Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Besi Berkilau & Senjata Mematikan
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah-celah jendela tinggi, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Udara di ruangan ini berbeda, lebih kering, lebih dingin, dan tercium bau khas logam, minyak pelumas, dan bubuk mesiu—bau yang kelak akan melekat di ingatan mereka selamanya.
Mereka berdua belas—termasuk enam orang yang kemarin sempat dihukum dan baru kembali pagi ini dengan wajah pucat dan mata cekung—berdiri berbaris rapi di dalam gudang senjata utama markas. Ruangan itu luas sekali, dinding-dindingnya tertutup rak-rak besi yang menjulang dari lantai sampai langit-langit. Dan di setiap rak itu, tersusun rapi ribuan jenis senjata api, pisau, bahan peledak, dan perlengkapan tempur yang berkilauan di bawah cahaya lampu.
Mata mereka terbelalak tak percaya. Di sini ada segala sesuatu yang pernah mereka dengar, bahkan yang belum pernah mereka bayangkan ada di dunia nyata. Mulai dari pistol kecil yang muat di telapak tangan, senapan serbu raksasa, senapan runduk jarak jauh yang larasnya panjangnya dua meter, sampai kotak-kotak berisi peluru berbagai ukuran dan warna yang ditumpuk setinggi orang dewasa.
Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap, tangannya penuh bekas luka bakar dan goresan, matanya berbinar penuh gairah saat menatap tumpukan besi mematikan itu. Ia adalah Kapten Dimas—bukan Dimas yang mati di hutan, melainkan ahli persenjataan Garuda Security, orang yang dianggap "dewa" oleh semua prajurit di sini karena pengetahuannya yang tak terbatas tentang senjata apa pun yang ada di muka bumi.
"Selamat pagi, calon-calon pembunuh bayaran!" suaranya parau namun bergema di seluruh ruangan. "Selamat datang di surga kalian... atau neraka kalian. Di ruangan inilah terletak kekuatan sesungguhnya. Di sini, selemah apa pun fisik kalian, seceroboh apa pun otak kalian... besi-besi dingin ini bisa mengubah kalian menjadi dewa kematian yang bisa membunuh ribuan orang tanpa harus menyentuh mereka."
Kapten Dimas berjalan perlahan menyusuri rak-rak senjata, tangannya mengusap laras senapan seolah sedang membelai anak kesayangannya.
"Kalian sudah belajar bertahan hidup dengan tangan kosong, dengan pisau, dengan akal. Itu bagus. Itu dasar. Tapi di dunia modern, perang tidak lagi hanya soal kekuatan otot. Perang adalah tentang seberapa jauh jangkauanmu, seberapa cepat kau bisa melumpuhkan musuh, dan seberapa besar kerusakan yang bisa kau timbulkan dalam waktu sesingkat mungkin."
Ia berhenti di depan sebuah rak besar, lalu berbalik menghadap mereka.
"Mulai hari ini, selama dua minggu ke depan, kalian akan hidup, tidur, makan, dan bernapas bersama benda-benda ini. Kalian akan belajar mengenal setiap bagiannya, cara membongkar pasangnya dalam hitungan detik, cara merawatnya, cara memperbaikinya, dan yang paling penting... cara menggunakannya untuk membunuh sasaran dengan akurasi seratus persen, baik siang, malam, hujan, badai, saat kalian ketakutan, saat kalian terluka, atau saat kalian sedang berlari sekencang-kencangnya."
Ia menunjuk ke arah deretan senapan serbu berwarna hitam pekat dan kelabu yang tergantung rapi.
"Ini adalah senjata utama kalian: M4A1 Khusus Garuda. Modifikasi kami sendiri. Lebih ringan, lebih kuat, jarak tembak lebih jauh, dan lebih akurat dibanding senjata standar militer mana pun di dunia. Senjata ini akan menjadi tangan kanan kalian. Senjata ini adalah nyawa kalian. Ingat satu aturan emas yang tidak boleh dilupakan sampai mati: Senjata tidak pernah salah. Yang salah hanyalah orang yang memegangnya. Senjata tidak membunuh dengan sendirinya. Kalianlah yang memutuskan kapan peluru itu terbang dan nyawa melayang."
Latihan pun dimulai. Dan lagi-lagi, Raka dan kawan-kawan menyadari bahwa apa yang mereka bayangkan jauh lebih mudah dibandingkan kenyataan.
