NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:26.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali pulang

Bunyi debuman keras bergema di koridor apartemen ketika Kilau menghempaskan pintu kamarnya hingga mengunci rapat. Dia tak memedulikan seruan panik dari Mbak Epi, asisten rumah tangganya, yang tadi sempat menyambutnya di ruang tengah dengan rentetan pertanyaan cemas. Saat ini, Kilau tidak butuh siapa-siapa. Telinganya berdengung, dan dadanya terasa begitu sesak seolah seluruh pasokan udara di dunia ini telah menguap habis.

Begitu kunci pintu berbunyi klik, tubuh Kilau langsung merosot di balik pintu. Keheningan kamar yang luas mendadak menjelma menjadi saksi betapa rapuh dan hancurnya seorang Kilau saat ini. Logikanya menjerit bahwa dia sangat membutuhkan Badai, membutuhkan pelukan pria itu untuk menenangkan kegalauan yang dia rasakan. Namun di saat yang sama, egonya bergejolak karena kekecewaan dan amarahnya pada lelaki itu sama sekali belum surut.

Yang terjadi selanjutnya hanyalah sebuah isak tangis yang terdengar begitu pilu, pecah di tengah keheningan, memenuhi setiap sudut kamar yang sunyi.

Kilau menyadari sesuatu, bahwa sekarang ada jas milik Dai yang tadi dipakaikan lelaki itu padanya, memeluknya hangat seperti sedang menggantikan tugas pemiliknya.

Aroma parfum mahal perpaduan antara wangi wood yang maskulin dan kesegaran yang elegan begitu ketara kala Kilau membenamkan wajahnya ke kain mahal tersebut. Wangi yang sangat asing, bukan bau oli atau parfum Dunhill yang biasa menempel pada tubuh Dai si montir. Kenyataan itu kembali memicu rasa perih di hatinya.

"Lo jahat tau nggak!" ucap Kilau dengan tangis tertahan, suaranya serak tertimbun kain jas.

Detik berikutnya, rasa kesal memuncak. Dengan sentakan kasar, Kilau melempar begitu saja jas tersebut ke sembarang arah hingga mendarat di atas karpet beludru. Dia kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis lagi hingga bahunya terguncang hebat. Laah si mbak satu ini galau nya ada gila-gilanya ya..

Rasanya benar-benar berantakan sekali menjadi seorang Kilau. Pikirannya bolak-balik antara rasa rindu yang menyiksa dan rasa tertipu yang membakar dada.

"Kenapa lo diem aja pas gue marah-marahin lo tadi, lo bego apa gimana sih Dai?!" seru Kilau pada dinding kamar yang kosong, meluapkan seluruh kekesalannya pada sosok yang tidak ada di sana. "Lo kan bisa nenangin gue! Lo bisa... Lo bisa meluk gue! Gue tuh kangen lo, Badai! Lo berhasil nyiksa gue dengan perasaan bodoh ini tau nggak!"

Merasa tak puas hanya berteriak pada angin, Kilau bangkit dengan langkah menghentak-hentak. Air matanya masih mengalir, namun matanya melotot tajam mencari jas yang tadi dia lempar. Dia memungut jas mewah berharga puluhan atau mungkin ratusan juta itu, lalu berjalan mendekati sudut tempat tidur tempat sebuah boneka buaya besar berwarna hijau tergeletak.

Mau tahu apa yang dilakukan Kilau selanjutnya? Dengan gerakan gemas dan penuh emosi, dia memakaikan jas hitam berukuran besar itu pada boneka buaya tersebut. Lengan jas yang kepanjangan menjuntai lucu di cakar si buaya, menciptakan pemandangan yang sebenarnya sangat absurd.

Sambil memasang kancing jasnya, Kilau kembali mengomel-ngomel tidak jelas. "Diem aja lo! Punya mulut tuh dipake buat jelasin dari awal, bukannya malah sok keren pake jas ginian! Mau ngasih tau kalo lo ganteng pake jas ini, hah?!"

"Sopan kayak gitu? Diajak ngomong nggak ngejawab! Nih rasain nih, gue pukul lo nyampe jadi pulu-pulu!"

Bugh! Bugh!

Kilau memukul kepala boneka buaya itu berkali-kali, meluapkan seluruh rasa dongkolnya. Namun, tidak sampai semenit kemudian, pertahanannya kembali runtuh. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas boneka tersebut, memeluk erat-erat leher si buaya besar seolah sedang mendekap sosok Badai yang asli, lalu menangis lagi hingga air matanya membasahi kain jas.

"Gue kangen lo, jelek! Gue kangen..."

