Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Tak Sadar
"Kamu gak pulang, Cim?" Tanya Arjuna.
"Aku masih mau di sini kok." Jawab Shima yang nampak nyaman tiduran sambil memeluk pinggang Meshwa.
"Geseran loh, tangannya." Kata Arjuna sembari menggeser sedikit tangan Shima agar ia juga bisa memeluk Meshwa.
"Iih! Mas Juna ganggu aja, sih. Aku duluan kok yang tiduran sama Mbak Meshwa." Protes Shima sambil mendorong tangan Arjuna.
"Loh, ini kan istrinya Mas. Suka - suka Mas lah, mau Mas apain juga. Kamu tuh yang jangan ganggu." Kata Arjuna sambil menoyor pelan dahi Shima dengan telunjuknya.
"Ini kan Mbakku, suka - suka aku juga lah mau ngapain sama Mbakku. Mas tuh, harusnya ngalah sama adeknya. Udah tua kok gak mau ngalah sama anak kecil." Cerocos Shima yang membuat Meshwa dan Arjuna terkikik.
"Pulang sana, anak kecil. Minta kelonin Ayahmu aja." Kata Arjuna.
"Gak mau. Aku masih mau di sini. Mas Juna aja sana yang pulang, minta kelonin Ibu." Sahut Shima.
"Ini kan rumah Mas Juna. Ya kamu lah yang harusnya pulang. Anak kecil kok ngeluyur sampe malem gini." Cicit Arjuna.
"Namanya juga tuyul." Sahut Shima yang kembali mengundang tawa Arjuna dan Meshwa.
"Pulang sana, Mas Juna sama Mbak Meshwa mau tidur." Goda Arjuna yang memang senang menjahili adiknya.
"Ya Mas Juna kalo mau tidur, tinggal merem aja kok repot. Orang Mbak Meshwa belum mau tidur, kok. Tuh masih baca buku." Jawab Shima.
"Mas, Cima, udah to, jangan ribut aja. Heran deh, kayaknya gak bisa banget kalo gak ribut sehari aja." Omel Meshwa.
"Adekmu itu loh, yang bikin ribut." Sahut Arjuna.
"Enggak, ya. Bojomu itu, Mbak, yang nakalin aku." Sergah Shima yang membuat Meshwa tertawa.
"Ini bukannya Masmu?" Tanya Meshwa sambil menunjuk Arjuna.
"Kalo gak nakal, ya Masku. Kalo nakal, bukan." Kata Shima.
"Ngece banget tuyul satu ini." Kata Arjuna sambil mendorong - dorong tubuh gembul Shima yang memeluk Meshwa.
"Iih, Mas Juna jangan nakalin aku! Nanti aku aduin ke Malaikat Izroil loh, biar di ajak ketemuan." Kata Shima yang membuat Arjuna dan Meshwa terbahak - bahak.
"Heh! Siapa yang ngajarin ngomong gitu?" Kata Arjuna sambil meraup wajah adiknya.
"Dipta waktu itu yang bilang, waktu aku di gangguin Mas Mifta." Jawab Shima.
"Kata Dipta, kalo Mas Mifta nakal, aduin aja ke Malaikat Izroil. Biar di ajak ketemuan." Cerita Shima.
"Emang dasar Dipta ra nggadek! (Gak bener!)" Kekeh Arjuna.
"Emang Malaikat Izroil itu siapa loh, Cim?" Tanya Meshwa.
"Malaikat pencabut nyawa lah! Aku kan udah hafal nama malaikat dan tugasnya." Jawab Shima.
"Emang kalo di ajak ketemuan sama Malaikat Izroil, orangnya di apain, Mbak?" Tanya Shima pada Meshwa.
"Di cabut nyawanya, biar modiar!" Arjuna yang menyahut.
"Yang bener, Mas Juna? Kalo gitu, Mas Juna jangan ketemu Malaikat Izroil, ya." Kata Shima dengan wajah khawatir hingga membuat Arjuna dan Meshwa kembali terkikik.
"Pulang sana, udah malem. Mas Juna mau tidur sama Mbak Meshwa." Kata Arjuna lagi.
"Ihh gak mau. Aku kan bisa tidur di sini. Boleh kok, sama Ayah sama Ibu." Kata Shima.
"Gak boleh tuh, sama Mas Juna. Kan ini rumah Mas." Sergah Arjuna.
"Boleh kok sama Mbak Meshwa. Iya kan, Mbak?" Kata Shima.