Hari-hari pertama dihabiskan hanya untuk menghafal nama bagian-bagian senjata, cara membongkar, membersihkan, melumasi, dan merakitnya kembali dengan mata tertutup. Mereka harus bisa melakukannya dalam waktu kurang dari satu menit. Kapten Dimas tidak mentoleransi kesalahan sedikit pun. Satu baut tertinggal, satu pegas terbalik, satu goresan kecil pada logam... hukuman berat menanti.
"Kalian pikir ini mainan?!" teriak Kapten Dimas sambil melempar kain kotor ke arah salah satu murid yang merakit senjata dengan asal-asalan. "Kalau kalian salah pasang satu bagian saja saat bertempur nanti, senjata itu akan meledak di tangan kalian sendiri! Kalian akan mati karena kebodohan kalian sendiri! Dan lebih buruk lagi... kalian akan membunuh kawan kalian yang ada di sebelah kalian karena senjata kalian macet saat dibutuhkan!"
Raka mengerjakan semuanya dengan tenang, teliti, dan sangat cepat. Ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya setiap kali tangannya menyentuh besi dingin itu. Ia merasa ada koneksi, ada rasa akrab yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah sejak lahir ia sudah tahu cara memegang, cara mengangkat, dan cara mengarahkan benda itu.
Bara yang bekerja di sebelahnya menyadari hal itu. Saat jam istirahat, ia mendekati Raka sambil mengelap pelaranya dengan kain.
"Kau punya bakat aneh, Raka," bisik Bara pelan. "Lihat yang lain? Mereka kesulitan sekali mengimbangi berat senjata ini. Tangan mereka gemetar saat mengangkatnya. Tapi kau... kau mengangkatnya seolah itu sebatang kayu. Dan saat kau mengarahkan pandanganmu ke sasaran... matamu berubah. Kau tidak terlihat seperti orang yang takut membunuh. Kau terlihat seperti orang yang sudah melakukan ini ribuan kali."
Raka terdiam sejenak, menatap pantulan dirinya di permukaan logam senjata itu. Ia sendiri bingung. Ia tidak pernah memegang senjata api sebelumnya dalam hidupnya. Tapi setiap kali ia memegangnya, ada rasa tenang yang aneh, rasa percaya diri yang meluap.
"Aku tidak tahu, Bara," jawab Raka jujur. "Tapi rasanya... rasanya seperti ini adalah bagian dari diriku. Seperti ada memori yang hilang di kepalaku yang tiba-tiba muncul kembali saat aku memegang besi ini."
Hari-hari berlalu dan masuk ke tahap berikutnya: Latihan Menembak.
Mereka dibawa ke lapangan tembak raksasa di balik bukit markas, tempat yang tertutup dinding tanah tinggi dan atap terbuka. Di sana, ratusan sasaran berupa papan bergambar manusia, papan bergerak, dan sasaran yang muncul tiba-tiba tersebar dari jarak sepuluh meter sampai lima ratus meter jauhnya.
Suara letusan tembakan bergemuruh tiada henti, berdentang di telinga sampai rasanya mau pecah. Asap bubuk mesiu mengepul memenuhi udara, menciptakan suasana yang tebal dan panas.
Di sini, perbedaan kemampuan mulai terlihat jelas. Ada yang jari-jarinya kaku, menembak dengan mata terpejam karena takut suara ledakan. Ada yang bidikannya meleset jauh sampai ke dinding tanah samping. Ada yang bahunya memar dan berdarah karena hentakan senjata yang tidak siap diterima tubuhnya.
Tapi tidak dengan Raka.
Saat gilirannya tiba, Raka berdiri tegak, kakinya terbuka kokoh menapak tanah. Ia mengangkat senapan itu, memeluk gagangnya dengan tangan kiri, tangan kanannya menekan pegangan pemicu dengan lembut namun pasti. Pipi kanannya menempel pada stok senapan, matanya kiri tertutup, mata kanannya menatap tajam lewat lubang bidik besi.
Dunia di sekelilingnya seolah menghilang. Suara tembakan orang lain, teriakan instruktur, angin, debu... semuanya lenyap. Yang tersisa hanyalah ia, senjatanya, dan titik kecil di dada sasaran berjarak seratus meter di depan sana.
DENT! DENT! DENT!
Tiga kali tembakan lepas beruntun, cepat dan berirama.
Kapten Dimas yang berdiri di belakangnya dengan stopwatch di tangan tersentak kaget. Ia langsung berlari ke arah petugas yang memeriksa sasaran di ujung sana. Beberapa detik kemudian, petugas itu berteriak kaget sambil menunjuk ke arah sasaran papan itu.
"Kena sempurna, Pak! Tiga lubang menembus tepat di titik yang sama! Tidak ada penyimpangan satu milimeter pun!"
