Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Mantan Yang Datang
Pagi itu hujan turun tipis sejak subuh dan belum benar-benar berhenti ketika Elvara tiba di gedung Alvero Group. Aspal halaman depan memantulkan cahaya abu-abu langit, sementara orang-orang berlari kecil dari area parkir menuju lobby sambil melindungi kepala dengan map atau tas kerja. Udara dingin menempel di kulit, tetapi kepalanya justru terasa panas karena kurang tidur.
Ia sengaja datang lebih awal. Setelah kejadian Mira kemarin, ia ingin menyelesaikan laporan sebelum lantai tiga puluh satu ramai dan tatapan orang-orang mulai mengikuti setiap langkahnya. Ketika pintu lift terbuka di area eksekutif, suasana masih lengang. Hanya suara pendingin ruangan, langkah petugas kebersihan, dan dengung mesin kopi dari pantry jauh di ujung koridor.
Beberapa orang yang sudah datang lebih dulu menunduk sopan saat melihatnya. Terlalu sopan, terlalu hati-hati, seolah satu kata salah bisa membuat nasib mereka sama seperti Mira. Elvara tidak merasa menang. Ia justru semakin lelah karena perhatian berlebihan, baik dalam bentuk hinaan maupun rasa takut, sama-sama menguras tenaga.
Ia meletakkan tas di meja, menyalakan laptop, lalu membuka pesan dari daycare. Ada foto Rheon tersenyum lebar sambil mengangkat kotak bekal kosong dan kertas bintang emas. Pengasuh menulis bahwa ia menghabiskan makan siang dan menang dalam permainan susun kata pagi ini.
Dada Elvara sedikit ringan. Setidaknya masih ada satu bagian hidup yang sederhana dan jujur. Dunia kecil bernama Rheon belum mengenal fitnah kantor, politik jabatan, atau lelaki keras kepala bernama Zayden Alvero.
"Bu Elvara."
Ia menoleh. Daniel datang sambil membawa dua gelas kopi dan wajah setengah mengantuk.
"Persembahan dari rekan kerja yang takut kamu pindah divisi."
"Kamu berlebihan."
"Aku realistis. Kalau kamu pergi, semua kerjaan dilempar ke kami."
Elvara menerima kopi itu sambil tertawa tipis. "Terima kasih."
Daniel menatapnya beberapa detik. "Kamu kelihatan capek."
"Aku memang capek."
"Saran profesional dari orang yang sangat tidak profesional, ambil cuti sehari. Matikan ponsel, tidur, lalu pura-pura lupa perusahaan ini ada."
"Dan siapa bayar cicilan hidupku?"
Daniel menepuk dada dramatis. "Kasar sekali membalas kebaikan."
Mereka tertawa kecil. Untuk beberapa menit, pagi terasa normal. Tidak ada rumor, tidak ada interogasi, tidak ada ketegangan yang menempel sejak beberapa minggu terakhir.
Sampai lift privat terbuka dan Arsen keluar sambil membawa tablet.
Ia berjalan lurus ke meja Elvara dengan ekspresi datar yang selalu sama. "Pak Zayden minta file presentasi regional."
"Sudah saya kirim ke email beliau."
"Beliau mau versi cetak."
Elvara memejamkan mata sesaat. "Tentu saja."
Ia berdiri mengambil map sambil menghela napas panjang. Zayden memang punya bakat khusus membuat hal mudah menjadi repot. Daniel menahan tawa sambil kembali ke mejanya.
Namun sebelum Elvara sempat melangkah, lift utama terbuka lagi.
Seorang pria masuk dengan jas abu gelap, rambut tertata rapi, dan senyum percaya diri yang terlalu dikenalnya. Langkahnya santai seperti orang yang selalu merasa diterima di mana pun ia datang.
Darren Velric.
Waktu seolah melambat beberapa detik. Suara keyboard, langkah kaki, bahkan bunyi printer terasa menjauh. Elvara menggenggam map lebih erat sampai ujung jarinya memutih.
