Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Langkah Pertama Menuju Kekuatan
Pagi hari kembali menyelimuti Maple Leaf Village ( desa daun maple ) dengan cahaya lembut yang perlahan menyebar di antara pepohonan maple yang menjulang tenang. Sinar matahari menembus celah-celah daun merah yang berguguran, menciptakan bayangan berlapis di tanah, sementara angin pagi berhembus ringan, membawa dedaunan menari perlahan di udara sebelum jatuh tanpa suara.
Suasana desa tampak damai seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah.
Namun di depan salah satu rumah sederhana, seorang anak berdiri dalam diam.
Long Chen berdiri tegak, tubuhnya menghadap ke arah jalan desa, namun pikirannya jelas tidak berada di sana. Tangannya menggenggam pedang kayunya dengan erat, hingga jemarinya sedikit memutih, seakan ia sedang memegang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar kayu biasa.
“Ibu, aku pergi dulu, mau bermain dengan teman-teman,” ucap Long Chen sambil berdiri di ambang pintu, berusaha terdengar senormal mungkin meski di dalam hatinya sudah ada tujuan lain.
Dari dalam rumah, ibunya menoleh dan tersenyum hangat. “Jangan pulang terlalu larut, ya, jangan seperti kemarin,” katanya mengingatkan dengan nada lembut namun tetap tegas.
“Iya, Bu,” jawab Long Chen singkat.
Ia tidak menunggu lama, segera melangkah pergi dari rumah dengan langkah yang tampak biasa di mata siapa pun yang melihat. Namun di balik itu, langkahnya terasa lebih mantap daripada biasanya, seolah setiap pijakan telah ia putuskan sejak semalam.
Hari ini, tujuannya bukan tempat bermain.
Tanpa ragu, Long Chen menyusuri jalan desa, melewati rumah-rumah dan pepohonan maple yang berguguran seperti biasa, namun kali ini ia tidak memperhatikan semua itu. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada satu arah yang terus ia tuju.
Pinggir sungai.
Tempat di mana bangunan tua itu berdiri… dan di mana seseorang sedang menunggunya.
Sepanjang perjalanan menuju pinggir desa, pikiran Long Chen dipenuhi oleh satu hal yang terus berputar tanpa henti, yaitu kekuatan yang ingin ia capai, kemenangan yang belum pernah ia rasakan, dan sosok pria misterius yang kata-katanya masih terngiang jelas di benaknya sejak semalam.
Langkahnya tidak melambat, justru semakin mantap seiring tekad yang tumbuh di dalam dirinya.
Namun di tengah jalan, langkah itu tiba-tiba terhenti.
Di hadapannya, tiga sosok berdiri menghalangi jalannya.
Xiao Yan, Ye Fan, dan Han Li.
Mereka tampak santai seperti biasa, seolah hanya kebetulan bertemu, namun tatapan mereka langsung tertuju pada Long Chen yang jelas terlihat berbeda hari ini.
“Chen, mau ke mana?” tanya Ye Fan dengan nada ringan, meski matanya mengamati dengan lebih jeli.
Long Chen berhenti sejenak, tangannya masih menggenggam pedang kayu dengan erat. Ia tampak ragu sesaat, lalu menjawab, “Aku… mau ke suatu tempat.”
Han Li langsung menyeringai, matanya berbinar penuh semangat seperti biasa. “Kau tidak mau duel lagi dengan Xiao Yan? Aku kira kau akan langsung menantangnya pagi-pagi,” ujarnya sambil melirik ke arah Xiao Yan yang hanya berdiri tenang.
Namun Long Chen menggeleng pelan.
“Untuk sekarang, aku sedang sibuk,” jawabnya singkat.
Ia kemudian menatap mereka satu per satu, sorot matanya serius dengan cara yang tidak biasa, membuat suasana di antara mereka sedikit berubah.
“Tolong… jangan ikuti aku,” lanjutnya dengan nada yang lebih dalam.
Tanpa menunggu jawaban, Long Chen langsung berlari melewati mereka.
Ketiganya terdiam sejenak, memperhatikan arah kepergian Long Chen yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari sikapnya hari ini, sesuatu yang tidak biasa bagi anak yang selalu terbuka dan penuh semangat itu.
Xiao Yan menyipitkan mata, tatapannya tajam mengikuti sosok Long Chen yang mulai menghilang di antara pepohonan. “Aneh… biasanya dia tidak pernah menyembunyikan apa pun,” gumamnya pelan, nadanya terdengar lebih serius dari biasanya.
Ye Fan mengangguk setuju, ekspresinya berubah lebih fokus. “Benar. Cara dia bicara tadi… seperti ada sesuatu yang penting. Pasti ada alasan kenapa dia bersikap seperti itu,” ujarnya sambil melipat tangan, pikirannya mulai menganalisis situasi.
Sementara itu, Han Li justru tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. “Kalau begitu… kita ikuti saja!” katanya dengan nada penuh semangat, seolah ini adalah petualangan yang menarik.
Xiao Yan menarik napas pelan, lalu mengangguk setelah mempertimbangkan sejenak. “Kita ikuti. Tapi jangan sampai dia tahu,” ucapnya tegas, suaranya menunjukkan bahwa ia tidak ingin bertindak sembarangan.
