"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Kaelan
"Kaelan bayimu bisa meninggal berikan dia padaku" ucap Rumi tapi Kaelan tetap mengusap pipi Maryani agar terbangun.
Prawira akhirnya turun dan mengambil bayi itu dari tangan Kaelan, dia memberikan langsung pada Rumi yang langsung mengurus bayi itu supaya tidak kedinginan di bantu Saidah, dan Prawira meminta Kaelan untuk sadar karena Maryani sudah meninggal.
"Ayo kak sebelum Jayandanu datang dan Malak juga tahu kita ke sini, bawa jasad kak Maryani ke atas" ucap Prawira akhirnya menyadarkan Kaelan.
"Segera bawa anakku, aku akan menyusul dengan membawa jasad Maryani, aku harus membuat kuburan ini seolah tidak di gali" ucap Kaelan
"Aku akan membantumu kak" ucap Prawira
"Tidak, kamu lindungilah bayiku, dia pasti terus menangis dan kamu harus melindungi kedua orang tuaku juga" jawab Kaelan
"Kaelan benar Wira, ayo kita pergi sebelum makhluk bernama Malak itu muncul dan mengacaukan rencana kita, Jamal dan Saidah akan pulang ke rumah mereka dan berpura pura tidak pernah terjadi apapun" jawab Abidin
Akhirnya Prawira menyerah, dia membawa Jamal dan Saidah pulang ke rumah mereka terlebih dahulu, menyimpan arang bekas penerangan makam supaya orang mengira kalau mereka sudah lama kembali dari makam, dan setelah itu Prawira menyusul Rumi juga Abidin ke perbatasan kampung dengan menggunakan kain hitam supaya tidak di ketahui warga.
Di makam Maryani, Kaelan melepaskan semua jarum yang menancap di kaki, tangan, kepala dan juga perut Maryani, pucuk kantil yang di masukkan Rumi tetap dia biarkan karena itu supaya tubuh Maryani tetap utuh. tapi di tengah usahanya membawa jasad Maryani naik ke atas, Kaelan sedikit kesulitan karena tanah yang begitu licin akibat hujan dan tubuh Maryani yang sudah kaku.
"Ggrrrr.... sssrrrttttt"
"Innailaihi, itu Jayandanu" panik Kaelan memejamkan matanya dan mencoba mengeluarkan ilmu yang dia miliki untuk menyamarkan baunya.
"Makanan, makananku sudah tersedia" suaranya terdengar menggelegar
"Ya Allah, tolong hamba"
Suara tanah bergerak itu semakin mendekat dan tepat sebelum makhluk itu mencapai Kaelan, sebuah tangan mengusap rambut panjang Kaelan. Saat menolah Kaelan melihat Maryani sedang tersenyum ke arahnya tapi tidak memakai kain kafan, melainkan memakai pakaian yang di sumbangkan Saidah atas namanya, sebuah kebaya putih dengan kain berwarna hijau.
"Pulanglah kang, rawat anak kita dan kubur kembali jasad ku di sini, tapi lakukan secara islam, biarkan tubuhku ada di tanah ini karena aku harus tetap di sini bersama bapak dan ibu, pergilah" ucapnya
"Tidak, tidak kamu harus ikut denganku, aku tidak mau kamu di sini dan jadi santapan makhluk itu!" jawab Kaelan
"Aku tidak hilang kang, hanya jasadku yang hilang tapi aku akan tetap ada di hatimu, percayalah aku tidak akan pergi jauh" jawabnya menurunkan kembali jasadnya ke dalam liang kubur.
"Lakukan kang, demi anak kita" bujuk Maryani tersenyum manis.
Kaelan menatap jasad Itu, dia juga menatap arwah Maryani dan mengangguk, semua tata cara pemakaman jenazah secara Islam dia lakukan meskipun Maryani tidak di mandikan lagi karena kondisi yang darurat, tapi Kaelan sudah yakin kalau Maryani sudah di makamkan dengan layak bahkan Kaelan sudah mengganti kain kafan dan nisannya dengan sebuah pohon bunga kantil yang di berikan Abidin padanya sebelum mereka pergi.
"Tadinya pohon ini adalah untuk mengelabui Narno, tapi malah jadi penanda kalau kamu memang ada di sini" gumam Kaelan yang pakaiannya sudah kotor bahkan penuh dengan tanah kuburan.
Cangkul yang dia bawa juga dia kubur di samping makam Maryani supaya mahluk bernama Jayandanu itu tidak curiga padanya. Dan untungnya saat Jayandanu terus mendekat, Kaelan sudah selesai dan berpura pura duduk di depan pusara Maryani.
"Hrrrr.... penyusup!" bentak Jayandaru
"Penyusup apa? aku sedang menemani Istriku di sini, dia kedinginan" jawab Kaelan merebahkan badannya dan memeluk gundukan makam Maryani.
"Pergi dari sini atau kamu akan aku hancurkan, aku penjaga di tanah makam ini" ucap Jayandanu
"Tidak, aku akan tetap di sini sampai besok, aku tidak akan membiarkan istriku sendirian di sini!" jawab Kaelan
"Kaelan! kamu mau mati!" bentak sosok hitam tinggi dengan wujud manusia tapi berkepala kerbau. Dialah Malak.
"Aku sudah mati saat istriku kalian kubur tanpa ijinku, dan sekarang aku tidak akan mengijinkan kalian memakan jasadnya ataupun anakku!" bentak Kaelan
"Berani kamu menantang kami!" bentak keduanya berdiri di depan Kaelan.
"Ya, aku Kaelan Arsana keturunan panglima gaib Arsana yang merupakan penjaga hutan keramat Sagara tidak akan tunduk pada siapapun termasuk mahluk hina seperti kalian!" bentak Kaelan
"Kurang ajar!" bentak Malak maju dan menyerang Kaelan.
Bugh. Bugh.
Banyak pukulan di layangkan Malak pada Kaelan, sementara Jayandanu menyusup masuk ke dalam gundukan makam Maryani untuk memakan jasad Maryani, tapi saat kepalanya sudah masuk, tiba tiba dia keluar lagi karena merasakan kalau tanah makam Maryani begitu panas.
"Apa yang kamu lakukan dengan tanah makam itu!" bentak Malak
"Sesuatu yang pastinya akan membuat kalian tidak akan mendapatkan tumbal malam ini" jawab Kaelan tersenyum sinis.
"Jangan kalian pikir aku tidak tahu ulah Narno di kampung ini sejak puluhan tahun lalu, dan sekarang aku sedang melindungi satu satunya kenangan istriku meskipun itu hanya berupa jasadnya ataupun tengkoraknya saja!" jawabnya lagi
Malak murka, harusnya bayi yang di kandung Maryani adalah bagiannya tapi malam ini dia harus kembali dengan tangan kosong bahkan membuat Narno mencarikan tumbal baru untuknya, jadi Malak melayangkan tombak miliknya ke arah Kaelan.
"Matilah kamu!" bentak Malak
Srak.
Jleb.
"Aarrgghh Malak!"
Tombak itu memang menancap, tapi bukan ke arah dada Kaelan melainkan ke arah Jayandanu yang sekarang tertusuk tombak sekutunya sendiri, karena sebelum tombak itu mengenai Kaelan, sosok kingkong berwarna putih sudah berdiri di belakang Kaelan.
"Jayandanu pergi ke rumah Narno, dia akan mengobati kamu" ucap Malak
"Ar.. Arsana..." kaget Malak
"Aku mungkin bukan penguasa daerah ini Malak! Tapi keturunanku ada di sini dan aku punya hak untuk melindungi dia, jangan berani kamu menyentuh Kaelan seujung rambut pun atau perang gaib akan aku tujukan padamu dan pasukanmu!" bentak Arsana sosok kingkong putih pelindung hutan keramat Sagara.
"Tapi ini adalah tanahku, hanya aku yang punya kuasa di sini jadi jangan ikut campur dan membuat peperangan terjadi!" jawab Malak
"Aku akan pergi, tapi aku akan pergi dengan Kaelan! Dan kalian jangan pernah mengganggu tanah kuburan milik Maryani karena tanah ini sekarang sudah aku tandai" jawab Arsana menancapkan satu bulunya di atas kuburan Maryani.
"Ayo nak, jangan khawatir karena istrimu aman di sini" bujuk Arsana menjulurkan tangannya yang bahkan lebih besar dari rumah rumah di sana.
"Tapi kakek, bagaimana kalau mereka mengganggu orang tuaku?" tanya Kaelan
"Aku sendiri yang akan melenyapkan keturunan Malak di kampung ini" jawab Arsana membuat Malak semakin kesal