Daniel menatap keduanya bergantian. "Kenal?"
Elvara tidak menjawab.
Darren justru tersenyum lebih lebar. "Lama sekali, Vara."
Nama panggilan lama itu membuat kulit tengkuknya menegang. Sudah bertahun-tahun tak ada yang memanggilnya begitu, dan ia tidak rindu sedikit pun.
Arsen yang cukup peka mundur setengah langkah. Ia tampak memilih menjadi dekorasi ruangan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Elvara dingin.
"Mau bertemu klien. Sekalian bertemu kamu."
Nada suaranya masih sama seperti dulu. Lembut, tenang, dan penuh keyakinan bahwa pintu mana pun bisa dibuka jika ia mengetuk cukup lama. Dulu Elvara pernah menganggap itu pesona. Kini ia mengenalnya sebagai bentuk kesombongan halus.
Darren Velric pernah menjadi calon suaminya. Mereka bertunangan saat masih muda, saat impian terasa murah dan janji mudah diucapkan. Mereka menyusun rencana tentang rumah kecil, liburan tahunan, dua anak, dan hidup yang tumbuh bersama dari nol.
Lalu sebulan sebelum pernikahan, Elvara mengetahui Darren tidur dengan seorang investor wanita yang jauh lebih kaya. Bukan sekali. Bukan karena mabuk. Bukan karena tersesat sesaat.
Pria itu memilih kesempatan.
Saat ketahuan, Darren bahkan tak tampak malu. Ia berkata hidup realistis membutuhkan pengorbanan. Ia meminta Elvara mengerti, menunggu, dan tetap menjadi wanita yang akan ia nikahi nanti setelah urusan bisnis selesai.
Hari itu Elvara belajar bahwa pengkhianatan bisa datang sambil tersenyum.
Dan beberapa kebusukan terlalu hina untuk diberi kesempatan kedua.
"Kamu diam saja?" tanya Darren kini, seolah masa lalu mereka hanya salah paham kecil.
"Aku sedang berpikir security gedung ini longgar."
Daniel terbatuk menahan tawa.
Darren melirik Daniel sekilas lalu kembali ke Elvara. "Masih tajam."
"Aku belajar dari orang yang suka menusuk dari belakang."
Wajah pria itu menegang sepersekian detik, lalu kembali rapi. "Aku pantas dapat kalimat itu."
"Bagus. Berarti kesadaranmu datang walau terlambat."
Elvara berbalik hendak pergi, tetapi Darren bergerak sedikit mendekat.
"Vara, aku cuma mau bicara."
"Kita sudah selesai lima tahun lalu."
"Bagiku belum."
Elvara menatapnya lurus. "Itu masalahmu."
Beberapa staf mulai melirik diam-diam dari balik monitor. Gosip baru jelas tercium di udara. Arsen maju dengan sopan profesional yang nyaris dingin.
"Maaf, Pak. Jika Anda ada jadwal meeting, resepsionis akan mengarahkan."
Darren tersenyum tipis. "Saya tunggu sebentar."
Lalu ia menatap Elvara lagi. "Aku tahu kamu kerja di sini sekarang. Aku juga tahu kamu kembali sendiri."
Kalimat terakhir diucapkan sengaja. Ada nada ingin menyelidik, ingin merendahkan, sekaligus ingin memancing reaksi.
Elvara merasakan darahnya naik ke kepala.
"Jangan bicara seolah kamu tahu hidupku."
"Aku ingin tahu lagi."
Ia menahan dorongan menampar wajah itu. "Aku tidak punya waktu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menuju ruang CEO sambil membawa file presentasi. Tangannya gemetar halus, bukan karena takut, melainkan marah pada masa lalu yang berani datang dengan sepatu mahal dan senyum bersih.
Di dalam ruangan, Zayden sedang membaca laporan keuangan ketika ia masuk.
