Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15--Acara Makan, Membahagiakan Ibu Dan Rara
Manajer restoran itu membungkuk dalam, hampir sembilan puluh derajat. "Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksopanan staf kami, Pak. Silahkan, meja di sudut jendela sudah kami siapkan khusus untuk Anda dan keluarga."
Naufal mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah Ibu Sarah dan Rara yang masih mematung tidak percaya melihat perubahan sikap drastis sang manajer.
"Ayo, Bu. Ra. Meja kita sudah siap," ajak Naufal lembut, menuntun mereka melewati Santi yang kini berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi.
Saat mereka berjalan menuju tempat mereka, suasana restoran yang tadinya bising dengan bisik-bisik sinis mendadak senyap.
Para pelanggan yang tadi meremehkan kini menunduk dalam, tak berani menatap mata Naufal. Mereka menyadari bahwa di balik seragam sales yang kusam itu, tersimpan kekuatan finansial dan wibawa yang melampaui jas mahal mereka.
Meja itu terletak di sudut yang sangat strategis, dengan pemandangan langsung ke arah kerlip lampu kota Yogyakarta. Kursinya empuk dilapisi beludru, dan peralatan makannya berkilau diterpa lampu kristal.
"Naufal... ini beneran meja kita?" Rara berbisik pelan sambil meraba permukaan meja marmer yang dingin. "Bagus banget, Kak. Kayak di drakor."
"Iya, Ra. Duduklah,"
Naufal menarikkan kursi untuk Ibu Sarah lebih dulu, sebuah gestur sopan yang membuat manajer restoran yang mengantar mereka semakin kagum.
“Ini bu silahkan duduk,” ucap Naufal sopan.
Ibu Naufal terkekeh, pasalnya tindakan gentle dari Naufal itu sudah terlatih sejak kecil. Dia mirip mendiang ayahnya. “Terima kasih, nak.
Tak butuh waktu lama, hidangan mulai berdatangan satu per satu. Aroma harum daging Wagyu A5 yang dipanggang sempurna memenuhi udara, disusul dengan Lobster Thermidor yang diselimuti keju meleleh keemasan.
Rara adalah yang paling berbinar-binar melihat semua deretan makan mewah ini, sebagai anak remaja normal dia tahu bahwa ini adalah makanan mahal yang sering dia lihat di iklan TV, bahkan beberapa teman kaya raya dia sering memposting di IG mereka, Rara cuma bisa membayangkan bentuk saja .. namun tidak menyangka sekarang bisa memakannya disini!
"K-Kak... ini beneran makanan buat kita? Bukannya ini makanan orang kaya di TV itu?" suara Rara bergetar, ia bahkan ragu untuk menyentuhnya dengan tangan.
Ibu Sarah terdiam, ia menatap deretan menu mewah itu dengan raut ragu. "Naufal... Ibu tahu kamu tadi bilang dapat rezeki, tapi ini... ini tidak berlebihan? Harganya pasti mahal sekali. Ibu takut kamu memaksakan diri.Tadi saja habis empat juta, kan.”
Naufal memegang pundak Ibunya. “Memaksakan diri:, mungkin bagi Rara yang masih SMP tidak terlalu paham bahasa itu, namun Naufal paham ibunya pasti khawatir dia terlibat hal-hal tidak mengenakan.
"Ibu, selama ini Naufal sudah bekerja keras. Rezeki ini halal, murni dari hasil jualan Naufal yang tembus target. Ibu dan Rara berhak merasakan ini. Ayo, jangan dipikirkan harganya, yang penting Ibu sehat dan Rara kenyang dan bisa semangat belajarnya."
Begitu suapan pertama masuk ke mulut, Rara langsung memejamkan mata.
"Kak! Enak banget! Langsung lumer di lidah!"
serunya tertahan. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih dihina Santi tadi, tapi karena haru bisa merasakan kemewahan ini bersama keluarganya.
Ibunya masih ragu. Dia menatap piring di depannya dengan tangan gemetar. Ia melihat potongan daging yang sangat lembut, berbeda jauh dengan daging pasar yang biasanya ia masak sampai alot.
Saat dia meraba dan merasakan texture dengan garpu dan pisau, dia terkejut.
"Nak... ini dagingnya kok kayak... kayak bukan daging ya? Lembut sekali."
"Itu Wagyu kualitas terbaik, Bu. Proteinnya tinggi, bagus buat pemulihan tenaga Ibu," Naufal memotongkan daging itu kecil-kecil lalu meletakkannya di piring sang ibu. "Ayo makan, Bu. Dimakan selagi hangat."
Ibu Sarah terdiam sejenak setelah mencicipi lobster tersebut. Air mata jatuh di pipinya yang mulai keriput. Ia teringat masa-masa sulit di mana mereka hanya bisa makan nasi dengan garam atau berbagi satu telur untuk bertiga. Ia menatap Naufal dengan rasa bangga yang luar biasa.
[Ding!]
[Kondisi Psikologis Keluarga: Sangat Bahagia & Terharu!]
[Hadiah Tersembunyi: Penambahan status keberuntungan +5]
"Naufal... Ibu bangga punya anak seperti kamu. Tapi jangan terlalu memaksakan diri ya, Nak. Ibu sudah bahagia asal kita sehat," ucapnya lirih.
Naufal tersenyum, menyeka air mata ibunya dengan tisu premium yang tersedia di meja. "Ibu jangan khawatir. Naufal kerja buat Ibu dan Rara. Selama Naufal masih berdiri, Ibu dan Rara nggak akan pernah kekurangan lagi."
Malam itu, keluarga kecil milik Nuafal yang biasa cuma makan nasi keras dan garam, imenikmati perjamuan paling berharga dalam hidup mereka. Bukan hanya karena harga makanannya, tapi karena kehormatan yang berhasil dikembalikan oleh Naufal.
Di sudut ruangan, Naufal sempat melihat Santi sedang dimarahi habis-habisan oleh sang manajer dan disuruh membersihkan area yang paling kotor.
“Rasain itu, makanya jangan merasa di atas terus,” gumam dia.
Naufal hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada senyum adik dan ibunya. Baginya, pembalasan terbaik bukan hanya membuat lawan jatuh, tapi membuktikan bahwa ia bisa terbang lebih tinggi.
"Habiskan jus sarang burung waletnya, Ra. Itu bagus buat otakmu biar makin pintar sekolahnya," ucap Naufal sambil menyesap jusnya sendiri dengan tenang.
Kota malam itu terasa lebih bersahabat. Di bawah lampu-lampu kristal, Naufal tahu bahwa ini hanyalah awal dari perubahan besar yang akan ia bawa untuk keluarganya.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN