Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Nek Asih mengusap kepala Risa yang kini sedang menangis di dalam pelukan nya, seketika rasa sakit ikut di rasakan oleh wanita tua itu setelah mengetahui apa yang terjadi pada cucu nya.
"Seandai nya saja dulu Darmawan mendengar kan ucapan nenek, mungkin semua itu tidak akan pernah terjadi!" Nenek Asih kembali menerawang kejadian yang yang sudah terjadi puluhan tahun yang silam.
"Aku tidak bisa menerima penghianatan mas Arvin dan Wulan nek, apakah keputusan ku salah nek?" Tanya Risa pada nenek nya.
"Tidak nduk, kau berhak bahagia. Kau berhak menentukan sendiri hidup mu!" Nek Asih berkata sambil menggeleng kan kepala nya.
Risa perlahan melepas kan pelukan nya pada tubuh sang nenek dan dia menatap mata tua nenek nya yang kini ikut merasakan apa yang dia rasakan.
"Nek, sekarang boleh kah Risa tinggal di sini bersama nenek?" Risa bertanya pada nenek nya.
"Boleh nduk, nenek sangat senang kau bisa tinggal bersama nenek. Sejak dulu, nenek sangat ingin menghabis kan sisa usia nenek bersama cucu nenek!" Nek Asih menggenggam tangan cucu nya dengan erat.
Risa terharu dengan apa yang di katakan oleh nenek nya, sejak ibu nya meninggal dulu Risa sangat jarang datang ke rumah nenek nya. Mama Lia selalu membatasi interaksi antara Risa dan nenek nya, begitu pun setelah menikah dengan Arvin. Arvin sendiri selalu beralasan jika Risa mengajak nya untuk bersilahturahmi ke rumah nenek nya.
"Nduk, nenek mau ke pasar dulu, kau mau ikut?" Tanya Nenek pada Risa.
"Mau nek, Risa sudah sangat rindu suasana pedesaan yang damai!" Risa ingin menikmati suasana pedesaan yang begitu damai yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Tunggu sebentar, nenek ambil keranjang dulu!" Ujar Nek Asih sambil berdiri dan dia berjalan ke dapur untuk mengambil keranjang belanjaan nya.
Walaupun nek Asih sudah tua, tapi tubuh nya msih sehat dan kuat. Keseharian nek Asih adalah menggarap kebun yang ada di belakang rumah nya, kebun itu di tanami dengan berbagai jenis sayuran. Nek Asih memanfaatkan tanah yang masih cukup luas itu untuk dia tanami dengan berbagai jenis sayuran seperti cabe, tomat, terong, bayam, sawi, selada, kangkung, jagung dan yang lain nya.
Semua hasil kebun itu dia gunakan untuk makan sendiri dan kadang - kadang dia bagikan pada warga di sekitar nya, tidak jarang warga kampung datang ke rumah nek Asih untuk membeli sayuran segar itu. Tidak hanya itu, nek Asih juga punya sawah yang di garap oleh keponakan nya dan hasil nya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nya sehari - hari.
Nenek dan cucu iri berjalan kaki pergi ke pasar yang ada di ujung kampung mereka, Risa sangat menikmati suasana perkampungan yang damai. Beberapa warga kampung ada yang mengenali Risa karena wajah Risa sangat mirip dengan sang ibu, bak pinang di belah dua.
"Nek, itu anak nya Sekar ya?" Tanya seorang perempuan bertubuh tambun pada nek Asih.
"Iya, ini anak nya almarhumah Sekar, dia adalah cucu saya!" Nek Asih memperkenalkan kan Risa pada orang kampung.
"Saya Risa bu!" Risa pun menyalami pertemuan yang bertanya tadi, tidak lupa dia mencium tangan nya.
"Dia sopan sekali seperti Sekar!" Ibu itu kembali berkata.
"Mari bu, saya dan nenek mau ke pasar dulu!" Risa pamit pada ibu itu dengan sopan.
"Silah kan nak!" Jawab ibu itu dengan ramah.