"File regional."
Ia meletakkan map agak keras di meja.
Zayden mengangkat mata. "Pintu di luar rusak?"
"Tidak."
"Berarti emosimu yang berisik."
Ia berbalik hendak keluar.
"Siapa lelaki itu?" tanya Zayden.
Elvara menoleh cepat. Dari sudut ruangannya, dinding kaca samping memang bisa melihat sebagian area kerja luar.
"Bukan urusan Bapak."
"Semua yang mengganggu ritme kerja saya jadi urusan saya."
"Berarti beli headphone."
Ia keluar sebelum mendengar balasan.
Zayden menatap pintu yang tertutup beberapa detik. Lalu ia memalingkan pandangan ke luar. Darren berdiri santai dekat meja Elvara, berbicara dengan Daniel yang jelas tidak nyaman. Beberapa saat kemudian Elvara kembali, dan pria itu langsung mendekat lagi.
Mereka bicara. Elvara tampak kesal. Namun mereka tetap bicara.
Sesuatu yang panas dan asing merambat di dada Zayden. Ia mengenal banyak emosi manusia, tetapi jarang memberi ruang pada miliknya sendiri. Yang ini ia kenali terlalu cepat.
Cemburu.
Ia menekan interkom. "Arsen. Masuk."
Arsen datang hampir seketika.
"Siapa pria di luar?"
"Pak Darren Velric. Konsultan independen. Ada meeting dengan divisi investasi pukul sebelas."
Zayden masih menatap ke luar. Darren tersenyum pada Elvara dengan cara yang terlalu akrab.
"Hubungan mereka?"
Arsen ragu sepersekian detik. "Menurut data lama... mantan tunangan Bu Elvara."
Ruangan terasa lebih dingin.
"Mantan."
"Ya, Pak."
Zayden menyandarkan tubuh ke kursi. Rahangnya mengeras tipis. Tunangan berarti pria itu pernah dipilih. Pernah diberi tempat di masa depan Elvara. Pernah berdiri di posisi yang tak pernah ia miliki.
Pikiran itu tidak rasional, tetapi cukup membuat suasana hatinya memburuk.
"Batalkan meeting jam sebelas."
"Pak, investor sudah datang."
"Suruh tunggu."
Arsen mengangguk tanpa bertanya.
Di luar, Darren masih bertahan.
"Aku cuma minta makan siang sekali."
"Tidak."
"Kopi?"
"Tidak."
"Sepuluh menit?"
"Darren, harga dirimu benar-benar jatuh."
Ia justru tersenyum. "Kalau demi kamu, mungkin layak."
Dulu kalimat seperti itu mungkin membuat jantung Elvara berdebar. Kini hanya terdengar seperti iklan murah yang dipakai ulang.
"Kamu terlambat lima tahun."
"Aku berubah."
"Aku tidak peduli."
Pintu ruang CEO terbuka.
Zayden keluar dengan aura yang membuat beberapa staf langsung menunduk ke layar masing-masing. Ia berjalan lurus menuju mereka tanpa terburu-buru, tetapi cukup cepat untuk menunjukkan tujuan jelas.
"Darren Velric."
Pria itu menoleh dan mengulurkan tangan. "Pak Zayden. Kehormatan."
Mereka berjabat tangan singkat. Dingin dan tanpa niat ramah.
"Saya dengar Anda konsultan hebat," kata Zayden.
"Saya berusaha."
"Saya juga dengar Anda suka kembali ke tempat yang sudah menolak Anda."
Udara menegang seketika.
Darren masih tersenyum, tetapi matanya berubah tajam. "Kadang barang berharga pantas diperjuangkan."
Zayden melirik Elvara sekilas. "Barang?"
"Maksud saya..."
"Saya paham maksud Anda."
Ia menatap Darren lurus. "Di perusahaan saya, staf bekerja. Mereka bukan hiburan tamu."
