Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran
Sundel Bolong tersentak kaget, saat suara panggilan dari Juminten di hutan segitiga.
"Eh, Kun. Ngegosipnya nanti di sambung lagi—ya. Aku mau nemui majikanku dulu."
Sundel Bolong itu langsung melesat pergi, sebelum sempat si Kuntilanak Putih menjawab
Ia menuju hutan segitiga, tempat dimana Juminten sedang melakukan ritual.
Mereka bertemu dalam wujud jiwa dialam lain, dan itu hanya bisa dilakukan setelah melalui proses yang sarankan oleh kuncen.
"Kamu kemana saja, si—Kun?! Di panggil kagak nyahut!" Juminten langsung mencecar makhluk yang memiliki rambut panjang, tetapi sangat berantakan, alias awutan-awutan, berbeda dengan kunti, yang mana rambutnya selalu lurus terawat.
Wajahnya cukup penuh amarah, sebab Sundel Bolong sangat lambat.
"Apa, sih? Hidupmu marah-marah mulu, buang-buang waktu, mending nya—"
"Diam! Kamu itu sudah salah gak usah banyak tingkah!" potong Juminten dengan cepat.
"Kamu gak tau apa?"
"Gak, kan situ belum ngomong!" sahut Sundel Bolong dengan cepat..
"Eh, Setan! Aku belum siap ngomong. Jangan dipotong kalau orang lagi bicara!"
Juminten menoyor kening Sundel Bolong, sebab, rasa kesal yang dialami Juminten sudah berada diubun-ubunnya saat menghadapi Sundel Bolong.
"Apaan, sih. Aku ini juga Setan yang punya waktu, buat aku menikmati kehidupan."
"Halah, Setan aja banyak tingkah!"
"Ya, sudah. Buruan. Apa yang mau dibicarakan? Aku lagi sibuk!"
Juminten menarik nafasnya yang terasa berat. Ia juga harus bertindak cepat, sebab—waktu yang dimilikinya tak banyak.
"Aku mau ubah daftar korban yang kemaren. Si Bayu di cancel saja," Juminten menjelaskan pertemuan mereka.
"Oh, jadi si Bayu di cancel, mau ditukar sama siapa? Bejo—suamimu yang pengangguran itu, dan diam-diam main gila sama si Gina yang kau anggap beatiemu itu?"
Sundel Bolong mencebikkan bibirnya, menunjuk ke arah Gina yang berada dibawah pohon dan sedang melakukan ritual yang sama.
Mendengar hal itu, Juminten naik darah. "Dasar sialan. Jadi bener, dia main Gila dengan Mas Bejo?"
Wajah Juminten memerah, dan ini adalah pengkhianatan yang sangat menyakitkan, apalagi Gina tampak sangat baik padanya.
"Kurang ajar sekali mereka. Aku akan membalasnya." Juminten mengepalkan jemari tangannya, rasa sakit dihatinya tak lagi dapat ditoleran.
"Buruan, ah! Lama banget! Aku lagi sibuk, nih." desak Sundel Bolong dengan wajah tak sabar sebab gosipnya barusan belum juga selesai.
"Aku tumbalkan saja si Gina!" jawaban itu meluncur begitu saja, dan ia sudah yakin dengan apa yang menjadi keputusannya.
Sundel Bolong manggut-manggut. "Jadi deal, nih? Si Gina yang di tumbalin?" tanya Sundel Bolong sekali lagi. Memastikan keputusan Juminten.
"Iya, aku udah yakin." jawab Juminten dengan mantap.
"Okelah, kalau begitu. Aku mau cabut dulu, ketemu sama si Kunti, mau gosip." Sundel Bolong berpamitan.
"Eh, Sun," cegah Juminten dengan cepat.
"Apalagi, sih?"
"Kau itu jin Ba'al atau jin Mas'ud (Jin yang mendorong orang suka ghibah)."
"Tergantung situasi. Kadang jin Ba'al, kadang jin Mas'ud, soalnya aku masih magang, dan akan di tetapkan sesuai prestasiku nanti bagaimana,"
"Ah, kenapa aku sial, dapat jin magang sepertimu. Pantas saja kerjanya gak becus," omel Juminten dengan kesal.
Sundel Bolong mengibaskan rambutnya yang gimbal. "Udah—kan? Gak ada yang mau dibicarakan lagi?" ia tak ingin menanggapi ucapan Juminten barusan.