Memang agak gambleh dan membingungkan sekali kelakuan gadis ini. Tadi aja saat bertemu langsung di restoran utama, dia berlagak begitu tegar, angkuh, dan penuh harga diri. Marah-marah dengan rentetan kata-kata tajam yang meluncur cepat sudah seperti rentetan kembang api tahun baru tanpa jeda. Namun begitu sendirian di dalam kamar, dia malah muring-muring tidak jelas dan bertingkah labil seperti ini. Wanita memang ditakdirkan menjadi makhluk Tuhan yang paling membingungkan jika sudah berurusan dengan hati.

Sementara itu, di belahan kota yang lain, sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang pagarnya sedikit berkarat. Jauh berbeda dengan mansion mewah milik Hiro Daichi yang megah bak istana, bangunan itu hanya rumah lama yang selama ini ditinggali oleh Badai dan keluarganya.

Dai melangkah turun setelah membayar taksi. Dia sengaja tak menggunakan fasilitas mobil mewah dari ayahnya. Dai kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang sudah digulung hingga siku. Wajahnya tampak sangat lelah, namun ada binar kelegaan saat dia menatap pintu rumahnya sendiri.

Begitu Dai mendorong pintu depan yang tidak terkunci, suara isak tangis yang familier langsung menyambut pendengarannya.

Di ruang tamu yang temaram, duduk Ambar, sang ibu, dengan mata yang sembab dan memerah. Di sampingnya, Senja, adik perempuan Dai, sedang mendekap ibunya sembari mencoba menenangkan wanita paruh baya tersebut.

"Assalamualaikum, bu.. Nja, kenapa pada nangis. Kalian nangisin apa?"

"Waalaikumsalam.. Ya Allah, Daaaii.."

Mendengar suara yang sangat dirindukannya, Ambar langsung mendongak. Tangisnya pecah seketika saat melihat putra sulungnya berdiri di ambang pintu dalam keadaan utuh dan sehat. Seminggu belakangan, sejak tau jika Dai dibawa paksa oleh orang-orang Hiro, Ambar tidak pernah bisa tidur tenang karena terus mengkhawatirkan keselamatan anaknya.

"Anakku..." Ambar bangkit dengan tergesa, berlari kecil lalu menghambur ke dalam pelukan Dai. Tangannya memeluk punggung tegap putranya dengan sangat erat, seolah takut jika dia melepaskannya, Dai akan menghilang lagi. "Kamu tidak apa-apa, Nak? Ada yang luka? Ibu takut sekali... Ibu takut mereka melukai mu..."

Dai memejamkan mata, membalas pelukan ibunya dengan penuh kehangatan yang tulus. "Aku nggak apa-apa, Bu. Dai sehat. Maaf udah bikin Ibu nunggu dan khawatir, ya.."

Senja yang tadinya ikut menangis, kini bangkit dari sofa. Dia melangkah mendekati kakaknya dengan wajah yang ditekuk, mencoba memasang ekspresi galak meskipun matanya bengkak.

"Lagian kakak tuh kebiasaan banget tahu gak!" Senja mulai mengomel dengan suara sengau, menepuk lengan Dai dengan agak keras. "Punya HP tuh gunanya buat ngasih kabar! Minimal missed call atau apa gitu! Kita di sini udah kayak orang gila mikirin kakak, tega banget sih kamu kak.."

Meskipun mulutnya terus mengomel tanpa jeda, Senja tak bisa berbohong jika dia begitu merindukan kakak lelakinya. Detik berikutnya, dia ikut menghambur, memeluk pinggang kakaknya dari samping dan menyandarkan kepalanya di dada Dai, menyalurkan seluruh rasa rindu dan ketakutan yang terpendam selama seminggu ini.

Dai terkekeh pelan, mencium puncak kepala adiknya dan mengusap punggung ibunya bergantian. Di tempat ini, di rumah sederhana dengan sofa yang busanya sudah agak kempes, Dai akhirnya bisa merasakan kembali apa arti "rumah" yang sesungguhnya. Kehangatan yang tidak akan pernah bisa dia beli dengan seluruh aset Ananta Corporation.

"Maaf ya.." ucap Dai berulang-ulang.

Keesokan harinya, matahari pagi baru saja naik ketika Dai melangkahkan kakinya menuju bengkel miliknya. Bengkel itu terletak di pinggir jalan yang cukup ramai, dengan papan nama kayu yang catnya sudah mulai mengelupas.

Di area depan, tampak tiga orang pemuda sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Abu sedang sibuk mengelap rantai motor, Suga sedang mengisap rokoknya sambil memegang kunci pas, sementara Sajen duduk di atas ban bekas sambil sibuk memainkan ponselnya.

"Woy, ini oli bekas ditaruh mana--" Kalimat Abu terputus di udara. Matanya membelalak sempurna saat melihat sosok tinggi tegap yang berjalan santai memasuki area bengkel.