Elvara hampir tersedak mendengar pilihan katanya. Daniel di kejauhan pura-pura fokus pada monitor mati.
Darren merapikan manset. "Saya bicara dengan kenalan lama."
"Kalau dia ingin bicara."
Zayden tak menoleh saat berkata, "Apakah Bu Elvara ingin bicara dengan Anda?"
Semua telinga diam-diam menunggu.
Elvara menatap Darren beberapa detik, lalu menjawab tegas. "Tidak."
Senyum pria itu retak tipis.
"Jawaban jelas," kata Zayden.
Ia memberi isyarat kecil. Dua petugas security dekat lift langsung mendekat.
"Antar Pak Darren ke ruang meeting. Pastikan setelah selesai beliau keluar lewat lobby utama."
Nada suaranya sopan, tetapi maknanya sangat jelas.
Darren menatap Zayden lama. "Anda sangat protektif pada staf."
"Saya sangat alergi pada gangguan."
Lalu Darren menoleh ke Elvara. "Aku belum selesai."
"Aku sudah," jawab Elvara datar.
Pria itu pergi bersama security. Begitu pintu lift tertutup, lantai tiga puluh satu terasa bisa bernapas lagi.
Zayden berbalik menuju ruangannya.
"Bu Elvara. Masuk."
Ia mengikuti dengan emosi campur aduk. Marah, malu, terganggu, dan entah kenapa juga berdebar.
Begitu pintu tertutup, ia langsung bicara. "Bapak tidak berhak melakukan adegan tadi."
"Benarkah?"
"Itu urusan pribadi saya."
"Yang dibawa ke kantor."
"Itu bukan alasan Bapak ikut campur."
Zayden mendekat perlahan.
"Kalau saya bilang saya terganggu melihat dia berdiri dekatmu?"
Elvara membeku. "Apa?"
"Saya benci cara dia menatapmu seolah masih punya kesempatan."
Nada suaranya rendah dan tenang, justru karena itu terasa berbahaya.
"Bapak bahkan tidak kenal dia."
"Saya tidak perlu kenal ular untuk tahu harus menjauhinya."
Ia hampir tertawa karena kesal. "Bapak berlebihan."
"Mungkin."
Ia berhenti tepat di depannya.
"Tapi saya lebih membenci kenyataan bahwa dia pernah jadi pria yang kamu pilih."
Jantung Elvara berdetak keras. Itu bukan kalimat bos. Bukan komentar biasa. Itu pengakuan yang dibungkus ego dan kemarahan.
Zayden menatap matanya tanpa berkedip.
"Saya tidak suka rasa ini."
"Rasa apa?"
"Cemburu."
Ruangan menjadi terlalu sunyi. Hujan di luar terdengar samar di balik kaca tebal.
Elvara memalingkan wajah lebih dulu. "Bapak gila."
"Bisa jadi."
"Dan saya tidak punya waktu mengobati."
Ia berbalik hendak pergi.
"Elvara."
Ia berhenti tanpa menoleh.
"Jangan pernah beri dia kesempatan kembali."
Suara itu tak lagi terdengar seperti perintah CEO. Lebih seperti pria yang sedang menahan sesuatu yang tak biasa ia rasakan.
Tanpa menoleh, Elvara menjawab pelan, "Itu keputusan termudah dalam hidup saya."
Ia keluar dengan napas tak stabil. Di luar, semua orang pura-pura bekerja, tetapi ia tak peduli. Kepalanya terlalu penuh oleh satu kata yang baru saja diucapkan Zayden tanpa ragu.
Cemburu.
Sementara di balik pintu, Zayden berdiri sendiri menatap ruang kosong yang baru ditinggalkan Elvara. Ia akhirnya jujur pada satu hal yang tak bisa lagi dibantah.
Masa lalu Elvara disentuh pria lain saja sudah membuatnya murka.
Lalu bagaimana jika suatu hari pria lain mencoba mengambil masa depannya.