"Iya, boleh." Jawab Meshwa sambil mengusap - usap kepala Shima.
"Kamu nanti di kasih adek sama Ayah sama Ibu, kapok!" Kata Arjuna yang langsung membuat Shima duduk.
"Emang bisa?" Tanya Shima.
"Bisa lah! Kalo Ayah sama Ibu kamu tinggal berduaan terus, nanti kamu di buatin adek banyak." Kata Arjuna.
"Mas Juna apaan sih!" Kekeh Meshwa.
"Aku gak mau punya adek! Ayah sama Ibu gak boleh buat adek!" Kata Shima dengan wajah panik.
"Mas Juna, ayo anterin pulang!" Rengek Shima yang membuat Arjuna tertawa penuh kemenangan.
"Mas Juna! Cepet anterin Cima pulaang..." Seru Shima yang panik.
"Oke! Siap. Ayo Mas anter pulang." Kata Arjuna yang segera beranjak dari tempat tidur. Ia lalu menggendong Shima di punggungnya dan mengantar Adiknya itu pulang.
"Dasar Mas Juna! Seneng banget gangguin Cima. Gak kasihan sama adeknya." Gerutu Meshwa yang membuat Arjuna nyengir.
...****************...
Seperti biasa, malam itu Arjuna tidur sambil memeluk istrinya. Meshwa pun sudah terlelap beberapa waktu lalu, saat Arjuna masih terjaga.
Hampir tiga bulan sudah mereka menikah dan masih tetap mempertahankan batasan yang harus mereka jalani.
Baik Arjuna maupun Meshwa, sama - sama belum pernah melihat atau memperlihatkan bagian intim mereka.
Namun, keanehan terjadi malam itu. Entah mengapa, Arjuna merasa hawa menjadi sedikit panas, padahal AC di kamarnya menyala.
Dalam kondisi terpejam, Arjuna mulai meraba - raba tubuh istrinya. perlahan dan dengan lembut tangannya mulai menyelinap ke balik pakaian Meshwa dan mengusap - usap kulit mulus istrinya.
"Ssshhh..." Terdengar desahan lembut yang tentu tanpa di sadari keluar dari bibir Meshwa.
Mendengar itu, membuat Arjuna semakin menggebu. Ia mulai meremas lembut dada Meshwa dan juga memainkan titik sensitif sang istri di sana, hingga membuat Meshwa sedikit menggelinjang.
"Ssh.. Aaah, M-maass.." Lirih Meshwa yang mulai terang sang karena gerakan tangan Arjuna di tubuhnya.
Seolah hilang ingatan, Arjuna yang juga sudah terang sang itu, mulai memagut bibir istrinya. Pagutan yang semula lembut, kini kian dalam dan menuntut.
Desa han pun terdengar beberapa kali kala Arjuna memainkan titik sensitif di dada sang istri.
Arjuna pun kian gila mengeksplor tubuh istrinya. Ciumannya perlahan turun hingga berhenti di dada Meshwa.
Ia mulai mengulum dan menyesap buah dada sang istri yang tampak sekal dan sangat menggoda. Meshwa pun turut larut dalam gairah yang di ciptakan oleh Suaminya.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Ketika Arjuna yang sudah sangat bergairah itu mulai menciumi perut Meshwa. Meshwa pun langsung menahan kepala Suaminya.
"Mas, jangan di lanjutkan." lirih Meshwa dengan nafas tersengal - sengal menahan kenikmatan.
Seolah tuli, Arjuna justru membungkam bibir Meahwa dengan ciuman panas. Sementara tangannya terus bergrilya, memacu girah panas malam itu.
"Maas! Istighfar, Mas!" Kata Meshwa yang berusaha menahan tubuh Arjuna dan nafsu suaminya yang sedang bergelora.
Meshwa mulai mengumpulkan kewarasannya yang sempat terenggut kenikmatan. Ia pun berusaha menyadarkan Suaminya yang tiba - tiba menggila.
Arjuna tak pernah seperti ini sebelumnya. Entah mengapa, ia bisa sampai kelepasan dan memancing gairahnya dan sang istri.
"Mas Juna! Astaghfirullah!" Meshwa memukuli bahu Arjuna yang masih menikmati salah satu bagian intim di tubuhnya.
Ia pun mulai sedikit panik, takut jika sampai Arjuna melewati batasannya dan melanggar janji yang ia buat dengan penuh kesadaran.