Hal itu, kerena ia masih melanjutkan ghibahannya.
"Ya, sudah, pergilah!" usir Juminten dengan begitu kesal.
Setelah pertemuan itu, jiwa Juminten kembali ke raganya dan tentunya di bantu oleh sang Kuncen, yang siap memantau dari jarak jauh.
Karena hal ini, di sebabkan oleh ketidakmampuan para pelaku pesugihan—untuk langsung berkomunikasi dengan para jin peliharaannya.
Jika saja sampai jiwanya nyasar dan tak tau rah jalan pulang, maka raganya akan tetap saja bersila di bawah pohon, sampai ia mampu kembali.
"Hah!" tubuh kasar Juminten tersentak kaget, dan ia merasakan nafasnya tersengal, dan jantungnya berdegup lebih kencang, saat ekor matanya melirik ke arah Gina yang masih belum menyelesaikan ritualnya.
Ia duduk dengan tatapan penuh kebencian. "Ternaya kau bermain serong dengan Mas Bejo. Sangat licik sekali!" ucapnya dengan kesal.
Sedangkan Gina yang sedang dibencinya, masih dalam tahap penyelesaian masalah pergantian tumbal yang sudah disepakati.
Gina sedang berkomunikasi dengan jin Ba'al jenis Wewe Gombel. Sosok itu menjadi penglaris dalam usaha warung makan lesehannya.
Ia membuka usahanya yang terletak disekitaran Gunung Kawi, dan sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah dan wisata religi yang datang dari berbagai daerah.
Bahkan ia juga membuka cabang hingga ke berbagai kota di pulau Jawa.
"We, aku mau menukar jiwa Bayu dengan jiwa yang lainnya." ucap Gina, dalam sesi percakapannya dengan sang Wewe Gombel.
"Jadi, kamu mau menukar dengan siapa? Soalnya, aku juga males kalau main rebutan gitu. Apalagi si Sundel itu rada resek setannya," keluh Wewe Gombel, sembari menimang-nimang buah melonnya yang bergelambir hingga ke perut.
"Aku juga bingung, kemaren lupa nama gantinya, si Ratih entah si Bagas." Gina mengalami kelupaan yang mendadak, dan berusaha menentukan pilihannya, agar tidak salah lagi.
"Kamu plin plan sekali. Bagaimana kalau si Juminten saja. Biar kau tak lagi selingkuh, tetapi Bejo langsung jadi milikmu seutuhnya," saran Wewe Gombel.
"Eh, iya juga—ya. Kok aku gak kefikiran, ya?" wajah Gina tampak sumringah.
Bayangan hidup bersama Bejo sudah berada di depan matanya.
"Jadi gimana? Jadi gak numbalkan si Juminten?" desak Wewe Gombel yang sangat tak sabar.
"Kau ini, sudah kek Setan yang paling sibuk saja, gak sabaran sekali." sahut Gina dengan nada ketus.
"Hadeew, aku ini jin Ba'al yang memiliki jam terbang lumayan padat, jadi kemampuanku tak perlu diragukan lagi. Soalnya si Tejo juga lagi manggil, buat ngambil jiwa istrinya." Sundel Bolong menjelaskan dengan nada angkuh.
Gina melongo. "Jadi si Tejo mau menumbalkan si Intan?" Gina tampak terkejut.
"Bukan urusanmu, jadi kau selesaikan saja masalahmu. Mau jiwa si Juminten atau jiwamu sendiri?" potong Wewe Gombel dengan cepat.
"Sombong." Gina mencebikkan bibirnya. "Ya, sudah si Juminten yang jadi tumbal," Gina menegaskan.
"Oke, Deal. Aku mau ke rumah si Tejo dulu, mau ngambil jiwa si Intan, next si Juminten, papay ...." Wewe Gombel melambaikan tangannya, lalu melesat pergi.
Detik berikutnya, Gina tersentak kaget, dan itu disebabkan oleh jiwanya yang sudah kembali ke dalam raganya.
Saat ia tersadar, tatapannya tertuju pada Juminten, yang saat ini juga sedang menatapnya.
Mereka saling melemparkan senyum yang cukup licik, dengan wajah penuh kepalsuan.
~Alas Purwo Lanjut lagi, ya. Mau diselesaikan sampai bab 80, tentang permasalahan Nathan dan Sena yang belum saling mengungkapkan.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