Keheningan menyelimuti lapangan tembak. Semua mata tertuju pada Raka.
Kapten Dimas kembali ke posisi Raka, matanya membelalak tak percaya. Ia menatap Raka dari atas ke bawah, lalu meraih senapan dari tangan Raka, memeriksanya seolah ada keajaiban di sana.
"Kau... kau pernah jadi penembak jitu sebelumnya di mana?!" tanya Kapten Dimas tajam, curiga. "Tidak mungkin orang awam bisa menembak seakurat ini pada hari pertama pegang senjata!"
Raka menggeleng tenang. "Tidak pernah, Pak. Ini pertama kali saya memegang senjata api seumur hidup saya."
Kapten Dimas diam, menatap lekat-lekat mata Raka, mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi yang ia lihat hanyalah ketulusan dan kebingungan yang sama besarnya dengan rasa kagumnya.
"Bakat alami..." gumam Kapten Dimas pelan, mundur selangkah. "Ini bukan sekadar latihan. Ini adalah bakat bawaan. Matamu punya kedalaman, tanganmu punya kestabilan, dan nalurimu mengerti gerakan peluru sebelum peluru itu bergerak. Kau bukan sekadar prajurit, anak muda... kau adalah senjata buatan alam."
Berita tentang kehebatan Raka menyebar cepat ke telinga para atasan. Komandan Hendra, Letnan Kolonel Arga, dan Mayor Seno datang sendiri ke lapangan tembak sore itu untuk melihat langsung fenomena ini.
Mereka memindahkan sasaran ke jarak dua ratus meter, lalu tiga ratus meter, sampai akhirnya lima ratus meter. Mereka meminta Raka menembak sambil berjalan, sambil berlari, sambil berguling, bahkan saat kakinya diikat dengan beban berat.
Dan hasilnya tetap sama. Sempurna. Tidak ada satu pun peluru yang meleset. Setiap kali Raka menarik pelatuknya, kematian pasti menyambar sasaran itu.
"Lihat itu..." gumam Mayor Seno pelan, matanya berkilau penuh minat dan perhitungan. "Dia tidak hanya kuat secara fisik dan mental. Dia punya bakat tempur yang langka. Bakat yang hanya muncul satu kali dalam puluhan tahun. Dia punya insting perang yang ada di dalam darahnya."
Letnan Kolonel Arga yang biasanya selalu marah dan merendahkan, kini mengangguk pelan, wajahnya serius.
"Kalau dia dididik dengan benar... kalau dia diajari menggunakan senapan runduk jarak jauh... dia bisa menjadi penembak jitu terbaik yang pernah dimiliki Garuda Security. Satu orang seperti dia bisa mengalahkan satu kompi tentara biasa sendirian."
Namun, di tengah kekaguman itu, ada pandangan lain yang mengarah ke Raka. Pandangan iri, cemburu, dan rasa tidak suka.
Di antara kedua belas orang itu, ada dua pemuda bernama Reza dan Dedi. Mereka berdua dulunya adalah atlet menembak nasional sebelum masuk ke sini. Mereka merasa dirinya paling hebat, paling ahli, dan paling pantas menjadi unggulan. Tapi sejak kemunculan Raka, semua perhatian para atasan teralihkan. Semua pujian tertuju pada Raka.
Saat latihan selesai dan mereka berjalan kembali ke asrama, Reza dan Dedi sengaja berjalan beriringan di samping Raka, memotong jalan langkahnya. Wajah mereka masam, mata mereka menatap tajam penuh tantangan.
"Enak sekali ya jadi kamu, Raka," ucap Reza sinis, suaranya rendah namun cukup terdengar oleh Raka dan Bara yang berjalan di sampingnya. "Datang dari desa, tidak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba jadi bintang kesayangan semua atasan. Beruntung sekali kamu punya tangan yang stabil ya."
Dedi tertawa mengejek. "Benar. Tapi ingat satu hal, 'anak ajaib'. Di sini, bakat saja tidak cukup. Di sini, persaingan sangat ketat. Semakin tinggi kau terbang, semakin keras jatuhmu nanti. Dan hati-hati... peluru tidak hanya datang dari arah musuh di medan perang. Kadang peluru datang dari arah kawan yang iri melihat kehebatanmu."
Bara langsung maju selangkah, dada membusung menantang, tangannya mengepal erat siap bertindak.
"Kalian mau mengancam kawan sendiri di belakang punggung? Itu tindakan pengecut!" hardik Bara dingin.
Reza dan Dedi tersenyum miring, lalu mundur perlahan sambil mengangkat kedua tangan mereka seolah tidak bersalah.
