retakan spasial tanpa warna terbuka lebar persis di lintasan jatuh bayangan tersebut.
Kaki sang pelacak tak sengaja menginjak ruang hampa dari Penyimpanan Dimensional. Posturnya langsung hancur berantakan di udara akibat distorsi keseimbangan absolut. Rasa terkejut bahkan belum sempat terbentuk di balik lensa kacamata taktisnya.
Dalam pecahan detik krusial itu, tangan kanan Wan Chen bergerak menyentak.
Sebilah Pisau Taktis Karbon bermanifestasi langsung dari dimensi penyimpanannya menuju genggaman padat. Pisau itu menusuk kasar masuk ke tenggorokan sang pelacak elit dari bawah rahang, menembus lurus ke atas hingga mengunci batang otaknya.
Tubuh penyergap itu tersentak kaku seketika.
Wan Chen menarik pisaunya dengan satu putaran pergelangan tangan yang efisien. Tidak ada suara teriakan yang bocor. Hanya bunyi decak basah saat darah segar tumpah membasahi karpet mahal lorong pelelangan.
Tubuh tak bernyawa itu ambruk membentur lantai tanpa daya tahan sedikit pun.
Sisa dua pelacak menyadari hilangnya detak jantung rekan mereka dari radar. Hawa ancaman di lorong remang itu melonjak drastis layaknya air mendidih.
Terdengar dua letupan udara teredam dari dua sudut koridor yang saling berseberangan. Para pelacak menggunakan senapan laras pendek dengan peredam kelas militer. Peluru melesat menyobek cahaya lampu redup.
"Kiri dan kanan depan!" teriak Lin Yu Yan refleks, kelopak matanya terbuka lebar menangkap dua sumber panas yang mendekat tajam.
Wan Chen mendengus bosan. Otaknya memproses geometri proyektil itu jauh melampaui batas kecepatan refleks manusia.
Tiga belah Pisau Taktis Karbon tiruan tercipta seketika dari ketiadaan absolut, mengambang sebentar mengitari telapak tangannya bagai logam penurut.
Ia mengayunkan lengannya ke dua arah berlawanan dalam satu tarikan napas beruntun.
Pisau-pisau itu melesat memotong keheningan seperti misil kendali berukuran mikro.
Satu pisau karbon menembus paksa plat dada pelacak di sebelah kiri. Suara tulang rusuk berderak patah terdengar nyaring. Jantungnya terkoyak seketika tanpa ampun. Pria berbaju zirah itu tersungkur menabrak dinding kayu hias hingga hancur berantakan.
Dua pisau karbon lainnya bersarang dengan presisi mematikan di tempurung kepala pelacak sebelah kanan. Helm kevlar taktis miliknya bolong seketika. Tubuhnya merosot perlahan meninggalkan jejak noda merah memanjang di dinding bata koridor.
Pertarungan berdarah ini tuntas kurang dari sepuluh detik.
"Area sudah aman?" tanya Wan Chen datar. Ia mengibaskan cipratan kental di bilah pisaunya sebelum menenggelamkannya kembali ke dalam ruang inventori.
"Bersih. Tidak ada sisa sinyal detak jantung asing."
Wan Chen mengangguk singkat. Ia berjalan pelan menghampiri gundukan mayat terdekat. Insting menimbun material pasca-kiamatnya kembali mendominasi logika. Di dunia yang hancur ini, menolak jarahan adalah dosa tak terampuni.
Ia berjongkok tenang di dekat tubuh pelacak berhelm bolong. Tangannya merogoh cekatan saku rompi taktis si mayat. Sebuah perangkat komunikasi terenkripsi tingkat tinggi, dua tabung serum penawar racun, dan tumpukan keping kredit berhasil ditarik keluar.
Semua barang itu langsung lenyap tersedot masuk ke distorsi Penyimpanan Dimensional. Ia melakukan ritual pelucutan yang sama persis pada dua mayat lainnya. Merampas laras peredam suara, sabuk amunisi cadangan, dan pisau lipat mereka dengan ketelitian tinggi.
'Bahan mentah yang sangat layak untuk dimanfaatkan,' pikirnya singkat.
Mereka meninggalkan area koridor itu tanpa menoleh lagi.
Pintu keluar balai lelang utama di lantai bawah terlewati tanpa banyak hambatan. Sisa faksi yang gagal lelang tampak masih adu mulut di lobi depan, sibuk mencari kambing hitam atas kebangkrutan ego mereka.
Angin malam menyapu keras wajah mereka berdua. Membawa serta aroma menyengat knalpot kendaraan dan pelumas besi dari jalanan raya Zona Aman Elit.
Wan Chen dan Lin Yu Yan membaur mulus ke dalam kepadatan lautan manusia. Mereka menyusuri blok pasar malam tanpa saling bicara sepatah kata pun.
Tiga puluh menit berjalan kaki memutar mengaburkan jejak, mereka akhirnya memasuki lobi gedung apartemen beton perlindungan tingkat tinggi.
Begitu pintu keamanan berbahan baja paduan itu mengunci mati di belakang punggung mereka, barulah ketegangan otot Lin Yu Yan mengendur drastis. Wanita itu terhuyung pelan menjatuhkan dirinya ke sofa beludru merah di tengah suite mewahnya.
Wan Chen berdiri santai mencopot sisa simpul dasinya. Ia melempar jas luarnya sembarangan ke sandaran kursi.
Ia merebahkan tubuh lelahnya ke sofa panjang yang berhadapan langsung dengan meja kaca.
Sebuah benda tertarik paksa menembus realita. Silinder yang ia beli sebelumnya keluar dari sana.
Cetak biru usang peninggalan pra-kiamat yang ia borong paksa dengan harga uang makan.
Wan Chen menyandarkan silinder kotor itu ke paha kirinya. Jari tangannya menyentuh hati-hati ujung logam yang terkelupas tajam.
Matanya berangsur menyipit tajam.
Wan Chen menghembuskan napas pelan merespons keheningan ruangan.