Sikap orang - orang kampung yang ramah seketika sedikit menghilang kan kesedihan di hati Risa, berbeda dengan orang- orang di kota tempat Risa tinggal. Mereka semua terkesan cuek dan tidak perduli dengan satu sama lain nya.
Setibanya merek di pasar, mereka langsung berbelanja bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula dan yang lain nya. Biasanya nek Asih belanja dalam jumlah sedikit, tapi sekarang dia belanja dalam jumlah banyak. Dia sangat bahagia dengan kehadiran sang cucu di rumah nya, dia ingin cucunya betah tinggal bersama diri nya di kampung.
Setelah selesai berbelanja kebutuhan pokok, nek Asih mengajak Risa berbelanja daging dan juga ikan. Selama ini nek Asih sangat jarang membeli daging dan sejenis nya karena dia lebih suka makan sayuran. Tapi sekarang dia mengisi kulkas nya dengan berbagai jenis protein hewan tersebut, karena dia tahu sang cucu sangat menyukai makanan berbahan dasar daging dan sejenis nya.
"Udah yuk kita pulang!" Ajak nek Asih sambil menenteng keranjang belanja milik nya.
"Ayo nek, biar Risa aja yang bawa!" Ujar Risa sambil meraih keranjang belanja milik sang nenek.
"Kita naik ojek saja nak, agar kau tidak capek!" Nek Asih memberi usul pada Risa.
"Ya udah, kita pulang naik ojek saja jika nenek capek!" Risa tidak tega melihat nenek nya yang sudah tua kecapean karena berjalan kaki.
"Nenek tidak papa kok nak, kamu aja yang naik ojek, nenek lebih suka jalan kaki. Sekalian olah raga!" Walaupun tubuh nya sudah tua, tapi nek Asih lebih suka berjalan kaki karena menurut nya hal itu lebih sehat.
"Ya udah, kalau nenek mau jalan kaki Ris juga jalan kaki aja sama nenek!" Risa pun memilih untuk berjalan kaki bersama nenek nya pulang ke rumah.
Mereka hanya membawa keranjang yang berisi daging dan sejenis nya saja, sementara untuk kebutuhan pokok yang mereka beli tadi akan di antar kan langsung oleh orang toko ke rumah nya nek Asih.
Cucu dan nenek ibu berjalan sambil ngobrol, tidak terasa mereka sudah sampai di rumah kembali. Nenek Asih begitu bersemangat dengan kehadiran cucu nya di rumah nya, sejak lama dia sangat merindukan kehadiran sang cucu. Tapi dia bisa menemui nya, karena dulu dia sempat di ancam oleh Mama Lia. Mama Lia mengancam akan menyakiti Risa jika nek Asih sering menemui Risa, hal itu lah yang membuat nenek Asih menahan rindu pada sang cucu.
"Bagai mana dengan rencana kamu selanjutnya nya, nduk?" Tanya Nek Asih pada Risa.
"Aku berencana akan mencari pekerjaan di kota ini nek, aku bosan jika aku terus di rumah saja!" Risa mengutarakan keinginan nya pada sang nenek.
"Iya nak, bagai mana dengan rumah tangga mu bersama Arvin?" Nek Asih kembali bertanya.
"Aku ingin berpisah nek, aku tidak bisa melanjutkan rumah tangga ku bersama laki - laki penghianat. Biar kan saja dia hidup bersama Wulan nek, suatu saat mereka akan mendapat kan karma nya atas perbuatan buruk mereka!" Risa sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan rumah tangga nya bersama Arvin.
"Nenek mendukung apapun yang menjadi keputusan mu, nduk!" Nek Asih mengelus kepala cucu nya dengan lembut.
Risa sudah memutuskan bahwa dia akan menutup kisah rumah tangga nya bersama Arvin, dan dia akan memulai hidup yang baru di sini, di kota ini bersama nenek nya. Risa sangat yakin, Arvin dan Wulan akan mendapat kan balasan dari setiap perbuatan jahat mereka.