Suga yang menyadari perubahan ekspresi Abu langsung menoleh ke arah pandangan temannya. Rokok di mulutnya hampir saja jatuh. Sementara Sajen langsung melompat dari ban bekas dengan mulut menganga.

"Dai?!" seru mereka hampir bersamaan, seolah melihat penampakan makhluk gaib di pagi buta.

"Kenapa? Muka lo pada kayak habis liat setan," sahut Dai santai, berjalan menuju ke dalam lalu meletakkan jaket denim yang dibawanya.

"Anjir! Dai! Lo ke mana aja, bangsat!" Sajen langsung berlari dan memukul bahu Dai kencang, meluapkan rasa leganya. "Kita nyariin lo ke mana-mana! Bengkel sepi berhari-hari kayak kuburan tanpa lo!"

"Iya, bos! Lo diculik setan golongan apa sih? Tiba-tiba ngilang kagak ada kabar," timpal Suga, ikut mendekat dengan wajah yang masih syok namun tampak luar biasa gembira.

Abu dengan gaya khasnya yang dramatis, langsung maju paling depan sambil mengelap tangannya yang kotor. "Wah bos, parah sih lo! Lo tahu gak, selama lo ngilang kemarin, si mbak Kikil dateng ke sini nyariin lo? Beuh, cakepnya bini lo bos kagak ada lawan, tapi mukanya udah kayak wanita yang minta tanggung jawab karena udah dihamili tapi lakinya kabur nggak tau kemana! Panik brutal dia nyariin lo ke kita-kita! Mana nggak cuma sekali dua kali dia ke sini lagi, ya kan gengs?"

Dai langsung mendelik tajam, tangannya bergerak cepat menjitak kepala Abu."Mulut lo dijaga ya, Bu! Sembarangan banget kalau ngomong! Sebelum gue halalin dia, pantang bagi gue nyentuh dia!" ujar Dai, meskipun dalam hati dadanya kembali berdenyut perih mengingat bagaimana hancurnya perasaan Kilau semalam.

"Sakit bos, elaaaah canda juga gitu amat sih langsung main tangan!" sambil mengusap kepalanya, namun sedetik kemudian dia malah nyengir kuda. "Tapi seriusan, bos, kita semua seneng banget lo balik. Jangan ngilang-ngilang lagi lah, pusing kita gak ada pawangnya di sini."

Mendengar ledakan pertanyaan dan omelan dari para sahabatnya, Dai hanya bisa geleng-geleng kepala. Mulutnya mungkin terus misuh-misuh meladeni candaan absurd mereka, namun di sudut bibirnya, sebuah senyuman tulus merekah dengan indah. Dai merasakan kehangatan dan ketulusan yang murni di antara mereka. Sesuatu yang sangat kontras dengan atmosfer penuh kepalsuan, kemunafikan, dan perebutan takhta yang dia rasakan selama berada di mansion mewah ayahnya seminggu belakangan ini. Di sinilah tempatnya yang sebenarnya, sebagai Badai, bukan sebagai sang putra mahkota yang misterius di balik bayang-bayang Hiro Daichi.

1
Dewi kunti
Yo gek dirabi wae ,kesuwen
Rehat
Galau ya Kil, jauhh sihh 😰
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
kasih dia sepatu roda aja Dai, biar gak mlototin. hape muluk
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
Kilau memang setulus itu sama Dai, meski bapaknya sendiri kek dakjal
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
ujiane arek LDR makanya kalau gak kuat banyak yang belok kiri nyari hiburann
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
cara meluapkan emosimu agak ngeri juga ya Dai🫠
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
seneng bener kamu Dai bikin jantung Kilau gak karuan
Bulan-⁶
ngenesnya kalo LDR
Bulan-⁶
sekarang kamu tau kan dai bagaimana bapak kamu dulu sampai tega ninggalin kalian semua
Bulan-⁶
jangan ngiler ya jen🤣
Bulan-⁶
sokorrrrr ternyata yang dibanggakan masih kalah jauh dibawah kilau dan badai
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
modyarrr kapokmu kapan bondo ra sepiro wae wes nekad mau bikin calon istri pewaris tahta Ananta 😒
Rehat
Lalinan, gak dapat Badai, malah dapat tamparan dari bokapnya sendiri 🤣
Rehat
Dihh, obsesi kali kau Lalinan sama Badai 😎
Rehat
Dihh Lalin kepedean 🤣🤣
Rehat
Makanan kesukaan Kil n Dai 🤤
Rehat
Akhirnya Badai mau memaafkan Bapaknya 👍🏼
Bulan-⁶
gak usah aneh2 kamu lin, minta dibejek2 apa dibikin berkedel?
Rehat
Lebay si Dai Badai 😌
Bulan-⁶
yok kawinnnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!