“Tenang saja!” jawab Han Li cepat, sudah terlihat antusias bahkan sebelum mereka mulai bergerak.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka bertiga mulai bergerak, menjaga jarak dan menyembunyikan keberadaan mereka di balik pepohonan dan bayangan dedaunan merah.
Tak lama kemudian, Long Chen tiba di pinggir sungai, di mana aliran air yang tenang memantulkan cahaya redup pagi yang mulai tertutup bayangan pepohonan. Di hadapannya berdiri bangunan tua yang hampir runtuh, tampak lebih suram dari kejauhan, seolah waktu telah lama melupakannya. Kayunya lapuk, dindingnya retak, dan pintunya miring seperti bisa roboh kapan saja, sementara suasana di sekitarnya terasa sunyi… terlalu sunyi, bahkan suara alam pun seakan menjauh dari tempat itu.
Long Chen berhenti beberapa langkah di depannya.
Tatapannya ragu, keningnya sedikit berkerut saat ia mengamati bangunan itu dengan lebih teliti. “Ini… tempatnya?” gumamnya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Untuk sesaat, ia tidak bergerak.
Namun ingatan tentang kata-kata pria misterius itu kembali muncul di benaknya, mendorongnya maju selangkah demi selangkah. Pada akhirnya, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu yang sudah tua itu.
Tok… tok…
Suara ketukan terdengar jelas di tengah kesunyian, bergema pelan namun terasa berat.
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang berhembus perlahan, membuat pintu itu sedikit berderit tanpa benar-benar terbuka.
Di balik pepohonan tak jauh dari sana, tiga pasang mata mengawasi tanpa mengeluarkan suara.
“Untuk apa dia ke sana?” bisik Han Li pelan, nada suaranya penuh rasa penasaran.
“Bukankah tempat itu sudah lama kosong?” tambah Ye Fan dengan kening berkerut, merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Xiao Yan tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah bangunan tua itu dengan mata yang menyipit, fokus dan tajam, seolah mencoba melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain.
Di depan pintu yang masih tertutup rapat, Long Chen menghela napas panjang, bahunya sedikit turun seolah beban di dalam pikirannya mulai berubah menjadi kekecewaan. Ia menatap bangunan tua itu sekali lagi, lalu menggeleng pelan. “Sepertinya… aku dibohongi,” gumamnya lirih, nada suaranya penuh keraguan yang perlahan berubah menjadi penyesalan.
Ia mulai berbalik, langkahnya hendak menjauh. “Seharusnya aku sadar dari awal… orang itu memang aneh,” lanjutnya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya untuk pergi dan melupakan semua ini.
Namun baru saja ia melangkah—
Suara berderit panjang terdengar dari belakangnya.
Kreeeek…
Long Chen langsung membeku.
Tubuhnya berhenti di tempat, jantungnya berdetak lebih cepat saat ia perlahan menoleh kembali. Pintu yang tadi tertutup kini terbuka dengan sendirinya, bergerak pelan seolah didorong oleh sesuatu yang tak terlihat.
Dari dalam kegelapan bangunan itu, sosok pria tersebut muncul.
Ia melangkah keluar dengan tenang, bayangan masih menyelimuti sebagian wajahnya, sementara senyum samar terukir tipis di bibirnya.
“Maaf… membuatmu menunggu,” ucapnya dengan nada santai, seolah kejadian barusan adalah sesuatu yang wajar.
Tatapannya langsung tertuju pada Long Chen, tajam namun tenang.
“Aku sudah menduga… kau pasti akan datang.”
Kata-kata itu jatuh pelan, namun terasa berat, seakan sejak awal semua ini memang telah berada dalam perhitungannya.
Mata Long Chen langsung berbinar begitu melihat sosok pria itu benar-benar ada di hadapannya, semua keraguan yang tadi sempat muncul seakan lenyap dalam sekejap. Tanpa ragu sedikit pun, ia segera menundukkan tubuhnya dengan hormat, suaranya tegas meski masih terdengar seperti anak kecil yang penuh harapan. “Ajari aku menjadi kuat. Aku akan melakukan apa pun,” ucapnya dengan penuh keyakinan, seolah keputusan itu telah ia tetapkan sejak lama.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Long Chen dalam-dalam, matanya tenang namun seakan mampu menembus hingga ke dalam pikirannya, membaca setiap tekad dan ambisi yang tersembunyi di balik kata-kata sederhana itu. Keheningan sejenak terasa lebih berat, seolah sedang menguji kesungguhan yang ada di hadapannya.
“Kalau begitu…” akhirnya pria itu berbicara pelan, suaranya rendah namun jelas, membawa tekanan yang halus namun tak bisa diabaikan.
Ia melangkah sedikit lebih dekat, bayangan yang menyelimutinya perlahan bergeser.
“Mulai sekarang, panggil aku Guru.”
Tidak ada penjelasan, tidak ada keraguan dalam nada suaranya, seolah itu bukan permintaan, melainkan keputusan yang telah ditetapkan.
Long Chen tidak berpikir lama.
Ia langsung mengangkat kepalanya dan mengangguk mantap, tekad di matanya semakin kuat. “Baik… Guru,” jawabnya dengan penuh kesungguhan, tanpa menyadari bahwa langkah yang baru saja ia ambil akan mengubah seluruh hidupnya.
End Chapter 5