"Kami cuma mengingatkan, kawan. Kami cuma ingin dia tahu tempatnya. Jangan sampai dia pikir dia sudah jadi pemimpin hanya karena dia bisa menembak papan kayu."
Mereka berdua berlalu pergi dengan tawa kecil yang penuh makna jahat.
Rio yang berjalan di belakang menghela napas panjang.
"Masalah baru lagi, Raka. Kau terlalu menonjol. Kau terlalu cepat naik. Banyak mata yang tidak suka melihatmu bersinar. Dan Reza dan Dedi itu... mereka punya banyak pengikut. Mereka sedang menyusun kekuatan, membentuk kelompok sendiri. Mereka ingin menguasai angkatan ini."
Raka menatap punggung kedua pemuda yang menjauh itu dengan pandangan tenang namun tajam. Ia tidak takut. Ancaman seperti ini sudah biasa ia hadapi sejak kecil di kampungnya, saat anak-anak orang kaya ingin menguasai segala sesuatu.
"Biarkan saja, Rio," jawab Raka pelan. "Biarkan mereka membenci, biarkan mereka mengancam, biarkan mereka menyusun rencana jahat. Selama kita tetap di jalan kita, selama kita tetap kuat, dan selama kita saling menjaga satu sama lain... mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kekuatan terbesar kita bukanlah senjata di tangan, bukan bakat menembak... tapi persatuan kita."
Malam itu, di ruang kantor lantai atas, Komandan Hendra meletakkan laporan hasil latihan Raka di atas meja besar di hadapan Jenderal Agus.
Jenderal Agus mengambil kertas itu, membacanya pelan-pelan, lalu mengangkat kacamata, menatap keluar jendela ke arah asrama yang gelap di kejauhan.
"Semakin banyak aku tahu tentang anak ini... semakin aku yakin," ucap Jenderal Agus pelan, suaranya berat dan penuh ingatan masa lalu. "Cara dia bergerak, cara dia memegang senjata, ketenangannya di bawah tekanan... persis seperti ayahnya."
Komandan Hendra terdiam kaget, matanya melebar. "Jadi benar dugaan saya, Jenderal? Raka Pratama adalah..."
Jenderal Agus mengangguk pelan, wajahnya berubah menjadi sedih namun tegas.
"Ya. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari Letnan Kolonel Dirgantara Pratama. Prajurit terhebat yang pernah dimiliki Garuda Security. Prajurit yang dikhianati, dituduh pemberontak, dan dibunuh oleh organisasi ini sendiri lima belas tahun yang lalu. Dan sekarang... anaknya kembali ke sini, dengan wajah yang sama, dengan bakat yang sama, dan dengan darah yang sama mengalir di tubuhnya."
Jenderal Agus menutup laporan itu perlahan, lalu menatap tajam ke arah Komandan Hendra.
"Dia datang ke sini karena dia butuh uang untuk ibunya yang sakit, tanpa tahu siapa ayahnya, tanpa tahu siapa dirinya, dan tanpa tahu bahwa dia sedang masuk ke sarang singa yang dulu memakan ayahnya sendiri. Dan sekarang... kita punya dua pilihan: Bunuh dia sebelum dia tahu kebenaran dan membalas dendam... atau latih dia menjadi pemimpin terbesar kita, dan sembunyikan kebenaran itu selamanya."
Komandan Hendra menelan ludah. Beban berat kini ada di pundaknya.
"Jenderal... apa keputusan Bapak?"
Jenderal Agus berdiri, berjalan ke arah jendela besar, menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit malam.
"Latih dia. Berikan dia semua ilmu, semua kekuatan, semua keahlian. Jadikan dia yang terhebat. Tapi jangan biarkan dia tahu siapa ayahnya, jangan biarkan dia tahu sejarah kelam ini. Sampai saatnya tiba... saat dia cukup kuat untuk memilih jalan nasibnya sendiri."
Jenderal Agus berbalik, matanya tajam dan dingin.
"Karena aku ingin tahu... apakah darah Dirgantara yang mengalir di tubuhnya akan membawa kehancuran bagi kita... atau justru menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar lagi yang sedang datang."
Raka tidur nyenyak di bawah sana, tidak tahu bahwa identitas aslinya sudah terungkap, tidak tahu bahwa nyawanya kini digantungkan pada keputusan satu orang tua yang penuh rahasia itu. Ia hanya bermimpi tentang ibunya, tentang pulang membawa uang banyak, dan menjadi orang yang berguna.
Namun, benih-benih takdir sudah tertanam. Dan badai besar sedang bersiap menyambar hidupnya.